Lingkaran (2)

Berhubung resensi saya tentang Arus Balik gak selesai-selesai, agak males nulis blog. Trus tiap minggu nulis tentang JKN di salah website jurnalisme warga lokal kadang bikin malas nulis yang lain. *halah alasan

Baiklah, sedang ingin mengeluarkan unek-unek, yaitu tentang lingkaran pertemanan. sedang merasakan keajaiban lingkungan pertemanan sih.

Dulu jaman umur 20an awal adalah masa bingung-bingungnya memilih lingkaran pertemanan. Karena informasi yang terbatas tentang Kiri-kanan bikin insecure memilih pertemanan. Tapi gak segitunya juga kali. Berteman mah dengan siapa saja, ambil saja ilmunya, yang gak sesuai diakal ya tak perlu diikuti. ibaratnya, ilmu kiri -kanan harus seimbang, sesekali jadi hedon boleh, tapi kalau perhatian terhadap isu tertentu tetep mesti fokus dan totalitas. Tapi ya, namanya gejolak muda yang menggebu-gebu, gayanya gimana gitu baru baca buku tertentu, baru ikut diskusi tertentu saja.

Akhirnya, tiba waktunya, bahwa hidup itu untuk maju. Kamu gak akan berkembang jika hanya berada dalam kesempitan pikiranmu. Mesti bisa bergaul dengan siapa saja, meski bukan tujuan untuk membuktikan bahwa dirimu ter- dalam kelompok-kelompok tertentu. Satu hal, karena mengenal banyak orang dengan banyak karakter memang sangat perlu untuk memahami dunia ini. Dunia sempit yang ingin dikuasai begitu banyak orang, dunia dimana banyak orang ingin menjadi lebih dari yang lain. dan sesederhana itu kita menemukan banyak keajaiban.

Berpikir dasar bahwa, semua orang adalah baik penting. ya, kita tidak mungkin dapat memahami motiv pertemanan semua orang dalam lingkaran kita, makanya jenis pertemanan tertentu kadang menyebalkan. Apalagi gara-gara media sosial, pertemanan bisa demikian luasnya. Tapi kita bisa sih menyaring lingkaran-lingkaran itu dalam medsos tertentu.

Belakangan merasakan sering bertemu orang hanya pada saat tertentu dalam jangka waktu yang relatif singkat. misal, pelatihan atau program-program pendek. dalam jangka itu kita bisa saja langsung memberi penilaian terhadap orang-orang yang kita temui, kadang ingin menjalin mereka menjadi lingkaran yang lebih dekat karena merasa mereka memiliki kualifikasi tertentu yang mungkin saja kita membutuhkan informasinya. Tapinya eh, tidak semua orang menganggap orang yang ditemui seperti itu. Baiklah, berpikiran positif saja, misalnya gak semua yang mention Dian Sastro bakal ditanggapi satu-satu kan, atau yah, Dewi Lestari sih sayangnya membalas semua mention yang positif buat dia, apalagi mas Agus Mulyadi 😛

Kadang dianggap siapa sih loe nanya-nanya begini, dianggap mencari muka hanya karena komentar status yang sebenarnya entah cuma pamer atau yahh namanya sosmed kebanyakan dipakai buat pamer sih. Baiklah, itu tidak penting. ya gimana dong, pas banget tertarik dengan isunya, kecuali kalau itu status-statusan mengenai tempat gitu. Pendek kata mau menyimpulkan, generasi sosmed itu gak siap buat diajak diskusi, jadi kalau gak mau baper yaudah paka media konvensional lagi aja kalau memang perlu, email misalnya. *tapinya emailku juga diabaikan*

Baiklah, pasang ikat kepala

 

 

 

Gudang Sloka, 22 April 2016

hari ini di kantor mau diskusi krisis kader LSM, nah sebenarnya krisis atau kelompok tua yang ga membuka diri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s