Profesi-profesi Baru

Dengan tidak sangat intelek tapi sok mau ngutip, katanya spesialisasi profesi itu diciptakan untuk mendukung sistem yang telah berkembang ini agar orang-orang bisa bekerja lebih efisien sesuai bidangnya masing-masing, oleh karena itulah lahir spesialisasi-spesialisasi pekerjaan.

Ngomong-ngomong soal spesialisasi, seperti di bidang profesi saya, kesehatan masyarakat banyak banget. Tapi di masyarakat sendiri ternyata belum terlalu kenal *sedih. Di bidang pelayanan kesehatan sendiri ternyata tidak begitu dimanfaatkan juga, karena sub speliasisasi kesehatan masyarakat juga sudah banyak dan kesehatan masyarakat ilmunya terlalu luas. Tapi kalau mau mengakui misalnya seperti di pelayanan primer Puskesmas sangat diperlukan banget terutama manajemen Puskesmas atau surveilan, soalnya di Puskesmas kebanyakan kan masih tingkat pendidikannya D3 yang lebih banyak belajar klinis daripada manajemen atau dokter yang tidak jarang kurang paham (kurang peduli) tentang kesehatan primer. Tapi sayangnya manajemen pelayanan primer itu masih tradisional, karena perencanaan dan pelaporan yang penting bikin aja, ada contoh dari atasan jadi deh jadi siapapun bisa buat. Padahal harusnya perencanaan dan pelaporan bisa dijadikan acuan penilaian program-program. Dan satu lagi, program-program di pelayanan primer emang gak semua jalan, jadi kadang petugas surveilan bisa dirangkap-rangkap.  Nah, sekarang ilmu kedokteran juga lagi galau, dulu ilmu kesehatan masyarakat ini masuk di bagian ilmu perilaku, tapi di UI denger-denger buat jurusan dokter spesialis kesehatan masayarakat. Ahh emboh lah, pokoknya rumit kesehatan masyarakat ini.

Tapi sebenarnya saya bukan ingin menulis tentang Profesi kesehatan masyarakat ini. Saya ingin menuliskan tentang profesi-profesi yang (baru) berkembang dan terdengar di kehidupan masyarakat desa. Kebanyakan masyarakat desa menginginkan anak-anaknya sekolah pada jurusan-jurusan populer semacam dokter, bidan, perawat dan guru, lainnya akan menyarankan anak-anak mereka menjadi tentara atau polisi. alasannya sederhana adalah biar bisa langsung kerja, dengan profesi yang pasti.  Tapi seiring berkembanganya kehidupan, desa pun juga berkembang, informasi mengalir deras dan anak-anak desa dan para orang tua memiliki banyak akses informasi tentang jurusan untuk mereka. Tetapi sayangnya mereka tetap memandang pekerjaan hanya semata-mata untuk mendapatkan materi dan kekuasaan, kadang melupakan hal-hal penting semacam fungsi dari keprofesian itu sendiri.

Ini sebenarnya hasil observasi tidak langsung di tempat penugasan saya yang tentu saja dibumbui pendapat saya pribadi. Setidaknya ada tiga profesi yang terkesan baru yang sedikit melenceng dari fungsinya antara lain Pengacara, Wartawan dan Pekerja LSM. Tiga profesi ini di daerah tempat saya live in di Karawang ini menjadi momok sekaligus kekuatan tersendiri.

  1. Pengacara

 

Beberapa waktu lalu salah satu bidan disini tersangkut sebuah masalah. Gara-garanya sepele, si bidan menerima pasien melahirkan sementara malamnya ia berencana pergi ke ke kota lain karena besoknya ada saudara yang wisuda. Sampai malam ternyata pasien belum juga lahiran, hingga akhirnya bu bidan ini mengontak teman-temannya untuk membantu proses kelahiran si ibu, sementara ia berlenggang pergi. Akhirnya si ibu ini tidak terima, karena si ibu berasal dari daerah tempat bidan desa tersebut. Si ibu yang kebetulan teman salah satu tenaga kesehatan di daerah tersebut mengadu kepada kawannya itu. Keesokan harinya berita menyebar di Puskesmas dan menjadi omongan banyak orang. Sebenarnya masalah si ibu dengan bidan desa ini sudah selesai secara kekeluargaan, tapi gara-gara berita menyebar itu bu bidan ini menuntut si ibu dengan tuduhan mencemarkan nama baiknya. *kayak di sinetron gak?

Bidan desa ini melaporkan ibu melahirkan itu ke polisi dan meminta bantuan pengacara. Tapi akhirnya bu bidan juga sudah ditegur oleh bidan koordinator dan kepala Puskesmas, karena memang dia yang salah. Tetapi yang lebih penting dari permasalahan ini adalah, profesi baru semacam pengacara ini memang baru beberapa orang di Kabupaten ini. Dengan tugasnya yang membela kasus-kasus ini sering disalahgunakan dan kadang mengambil kesempatan juga. orang-orang desa ini mentang-mentang bisa membayar mereka main tuntut saja. Mereka tidak peduli apakah sebenarnya masalah mereka memang pantas untuk didampingi atau tidak

 

  1. Wartawan

Kita semua tahu kalau media itu memang kekuatan, kekuatan untuk menindas sekaligus kekuatan untuk mengelabui. Eh ada satu lagi sih, kalau memang dimanfaatkan secara benar bisa menjadi kekuatan untuk berdaya. Tapi sayangnya di sini media ini benar-benar untuk politik. Kebetulan disini transparansi pemerintahan masih kurang, di beberapa instansi (mungkin semua sih) sepertinya juga tidak bersih, mulai dari pengangkatan pegawai, kinerja, dan sebagainya. Dan kita semua tahu lah macam apa orang-orang yang bekerja didalamnya. Memang banyak hal yang akhirnya bisa menjadi sorotan media.

Nah, disinilah profesi wartawan akhirnya menjadi momok. Mereka yang notabene pers abal-abal mencari berita dari satu instansi ke instansi lainya, entah seperti apa prosesnya. Yang jelas di Puskesmasku sekarang kapusnya hati-hati banget memasang informasi-informasi di puskesmas. Salah-salah ia bisa masuk media. Ia juga sangat hati-hati menginformasikan program-program kesehatan masyarakat untuk keluar gedung. Ya.. karena si wartawan ini akan datang meminta uang untuk meberitakan kegiatan tersebut.

Tapi sebenarnya kurang tahu juga letak permasalahannya ini pada wartawan atau pada instansinya yang karena tidak transparan dan kinerja yang kurang makanya terlalu horor dengan media. Tapi yang pasti si wartawan bodrex ini mau-mau saja menerima uang tersebut.

Baru-baru ini saya juga ikutan horor menghadapi wartawan, jadi ceritanya ada pasien yang dirujuk ke Puskesmas. Ternyata si pasien ini meninggal, kata dokter ia kemungkinan sudah meninggal sejak di perjalanan, tapi waktu tiba di Puskesmas memang nafasnya masih sepenggal-sepenggal. Anak ini dirujuk karena mencoba bunuh diri minum obat pertanian jenis organofosfat, dan memang sudah dua jam sebelumnya ia minum racun itu. Nah setelah itu si bapak wartawan tiba-tiba muncul memperkenalkan namanya, waktu itu beberapa petugas kesehatan masih duduk-duduk membicarakan si pasien yang baru saja dibawa pulang karena tidak tertolong. Kami semua tegang menghadapi bapak itu, para dokter menjelaskan duduk perkaranya. Setelah bapak itu pergi baru ingat, “kenapa kita tidak menanyakan dia dari media apa, menanyakan ada tanda pengenal persnya atau tidak, mau minta bicara dengan siapa?” *gubraak. Begitulah, wartawan di kampung memanfaatkan situasi banget.

 

  1. Pekerja LSM

Nah, ini satu lagi, mencemarkan nama baik para orang yang bekerja di NGO. Suatu ketika menjelang hari AIDS sedunia salah satu dokter yang cukup peduli dengan program-program Puskesmas berencana membuat penyuluhan dan layanan tes HIV serta pengobata IMS di komplek pelacuran. Nah team leaderku “dr. Dian” memberitahukan ke dokter kalau aku sudah pernah terlibat program semacam ini. Nah beliau lanjut menanyakan memang dulu kerjanya dimana, aku jawab “LSM.” Si dokter agak kaget, dan bilang, “haa…LSM yang minta uang-uang gitu?” *oke ada benarnya sih, minta-minta uang dari donor asing 😛

Jadi ceritanya disini ada beberapa LSM (sebutannya LSM), tapi menurut perkiraanku mereka hanyalah kumpulan preman-preman. Mereka ini tidak punya memiliki program-program gitu. Setiap ada proyek atau pembangunan apa gitu, kata si dokter mereka akan minta jatah. Bahkan orang yang membangun secara pribadi pun akan mereka mintakan jatah untuk mereka kalau orang tersebut cukup berada. Pendek kata mereka ini sekumpulan orang yang cukup meresahkan.

 

Nah itulah beberapa profesi-profesi baru yang meresahkan. Mereka memanfaatkan kondisi masyarakat yang silau akan kekayaan dan  nama yang menjadi fenomena tak baru lagi di masyarakat. Semoga orang-orang yang sadar, lebih banyak waktu dan kemauan untuk mengentaskan masyarakat yang menjadi korban profesi-profesi baru semacam ini

 

 

Lots of Love

Happy

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s