Saat Para Bintang Mulai Berguguran

Rasanya semacam patah hati.

Iya, jadi seperti patah hati rasanya saat awal bulan lalu mendengar ada salah satu anggota remaja bintang pencerah mulai menikah. seharusnya menjadi kabar bahagia ya, pernikahan? tapi ini membuat saya jadi susah komentar karena mereka menikah dalam usia yang sangat muda, kelas 1 SMA.

Baru empat bulan kami meninggalkan daerah penempatan di Karawang, dan rasanya baru kemarin saya berbincang dengan W. ia seorang remaja perempuan. penampilannya memang anggun dan menarik, ditambah dengan kecerdasannya dan kekalemannya mungkin memang menjadi pesona tersendiri. waktu itu aku bertanya kepadanya, ia ingin menjadi apa nanti, dia mengatakan ingin menjadi bidan. Ya, mungkin itu salah satu cita-cita tinggi untuk ia yang berasal dari keluarga petani. Aku membumbui komentarku waktu itu dengan kalimat yang sebisa mungkin menjadi motivasi untuknya, dan aku juga berharap ia paling tidak menyelesaikan pendidikannya hingga SMA.

waktu kami akan meninggalkan daerah penempatan, W berpacaran dengan salah satu anak anggota Bintang pencerah juga. kalau tidak salah itu merupakan pertama kali W berpacaran. Kami waktu itu senang mendengarnya, karena kalau mereka berpacaran dengan anak-anak sesama Bintang cukup familiar dengan informasi tentang pernikahan dini dan kehamilan diluar nikah yang sering kami bawakan. mereka juga memahami apa dampaknya terhadap kondisi psikis maupun fisik mereka yang belum matang. kami berharap jika mereka berpacaran tetap mengingat hal-hal yang sudah mereka dengar tersebut sehingga bisa menghindari pernikahan dini. Ya, namanya mereka para Bintang, harapan kami sih mereka bisa menjadi contoh untuk rekan-rekan sumurannya. nah, tak berapa lama kami mendengar mereka tidak bersama lagi. ya, kami hanya mendengar melalui sosial media.

Lalu tiba-tiba awal bulan Februari ini kami mendengar W menikah dengan laki-laki yang juga tetangga kampungnya. waktu itu mantan pacar W menandai foto di fb, awalnya biasa aja, kemudian mengingat-ingat wajah W. aku menepis dalam hati bahwa itu bukan W, tapi kemudian kak Tyas berkomentar bahwa benar itu W, dan kemudian speechless.

Aku merenung sejenak, apa sebenarnya yang menjadi pikiran saat menikahkan anaknya yang terlalu muda? tapi iya sih, aku sendiri merasakan, anak perempuan remaja itu beban bagi orang tuanya. Bahkan sampai aku sudah menjadi dewasa pun tetap dianggap beban, karena belum menikah *lohcurhat*. Mereka hanya tidak siap menghadapi kemungkinan terburuk yang akan terjadi pada anak-anak perempuan mereka, yang bisa jadi akan mencoreng nama baik keluarga. Jadi mungkin yang terjadi di Karawang ya seperti itu. mungkin W dulu sembunyi-sembunyi saat berpacaran dengan pacar pertamanya, dan ketika pacaran kedua ini mereka ketahuan dan harus segera menikah. Tapi kenapa orang tua tidak berpikir panjang tentang masa depan anak mereka. mengapa tidak mereka saja yang mengalah, memberikan pengawasan yang lebih ketat pada anaknya.

Suatu kali aku pernah bertemu dengan ibu pasien di Puskesmas di Karawang, ia bersama anak remajanya mengunjungi dokter untuk melakukan USG. Dokter menanyakan apa keluhanya dong, dan ternyata si Ibu belum lama melakukan tes kehamilan pada anak perempuannya dan tak terbukti hamil. Ia ingin tahu apakah anak itu benar-benar hamil atau tidak. Si anak ini baru SMP entah aku lupa kelas 1 atau 2. ia ketahuan berpacaran dengan seorang lelaki yang sudah lebih dari 20 tahun umurnya. Mungkin si anak ini ditanyakan, bagian-bagian tubuh mana saja yang pernah dipegang pacarnya, dan orang tuanya kemudian memaksa mereka menikah. si anak ini harus keluar dari sekolah atas permintaan orang tua nya dan ternyata tidak hamil.

Aku tidak ingin bilang ini keegoisan orang tua, hanya saja kupikir mereka tidak ingin mengambil resiko-resiko atas kemoralan anak-anak yang mereka bentuk sendiri. Padahal di satu sisi mereka pasti juga akan kerepotan mengurus tidak hanya anaknya, tetapi juga mesti mengurus menantunya. Dan dari situ penderitaan ibu muda dimulai, dan secara psikis mungkin akan mempengaruhi tidak hanya kualitas sistem reproduksi tapi pendidikan anak-anaknya nanti.

 

 

Sloka Institute menjelang pulang

 

Advertisements

2 thoughts on “Saat Para Bintang Mulai Berguguran

  1. 😦 aku sedih banget baca ini. Btw salah satu kewajiban orang tua adalah mencegah anak untuk menikah di usia muda.
    Ah tapi panjang ya kalo ngomngin edukasi soal ini. *sedih lagi*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s