Selamat Bekerja Prof. Nila

 

Hampir satu minggu yang lalu Jokowi-JK mengumumkan dengan resmi 34 menteri yang masuk dalam kabinet kerja. Sore itu group Whatsapp pencerah nusantara 3 rame karena salah satu nama yang kami tunggu-tunggu benar-benar masuk dalam daftar menteri yang diumumkan, yaitu Prof. Nila F. Moeloek yang menduduki posisi menteri kesehatan. Aku sendiri ikut heboh sejak tahu Prof. Nila salah satu orang yang digadang untuk menduduki posisi itu. waktu tahu pertama kali bahwa Prof. Nila akan menjadi salah satu kandidat adalah dari blog yang dibuat Kak Icha dan kawan-kawan, kak Icha adalah wali kelasku di Pencerah Nusantara untuk team Karawang.

Saat itu masih beredar isu bahwa dr. Ribka Tjiptaning yang seorang dokter sekaligus politisi dari PDIP menjadi salah satu kandidat terkuat. Sebenarnya nama ini telah muncul jauh sejak Presiden Jokowi terpilih. Akhirnya beberapa teman-teman utamanya berasal dari profesional kesehatan, protes dengan pemberitaan media tentang itu. pertama sih karena dr. Ribka memang tidak terlalu menonjol prestasinya juga belum terlihat perannya dalam perkembangan kesehatan. Ia juga pernah memprotes sesuatu yang dianggap melecehkan teman sejawatnya. Dan ia juga berasal dari partai yang dianggap bukan profesional yang layak menduduki posisi Menteri Kesehatan. Mungkin karena itu juga akhirnya kak Icha dan beberapa temannya membuat wadah diskusi calon menteri kesehatan yang berumah di siapamenkeskita.wordpress.com.

Dalam wadah itu dibuat profil dan prestasi-prestasi dari empat calon Menkes yaitu dr. Ribka Tjiptaning, dr. Akmal Taher yang pernah menduduki jabatan sebagai direktur RSCM, Prof. dr. Ali Ghufron Mukti seorang akademisi dari UGM dan Prof. Nila sendiri. Di blog itu juga disertakan matrikulasi penilaian beserta indikator penilaian terhadap empat calon tersebut. aku sendiri tidak tahu berdasarkan apa penulis di blog memperkirakan kemungkinan terpilihnya kandidat-kandidat itu, apa memang itu penilaian baku atau hanya dari persepektif tertentu. Tapi menurutku itu merupakan langkah yang baik untuk membuka forum diskusi terbuka dan memperkenalkan siapa-siapa calon menteri kesehatan. Mengapa ini penting, karena terkait bidang kesehatan ini tidak banyak orang paham dengan orang-orang yang berpotensi dalam bidangnya, kecuali memang orang-orang yang berhubungan dengan dunia kesehatan. Sementara keberadaan kementrian ini cukup strategis dan kinerjanya akan selalu menjadi tolok ukur untuk banyak hal. Berbeda dengan beberapa kementrian lain yang umunya beberapa calon sudah pernah dikenal umum oleh khalayak. Ya, meskipun ada mesin pencari google yang bisa menjawab kiprah-kiprah nama yang mungkin akan muncul, tetap saja publik perlu tahu bagaimana sesungguhnya pemikiran-pemikiran calon menteri tersebut. Tapi ternyata diskusi di blog itu sendiri sepi, berbeda sekali ketika ada nama fenomenal seperti dr. Ribka yang muncul. Mungkin publik memang lebih reaksioner tetapi memiliki minat yang kecil untuk berdiskusi dalam wadah khusus diskusi seperti itu.

Nama-nama daftar menteri yang resmi diumumkan kemarin memang buah dari perjalanan panjang. Nama-nama yang terus berubah dari waktu ke waktu. Mulai dari munculnya forum terbuka yang entah serius atau hanya sekadar memperkenalkan daftar nama orang yang tak pernah diangkat media karena dianggap kurang fenomenal untuk diangkat oleh media. Kemudian muncul nama-nama lama yang cukup sering terdengar di media yang terus berganti. Jokowi sendiri sebagai pemegang hak prerogatif yang berarti memiliki hak menentukan siapa yang akan membantu kinerjanya sebagai menteri mungkin banyak juga pertimbangannya, ia harus mempertimbangkan porsi untuk partai yang mengusungnya beserta koalisinya, juga harus mempertimbangkan posisi-posisi strategis yang harus diisi oleh para profesional lainnya. Hingga terakhir juga mempertimbangkan nama-nama yang memiliki raport merah di KPK.

Untuk calon menteri kesehatan sendiri belakangan yang muncul adalah nama Prof. dr. Akmal Taher, dengan posisi sebelumnya sebagai dirjen Bina Upaya di Kemenkes RI. Beliau juga seorang guru besar Fakultas Kedokteran UI dibidang Urologi. Agak kecewa sih ketika nama itu yang muncul, pertama sih karena kurang mengetahui perannya sebagai pemikir pembangunan kesehatan. Tapi untuk prestasi di bidang kedokteran sih memang tidak diragukan lagi. dan setelah menelusuri mesin pencari google ternyata ada beberapa keraguan publik terkait penarikannya dari jabatan direktur RSCM menjadi dirjen di Kemenkes RI.

Dan akhirnya, pada hari menjelang pengumuman menteri, nama Prof. Nila muncul kembali sebagai kandidat terkuat untuk jabatan Menkes. Perjalanan Prof. Nila dalam menjadi menteri kesehatan ini sendiri cukup panjang. Setelah gagal menjadi menteri kesehatan pada awal periode kedua kepemimpinan SBY, Prof Nila dibebankan tugas sebagai Utusan Khusus Presiden Untuk MDGS. Beliau tidak terpilih menjadi menteri kesehatan saat itu hanya karena berdasarkan penilaian dari pemeriksaan kesehatan beliau dianggap kurang tahan stress. Meskipun begitu kedudukan yang dibebabankan sebagai utusan khusus presiden yang setingkat dengan jabatan menteri itu tidak beliau sia-siakan. Sebagai utusan Khusus, Prof. Nila menggagas kegiatan penghargaan untuk para penggagas pembangunan kesehatan, menggagas gerakan untuk memperkuat kesehatan Primer dan juga membuat peta kemitraan terkait seluruh pembangunan nasional yang dilakukan oleh para pemangku kepentingan. Seperti melangkah kebelakang sejenak, lalu melangkah kedepan lebih jauh, setelah melakukan beberapa inisiatif itu, nama Prof. Nila kembali diperhitungkan kembali dalam posisi strategis tersebut.

Foto Menjelang Pemberangkatan Pencerah Nusantara Batch III

Foto Usai Media Expose bersama Pencerah Nusantara Batch III

Melalui beberapa kiprah Prof. Nila kita semua cukup bisa memprediksi pembangunan kesehatan macam apa yang akan menjadi konsen ibu Menkes. Sebagai penggagas gerakan untuk penguatan kesehatan primer di tujuh daerah penempatan, tentu Prof. Nila sudah mengetahui apa-apa saja yang menjadi permasalahan kesehatan di tingkat perifer itu. Bagi saya sangat penting seorang menkes harus memperhitungkan kesehatan primer, karena masalah kesehatan bukan hanya perlu diperbaiki hanya di tingkatan tertentu, tetapi harus diselesaikan mulai dari akar hingga ujung. Dari ujung tentu kita tahu perihal budgeting untuk program kesehatan yang proporsinya tidak sesuai dengan jumlah penduduk Indonesia. Permasalahan tersebut menurun menjadi permasalahan tidak meratanya pembangunan kesehatan. Jauh di bawah daripada permasalahan tersebut banyak hal lain semacam sumber daya kesehatan yang kurang termotivasi melaksanakan program-program kesehatan atau memanfaatkan program-program tersebut. Akan sangat sulit menyelesaikan permasalahan kesehatan di tingkat budgeting, juga lebih sulit mengendalikan sumber daya kesehatan yang memanfaatkan program atau berada dalam program kesehatan tapi bergerak untuk kepentingan individu atau kelompoknya. Kunci dari itu semua memang menyelesaikan permasalahan di akar permasalahan kesehatan yaitu kesehatan primer sebagai pelayanan kesehatan teredekat dengan masayarakat. Perbaikan kesehatan di tingkat kesehatan primer ini akan memungkinkan bagi masyarakat untuk lebih dekat menjangkau pelayanan kesehatan. tetapi ini juga masih menjadi pekerjaan yang besar, mengingat kesadaran masyarakat menggunakan pelayanan kesehatan yang terdekat dengan mereka cukup rendah. Disamping itu tenaga yang berada dalam pelayanan kesehatan primer juga kurang responsif terhadap program-program yang seharusnya dikerjakan untuk masyarakat. Tenaga kesehatan juga masih lebih banyak melakukan layanan kuratif dibanding pelayanan di luar gedung.

Tetapi bagaimanapun pekerjaan besar itu baru akan dimulai, tentunya kita semua tak ingin harapan itu hanya sebagai buah pemikiran yang prematur. Bagaimanapun sebagai menteri Prof. Nila akan mengemban tugas yang berat. Selama ini saja saya seringkali mendengar orang-orang yang mengatakan Menkes yang sekarang tidak pro program penularan penyakit ini atau yang paling sering menkes yang sekarang lemah, karena tidak berani mendorong untuk mengesahkan undang-undang ini, dan lain-lain. dan mungkin seorang menteri kesehatan akan lebih banyak mendengar seperti hal-hal tersebut. Seseorang yang telah didapuk sebagai menteri Kesehatan tentu segala kebijakan terkait kesehatan akan menjadi seluruh perhatiannya. Tetapi seorang Menkes tentu punya prioritas tertentu permasalahan yang akan diselesaikan. Menteri kesehatan tidak akan bisa menyenangkan semua pihak-pihak yang punya harapan berbeda-beda, tapi setidaknya kita punya harapan untuk menyelesaikan permasalahan dasar kesehatan indonesia. Tulisan ini sebenarnya dibuat sebagai harapan untuk hal-hal terkait kebijakan kesehatan lima tahun kedepan, bukan semata-mata karena saya sendiri berada dalam gerakan yang digagas oleh Prof. Nila. Jika tulisan ini nyatanya memang tidak diimbangi dengan hal-hal yang mungkin menjadi kelemahan untuk pembangunan kesehatan kedepan, ini juga bisa menjadi wadah diskusi bagi kita semua.

 

Selamat bekerja Prof. Nila, semoga semangat tak pudar-pudar untuk lima tahun kedepan

Karawang, 30 Oktober 2015

 

#Latepost

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s