Dicari, Teman Menggendut Bersama

Before scriptum: ini akan menjadi postingan yang paling tidak berguna sepanjang setidaknya lima tahun terakhir.

Sesorang tidak sadar kalau dirinya ternyata hoby makan, hingga melihat bill makan yang dikumpulkan tiap akhir pekan. Sebenarnya tidak pernah cek bill lagi sih sehabis belanja makanan, tapi sudah anggap aja gitu. Saya ternyata cukup hoby makan, terlihat juga sih dari bentuk tubuh. Dan belakangan doyan makan-makanan yang gak sehat.

Belakangan merasakan banget, ternyata tiap akhir pekan saya selalu butuh micin dan gula lebih dari standar saya, pengennya cari jajanan yang penuh micin, butuh cake atau pastiseries dan sedikit es kopi, es krim atau es lainnya. Setidaknya satu hal yang harus diantisipasi, berat badan pasti nambah lagi. Tapi kalau boleh jujur, kondisi ini sebenernya linear dengan produktivitas kerja saya di kantor. Saya paling menjaga diri agar tidak drop, setidaknya karena flu, oleh karena itu micin dan gula adalah dopping buat saya.

Dua bulan jelang akhir tahun lalu kerjaan saya sedang gila-gilanya, saya sempat kena flu sekali. Setelah kegiatan hidup saya berakhir dengan berat badan 56 kilo. Itu artinya sejak bulan Juli berat badan naik dua kilo. Dua bulan tersebut kegiatan di project saya padat sekali, pindah satu hotel ke hotel lainnya di area Senggigi. Bisa dikatakan saya makan apa saja yang disuguhkan hotel, setelah kegiatan saya sudah gak kuat melakukan kegiatan-kegiatan rutin seperti olahraga dan sebagainya. Dan tiga bulan kedepan kurang lebih hampir sama, project padat, tetapi hanya kegiatan di area pilot project sih. Dan saya sedang menyelesaikan kekurangan-kekurangan pelaporan akhir tahun lalu. Cukup produktif hari-hari di kantor, kecuali PJ teknis dan konsultannya rewel dan susah diajak komunikasi, biasanya kalau kayak gitu hidup saya akan berakhir pada sambel, micin dan gula juga sih.

Saya paham ini tidak sehat, lalu sudah juga berjanji buat mulai makan makanan sehat. Saya sudah memulainya dengan beli kompor portable, setidaknya ini yang paling aman saya operasikan walaupun boros gas, dan kebetulan awal tahun lalu diskon di suatu pusat perbelanjaan. Saya mulai masak sayur dan belanja, setidaknya tiga kali seminggu. Hidup kadang lebih nikmat makan sambel bikinan sendiri dengan cabe yang bisa disesuaikan dengan mood, tapi masalahnya saya gak pandai masak jadi pasti sering gak enaknya, sering gagalnya. Kemudian ini yang menjadi masalah baru, saya makan makanan gak enak ini sendirian *cryiing out loud. Drama pun mulai.

Dulu waktu di rumah, setiap akhir pekan saya masak dengan sepupu saya. Saya selalu bisa jamin kalau masakan saya habis apabila jenis masakan yang akan kami buat disepakati di awal, ceritanya kolaborasi masak. Jadi kalau ada yang gak bener cara masaknya saling mengingatkan, gak sih adu mulut sebenarnya, tapi yang penting habis. Adik saya juga pasti makan, karena setiap kami libur, artinya ibu libur masak. Saya juga berhasil buat sepupu saya makan apa saja yang saya beli, termasuk kalau dia mau saya traktir makan, maka harus menghabiskan makanan yang dia pilih. Ini kadang gak berhasil, apalagi kalau misalnya kami sedang mencoba-coba tempat makan baru. Waktu di Karawang saya juga punya uni Fitri yang rajin masak, mau diajak makan mie instan bareng (jadi waktu itu dr.Dian gak mau makan mie kalau bukan mi ABC yang varian rasanya cuma bisa didapat di Karawang kota, Dilla paling ketat dietnya dan Mustaf paling anti mie instan, lebih baik dia makan pakai abon daripada mie instan). Jadi seminggu sekali makan mie instan sama Uni, setidaknya kalau ada waku ke Batujaya, Kecamatan sebelah akan mampir ke mang Adin buat makan mie ayam atau beli nasi padang. Artinya sepanjang hidup saya gak pernah merasa menggendut sendirian.

Saat ini terasa banget, makanan yang masak sendiri lebih banyak sisa, susah mengukur masak untuk satu atau dua porsi, beli gorengan 5 ribu aja juga kadang sisa, kemarin-kemarin waktu masih beli makanan jadi pun juga sering buang-buang. Pokoknya susah, setiap beli apapun harus dihabiskan sendiri, setidaknya saya memang butuh teman untuk diajak menggendut bersama-sama. πŸ˜›

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s