Mengunjungi Pram

Makam itu berada di blok A1-40 No. 63

Hari Minggu kemarin (13 Juli) jalanan di bilangan Salemba lengang, sebuah pemandangan normal di kota-kota yang pernah kukunjungi. Tapi tidak untuk Jakarta, kak Niar mengatakan itu karena hari Minggu, hari-hari kerja biasa jalanan akan macet luar biasa. Kami berjalan keluar gang lingkungan perumahan orang-orang betawi tengah, kemudian menyusuri jalan Paseban dan tiba di jalan besar. Menaiki tangga yang cukup membuatku ngos-ngosan, lalu kami tiba di terminal busway. Kak Niar membayar tiket untuk dua orang, per tiket Rp 3.500. Tempat tunggu pemberhentian bus itu juga tak padat seperti bayanganku saat diceritakan oleh ibu yang kebetulan pernah naik bus trans lebih dulu. Tapi sekali lagi kak Niar bilang itu hari Minggu, saat orang-orang yang benar-benar energinya habis untuk pekerjaan memilih tinggal dirumah untuk membayar lelah hari-hari kerja mereka.

Ini kak Niar

Kami akan pergi ke tempat peristirahatan Pramoedya Ananta Toer  hari itu. Kami berangkat dari kos kak Niar sejak jam 10.00, dan tidak perlu lama menunggu di terminal itu. Tujuan kami adalah Pemakaman Umum Bivak Karet. Dari Salemba, kami naik Bus Trans Jakarta dua kali, pertama turun di halte yang saya gak yakin namanya, kemudian melanjutkan ke terminal paling dekat dengan Karet di Dukuh Atas 1. Aku cukup beruntung karena bisa pergi pada hari Minggu itu, bisa dibayangkan Jakarta Pusat selain hari itu pasti kendaraan-kendaraan akan bergerak lamban. Dipandu dengan ponsel canggih kak Niar dan temannya, yang belakangan baru saya tahu namanya mbak Fitri, kami tiba di terminal busway Dukuh Atas 1.

Dari terminal itu kami menyeberang jalan, kemudian belok ke arah kiri dan melalui terowongan. Dari terowongan itu kami menyeberang lagi kearah kanan dan melalui jajaran hotel-hotel. Kawasan Dukuh Atas masih terbilang hijau dibanding daerah yang benar-benar pusat kota, disana juga masih telihat space-space yang gak bikin tambah sesak melihat Jakarta. Hari itu kami juga cukup beruntung dengan suasana yang mendung, cuaca sangat mendukung untuk pergi berjalan kaki. Tiba diujung jalan, kami menyebrangi jalan dibawah flyover dan tibalah kami di Bivak Karet. Di jalan dan di tugu nama TPU itu tidak lupa kami memanfaatkan aplikasi canggih C360 yang benar-benar luar biasa.

Kami perlu berjalan lurus lagi dari arah tugu nama TPU itu untuk menemukan pintu masuk utama, saat kami tiba di pemakaman gerimis mulai turun. Halaman pemakaman itu cukup luas, disebelah kiri berjajar pedagang bunga dan air wangi. Kami membeli dua bungkus bunga dan air. Hari itu kami juga berencana mengunjungi makam Chairil Anwar dan Benyamin Sueb yang juga berada di TPU yang sama. Kami memasuki area pemakaman dan jangan bayangkan hal-hal serem disini. Tempat pemakaman ini  berada diantara gedung-gedung tinggi, di deretan nisan sangat rapi, disertai blok dan nomor nisan. Di sana juga banyak orang dan ada pedagang makanan. Di sekelilingnya banyak tumbuh tanaman yang dirawat, bukan bunga-bunga kamboja seperti cerita mistis. Rumput-rumput pun rumput hias yang terpotong rapi. Tidak ada tumbuhan menjalar sesuka hati, jenis nisan pun seragam, wajar saja jika nisan Ustad Uje tidak boleh diganti yang lebih istimewa. Di sana juga akan banyak kita temui nisan yang diberi tanda merah putih, artinya itu nisan para pejuang.

Di dekat pintu masuk yang kami lalui, kami berjalan kearah kanan. Tidak jauh berjalan kami menemukan makam ibu Fatmawati, penjahit bendera merah putih pertama indonesia. Makam ibu Fatmawati berjejer tiga dengan keluarganya. Makamnya juga berbeda, mungkin karena memang ibu negara. Di dekat pemakaman itu ada tiga orang laki-laki yang sepertinya sedang berziarah juga. Kak Niar mendapatkan informasi blok dan nomer makam Pram, kamipun segera mencari lokasi itu. kami sempat bertanya kepada bapak berkaos biru, tetapi bapak itu menunjukkan makam seorang bernama Tutur. Bapak itu mengantarkan kami meskipun kak Niar mengatakan kami akan mencari sendiri, tetapi tak berapa lama kami gantian diikuti empat anak-anak usia sekolah dasar. Mereka mengantarkan kami mencari nomer yang kami maksud.

TPU Karet ini memang tidak sepi seperti kuburan-kuburan di kampungku pada umumnya. Disana juga banyak orang-orang yang memang bertugas dan ada juga yang mungkin mencari rejeki saat ada orang yang meminta tolong mencarikan tempat/ makam yang dimaksud. Anak-anak kecil itu mengiringi kami, membantu mencarikan lokasi makam Pram. Kami menemukan blok A1-40, tetapi tampaknya bukan itu deretan yang kami maksud, karena di deretan itu nisan-nisan bernomor 200-an keatas. Di ujung deretan itu ada tenda beristiahat beberapa bapak-bapak yang menanyakan nama yang kami cari. Mereka menunjukkan deretan diseberang kami. Tidak lama kami menemukan nomor 63 itu, tempat beristirahat Pram dan Ibu Maemunah yang menjadi satu nisan.

Halo ini saya

Keempat anak-anak itu dengan sigap membersihkan daun-daun di sekitar nisan, memotongi rumput-rumput hias yang tak tampak memanjang. Membersikan batu nisan dan pinggiran nisannya dengan kain. Kak Niar kemudian memberikan lembaran sepuluhan ribu kepada keempat anak itu, aku tidak bertanya jumlahnya dan anak-anak itu segera pergi. Kami segera mengambil posisi untuk berdoa sesuai keyakinan kami masing-masing. Jangan bayangkan setelah itu kami akan menyanyikan darah juang. Karena setelah berdoa, kami hanya seperti ziarah pada umumnya, menabur bunga dan menuangkan air wangi, juga tidak lupa memanfaatkan aplikasi canggih kamera untuk sekadar bernarsis ria. Kami juga melakukan sedikit perenungan, tentang Pram yang 36 tahun berstatus sebagai  tahanan. Aku sendiri bertanya dalam hati, apa kiranya hal-hal yang pernah membuat pram bahagia? Berani bersuara di tengah suara-suara sumbang tentang Hoakiau, karya-karya yang menjadi masterpiece, kalimat-kalimat sakti yang lantas ditiru oleh anak-anak muda seumuranku, dedikasinya sebagai sastrawan sekaligus sejarawan yang mendidik bangsa melalui karya-karya, mungkin bukan itu. Mungkin kebahagiaannya adalah saat ia terus hadir diantara kita yang terus membicarakannya, tanpa bermaksud memberhalakann dirinya, seiring terwujudnya kalimat yang menjadi pesan terakhir yang tertulis pada nisan “ anak muda harus melahirkan pemimpin.”

Akhir pekan kemarin memang salah satu akhir pekan yang paling istimewa, kapan lagi bisa ke Jakarta dan mengunjungi Karet. Meskipun batal mengunjungi Chairil Anwar dan Benyamin Sueb, suatu hari nanti semoga bisa kembali.

 

PS : Terima kasih kak Niar untuk perjalanan keren yang tidak pernah terencana sebelumnya, mungkin lain kali kita bisa mengunjungi makam-makam para filsuf, seniman, negarawan atau satrawan yang lain pada liburan-liburan indie kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s