Masa Mudamu Terselamatkan

“Kalau aku gak masuk Akademika mungkin sekarang aku jadi waiter” -Asykur Anam, 23 tahun-

Dua hari lalu aku dan beberapa teman bercakap-cakap via media Line, seperti biasa percakapan kami berujung pembulian asykur atau aku dan beberapa gosip. Beberapa teman itu antara lain Oze, Candra, Asykur dan tentu saja aku. Kami sejak tahun-tahun terakhir di Aka memang sering pergi atau sekadar ngobrol bersama. Dan sekarang kami masing-masing sudah berpisah dan memiliki kesibukan sendiri-sendiri. Oze dan Asykur membantu memperkaya grup nya CT, tapi beda Departemen. *halah Departemen. Lebih tepatnya, Asykur di CNN tv dan Oze di perusahaan pengembangan skill gitu-gitulah, aku kurang paham. Sementara aku di Karawang dan Candra bekerja di sebuah NGO di Denpasar. Terakhir kami ketemu, sudah cukup lama, jadi kami biasa ber haha hihi via media tertentu.

Percakapan kami kadang semi-semi serius, dari soal Gosip pembangunan sirkuit F1 di Bali hingga kemungkinan bos CT bakal nyalon Presiden tahun 2019, kita lihat saja nanti hehe. Dan yang gak serius tentu saja soal si Asykur yang bilang dia mungkin bakal jadi waiter kalau gak masuk Akademika. Atau Asykur yang mulai belajar bahasa inggris karena berambisi mendapatkan beasiswa Nieman, biar gak kalah kerensama temen-temennya. *yang ini boong. Padahal itu cuma dibilang ke Oze, tapi sama oze disebarkan ke kami. Aku sendiri juga bilang, sepertinya aku hanya akan jadi butiran debu kalau gak pernah punya pengalaman berorganisasi  (terutama di Akademika), mungkin hanya akan jadi sukarelawan Puskesmas atau ikut arus yang mengalir.

Ku akui pengalaman berorganisasi memang jadi berharga banget, gak cuma ketemu teman-teman tapi juga ruang belajar dan rumah kedua. Apalagi buat aku, yang prestasi tidak banyak, kemauan untuk show up juga kurang, pengalaman berorganisasi menjadi sangat berharga untuk menjadi pertimbangan ketika melamar untuk kepentingan pekerjaan atau bertemu orang tertentu. Skill-skill yang pernah aku pelajari sebelumnya baik administrasi, keuangan organisasi, team building, skill menulis dasar, semuanya terpakai. Dan satu hal lagi, tentang mengasah kepekaan. Mungkin ini tidak dipelajari di semua organisasi, tapi di Akademika ada. Secara periodik di Akademika membahas tema-tema tertentu untuk buletin, tabloid maupun bahan berita lainnya. Selain itu juga ada wadah diskusi khusus untuk pengembangan SDM. Awal-awal masuk Aka memang melelahkan tiap ketemu ngomongnya jadi serius, tapi tahun-tahun terakhir jadi ketagihan. * boong ya.

Kebiasaan itu jadi terbawa sampai sekarang, aku sendiri merasakan itu sebagai hal positif dan negatif dalam lingkungan baruku. Hal postif karena seringkali sudah pernah mendengar banyak hal yang menyangkut isu sosial, ekonomi atau politik, jadi kadang sangat mudah menghubungkan hal baru dengan hal-hal tersebut. Negatifnya, kalau bergaul dengan teman-teman hedon atau yang pragmatis, rasanya perlu menghela nafas yang sangat panjang untuk memahami segalanya. Gitulah kira-kira, apa yang pernah dipelajari di Organisasi tidak hanya sebatas peningkatan skill, tapi juga membangun karakter. Untuk yang tidak merasakan seperti ini, mungkin kalian hanya numpang nampang di Organisasimu. Asykur juga pernah merasakan hampir serupa, saat baru-baru di CNN ia menemukan banyak teman-teman wartawannya yang pragmatis, pekerjaan mereka adalah soal gengsi dan batu loncatan untuk karir, padahal mereka katanya rata-rata adalah orang-orang terbaik dari jurusan komunikasi di kampus-kampus mereka.

Pengendalian Diri

Di organisasi kadang kita juga menemukan orang-orang yang memiliki pemikiran sama maupun yang berbeda sama sekali, dari situlah kita belajar berkembang. Mengenal apa yang cocok dan tidak cocok untuk kita. Dari situ juga akan belajar tentang pengendalian diri, baik hanya perihal mengalahkan ego hingga terkait moral yang tertanam dari organisasi tersebut. Hal-hal yang pernah aku dapatkan di Organisasi seringkali secara tidak langsung menjadi pengendali diriku di Lingkungan baru, melatihku untuk tidak tamak maupun hanya omong kosong. Gitulah kira-kira.

Nah, cerita lainnya, beberapa hari yang lalu, adikku bilang sedang mendaftar di salah satu organisasi ekstra kampus, aku cukup senang mendengarnya. Dari awal aku mensugesti dia untuk masuk di Persma, dia menolak mentah-mentah. Lalu aku menyadari, untuk apa menjadikan adikku sama seperti aku, akan membebani dia. Pelan-pelan dia mulai aktif di kampusnya, dia aktif di kelas dan memiliki kelas diskusi sejarah bersama teman-temanya. Untuk dia itu perkembangan yang cukup pesat, dari yang awalnya dia anak geng motor dan geng banjar yang kumpul-kumpul gak jelas ketika SMA. Saat itu aku juga masih khawatir, dia hanya akan menggunakan ilmunya untuk menjadi opportunis. Dan ketika dia mengirim pesan elektronik perihal niatnya itu, aku cuma bilang, “selamat, masa mudamu terselamatkan.” semoga demikian

Karawang, 18 Mei 2015

Lot’s of love
Happy Ari S

Advertisements

One thought on “Masa Mudamu Terselamatkan

  1. aku meskipun di Aka kayak numpang lewat, tapi tanpa Aka aku mungkin jadi manusia biasa seperti kebanyakan, gak bakal berani keluar dari tempurung, dan lagi gak bakal ketemu dan berteman dengan kalian. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s