Liburan Tahun Baru di Bali Timur

 

Tahun baru kemarin saya menghindar hiruk-pikuk Denpasar dan menepi ke timur. Liburan tak direncanakan ini terwujud berkat ajakan seorang A. Ditha. Ditha sedang mendapat kunjungan dari beberapa teman dan memerlukan untuk mengantarnya pakansi ke timur. Kedua temannya belum pernah berkunjung ke daerah wisata di Karangasem, Bali.

Awalnya galau akan menggunakan kendaraan apa untuk pergi, pada akhirnya diputuskan akan bermotor ria. Tapi ternyata cuaca gak kalah galaunya. Pagi 31 Desember itu hujan turun cukup deras, dan rasanya malas juga kalau bermotor kurang lebih dua jam. Tapi ternyata teman Ditha yang baru saja kecelakaan jadi ikut, kemudian kami pergi menggunakan mobil Ditha.

Agak siang kami berangkat dari Denpasar, saya nya sih ngaret. Motor saya titipkan di rumah Ditha, kemudian menemui dua teman lainnya di halte Sarbagita dekat perempatan Gatsu timur. Perjalanan ditempuh lebih dari dua jam karena singgah di beberapa lokasi. Pertama, kami singgah di toserba untuk membeli jajanan jahat ciki dan gula-gula persiapan malam tahun baru dan numpang pipis. Kedua, kami sarapan sekaligus makan siang di daerah Pesinggahan Klungkung. Menu terkenalnya tentu saja itu sate lilit, tum ikan, plecing dan sambal matah. Kemudian singgah di Goa Lawah untuk sembahyang dulu.

Sudah lewat tengah hari kami tiba di Karangasem, oleh karena itu tempat yang kami tuju pertama adalah penginapan. Kami menginap di bungalow kecil di Candi Dasa. Tapi saya lupa nama tempatnya. Seorang perempuan muda dibawah dua puluh tahun menyambut kami dan mengatakan kamar yang menggunakan twin bed yang kami booking sudah ditempati orang. Jadi ya, Ditha sudah booking kamar sehari sebelumnya, begitujuga teman yang lain. Tapi ternyata kami mendapatkan single bed, yeyeye lalala. Seorang bule, dari perawakannya seperti bule jerman, nggedumel gak jelas dengan pegawai bungalow itu. ya, si bule itu adalah pemilik bungalow.

Bungalow itu terletak tepat di bibir pantai. Deretan pantai Candidasa itu memang sudah dipenuhi dengan penginapan-penginapan seperti daerah wisata Bali pada umumnya. Harga penginapan juga bersaing, rata-rata kalau menggunakan fan hanya 250.000-300.000. kamar yang kami sewa berhadapan, beberapa langkah dari kamar sudah ada pantai dengan ombak berdeburan. Setelah selesai check in dan numpang pipis, kami meluncur ke timur.

Tempat pertama yang kami kunjungi yaitu Chochoa Story. Tempat ini cukup instagramable di kalangan teman-teman saya. Tapi kalau saya pribadi kurang begitu terkesan dengan tempatnya. Jalan masuknya sangat kecil, hanya bisa dilalui satu mobil dan kendaraan roda dua. Tempat itu berada area perkebunan kelapa di tepi pantai. Kami membayar sepuluh ribu untuk masuk dan diberikan souvenir sabun hasil kerajinan tangan ibu-ibu dan anak-anak disana. Pintu masuk itu juga dijaga oleh ibu-ibu yang membuat souvenir sepertinya. Di dekat pintu masuk ada miniature kapal layar, sangat apik digunakan untuk berfoto menghadap ke laut. Di area kiri pintu masuk ada beberapa rumah-rumah kecil yang unik, satu diantaranya digunakan sebagai café. Lainnya dipakai untuk latar berfoto. Pada saat kesana beberapa sedang di renovasi. Dan digundukan tanah diatasnya ada dua ayunan besar yang cukup menguji adrenalin, bisa disesuaikan ketinggiannya. Sementara itu, di dekat pantai ada tanah tak terlalu lapang yang bisa digunakan untuk piknik. Chochoa story sepertinya memang masih berbenah. Eh, tapi pengunjung tempat ini cukup ramai, anak-anak usia belasan tahun.

Kemudian kami meluncur lebih ke timur lagi, ke pemandian Tirta Gangga. Kami membayar tiket 10.000 rupiah sebagai wisatawan lokal. Sore itu hujan tipis-tipis, aku dan Ditha mandi di Tirta Gangga, sementara dua kawan lainnya nunggu di balai. Tirta Gangga ini dulunya adalah pemandian raja Karangasem ceritanya. Sebelumnya aku sudah pernah ke Tirta Gangga, tapi baru hari itu mandi. Airnya sangat segar, kedalaman kolamnya sekitar seleher orang dewasa. Sayang, saya tidak bisa berenang, Cuma capek jalan dengan ban, hahaha.

Dari pemandian raja, kami kemudian mengunjungi Taman Ujung. Ini juga katanya dulu taman peristirahatan raja. Taman Ujung ini tutup pukul 19.00 Wita, jadi ketika kami tiba sekitar pukul 17.00 taman belum tutup. Kami memasuki satu jembatan menuju ruangan yang berisi foto-foto keluarga raja Karangasem. Kami keliling taman sambal foto-foto tentunya hingga matahari tenggelam. Dalam perjalanan menuju penginapan, kami menyaksikan matahari tenggelam di akhir tahun 2016. Sebuah pemandangan yang sangat berharga karena hampir seharian itu cuaca tak begitu cerah.

Sebelum kembali ke penginapan, kami membeli lalapan untuk makan malam. Lalapan itu kami bawa ke penginapan dengan makan sambil curi-curi gara-gara di dekat resepsionis ada tulisan dilarang membawa makanan kedalam. Tapi sebenarnya itu hanya berlaku di area cafenya. Tapi ya makan malam terakhir di 2016 itu cukup berkesan karena makan diiringi deburan ombak di belakang penginapan.

Setelah makan malam kami bebersih lalu leyeh-leyeh di kursi malas belakang hotel. Deburan ombak keras sekali hingga kami harus berpindah-pindah beberapa kali. Jelang tahun baru itu sebenarnya tidak ada yang istimewa, hanya karena berada di tempat yang tepat saja jadi menyenangkan melewatkan malam tahun baru. Tidak ada percakapan serius, hanya sesekali menertawakan Ditha yang ceplas-ceplos saja sambil makan sponge gula-gula. Haha. Hingga tengah malam lewat, kami menyaksikan banyak kembang api kemudian pergi tidur.

Keesokan paginya saya tumben bangun lebih pagi, karena dibangunkan sih. Sebelum pukul tujuh saya sudah bangun. Kemudian aku dan Ditha berenang di pinggiran pantai belakang hotel. Pantainya kotor, rumput-rumput laut dan karangnya mati. Kami berpikir mungkin saja limbah-limbah penginapan itu dialirkan di pantai itu. setengah jam lebih berlalu kami kemudian berpindah ke pantai yang ada pasir putihnya. Tidak ada yang berenang di pantai itu, beberapa wisatawan hanya jalan-jalan di pinggirannya saja. Beberapa menit berlalu saya mulai merasakan gatal-gatal, lalu kamu memutuskan kembali ke penginapan setelah menghabiskan semua gula-gula dan ciki.

Jadi, hari itu kami langsung ke Denpasar. Sebelum aku dan Ditha pulang, kami mengantar dua kawan kami membeli oleh-oleh kemudian langsung ke pool Damri. Mereka hari itu kembali ke Surabaya dan Malang. Dan liburan itu membuat 2017 tak terasa berat seperti tahun-tahun sebelumnya, semoga.

Advertisements

2 thoughts on “Liburan Tahun Baru di Bali Timur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s