Enam Tahun

Tepat enam tahun yang lalu bapak saya meninggal dunia

Enam tahun terakhir rasanya susah diungkapkan ketika rangkaian Mei-Juni tiba. Mei atau Juni adalah biasa bulan Waisak tiba, sering bergantian diantara dua bulan itu. Bulan yang dulu selalu kutunggu, karena kami sekeluarga akan merayakannya bersama. Atau kami akan bersukacita menunggu hari pulang kampung, bertemu keluarga besar. Meskipun, setelah itu mesti siap mendengar keluh kesah ibu. Kemudian, 20 Juni menambah deret alasan bulan ini tak pantas dirayakan.

Enam tahun, ibarat anak kecil sudah waktunya naik kelas B taman kanak-kanak, dan kemudian SD. Jika dipaksakan seharusnya sudah bisa menulis huruf dan angka, pandai menyanyi, membaca kata-kata dan hapal nama-nama buah, binatang atau lainnya. Sayang, saya belajar semua itu tidak di taman kanak-kanak. Saya belajar dari bibi-bibi yang baik hati memperhatikan saya. Tanpa silabus pengajaran membuat saya belajar tak terbatas.

Kira-kira seperti itu, tahun pertama saya hanya bisa menangis, hampir sepanjang tahun. Mencatat semua kesedihan, kemudian menempelnya sembarang di kamar. Kemudian, dua tahun berikutnya saya mulai mencabuti kertas-kertas itu. Dipikiran hanya terlintas bagaimana keluar dari rumah, dan tak mengingat apapun. saya bahkan pernah bilang pada kakak saya, seandainya saat itu ada yang mengajak saya menikah, akan saya iyakan saja. Hanya untuk pergi dari rumah. Saya pernah berharap hanya laki-laki yang hadir di pemakaman bapak yang akan menjadi pendamping saya, naif. Tapi saya bersyukur kegiatan organisasi menyelamatkan saya.

Tahun kedua saya mulai stabil dan fokus semester akhir. Saya mulai menyadari betapa teman-teman dan keluarga selalu ada saat saya membutuhkan mereka. Mereka tidak hanya menguatkan tetapi juga memberikan penghiburan serta mengajak saya untuk membuat hal yang berguna. Tahun ketiga, saya sedang menikmati masa kebebasan, belum bekerja serius, dan bebas main-main tanpa meninggalkan tanggungjawab.

Tahun keempat, saya mulai memikirkan sesuatu yang serius tentang hidup. Tahun kelima, tahun yang membanggakan sekaligus tahun dimana harus menerima banyak kenyataan. Dan tahun keenam adalah tahun tanpa kompromi, banyak hal tak diramalkan terjadi.

Tahun baru dan berikutnya lagi, berharap seperti anak-anak SD, yang meskipun tak tamat sekolah taman kanak-kanak tetap percaya diri menghadapi tahun-tahun yang entah akan seperti apa. Tak apa menjadi anak SD yang tak lulus TK tapi mengalahkan teman-teman lainnya, dicibir para orang tua murid, ya namanya juga sekolah kehidupan. Ibarat anak SD yang tak perlu ditunggui sekolah, seperti itu juga harapan saya. Bisa tinggal tanpa perlu ada yang mengkhawatirkan. Dan bagai anak SD, saya berjanji untuk terus hidup tanpa beban dan belajar atau mengerjakan sesuatu karena saya suka. Saya akan melalui hari-hari dengan sukacita.

Dan, meskipun pasca ditinggal bapak terus tertatih-tatih menghadapi kehidupan ibarat sedang menuju sekolah dasar kehidupan, saya sudah siap kok masuk kelas akselerasi menuju pelaminan *ehh.

Semoga bapak terlahir kembali di alam yang berbahagia. Semoga kita bertemu kembali pada kelahiran-kelahiran yang akan datang. Sabbe satta bhavantu sukhitatta.

#33HariBagiCerita #4

*PS : terima kasih yang telah menemani tahun-tahun terberat saya empat tahun terakhir, terima kasih telah mengerti dan memahami keganjilan saya hingga detik ini

Advertisements

2 thoughts on “Enam Tahun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s