Terpisah Beribu-ribu Kilometer

Mengutip kalimat Onyi, yang aku lupa mengambilnya darimana, “Mungkin hidup yang tertatih-tatih dan mimpi yang serba terbalik itu adalah puisi itu sendiri.”

Sebenarnya selalu berusaha menghindari mengekspose kehidupan pribadi di blog atau sosial media, tapi apalah daya, sejak awal aku dan Onyi pacaran jarak jauh dan hanya dipersatukan oleh tulisan-tulisan dan sinyal seluler. Prinsipku adalah yang penting tulisan-tulisan kami tidak mengganggu privasi masing-masing dan tidak menimbulkan pertengkaran, jieeh. Tulisan-tulisan yang dipublikasikan memang kadang menimbulkan sentimentil tersendiri bikin gembira kadang juga bikin galau, tapi saat-saat kami sedang mengalami masa kritis, tulisan itu menjadi obat tersendiri bagi kami. Seperti juga percakapan-percakapan kami di twitter waktu awal-awal kami pacaran dulu, suatu kali ketika aku mengalami masa down setelah memutuskan pergi (yang menurutku) sangat jauh dari Onyi, aku bisa senyum-senyum sendiri membaca percakapan-percakapan kami. Kami memang bukan bermaksud mengumbar kehidupan pribadi kami di media-media itu.

Dan, ini bulan keempat aku dan Onyi kini terpisah beribu-ribu kilo, untuk bertemu kami harus menyeberangi tiga pulau. Kami tidak berencana untuk bertemu selama kami terpisah jauh ini, malahan kami merencanakan bertemu setelahnya. Seperti yang kuceritakan dalam postingan sebelumnya, bahwa sekarang aku jauh di Karawang untuk melaksanakan satu tugas terkait bidang ilmu yang kupelajari. Aku cukup menikmati semua proses yang telah berlangsung disini, meskipun dengan segala keterbatasan aku sangat bersyukur menjadi salah satu dari tigapuluh temanku yang terpilih dalam program ini. aku menikmati peranku dalam menjalankan program-program, yang berarti aku bisa bekerja atas kepalaku sendiri. aku juga berbahagia ditengah keluarga baruku, team Karawang. Hanya saja terpisah sangat jauh dari Onyi dan keluarga menjadi beban tersendiri bagiku.

Aku dan Onyi LDR sekitar hampir tiga tahun, bukan hal yang mudah bagi kami melalui tiga tahun ini. kami jarang sekali bertemu, dan rencana-rencana yang kami susun terkait kehidupan kami (jiyee) tidak jarang meleset sangat jauh. Tidak jarang pula hubungan kami dibumbu-bumbui pertengkaran-pertengkaran kecil yang akhirnya bisa kami atasi, bahkan kami (eh, aku) sampai bisa membaca pola-pola sebabnya dan waktu-waktunya, hehe. Meskipun begitu kadang kami masih saja terpancing emosi. Memang sih semua itu kadang berakhir karena kegigihan kami masing-masing dalam mengelola emosi, kami melampiaskannya dengan hal-hal yang kami sukai.

Sampai akhirnya, sesuatu hal yang membuat Onyi memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya. Aku paham ini keputusan sangat besar yang dibuat Onyi. Ia tidak hanya akan memulai kehidupan yang baru, ia merasakan suasana baru di kampung halamannya, dan ia juga harus membangun kembali mimpi-mimpinya dari sana. Tentu saja itu bukan hal mudah baginya. Bagiku, aku tentu turut merasakan perubahan-perubahan emosinya. Rencana-rencana kami juga ada yang akhirnya kami simpan kembali untuk dibicarakan di kemudian hari. Aku tidak ingin mengganggu suasana hati Onyi dengan kondisiku sendiri sedang burnout dalam pekerjaanku saat itu. Dan akhirnya aku juga membuat suatu keputusan yang besar pula dengan mendaftar dalam program yang kujalani saat ini.

Singkat kata, Agustus lalu saat aku berangkat ke Jakarta untuk pembekalan Onyi juga sedang berlayar ke Makassar untuk mengambil barang-barangnya, dan beberapa hari sebelum aku berangkat menuju daerah penempatan, Onyi kembali ke Sumbawa. Begitulah, lalu kami terpisah jauh seperti saat ini. empat bulan ini masih menjadi masa penyesuaian bagi kami, kami yang biasanya bisa ngobrol apa saja menjadi terbatas hal-hal tertentu saja. Untuk waktu mengobrol juga kami harus berusaha beradaptasi lagi, dulu biasa mengobrol sepanjang malam hingga tertidur atau bisa telepon pagi-pagi, tapi sekarang karena aku sekamar dengan tiga orang teman jadi harus tahu diri juga, dan kalau pagi tentu harus buru-buru ke Puskesmas. Siang hari saat aku longgar, kadang Onyi masih di sawah, dan malamnya onyi sudah kelelahan. Akhirnya banyak hal menumpuk yang tidak bisa kami ceritakan masing-masing, Onyi mensiasati dengan surat-surat untukku, sampai akhirnya ia bosan. Dan kembali kami mengalami kebosanan dengan ritme kehidupan.

Begitulah kira-kira, setahun sudah berlalu tiga bulan, kedepan tentu masih banyak hal yang menantang, tapi kami yakin akan selalu siap menghadapi. Apapun itu, kami siap menerima segala tantangan. Dan berita baik dari Onyi, hampir sebulan ini ia sudah mulai sibuk dengan mahasiswa-mahasiswanya, semoga segala kebosanan segera pergi menjauhinya. Semangat Honey, aku bersamamu disini. dan tenang saja, kita belum terpisah Benua *ehh :*

Karawang, 27 Desember 2014
Eby

Advertisements

2 thoughts on “Terpisah Beribu-ribu Kilometer

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s