Kepergian

Suatu hari pada sebuah pertemuan : kemana kita akan pergi setelah meninggal? Jika kamu percaya bahwa hidup ini sebuah siklus lahir-tumbuh-tua-mati dan terlahir kembali, aku akan mudah menjawabnya untukmu. Tetapi pertanyaanmu adalah kecemasan.

Malam telah tiba, di sebuah pantai yang kita kunjungi beberapa hari sebelumnya. Angin pantai meniupkan kecemasan itu padamu tanpa berarti sebuah pertanda. Seperti katamu, manusia modern memang sering diliputi kecemasan-kecemasan. Dan aku menganggap kecemasanmu itu sebagai angin lalu. aku tak pernah memikirkannya lagi

Aku sendiri tak pernah ingin bertanya seperti itu. Karena aku puas dengan jawaban mereka akan terlahir kembali. Aku juga cukup puas dengan jawaban, kami akan bisa bertemu lagi entah berapa juta tahun yang akan datang. Mengikuti waktu pararel bergerak. Dengan jawaban itu aku lebih mudah menerima setiap kepergian. Aku tetap bisa menjaga mimpi-mimpiku untuk mereka. Dan setiap kesalahan yang pernah kulakukan untuk mereka, aku lebih bisa memaafkan diriku sendiri.

Saat itu kamu belum pernah tahu tentang kepergian. Sesuatu yang benar-benar seperti direnggut darimu tiba-tiba. sesuatu yang kemudian membuatmu merasa kosong. Sesuatu yang terasa masih ada di sekitarmu, tetapi tak ada. Sesuatu yang kemudian menjelma sebagai kecemasan baru. Sesuatu yang melemahkan dirimu atau sekaligus membuatmu menjadi lebih kuat.

Enam bulan berlalu, kepergian itu kemudian menjadi nyata di depanmu. Aku bisa bayangkan seperti apa yang kau rasakan. Terlebih memang itu orang yang paling berjasa dalam hidupmu, meskipun aku tak bisa mengatakan orang yang paling dekat denganmu paling tidak selama tahun-tahun terakhir ini. dan seberapapun seseorang menyiapkan setiap kepergian, ia tetaplah sebuah kehilangan. Kamu yang tegar, menghadapi kepergian itu dengan sebuah kewajiban untuk mengantar.

Kehilangan memang menimbulkan gejolak-gejolak aneh. Ia mengantarkan kita pada kenyataan-kenyataan. Kenyataan yang kita ingkari, karena berharap kita bisa menjadi sepaang yang lain. Mungkin memang kita tidak boleh larut dalam ilusi, mungkin memang kita harus menghadapi kenyataan-kenyataan, atau kita akan menhadapi kehilangan-kehilangan yang lain.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s