Generasi Antikritik

Kritik dan saran yang membangun akan lebih baik daripada puji-pujian yang menyesatkan

Seseorang bisa saja bisa menilai dirinya sendiri tanpa mendengar pendapat orang lain. tetapi gegabah artinya, apabila menilai diri sendiri atau mengakui pendapat mereka yang paling benar.

Belakangan sering berdiskusi dengan adik terkait tugas-tugasnya di kampus, kadang ia sering mengeluh dengan tugas-tugas yang menumpuk dan dosen-dosen yang saklek. Adik saya ini mahasiswa semester tiga di jurusan sejarah, tugas-tugasnya kebanyakan harus melakukan studi di lapangan. Saya paham benar bagaimana rasanya menjadi mahasiswa tingkat awal dengan tugas yang banyak, dengan pemikiran yang belum ingin serius-serius menghadapi kenyataan. Awal desember lalu, ia pergi penelitian ke Lombok. Ia pergi ke suatu kampung muslim dimana mayoritas dari mereka melakukan shalat Tiga Kali sehari (Islam Wetu Telu), tapi setelah sampai disana masyarakat tidak mengakui hal tersebut. ia dan kawan-kawannya agak kecewa dengan hal tersebut. ya, kalau dilihat memang itu salah satu isu sensitif, menyangkut keyakinan yang bisa dikatakan melenceng dari syariat, wajar saja jika masyarakat disana tidak mau mengungkapkan kepada publik. Ditambah lagi isu-isu terkait keyakinan minoritas masih cukup hangat, mereka mungkin saja tidak mau ambil risiko terkait cara mereka. Adik saya tetap memandang dirinya sebagai peneliti yang harus tahu segala hal yang ingin diketahuinya. Ia menjelaskan panjang lebar tentang bagaimana seharusnya ia mengungkap sejarah, saya mencoba memberi masukan dan pandangan lain terkait permasalahannya itu, eh, dia tetap ngotot. Jiwa mudanya berapi-api, ya sebut saja dia mahasiswa jurusan sejarah garis keras. HAHAHA

Seingat saya, semasa kuliah saya tidak pernah menjadi pembela garis keras terkait keilmuan saya, malahan belakangan setelah saya banyak membaca dan terlibat dalam beberapa program kesehatan, ternyata banyak konspirasi dalam bidang kesehatan masyarakat sendiri. Hal tersebut sempat bikin gamang, tapi bukan berarti saya setengah-setengah menjalani hal-hal terkait bidang keilmuan saya, malahan menjadi banyak perspektif yang bisa dibandingkan. Kembali lagi soal kritik-mengkritik, diskusi saya dengan adik memang tidak pernah membuahkan hasil, meskipun begitu saya membiasakan memberikan banyak perspektif agar dia berpikir di luar kacamatanya juga. Sementara dia tetap bersikukuh pendapatnya paling benar.

Dalam hal ini saya tidak pernah menyinggung soal pribadi dia dan berusaha menjatuhkan pendapatnya hanya karena saya lebih tua dan lebih banyak tahu dari dia. Saya memposisikan diri saya sejajar dengan dia. Sebagai teman diskusi, dia sebanding dengan saya. Saya belajar banyak terkait proses diskusi ini setelah bergabung di Organisasi tingkat Universitas semasa kuliah. Sebelumnya proses diskusi yang dilakukan di sekolah menengah atas kurang sempurna, seringkali debat kusir dan saling menjatuhkan. Di organisasi ini saya juga sering terlibat dengan organisasi lain dan berinteraksi dengan orang-orang yang umumnya hobby diskusi. Mungkin dengan interaksi-interaksi yang cukup intens itu menjadikan diskusi sebagai keharusan saat membahas banyak hal, terutama kepentingan bersama. Dan akan sangat mengganggu sekali apabila keputusan-keputusan bersama diputuskan tiba-tiba oleh satu atau dua orang. Proses diskusi memang cukup melelahkan bagi yang tidak terbiasa, tiap orang harus memberikan pendapatnya yang tidak hanya pujian tetapi juga kritik. Dan setiap orang yang memberikan pendapat harus siap dihujat habis-habisan, hingga jelas kearah mana sesungguhnya tujuan dari pendapat tersebut. Setelah dibuat banyak alasan dan pertimbangan, kadang-kadang dirasa belum tepat juga untuk dijadikan keputusan. Kira-kira seperti itu.

Bagian pujian dan kritik itulah yang sering menjadi masalah, karena tidak jarang yang keluar memang banyak kritikan dan masukan, tapi bagiku itu adalah suatu respon yang wajar. Seseorang yang melihat atau mendengar, berpikir, kemudian memberi tanggapan. Orang yang memberikan pendapatnya berarti ia bisa menunjukkan bagaimana sikapnya dalam merespon suatu hal. Tetapi ternyata bagi orang-orang yang tidak terbiasa berorganisasi itu menjadi masalah. Mengkritik dan memberikan masukan itu sama dengan tidak menghargai pendapat atau kerja keras, sementara pujian meski palsu sekalipun berarti penghargaan.

Saya pernah membaca blog pribadi seseorang juga terkait kritik mengkritik ini, ia menuliskan bagaimana saat ia mengikuti studi di Amerika ia tidak pernah sekalipun mendapat kritik dari esai-esainya, sebaliknya ia selalu mendapat pujian dari kerja kerasnya. Ia merasa sangat cocok dengan iklim tersebut karena dirasa bisa meningkatkan motivasinya untuk lebih baik. Tapi pada bagian ini saya akan sedikit sinis, jika pujian tersebut adalah untuk suatu karya yang sifatnya untuk kepentingan pribadi saya rasa tidak masalah, jika benar itu akan dapat meningkatkan upayanya dia kearah yang lebih baik lagi. karena sesuai salah satu teori motivasi, teori penguatan (Reinforcement Theory), yaitu terkait meningkatkan motivasi dengan penghargaan dan hukuman, sifat yang yang diperkuat secara positif cenderung akan diulang, sementara sikap yang diperkuat secara negatif tidak akan diulang. Nah, bagiku akan menjadi masalah apabila pekerjaan yang diberikan puji-pujian tersebut merupakan pekerjaan team ataupun pekerjaan yang akan dipublikasikan. Secara konten setiap orang berhak memberikan masukan ataupun kritik yang bisa membangun, apalagi jika pekerjaan tersebut akan melibatkan dan merupakan kepentingan banyak orang. Lagipula dalam teori motivasi itu hal-hal yang dinilai negatif tidak akan diulang, artinya secara psikologis hal-hal yang berupa kritik negatif yang disertai alasan jelas memang seharusnya dihilangkan atau diperbaiki untuk pekerjaan yang lebih baik, kira-kira seperti itu.

Karena bagaimanapun juga berpikir bersama tetap lebih baik daripada berpikir sendiri, dan selama kritik mengkritik tidak menyangkut kepribadianmu bukan berarti mereka tidak menghargai kerja-kerasmu kan.

 

Karawang, 27 Desember 2014

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s