Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas : Perihal burung yang tak bangun-bangun

 

“Kehidupan manusia ini hanyalah impian kemaluan kita. Manusia hanya menjalaninya saja.”

 

Cover Bukunya imut

 

Ini adalah novel pertama Eka Kurniawan yang kubaca hingga selesai. Novel pertamanya Cantik itu Luka yang diterbitkan ulang tahun 2012 lalu tak sampai setengah isi buku kubaca, sedangkan novel Lelaki Harimau saya belum pernah menemukan. Alasan gak selesai karena plot-plotnya njelimet, terlalu banyak tokoh yang saling berhubungan. Setiap ada tokoh baru mesti lihat silsilah keluarga yang digambarkan di bagian terakhir novel. Tetapi sebenarnya kalau baca cerpen-cerpen Eka menarik, sederhana, tidak njelimet seperti novelnya.

Jika kata mas Fahri Salam gaya tulisan Eka Kurniawan dalam Novel yang terbaru ini Freudian, saya sepakat. Konsep psikologi Freud yaitu dalam mengembangkan motivasi dari alam bawah sadar dan mengarahkan fokus penelitiannya pada pengaruh pengalaman masa awal kehidupan atau masa anak terhadap perkembangan kepribadian selanjutnya sampai dewasa. Berkaitan dengan seks, teori Freud menyatakan bahwa satu-satunya hal yang mendorong kehidupan manusia adalah dorongan libido. Dalam libido seksualitas, seseorang berusaha mempertahankan eksistensinya karena bermaksud memenuhi hasrat seksualnya.

Jadi ya bisa dibayangkan novel ini isinya hanya sesederhana itu sebenarnya. Diceritakan seorang Ajo Kawir yang burungnya terus meringkuk alias tak bangun-bangun. Ini berawal dari masa kanak-kanak seseorangyang dipenuhi dengan rasa ingin tahu. Ajo Kawir bersama seorang sahabatnya sering mengintip kepala desa bersenggama dengan istri barunya. Lalu sahabatnya itu si Tokek mengajaknya untuk melihat persenggamaan yang menurutnya lebih hebat daripada yang pernah dilihatnya itu. Ajo Kawir yang sebenarnya tidak begitu penasaran dengan ajakan Tokek, tapi persenggamaan atau lebih tepatnya perkosaan itu nyata di depan matanya. Seorang perempuan gila bernama Rona Merah diperkosa dua orang polisi. Ajo Kawir yang mengintip akhirnya ketahuan, dan ia dipaksa memasukkan batang penisnya ke lubang vagina si Rona Merah. Ajo Kawir ketakutan dan sejak saat itu burungnya tak pernah bangun-bangun lagi.

Setelah memasuki remaja awal Ajo Kawir frustasi, ia beberapa kali mencoba membangunkan burungnya, tetapi tidak berhasil. Dari mulai mengolesi dengan cabe, sengatan tawon hingga diberikan terapi oleh seorang pelacur di pinggiran rel kereta. Semuanya tidak ada hasilnya. Rasa frustasinya itu lalu ia lampiaskan sebagai seorang jagoan. Ia sering berkelahi dan menantang orang untuk melawannya. Ia juga bersedia menjadi pembunuh bayaran. Ia sering mengatakan “Hanya orang yang tak bisa ngaceng berani berkelahi tanpa takut mati.”

Burung yang terus tidur itu digambarkan sebagai pusat terganggunya eksistensi Ajo Kawir. Apalagi sejak jatuh cinta hingga menikahi Iteung ia merasa tidak bisa membahagiakan Iteung hanya dengan jari-jari. Ajo Kawir bertambah frustasi karena ternyata Iteung hamil dengan kawan seperguruan silatnya. Ajo Kawir kemudian pergi melunasi janjinya sebagai pembunuh bayaran. Meskipun begitu, Ajo Kawir meletakkan segala pertimbangan kebijaksanaanya pada si burung. Ia selalu bertanya burungnya setiap akan memutuskan sesuatu.

Novel terbaru Eka Kurniawan ini memang menggunakan bahasa-bahasa vulgar semacam kuntul, ngaceng, memek dan bahasa-bahasa lain yang menggambarkan dengan detail perilaku seksual. Tetapi apabila orang-orang akan membandingkan dengan novel stensilan Fredy S, ya lain lah. Fredy S menggambarkan seks yang mesum dan disertai dengan kebejatan tokoh-tokohnya. Maksud saya seks dalam tulisan Fredy S memang digambarkan sebagai sesuatu yang erotis dan umumnya digambarkan sebagai suatu kemunduran moral (eh, saya sebenarnya hanya pernah sekali nyuri baca bukunya Fredy S, tapi kalau ke toko buku di bilangan Teuku Umar Denpasar, dulu suka curi-curi baca juga ding). Sementara dalam novel Eka ini hanya ingin menggambarkan bahwa seks kebutuhan alamiah kok, dan hal-hal tersebut alami, nyata sebagai realitas sehari-hari.

Dari segi alur, tentu saja Eka banget, hampir sama dengan Cantik Itu Luka yang alurnya njelimet. Tetapi karena jumlah halaman novel ini lebih hemat dan gayanya bahasanya lebih kocak jadi lebih mudah diikuti. Selain itu tokoh-tokoh di novel ini juga lebih sedikit jadi tidak perlu dibuatkan daftar silsilahnya. Dan lebih jauh sebenarnya novel ini sebagai alegori dari sebuah negeri yang tertidur selama beberapa waktu. Burung Ajo Kawir yang tidur hanyalah perumpamaan yang lahir dari ketakutan-ketakutan dan penekanan (dalam hal ini digambarkan sebagai aparat ; polisi).

Akhirnya, setelah bertemu dengan seorang gadis bernama Jelita, burung ajo kawir bisa bangun kembali. Jelita ini diceritakan mirip dengan Rona Merah. Tetapi saat burungnya sudah bangun, Ajo Kawir malah kehilangan Iteung lagi karena istrinya itu harus dipenjara karena menuntaskan dendam Ajo Kawir.

 

 

Diselesaika di Karawang, 11 Oktober 2014

Nulisnya udah dari waktu di Denpasar, Cuma gak selesai 😛

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s