Berkebun Sayuran

Sebagian anak nenek menjadi petani, ada yang karena memilih ada juga karena nasib

Nenek dan kakek dari bapak adalah petani tulen. Mereka bekerja keras mulai dari masa muda. Nenek yang keluarganya pendatang dari Jogja sehari-hari mata pencaharian keluarganya berladang. Kakek adalah pindahan dari Blitar, sejak kecil ikut keluarga petani yang cukup mapan. Kakek belajar bersawah sejak kecil.

Ketika menikah dengan nenek, akhirnya mereka berdua bisa membeli petak-petak tanah dan menggarapnya. Ketika anak-anak mereka mulai masuk sekolah, nenek dan anak pertama yang (dikorbankan) tidak sekolah, hanya sampai SD saja, tiap hari menginap di hutan mengerjakan ladang. Mereka berladang untuk membiayai sekolah anak dan adik-adiknya yang berjumlah lima. Sementara Kakek tidak ke Huma karena merawat sapi peliharaan dan ambil nira. Bapakku, anak kedua memilih tetap lanjut sekolah, hanya membantu ketika musim menyawah tiba.

Begitulah, ketika anak-anak mendapatkan kesempatan pekerjaan diluar kehidupan petani walaupun mereka belajar bertani sejak kecil, tapi tidak melanjutkan. Tetapi ada bibiku yang ternyata mewarisi kegigihan Kakek dan nenekku menjadi petani, diluar kegiatannya mengajar.

Bibiku ini mulanya menanam padi seperti petani pada umumnya di Banyuwangi, saat ini juga masih melakukan ini. Tapi sejak tahun 2013 lalu dia dan suaminya mencoba peruntungan menanam buah naga dengan sistem bagi hasil. Kegiatan itu membuahkan hasil, tapi akhirnya kebun dikembalikan ke pemilik tanah. Saat ini juga kembali menanam buah naga ditambah juga jeruk, memanfaatkan lahan nenek yang tidak mampu lagi digarapnya.

Disela-sela tanaman buahnya, bibi menanam cabe dan terong. Dua macam sayuran itu ditanam sejak sekitar dua bulan yang lalu. “modalnya cuma seratus ribu dan pupuk 10 Kg,” katanya. Dulu nenek juga menanam terong, jenis sayuran ini memang paling bagus ditanam didaerahku yang lumayan panas, karena dekat pantai. Bahkan karena dulu cara memasak terong kurang beragam, sampai bosan dengan menu terong.

Terong ini termasuk tanaman tahan lama, sepanjang tahun terong bisa berbuah. “kuat sampai tiga tahun,” kata Bibiku. Pohon terong yang sudah tua tinggal di potong, kemudian nanti akan tumbuh lagi setelah tiga tahun itu.

Kemarin saat bibiku bercerita dia baru panen sehari sebelumnya, katanya terongnya sudah tiga kali panen. “yang pertama dapat 25 Kg, seharga 2000 per kilo, kedua 25 Kg harganya 1200 per kilo, dan kemarin dapat 50 kg, harganya cuma 1000,” katanya. Tadinya aku membayangkan, wah lahan seuprit depan rumah nenekku bisa menghasilkan terong 50 Kg, alangkah banyaknya pikirku. Tapi ketika aku menghitung lagi, “lho, berarti cuma dapat 50 ribu dong, segitu murahnya sayur?” kataku dalam percakapan dengan bibiku. Bibiku menjawab, ya segitu, tetapi katanya semakin lama, tiap panen akan terus bertambah banyak, jadi dia tidak khawatir.

Baru terasa, ternyata sayur para petani itu memang dihargai murah sekali. gitu aja kalau belanja sayur di pasar ditawar semurah mungkin, yaiyasih, kan untungnya sudah gak di petani lagi. Katanya terong dari daerahku itu dikirimnya ke Bali, bisa mungkin terong pada langganan sayur kita bisa jadi berasal dari depan rumah nenek. *apasih.

Tapi suatu hari, pengen juga tinggal di pinggiran kota dan berkebun semacam ini. Berkebun Sayur!

#33haribagicerita #7

Advertisements

3 thoughts on “Berkebun Sayuran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s