Film Pertama 2016 : Love, Rosie yang Mengaduk-aduk Emosi

Film dan buku adalah pertanda gairah dalam hidup, setidaknya itu yang terjadi padaku.

Kalau gairah hidup saya sedang menggebu-gebu biasanya saya akan search film-film tertentu yang direkomendasikan dalam diskusi atau sekadar tulisan lewat dengan tema-tema yang sedang saya minati. Kemudian saya akan segera nonton film itu sampai tuntas dan tidak lupa pamer. Kalau buku, sebenarnya tidak bisa dijadikan patokan, yang jelas saat saya “hidup” saya bisa menyelesaikan satu buku yang sudah ada di rak dalam waktu satu bulan. Dikit sih, biasanya tergantung kesibukan dan mood itu lho.

Nah, itulah satu kejelekan, saat mood berubah-ubah saya cenderung menghindari kedua hal tersebut. Tapi khusus film, kadang saya akan nonton film yang menguras emosi sekalian pada saat suasana hati sedang buruk.

Sejak kepulangan dari Karawang, saya hampir bisa dihitung berapa kali nonton. Bulan September nonton episode-episode akhir satu drama korea yang saya tonton setengahnya lebih di Karawang, dan 3 episode terakhirnya saya download di hotel di Jakarta saat orientasi. Setelah itu nonton satu seri drakor lagi bulan November dan satu film yang tak selesai.

Dan, baru Januari ini saya nonton lagi. Artinya…. Hore semoga suasana hati segera membaik. Baiklah ini gara-gara satu tulisan di hipwee. Nah, kan ketahuan saya lebih ter-hipwee daripada ter-mojok.

Jadi ada tujuh film yang direkomendasikan untuk ditonton, salah satunya film ini. Awalnya saya cuma penasaran dengan film the interview, tentang sebuah misi ke Korea Utara gitu. Kemudian saya berinisiatif download saat pergi ke warnet, tapi rupanya saya tidak perlu repot-repot mengunduh karena di hard disk saya ada tersimpan. Bahkan kedua film lain yang saya cari juga ada. Thanks mas Gatot, hee waktu mau pulang ke Bali sempat copy film dari mas Gatot di laptop mbak Halimceu.

Tapi akhirnya saya belum jadi nonton The Interview, malah kepingin nonton Love, Rosie. Nah, sebenarnya cerita intinya sederhana, sepasang remaja yang sejak kecil bersahabat, keduanya saling menyayangi lebih dari sahabat. Keduanya memiliki cita-cita, dimana untuk meraih keinginan tersebut tidak sederhana, mereka ingin kuliah bersama di Boston. Si perempuan bernama Rosie, dan cowoknya namanya Alex. Alex ingin melanjutkan ke sekolah medis sedangkan Rosie ingin lanjut ke jurusan manajemen perhotelan, karena cita-citanya sederhana, ia ingin memiliki hotel suatu saat nanti.

Keduanya sama-sama diterima di Universitas impian mereka, tapi sayang kerikil kecil menghalangi keinginan Rosie. Rasa keingintahuan khas remaja menjadi kecelakaan yang tak diperhitungkan olehnya, pasangan sex pertamanya tidak bisa cara menggunakan kondom dan Rosie hamil. Alex berangkat lebih dahulu ke Boston, dan Rosie tetap tinggal untuk mempersiapkan kelahiran bayinya.

Alex mengetahui hal tersebut di kemudian hari dari mantan kekasihnya, yang merupakan saingan Rosie, Bethany. Rosie menjelaskan kepada Alex tentang ketidakmungkinan saat itu untuk menikah dengan Greg ayah bayinya. Hubungan mereka baik-baik saja, bahkan pacar Alex juga tetap baik dengan Rosie dan anaknya. Hingga akhirnya Alex mengalami satu kejenuhan, ia mengundang Rosie ke Boston, tempat yang ia janjikan pada Rosie saat mereka masih remaja. Tapi saat pertemuan tersebut malah terjadi kesalahpahaman, Rosie berharap lebih undangan Alex, begitujuga dengan Alex, tetapi ternyata pacar Alex sedang hamil (ternyata hamil dengan orang lain).

Rosie marah, ia pulang. Dan ternyata Greg kembali menemuinya. Mereka kemudian menikah, itu terjadi ketika putrinya sudah berumur lima tahun. Cerita perjalanan pernikahan Rosie berlangsung datar, tiada pertengkaran ataupun kebahagiaan sesungguhnya, ia hanya senang anaknya berbahagia bersama dengan ayahnya. sampai suatu ketika ada berita ayah Rosie meninggal. Alex datang ke acara pemakaman ayah Rosie, ia mengucapkan rasa simpati atas meninggalnya ayah Rosie. Greg terlambat datang ke pemakaman, kemudian sempat terjadi adu mulut dengan Alex. Hingga suatu pagi Greg menerima surat di depan pintu rumahnya, surat tersebut untuk Rosie, dari Alex dan ayahnya saat liburan. Greg hanya memberikan surat dari ayah Rosie kepada Rosie. surat dari Alex dibuka dan dibaca kemudian ia simpan.

Ternyata itu menjadi titik balik hubungan Rosie dan Greg, yang ternyata mereka sama-sama memiliki keraguan dalam pernikahan mereka. Akhirnya mereka bercerai, Rosie kembali ke rumah orang tuanya, saat sebelum pindahan ia menemukan surat Alex yang disembunyikan Greg. Rosie menghubungi Alex yang ternyata akan segera menikah dengan Bethani. ia bersama sahabatnya dan putrinya tidak ingin melewatkan kesempatan Alex untuk mengutarakan perasaanya pada Alex, dan ia terlambat.

Semua setting tersebut adalah kilas balik kisah Rosie yang saat itu sedang berdiri menyampaikan kesan dan nasehat pernikahan untuk sahabatnya Alex, yang menikah dengan Bethani, pacarnya ketika masih remaja. dan pada malam itu juga akhirnya ia tahu mengapa Alex terlihat tidak memilihnya sejak awal untuk menjadi kekasih, Rosie telah menolak ciuman pertama Alex.

Ya, sebenarnya ceritanya hanya sesederhana itu. sedikit kisah remaja dan nasehat pernikahan, dan ini yang disampaikan, ups…nanti saya update lagi deh 🙂

 

Posted from WordPress for Android

Advertisements

2 thoughts on “Film Pertama 2016 : Love, Rosie yang Mengaduk-aduk Emosi

  1. Semacam berjalan-jalan tapi hanya diatas kepala ya kak 🙂 aku langsung penasaran dengan gelombang saat baru beredar tahun lalu, waktu itu lagi rajin-rajinnya belanja buku *baca : sedang berlebih budget* dan ternyata isinya tidak sesuai ekspektasi 😦

    wah seneng nih kak Eka mampir, alopiu kak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s