The Various Flavour of Coffee : sebuah Kopi Peradaban

Yaiii, akhirnya selesai juga baca The Various Flavour of Coffee. Buku ini aku lihat pertama kali di rak gramedia Denpasar sejak akhir 2012 sepertinya. Hingga di Toga Mas di diskon berkali-kali dan tersisa dua biji baru kesampaian beli. tapi juga karena ide untuk menghabiskan kira-kira 25% gaji untuk beli buku gegara hampir frustasi sih. Bukunya tebal, 670 halaman, bacanya marathon hampir satu minggu sejak libur lebaran kemarin dan buku itu akan segera berpindah tangan. Semoga tiba tepat pada waktunya.

***

Dari judul dan cover depannya sudah bisa ditebak buku ini akan bercerita banyak tentang kopi, judul indonesiahnya Rasa Cinta dalam Kopi. Dan memang bercerita tentang banyak kopi di belahan bumi ini, termasuk menyinggung sedikit tentang kopi Java. Gambar covernya seorang perempuan Afrika dalam rerimbunan kopi karena sebagian juga bercerita tentang peradaban Afrika dan kopinya.

Kisah ini berawal dari seorang Robert Wallis yang memprotes pelayan soal kopi yang baru dinikmatinya, “rasanya seperti handuk basah.” Bayangkan, seperti apa rasanya handuk basah? Komentarnya yang ceplas-ceplos itu bahkan hampir mengantarkannya sebagai pewaris perusahaan yang berhubungan dengan kopi.

Robert Wallis adalah seorang penulis. Meskipun ia belum menghasilkan satu karya yang bisa dinikmati banyak orang, ia mengaku profesinya adalah sebagai penulis. Saat berkomentar soal kopi itu ia sedang berada di sebuah Café bernama Royal Café. Diceritakan bahwa Café itu adalah tempat berkumpul para penulis dan seniman pada akhir tahun 1800 an di London. Wallis di DO dari Oxford karena tidak ingin menyia-nyiakan masa mudanya tanpa turut andil dalam gejolak-gejolak yang terjadi di Inggris sekitar tahun-tahun itu. setelah di DO kehidupannya menjadi tak pasti dan orang tuanya juga menghentikan kiriman uang untuknya. Wallis akhirnya memutuskan untuk menulis sebagai wujud ketertarikannya pada seni dan sastra. Meskipun begitu karena kecintaanya pada seni juga ia selalu mengikuti trend fashion terbaru dan menikmati seni bercinta dari petualanganya terhadap perempuan yang disewanya.

Tetapi komentarnya soal kopi di Café Royal telah mengubah kehidupannya semacam itu, ia bertemu seorang Samuel Pinker juragan kopi. Wallis ditawari bekerja untuk Pinker dalam hal menciptakan sebuah pedoman tentang kopi. Ia mempunyai kemampuan yang baik dalam mengenali bau-bau dalam kopi. Bersama Emily Pinker, anak Samuel Pinker, Wallis menciptakan sebuah pedoman Wallis-Pinker. Sebagai pria flamboyan ia tak akan tahan dengan perempuan yang menarik seperti Emily rekan kerjanya. Wallis menggoda Emily, meskipun keduanya akhirnya sama-sama jatuh cinta. Kode-kode mereka diketahui oleh bos nya, Tuan Pinker. Wallis diijinkan bertunangan dengan Emily dengan syarat mau membuka perkebunan kopi di Afrika. Jika berhasil ia diijinkan menikah dengan Emily dan mendapatkan sejumlah uang setelah empat tahun umur kopi.

Wallis pergi ke Afrika bersama Hector, orang kepercayaan keluarga Pinker. Ia melalui perjalanan panjang ke Afrika tanpa perempuan-perempuan yang bisa ditidurinya. Dalam perjalanan itu ia bertemu Fikre, seorang budak yang dimiliki lelaki arab rekan kerja Pinker. Wallis jatuh cinta dengan Fikre dan bertualang dengan budak itu tanpa sepengetahuan tuannya Fikre. Tetapi itu hanya menurut Wallis. Kenyataannya Fikre dan lelaki arab itu, Ibrahim memang sengaja merencanakan penipuan untuk Wallis.

Perkebunan kopi yang baru dibuka di Afrika ternyata tidak berjalan mulus. Setelah melakukan penipuan terhadap penduduk lokal dalam membuka hutan untuk perkebunan itu, ternyata kopi di daerah itu tidak cocok di budidayakan seperti dalam buku pedoman penanaman kopi yang mereka bawa dari Eropa. Orang-orang Afrika membiarkan kopi mereka tumbuh liar di hutan. Soal kopi ini tentu saja tidak lepas dari jiwa kolonialisme Eropa pada masa itu dan juga perbudakan. Perkebunan yang baru dibuka itu memperkerjakan buruh-buruh Tamil dan juga mencoba menguasai penduduk lokal dengan memperkerjakan mereka. Tetapi perkebunan itu tidak lama beroperasi, Hector yang sudah berpengalaman dalam produksi kopi itu akhirnya meninggal diterkam macan putih. Wallis tidak cakap menjalankan perkebunan tanpa Hector. Ia seperti ingin mendapatkan jiwanya kembali setelah Hector pergi, ia memutuskan membeli Fikre, agar orang yang dicintainya itu bisa mendampingi dalam masa-masa sulitnya. Ia membayar Ibrahim sejumlah 800 poundsterling untuk mendapatkan Fikre. Mula-mula ia memang kembali bersemangat setelah bersama Fikre. Mereka bercinta, menghabiskan banyak waktu dalam upacara minum kopi sebelum percintaan mereka dan kemudian kembali bekerja. Tapi ternyata itu hanya ilusi Wallis, Fikre pergi berama seorang kasim, budak Ibrahim juga. Dan Ibrahim yang telah menipunya ternyata juga sudah pergi, seseorang mengatakan ia memiliki banyak hutang.

Wallis semakin tak berdaya, ia menghabiskan hari-harinya dengan zat-zat penenang yang dibawanya dari Eropa. Masyarakat lokal merawat Wallis, mereka merencanakan mengumpulkan semua yang sudah pernah diberikan orang-orang kulit putih itu untuk kepulangan ke negerinya. Dalam menceritakan tentang Afrika, penulis juga menceritakan dengan detail tentang suku-suku di Afrika serta tata kekuasaan mereka. Peradaban di Afrika pada masa itu juga tentang hal-hal mistis kepercayaan mereka. Mungkin terkait hal-hal mistis itu untuk membandingkan dua bangsa yang berbeda itu.

Wallis membutuhkan waktu dua tahun kemudian untuk kembali ke Inggris. Ia menulis tentang Afrika sebelum kepulangannya, sehingga saat kembali ia sudah benar-benar menjadi penulis. Tetapi hubungan Wallis dengan kopi tidak hanya sampai disitu, Pinker masih tetap memperkerjakan Wallis sebagai ganti rugi uang yang sudah dikeluarkan Pinker. Wallis diminta menulis dan menyelidiki hal-hal yang berhubungan dengan spekulasi harga kopi. Ketertarikan Pinker berubah, kekuasaan modalnya membuat keinginannya semakin berkembang. Ia tidak ingin hanya menjual kopi terbaik atau produk-produk yang dihasilkan kopi, ia juga ingin menguasai kopi dan memainkan harganya. Kedekatan Wallis dengan dengan media juga dimanfaatkan untuk memainkan spekulasi nilai kopi. Kemampuan Wallis yang luar biasa dan sangat membantu Pinker ini, membuat Pinker ingin agar Wallis kelak bisa menjalankan hal serupa dalam bimbingannya dan rekan bisnisnya. Tetapi Robert Wallis menolak.

Selain hal-hal tersebut Wallis juga dipercayakan oleh Emily mengelola satu café. Café itu tempat pertemuan para pejuang hak-hak wanita. Emily menjadi aktivis garis keras pejuang hak wanita. Bahkan ia melawan suaminya sendiri yang seorang menteri. Dalam posisi seperti itu Wallis juga turut membantu Emily dalam pergerakannya, meskipun mereka tidak menjadi tunangan lagi. tetapi akhirnya Emily meninggal dalam tahanan karena mogok makan. Dan Wallis tetap meracik kopi-kopi di Castel Street Café bersama Philomenna adiknya Emily. Mereka juga melahirkan racikan-racikan kopi cinta mereka.

Novel karya Antony Capella ini menarik. Meskipun mengambil sudut pandang orang pertama dan ketiga tetap mengalir. Terjemahannya yang cukup bagus juga membuat pembaca nyaman. Kita tidak akan kesulitan menikmati jalan cerita. Penulis juga sangat detail menggambarkan tentang aroma-aroma kopi ataupun percintaan-percintaan Wallis. Penulis tidak hanya menyandingkan peradaban kopi dan kolonialisme dan turunanya. Juga tentang gejolak-gejolak pada masa-masa itu perjuangan hak-hak wanita, mulai berkembanganya periklanan, dan media massa. Sementara itu di belahan bumi lain di Afrika, peradaban baru akan segera dimulai dan di Brazilia perkebunan kopi dan perbudakan gaya baru telah dimulai dan pemerintahnya telah lebih awal bermain dengan nilai kopi. Antony Capella menulis ini dengan riset yang serius dan menggambarkannya dengan detail.

 

PS : Ketagihan dengan buku Antony Capella yang lain

Advertisements

2 thoughts on “The Various Flavour of Coffee : sebuah Kopi Peradaban

  1. hah.. semakin larut dan pas nemu ini mataku sudah mulai lelah maka kuputuskan untuk membaca tulisanmu dilain waktu, mungkin seok hari akan berkunjung ke blog ini. setidaknya sedikit sudah kubaca. terima kasih happy tuk bacaanya tentang kopi!!! informatif dan menarik! 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s