Bahasa Inggris dan Hukuman Bu Padmi

Dulu sekali kami pernah nakal, kami ya, karena itu ulah siswa satu kelas

 

Tadi pagi saya berencana menulis soal suasana ramadhan di dua kota dimana saya pernah tinggal lebih dari satu bulan, Lumajang dan Karawang. Tapi tiba karena nyamber status messenger teman jadi berubah pikiran. Aku cuma berteman dengan beberapa teman SMA di saluran itu, hanya yang menurutku dulu remaja baik-baik. Tapi sekarang udah gede semua jadi orang baik-baik kok, dulu aja suka bully orang. Satu aku hapus pertemanan karena cuma promosi MLM setiap hari. Salah satu temanku ini sama-sama dari Banyuwangi, dia terpilih menjadi salah satu awardee LPDP dari beasiswa Afirmasi. Saat ini dia sedang mengikuti PB alias pengayaan Bahasa.

Dalam percakapan sebenarnya aku cuma memastikan dia kenal apa tidak dengan seniorku di Pencerah Nusantara, kak Dheyo namanya. Suami dari dr. Iim Karimah yang di sosmed aja udah lucu. sebenarnya aku juga belum pernah ketemu dengan dua orang ini, tapi di sosmed melihat mereka sebagai pasangan yang keren. Temanku ini ternyata gak kenal kak Dheyo meskipun sudah kusebutkan nama aslinya. Ternyata lokasi PB memang berada di beberapa titik di Jogja, membayangkan berarti banyak dong yang keterima LPDP iniih.

Percakapan kami berlanjut soal Universitas tujuan, seperti layaknya orang awam, hehe saya berencana bertanya banyak hal pada teman ini. Temanku ini dulu di kelas cukup pandai, nilainya saingan dengan teman paling pandai di kelas. cukup akrab juga, karena kami kaum-kaum biasa di bully karena logat jawaku dan logat maduranya dia. Tapi memang sejak SMP dia masuk di sekolah unggulan juga sih di Genteng, daerah di Banyuwangi yang pendidikannya lumayan maju dari daerahku. Kepandaiannya dia dibidang hitung-hitungan, ini karena dia memang rajin dan banyak bertanya baik sama teman atau guru. Saking dia senengnya tanya, temen-temen kadang gak suka. Karena seharusnya waktu pelajaran selesai, guru masih perlu menjelaskan lagi.

Dia sedang menunggu informasi hasil pendaftaran di UGM saat ini, padahal katanya dia sudah diterima di ANU (Australia National University). Setelah bertanya banyak, ternyata dia bilang nilai kemampuan bahasa inggrisnya masih kurang, jadi disarankan mengambil universitas dalam negeri. Bisa saja dia menyiapkan kemampuannya lagi, tapi baru bisa berangkat akhir tahun atau awal tahun depan gitu, aku lupa tanya kapan dia diterima sebagai awardee.

Catatan kami soal kemampuan bahasa inggris. Awal tahun lalu saya mengikuti tes kemampuan bahasa inggris, paper based. Secara tidak sengaja saya barengan dengan teman satu kelas waktu SMA juga. temanku ini mau melanjutkan sekolah spesialisasi dokter gigi. Dia bingung, belum pernah ikut tes sebelumnya. Dulu waktu SMA yang kutahu anak ini termasuk cerdas juga, nilai bahasa inggris juga masih diatasku lah. Tes hari itu sudah lewat, dia mengambil hasil tes duluan dua minggu berikutnya yang ternyata juga memberitahu hasil tesku. Hasil tes kami sama-sama mengecewakan.

Hari ini tiba-tiba ingatanku terpaut pada kenangan kami SMA. Saat itu kami kelas dua SMA. Sekolah kami termasuk menerima siswa cukup banyak, ada 10 kelas dengan rata-rata siswa 50 an tiap kelas. Sekolah negeri tidak favorit seperti sekolah kami memiliki guru-guru yang bisa mengajar sepertinya cukup. Jadi, waktu itu kami memiliki guru bahasa inggris yang usianya sudah cukup tua, seorang perempuan. Kakak kelas bilang sih memang salah satu guru killer, tapi menurut kami caranya mengajarnya memang kurang. Salah satu keponakannya ada di kelas kami, meskipun begitu gaya mengajarnya dikelas selalu sok-sok galak.  Beberapa teman yang memiliki tingkat kenakalan lebih memang suka mengganggu guru ini, beberapa kali mereka terlambat masuk pada jam pertama. Aku juga suka terlambat, tapi seingatku belum pernah dihukum guru ini. Teman-temanku ini diminta meminta maaf pakai bahasa inggris tapi tidak bisa, suatu hari seorang temanku yang nakal ini ternyata masuk jurusan pendidikan guru bahasa inggris.

Tugas-tugas yang diberikan guru selalu kami kerjakan, tapi karena guru ini memiliki penilaian negatif terhadap kelas kami, kami selalu salah dimatanya. Pekerjaan kami jarang diapresiasi, guru ini juga sering membanding-bandingkan antar satu siswa dengan lainnya. Sampai suatu ketika, nilai ulangan harian kami sekelas dibuat jelek, seperti tidak masuk akal karena nilainya merata satu kelas. Kamipun protes dan mengadu melalui guru BP, bahkan ada orang tua siswa yang menghadap guru. kalau Bapakku sih cuek-cuek aja 😥 Sampai akhirnya belum sampai akhir semester, guru ini jadi jarang masuk atau diganti ya, lupa. Pada saat kelas III, kami seharusnya diajar guru ini juga tapi karena pernah bermasalah akhirnya digantikan oleh Pak Sunarta, salah satu guru senior yang kualitasnya tidak diragukan. ya mungkin itu sisa-sisa kenakalan remaja kami. Usia remaja menurutku memang butuh cara pengajaran yang tepat, bukan dipaksakan memahami guru semacam itu

Lalu, tadi saat aku mengobrol tentang kemampuan bahasa ini, aku berkelakar, “mungkin kita kena hukuman dari bu Padmi ya,” kataku. Kita harusnya “don’t be Lazy dulu py,” kata temanku menirukan kata-kata yang selalu ditanamkan guru bahasa inggrisku itu. Kira-kira Begitu.

 

#33HariBagiCerita #8

Advertisements

One thought on “Bahasa Inggris dan Hukuman Bu Padmi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s