Filed under Buku, Film, dan Lagu

berefleksi setelah Menonton My Stupid Boss

Hari Selasa minggu lalu tumben nonton film lagi dengan dua orang kawan baik saya   Ini bulan keenam setelah terakhir kali nonton. Pada saat terakhir itu kami nonton The Hunger Games : Mockingjay part 2, film yang sangat asing bagi saya. *bukan gak gaul, tapi gak mainstream* :-P. jadi, sepertinya bulan Desember lalu itu teman … Continue reading

Inerie : Perjuangan mama-mama di Tololela

  “ //Mama Oh mama, mama tercinta/ oh ayah, ayahku tercinta/ kepala beralaskan batu, badan beralaskan tanah/ aduh kasihan ibuku tercinta….//”   Seorang bapak dan putrinya yang berusia 27 tahun sedang bercakap-cakap di dapur menggunakan bahasa khas Nusa Tenggara Timur (NTT). Sang bapak menyatakan hendak memanggil anak laki-lakinya Belo yang sedang merantau ke luar daerah … Continue reading

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas : Perihal burung yang tak bangun-bangun

  “Kehidupan manusia ini hanyalah impian kemaluan kita. Manusia hanya menjalaninya saja.”     Ini adalah novel pertama Eka Kurniawan yang kubaca hingga selesai. Novel pertamanya Cantik itu Luka yang diterbitkan ulang tahun 2012 lalu tak sampai setengah isi buku kubaca, sedangkan novel Lelaki Harimau saya belum pernah menemukan. Alasan gak selesai karena plot-plotnya njelimet, … Continue reading

The Various Flavour of Coffee : sebuah Kopi Peradaban

Yaiii, akhirnya selesai juga baca The Various Flavour of Coffee. Buku ini aku lihat pertama kali di rak gramedia Denpasar sejak akhir 2012 sepertinya. Hingga di Toga Mas di diskon berkali-kali dan tersisa dua biji baru kesampaian beli. tapi juga karena ide untuk menghabiskan kira-kira 25% gaji untuk beli buku gegara hampir frustasi sih. Bukunya … Continue reading

Membaca Tan Malaka

Apa bacaan pertama mu tentang Tan Malaka? Madilog? Hahaha. Bacaan yang susah dimengerti untuk pembaca pemula. Setelah membaca pacar merah, mungkin akan sedikit memberikan pencerahan tentang Tan Malaka, bapak bangsa yang terlupakan. Tentang pacar merah 1 belum pernah membaca, baru yang kedua. Dari buku ini kita akan membaca sepak terjang anak bangsa dalam kancah internasional. … Continue reading

Memberi hadiah untuk diri sendiri

Seminggu yang lalu saya berulang tahun yang ke-23. Biasanya setiap ulang tahun selalu mengatakan dalam hati “sudah umur segini belum tahu apa maumu,” kali ini sedikit berganti, “belum tahu jalan menuju ‘kemauan’ itu.” Apa yang ada di depan mata hanya mimpi absurd yang kemudian menjadi perasaan utopis. Berbenturan dengan berbagai kenyataan di depan mata membuat … Continue reading

Lingkaran yang tak Selesai dalam Kisah Tiga Titik

Cerita yang berpusat pada perempuan selalu dianggap seksi, tapi meminjam kata-kata Cok Sawitri Karya itu tidak berjenis kelamin. Kita saja yang terkadang menafsirkannya berlebihan. Eh itu soal mau nyinyir tentang pengantar diskusi film semalam, film Kisah 3 Titik yang di Produseri oleh Lola Amaria. Baiklah, pusat cerita film ini memang perempuan. Tiga perempuan yang bernama … Continue reading

Before Midnight, Tetap Romantis

“Jangan buang terlalu Banyak waktumu untuk Cinta yang Romantis, persahabatan dan kerja lah yang membuat kita paling Bahagia.” Juni 2013 ini before midnight selesai dirilis. Film ini merupakan kelanjutan dua sekuel film sebelumnya, Before Sunrise dan Before Sunset. Jika dua sekuel sebelumnya menceritakan tentang perpisahan Celline dengan Jesse. Film ini menceritakan tentang posisi mereka yang … Continue reading

Akhir Perjalanan sang Pemula

Mengaji tetralogi #12 adalah catatan mengaji Rumah Kaca bab 12-14. Catatan ini tertunda karena perjalanan ke Lombok dan kunjungan keluarga serta alasan-alasan lainnya. Bab-bab terakhir ini mengisahkan tentang perjalanan terakhir Minke. Minke tak mau tunduk pada Gubermen untuk tidak mencampuri politik dan organisasi melalui syarikat. Dan akhirnya ia hanya menyerahkan akhir hidupnya pada penyakit yang … Continue reading

Jejak Minke dalam Sayap Muda Syarikat

Catatan mengaji #11 adalah bagian dari catatatan mengaji Rumah Kaca dari bab 8-11. Bagian saya ini merupakan bab-bab terakhir dari buku keempat tetralogi Pram. Dalam mengaji rumah kaca ini kami (sekali lagi) mengubah beberapa aturan-aturan yang telah kami buat dalam mengaji sebelumnya. Ini karena tenggat waktu yang kami rencanakan tidak berjalan sesuai rencana. Catatan ini … Continue reading