Duh, BRI Pakisjaya

 

Salah satu ketidakberuntungan tinggal di daerah pelosok adalah tidak bisa menikmati banyak kemajuan dan fasilitas-fasilitas yang seharusnya lebih memudahkan dalam banyak hal. Dan penyakit orang yang terbiasa hidup di kota adalah terbiasa menikmati segala yang serba cepat dan mudah. Ini menyangkut banyak hal, tidak hanya urusan administrasi pemerintahan, perihal belanja atau menikmati layanan perbankan. Di Denpasar mungkin aku akan menertawakan diriku sendiri kalau sampai mengurus KTP atau urusan pembayaran yang melalui bank harus meminta bantuan orang lain, karena buat KTP atau urusan bank di Denpasar bisa diselesaikan dalam waktu yang tidak lebih dari satu jam dan biaya yang murah. Bahkan dulu waktu saya bekerja di Yayasan, urusan bank ini bisa saya selesaikan sebelum jam kerja saya dimulai. Di kota semacam Denpasar pun, saya juga mempunyai banyak pilihan layanan-layanan seperti perbankan atau layanan umum lain apabila tidak memuaskan. Bahkan ketika saya mengurus pajak kendaraan yang padahal sekian tahun yang lalu, orang rela mengurus lewat calo, bisa diselesaikan dengan waktu yang sangat cepat dan sangat tertib.

Nah, sekarang tinggal di daerah yang cukup pelosok rasanya semacam merasakan serba kebalikannya, dulu yang mengurus segala sesuatu dengan sangat mudah baik akses maupun sistemnya. Disini, boro-boro seperti itu, semua serba birokrasi dan kaku. Bahkan urusan layanan bank sekalipun. Disini saya tinggal di salah satu kecamatan paling ujung daerah pantai utara, semua hal yang ada disini adalah sisa-sisa. Mungkin orang-orang yang mengurusi pelayanan umum disini juga semacam orang buangan karena kinerja yang tak cukup bagus di tempat asalnya. Semua yang berkaitan dengan pelayanan umum adalah rumit, karena kalau urusan pemerintahan harus menggunakan semacam pelicin dan urusan bank mungkin bisa saja dipersulit, kira-kira seperti itu.

Satu-satunya bank yang ada di kecamatan Pakisjaya adalah bank sejuta umat, bank BRI. Dan yayasan tempat saya bekerja sekarang tidak salah kalau mewajibkan kami membuka rekening di bank sejuta umat ini. memang alasannya hanya bank ini satu-satunya yang mudah diakses di daerah-daerah. BRI cabang Pakisjaya ini hanya bangunan kecil, disebelah kiri pintu masuk ada automatic teller machine yang hampir offline terus sepanjang minggu. Memasuki pintu, disana ada dua tempat duduk customer service yang seringkali hanya diisi satu orang dan meja teller yang seringkali hanya diisi oleh satu orang juga. Kemudian di bagian depan kursi tunggu yang cukup nyaman berderet dan di sebelah kiri ada tempat mengambil antrian yang manual dan tempat formulir-formulir. Saya biasa kesana selepas makan siang, dan hampir selalu tampak sepi.

Bank ini memiliki satpam murah senyum yang menjadi tameng para karyawan di bagian front office untuk memberikan alasan terhadap banyak hal. Oke, singkatnya saya dan mungkin banyak nasabah lainnya sering dibuat jengkel setiap pergi kesana oleh satpam ini. Sebenarnya tidak bisa mengeneralisir juga sih, mungkin karena saya terbiasa dengan layanan yang bagus di kota bahkan pada bank yang sama di pusat bukan cabangnya. Di cabang mungkin sama kacrutnya juga sih. Seingat saya datang ke BRI cabang pakisjaya ini hanya sekali mendapat pelayanan yang cukup baik, layanan mengambil uang melalui teller. Itupun saya harus fotocopy sendiri rekening tabungan dan KTP saya, mereka beralasan mesin fotocopy nya rusak *coba mana ada bank yang petugasnya songong seperti ini. itu juga terjadi pada salah satu teman saya yang menggunakan tabungan untuk usia sampai 18 tahun, katanya tidak bisa mengambil uang disana menggunakan tabungan itu. ia malah ditanya, kenapa ambil uang harus ke teller, padahal jawabannya sudah pasti, karena ATM offline terus. kedua kali saya datang untuk complain terkait pembayaran pulsa yang saya lakukan lewat ATM di kecamatan sebelahnya, ketika datang kesana saya dilayani oleh satpam, ia sibuk mencari form untuk complain dan bertanya pada petugas disebelahnya, tetapi form tersebut tidak ketemu. Akhirnya saya diberitahu bahwa tidak bisa complain disana melainkan harus langsung ke pusat, padahal jumlah pulsa saya hanya 25 ribu. Kalau saya komplain ke pusat, bisa jadi pulsa yang saya habiskan lebih dari itu. hal hampir serupa juga terjadi pada teman satu team yang lain, ia akan mengurus komplain untuk pemberitahuan sms banking, ia hanya ingin sms banking untuk transaksii minimal satu juta, si CS bilang gak bisa, dan harus komplain ke pusat lagi. begitulah, mereka saling melepar tugas. Bayangkan kalau semua cabang seperti ini, pusat pasti akan kerepotan banget untuk urusan sepele seperti itu.

Ketiga, pada awal bulan ini, kami menerima insentif seharusnya akhir bulan, tapi kadang karena urusan bank sejuta umat yang kacrut ini, insentif kami dikirim terlambat juga. Saya lupa banyak orang yang akan membayar tagihan atau sekadar mengurus apapun melalui bank sejuta umat ini. ATM di Kecamatan yang saya tinggali offline, jadilah saya pergi ke kecamatan sebelah. Selain mengambil uang untuk kepentingan pribadi dan kelompok, karena saya juga menjadi bendahara dana operasional, saya juga perlu mengirim uang untuk keperluan belanja online dan kebutuhan adik saya. ternyata BRI meskipun online tetapi lambat, banyak orang mengantri dan mengeluh.

Akhirnya tiba giliran saya, kalau hal ini memang kecerobohan saya, saya mengirim sejumlah uang ke rekening saya yang lain, karena kebetulan disana ada ATMnya juga. Rencananya saya akan mengambil uang di rekening tersebut, tetapi setelah menunggu cukup lama ternyata time out dan atm keluar sendiri. Akhirnya saya mengecek rekening BRI saya di ATM lain disebelahnya, ternyata uang saya sudah berkurang. Saya panik dan segera pergi ke cabang terdekat, dan saya lupa melihat jam. Masih pukul 15. 40 menit sih, tapi satpam bilang sudah tidak menerima pelayanan, padahal saya hanya akan mencetak pengeluaran dari rekening saya. untung ada karyawan CS yang menyadari kepanikan saya, akhirnya dia mau mencetak rekening koran untuk saya. saya meminta penjelasan apakah benar saya sudah mengirim ke rekening yang saya tuju, dari buku rekening tersebut iya uang sudah terkirim, tetapi ketika saya cek belum masuk juga. Nah, keparnoan saya ini selain khawatir uang hasil keringat saya hilang, juga karena macam birokrasi mengurus perihal ini akan sulit. Saya tidak kebayang kalau harus dilempar sana-sini untuk urusan yang seharusnya bisa diselesaikan di cabang-cabang terdekat.

Dari informasi yang saya telusuri di internet sih, ternyata kejadian semacam itu memang seringkali terjadi di BRI yang ada di cabang, terutama di daerah. Para tenaga mereka hanyalah tenaga outsourcing yang tak jelas kapan akan naik menjadi karyawan tetap jaminan lain pun katanya juga tak tentu. meskipun mereka ditempa oleh training sebelum bekerja tetap kembali kepada pribadi yang bersangkutan perihal kinerja, nah perihal kejadian di daerah ini saya pikir mungkin karena para karyawan ini merasa jauh dari pengawasan BRI pusat di Provinsi atau Kabupaten dan dengan kondisi pelayanan umum di Kecamatan memang ngehek mereka mungkin pengen dimaklumi. Tapi, yahh, sangat mengecewakan dan tidak profesional.

Setelah selesai kontrak nanti, mungkin pikir-pikir soal akan tetap menggunakan layanan bank ini.   Salam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s