Tengah Tahun

Hari ini banyak yang mengingatkan bahwa ini tengah Tahun

 

Dilla, rekan kerja, temen bobok, dan kadang-kadang pecah kongsi juga tiba-tiba kirim pesan di grup soal resolusi. Dia juga bilang soal tahun lalu, bulan puasa gini kami tengah sibuk-sibuknya melakukan survey kesehatan masyarakat. Iya, tahun lalu itu aku sih santai, tapi teman-teman agak ngoyo. Kami mulai jalan menjelang bulan puasa. Proses validasi instrument survey memakan waktu cukup lama ternyata, kemudian komunikasi jarak-jauh dengan team pusat soal survey ternyata ribet juga. Akhirnya survey memang agak molor dan baru selesai saat kami hampir selesai penugasan di penempatan.

Namanya survey memang harus mengambil sample yang benar-benar mewakili, oleh karena itu kami harus keliling 8 desa dalam 1 kecamatan yang cukup luas itu. Jumlah populasinya 40 ribu an jiwa. Tiap desa kami mengambil 50 an keluarga. Selain survey rumah tangga, kami juga survey tentang perilaku remaja di sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas. Jika di survey rumah tangga kami lelah karena medan yang lumayan, jalannya lumayan jelek sementara kami ada yang mesti bonceng bertiga. Wilayah Kecamatan juga cukup luas, mulai dari ala-ala kota deretan rumahnya, daerah pantai, pemukiman biasa hingga daerah empang. Kalau survey di sekolah kami lelah buat janji, ada sekolah yang kurang respek.

Dilla bilang baru hingga tengah tahun masih banyak resolusinya yang belum jalan, mungkin dia mengingat-ingat tahun lalu yang cukup luar biasa aktivitas kami. Dia berkilah, karena sudah nikah resolusinya banyak. Kurang lebih sama, tapi aku menanggapi tak serius, “aku juga, karena belum nikah resolusinya nikah.” Iya sih memang, aku sendiri memang tak jauh beda sama Dilla, sudah tengah tahun gini baru ada mau memulai serius terhadap salah satu resolusiku. Tapi aku meramalkan ini tahunku yang cukup produktif, rajin nulis horeee. Dan soal janjiku yang tak sengaja terposting di path, “suatu hari aku akan lebih banyak menulis soal JKN (Jaminan Kesehatan Nasional)” sepertinya bukan omongan semata.

Kedua kak Ditha, disela-sela percakapan kami, kak Ditha ngomongin buku. Baru ingat, setengah tahun ini aku cuma baca buku. payahh. Buku pertama itu Arus Balik nya Pramoedya Ananta Toer. Sudah lama ingin baca, kebetulan awal tahun lalu merencanakan untuk intens baca dan diskusi buku, tapinya gak jalan 😦 Buku kedua The Secret Life of bees, sebuah buku cerita inspiratif. Cerita seorang gadis belasan tahun yang ingin menemukan sosok ibu, ia menemukan dalam hatinya sendiri. Buku ini dibeli saat ada diskonan buku di Gramedia waktu kak Dedy ke Denpasar. Dua buku yang dikirimkan sebelumnya, Buku terbaru Dee dan lupa satu judul lagi belum dibaca.\\

Semoga setengah tahun kedepan dianugerahi energi yang tak habis-habis, supaya lebih produktif

 

#33HariBagiCerita #13

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s