The Book Club : Sebuah Ruang Pemulihan

Jika dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar ibu-ibu sosialita membicarakan tentang tas bermerk terbaru, rumah atau mobil baru para anggotanya dan sibuk membicarakan para perempuan lain yang tidak mampu mengimbangi gaya hidup mereka, lima perempuan ini membicarakan tentang peradaban yang lain, buku. Para perempuan hampir separuh baya ini berkumpul bergantian di rumah para anggotanya di pusat urban Chicago.

Mengambil setting tahun 1998, buku ini menceritakan tentang anggota inti klub buku ini Eve Porter, Annie Blake, Doris Bridges, Gabriella dan Midge. Eve dan Doris bertetangga, mereka tinggal di satu perumahan mewah Riverton. Keduanya sehari-hari sebagi ibu rumah tangga, Eve istri dari seorang dokter bedah yang sering bepergian keluar kota untuk melaksanakan seminar-seminar sedangkan Doris istri dari seorang kontraktor. Mereka bersahabat, anak-anak mereka juga, hingga suatu peristiwa membalikkan kehidupan Eve. Suami Eve meninggal pada saat sedang bertugas ke luar kota. Peristiwa tersebut mengharuskan Eve menjadi tulang punggung keluarga, padahal sebelumnya ia tidak pernah memasuki dunia kerja sekalipun, setelah lulus kuliah ia langsung menikah dan menjadi ibu rumah tangga yang baik. Setelah peristiwa itu, ia mengalami stres yang cukup berat, para anggota club buku inilah yang selalu mendampingi dan menguatnya. Annie, seorang pengacara terkemuka, ia juga pengacara pribadi Eve saat suaminya masih hidup. Ia menyarankan  epada Eve untuk menjual rumahnya di  riverton dan berpindah tak jauh yaitu di Old Town Oakley. Annie juga menyarankan untuk mencari pekerjaan dan memilihkannya untuk Eve. Bagi Eve yang meskipun tak pernah bekerja formal, tapi ia pernah kerja sukarela terkait keilmuannya study bahasa, tidak terlalu sulit mendapatkan pekerjaan yang cukup sepadan dengan gelarnya. Tetapi sayangnya ia jatuh cinta dengan Dr. Paul Hammond, ketua program study di akademi tempatnya bekerja. Permasalahannya menjadi cukup rumit, karena Eve sudah mempunyai dua anak yang telah menginjak remaja, mereka baru saja kehilangan ayah mereka. Permasalahan Eve juga ditambah dengan tidak sempatnya mengucap selamat tinggal pada saat suaminya akan bertugas menjelang kematiannya dan pada hari pemakamannya muncul seorang perempuan misterius yang tak diketahui Eve.

Annie seorang pengacara hebat, sahabat terdekat Eve memiliki permaslaahan lain lagi. ia menikah pada saat usia 43 tahun, saat awal menikah ia menunda untuk memiliki anak. Hingga tiba saat ia menginginkan keluarga yang seutuhnya ia harus menerima kenyataan bahwa ia menderita kanker dan harus mengangkat rahimnya. Dorris yang dituntut suaminya untuk menjadi wanita sosialita ternyata tidak mampu mengimbangi gaya hidup suaminya, ia hanya menjadi wanita rumahan yang hanya melayani anak-anak dan suami yang bekerja. Ia bahkan tidak lagi memperhatikan dirinya dan tidak sempat bersenang-senang seperti yang dilakukan suaminya dengan para kliennya. ia juga harus menghadapi kekecewaan karena penghianatan suaminya. Gabriella adalah sosok yang memiliki keluarga paling bahagia, ia memiliki suami dan empat anak yang dicintainya. Tetapi karena suaminya dipecat dan belum mendapatkan pekerjaan tetap ia harus bekerja double shift sebagi perawat. Dan Midge, ia seorang seniman yang menjalani hidup melawan arus. Memang tidak seperti teman-temannya, Midge memilih single. Dari segi karya, ia juga memilih untuk menjadi lain daripada karya lukisan seniman lainnya. Ia berkonflik dengan ibunya yang selalu ingin merencanakan hidup untuk putrinya.

Disamping konflik diatas, sebenarnya pusat konflik yang ada dalam buku ini adalah tentang kehidupan seks para wanita ini. Eve yang diceritakan sebagai wanita lurus yang tidak pernah pacaran dan hanya pernah berhubungan dengan suaminya, ia menjadi ragu untuk menjalin hubungan pacaran lagi karena masih merasa terikat dengan suaminya yang meninggal. Annie perempuan yang takut menghadapi menopause, bahkan pada usia yang hampir menjelang 50 tahun ia masih ingin memiliki anak dan tetap tidak bisa menerima kenyataan bahwa ia sudah tidak subur lagi dan rahimnya harus diangkat. Annie yang pada masa mudanya pernah mengalami pelecehan seksual juga digambarkan mempengaruhi karakter serta relasi dengan suaminya.  Doris yang terlalu sibuk dengan keluarga hingga kelelahan mengalami penurunan minat seksual sehingga suaminya mengkhianatinya. Sedangkan Midge, ia mengalami ketidaktertarikan seksual pada lawan jenis meskipun tidak digambarkan penyebabnya. Dan pada Gabriela tidak digambarkan dengan jelas permasalahan seksualnya. Membaca buku ini seperti melihat discovery health channel yang pernah menayangkan talkshow terkait permasalahan seks semacam ini, permasalahan para perempuan karena pelecehan seksual, kanker, menjelang menopause dan ketidaktertarikan seksual.

Sekilas saat melihat cover buku, saya membayangkan buku ini seperti buku klub film. Klub film bercerita tentang seorang ayah yang menyembuhkan luka anak laki-lakinya akibat perceraian orang tuanya dengan menonton film. Tapi kenyataanya sangat jauh berbeda. Dari segi isi klub film menampilkan film-film yang keren-keren, penulis juga mengutarakan isi film tersebut. sedangkan dalam buku ini, penulis seakan ingin mengutamakan tentang ikatan persahabatan para nggota klub dan emosi mereka menghadapi permasalahan mereka masing-masing.  Buku-buku yang dicantumkan juga tidak banyak, seperti A christmas carol karya Charles Dickens, Madam Bovary, Pride n Prejudice, dan The Awakening. Buku-buku ini memang tampaknya buku terkenal dan best seller, tapi dari segi isi tergolong biasa. Para anggota klub pun menanggapi buku-buku ini  dengan mempoyeksikan pada konflik-konflik yang mereka hadapi. Dari segi alurpun sebenarnya datar-datar saja, sebuah prolog dari tokoh utama yaitu Eve, kemudian diceritakan masing-masing anggota club beserta konflik mereka serta persinggungan mereka dengan Eve.

Dari awal hingga akhir tidak ada yang terlalu menarik, hanya sedikit percakapan Dr. Paul Hammond dengan Eve tentang sebuah penelitian tentang penyair aliran romantik. Mereka tidak banyak membahas tentang penyair-penyair tersebut, hanya saja sebagai pengajar di jurusan bahasa inggris, Dr. Hammond ditampilkan sebagai seseorang yang berkelas yang mengenal karya-karya Dante. Konflik-konflik di dalam buku juga hanya datar, bahkan diakhir cerita Eve tidak menemukan jawaban tentang perempuan yang mengunjungi pemakaman suaminya. Dalam buku ini, Mary Alice Monroe, penulisnya memang hanya ingin menceritakan tentang sebuah ruang penyembuhan, klub buku.

Cover Buku

 Judul : The Book Club

Penulis : Mary Alice Monroe

Penerbit : Violetbooks

Cetakan : I tahun 2014 (terjemahan)

Halaman : x+453 hlm

Sabtu, 07 Februari 2015

Dini hari 03. 03

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s