Tidak Ada Gajahmada di Bandung

Baru tahu kalau di Bandung tidak ada jalan Gajahmada

Sebagai remaja akhir yang tidak paham banyak tentang sejarah Nusantara, banyak hal yang tidak saya mengerti. Sampai hari ini masih menyukai sejarah, dan masih mengagumi para sejarawan yang dengan telaten menyajikan temuan-temuan mereka dengan argumen-argumen yang bernas. Dan tentu saja mengagumi salah seorang alumni sejarah juga 😛

Saya juga heran, kesukaan saya terhadap bidang ini sudah saya sadari sejak SMP. Tapi sepertinya karena dulu hanya menghapal, sekarang sudah banyak menguap. Terutama tentang sejarah kerajaan-kerajaan Nusantara.

Hari Rabu lalu saya bertemu dengan beberapa wartawan perempuan saat sebelum diskusi di Kubu Kopi. Salah satunya ada yang berasal dari Bandung. Seseorang yang lain nyeletuk “tapi gak ada jalan Gajahmada ya di Bandung?” Saat itu sedang ngobrol ringan soal bandung. Ohyaa? Dengan polos aku bertanya balik Rupanya aku baru tahu. Ini ternyata ada hubungannya dengan kerajaan Majapahit dan kerajaan Pasundan. Berhubung yang bersangkutan saat itu tidak terlalu berminat memperbincangkan itu, dengan bertanya google akhirnya kutemukan jawabannya.

Jadi cerita tentang kerajaan Pasundan panjang sih. Katanya dalam satu kedudukan, entah raja siapa, kerajaan Pasundan pernah berhubungan baik dengan salah satu keturunan Ken Arok dan Ken Dedes sebelum Raden Wijaya. Hingga pada suatu ketika saat kepemimpinan Hayam Wuruk, Hayam Wuruk Ingin menikahi Dyah Pitaloka dari kerajaan Sunda. Raja Majapahit ingin membangun kembali hubungan baik dengan Sunda. Hayam Wuruk mengirim utusan, dia menginginkan pernikahan dilangsungkan di Majapahit. Meskipun sebelumnya pihak kerajaan Sunda ragu, tapi utusannya bersama Dyah Pitaloka tetap datang ke Majapahit.

Rupanya kerajaan Sunda adalah satu-satunya kerajaan yang belum ditaklukkan oleh Gajahmada di Nusantara. Melalui ini, Gajahmada ingin memanfaatkan momen, dia menekan utusan Kerajaan Sunda dan menganggap kedatangan mereka sebagai tanda kerajaan Sunda menyerah terhadap Majapahit. Sikap Gajahmada ini memicu Perang Bubat yang terkenal itu. Pasukan Dyah Pitaloka yang hanya sedikit akhirnya kalah, dan Dyah Pitaloka melakukan bela Pati, bunuh diri demi kehormatan kerajaan Sunda.

Sikap Gajahmada yang tampak tidak ksatria ini menimbulkan ketidak simpatikan para keturunan kerajaan Sunda. Bahkan sehabis perang Bubat, di kerajaan Sunda berlaku larangan estri ti luaran. Orang-orang Sunda tidak boleh menikah dengan orang luar, terutama orang Jawa. Jadi meskipun Gajahmada dianggap sebagai tokoh Nusantara, orang-orang Sunda tidak mengakui ini.

Yah, cerita soal Gajahmada ini sebenarnya hanya tokoh rekaan kan. Rekaan Sejarawan pada jamannya yang ingin membangun citra Nusantara yang Javasentris, katanya sih. Makanya pada buku-buku Pramoedya tentang sejarah Nusantara bahkan tidak menyinggung tokoh ini. Eh, yang Arus Balik maksudnya, yang Arok Dedes kan belum sampai kisah Majapahit.

Bahkan di Bali ada kelompok yang ngaku Sejarawan juga tidak bisa menerima tentang kekuasaan Majapahit di Bali. Tapi kalau ini sih mungkin kebablasan, bahkan menurutku malah menciptakan Sejarah Baru. katanya Gajahmada lahirnya di Bali dan Cikal bakal kerajaan Majapahit itu dari Bali. Tapi ternyata mereka menelusuri sejarah dari benda-benda peninggalan Majapahit di Bali, yah arkeolog dong namanya.

Tapi di Bali sekarang malah ada yang mengaku Raja Majapahit chapter Bali. Calon Gubernur lagi, duh!

#33HariBagiCerita #9

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s