Nonton Film Dokumenter Petani Terakhir

Seharusnya film ini menarik

Kemarin nonton film Dokumenter berjudul petani terakhir karya Om Dadap alias Dwitra J. Ariana. Dadap adalah seorang film maker yang karya-karya nya patut diapresiasi. Beberapa kali karyanya memenangkan kompetisi film Dokumenter Nasional maupun skala Provinsi. Film petani terakhir merupakan juara atau nominasi Denpasar Film Festival gitu. Tema- tema sosial yang diambil Dadap selalu menarik menurutku, satu film lainnya berjudul Lampion-lampion bercerita tentang komunitas Hindu dan Tionghoa yang hidup berdampingan di Bangli. Dadap bukan hanya kaya ide tapi juga perspektif sosial.

Nah film kemarin mengambil settings di pinggiran Denpasar, daerah Tohpati. Bercerita tentang generasi yang hampir punah, generasi petani. cerita mengambil perspektif seorang pemuda, pemuda ini dianggap mewakili pemikiran banyak pemuda di Bali lainnya. Diawali dengan pengambilan gambar para petani yang mulai mengairi sawah, kemudian menggarap, hingga panen. Disela-sela itu banyak percakapan tentang yang dialami petani mulai dari urusan Subak, anak muda tak ada yang mau ke sawah lagi, hasil sedikit sementara kebutuhan mereka banyak, alih fungsi lahan salah satunya buat kos-kosan, para petani sendiri untuk memanen menggunakan tenaga orang Jawa, hasil gak sebanding dengan biaya perawatan, dan terakhir si pemuda sedang merayu ibunya untuk jual tanah karena lebih tergiur menginvestasikan uang daripada melanjutkan generasi para petani.

Sebenarnya pesan sosial film ini sudah mengena. Tapi terus terang sebenarnya tingkat kepahaman pada film ini hanya 20-30%, payah yaa. Percakapan-percakapan nya memang menggunakan bahasa Bali dialek Denpasar, tidak ada subtitle. Menurutku ini pesannya jadi tak sampai karena imajinasi terganggu, jadi gak paham. Jadi selama 40 menitan itu aku cuma grepe-grepe (baca: meraba-raba) film ini.

PS. Ternyata thrillernya sudah ada subtitle nya, cuma si empunya film bilang, memang subtitle nya belum selesai digarap

#33HariBagiCerita #12

Advertisements

2 thoughts on “Nonton Film Dokumenter Petani Terakhir

  1. Saya di suguhi film ini justru lewat seorang rekan Papua yang cari ilmu hingga ke Bali. ini katanya “Ada film pendek yang musti sobat nonton”… Jadilah -Petani Terakhir- menemani diskusi kami.
    saya kemudian di kenalkan kepada sang film maker; kesehariannya memang Petani (begitu status pekerjaannya di KTP). Jadilah dua hari bersama Dadap, membuat saya sedikit biSa meraba-raba pesan dari “Petani Terakhir”.
    Saya juga jadi sedikit paham; mengapa teman-teman yang segaris-pemikiran berteman akrab dengan Dadap.
    Salam
    Jemens Fatubun

    • Jangan lupa bertemu om Dadap kalau sedang mampir ke Bali, beliau seorang filmmaker yg luar biasa, selalu berhasil mengangkat isu sosial yg menarik. Terima kasih sudah nyasar ke blog ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s