Akhir Pekan Bersama Pencerah Nusantara

Bulan Juli ini telah memberikan saya banyak pelajaran berharga sekaligus hutang-hutang. Hutangnya yaitu belum sempat menulis untuk ulang tahun Onyi dan beli hadiah buat ibu serta mengucapkan secara langsung. Bulan ini juga sekaligus memberikan hadiah perjalanan yang tidak direncanakan sebelumnya.

Pelajaran berharga bulan ini datang dari seleksi Pencerah Nusantara III. Ini berawal dari akhir Mei yang seperti stuck dengan keadaan. Dari awal tahun lalu saya berencana resign dari tempat kerja, karena merasa sudah cukup untuk bermain-main dan meniti langkah-langkah awal. Berikutnya saya punya target untuk belajar program kesehatan, bukan lagi hanya puas sebagai tenaga teknis di lapangan saja. Tetapi kenyataanya tidak semua tempat memberi kesempatan kita untuk berhubungan langsung dengan program. Ya, namanya juga bukan kerja di komunitas yang kita bangun sendiri, jadi ya harus puas begini-begini saja kalau mau terus berlanjut. Nah, akhir Mei lalu (atau April yah, lupa) saat aku habis ketemu dengan Ria yang mau berangkat penempatan BPJS nya dia memberikan pesan-pesan, salah satunya sih, “jangan sampai kita menggantungkan diri kita pada orang lain (baca : pasangan, pacar atau apalah), apalagi soal masa depan.” Dan kenyataan itu terjawab, tetapi untungnya saya sudah menyiapkan diri jauh-jauh hari. Terima kasih Riiii. Setelah ini saya hanya akan mengikuti apa yang saya mau sebelum merencanakan hal “itu” benar-benar matang dan pasti. Yah, kehidupan kedepan memang sangat tidak pasti, dan janji hanyalah hal yang paling mudah diucapkan.

Balik lagi ke seleksi Pencerah Nusantara, sebenarnya aku tahu program ini sejak seleksi angkatan I, tahun 2012. Tetapi waktu itu belum lulus, dan belum tahu kapan akan menyelesaikan tugas akhir. Pas seleksi angkatan dua, gak ketinggalan informasi sih hanya waktu itu prioritasnya lain, masa depan chui, *halahh. Lalu akhir Mei lalu saat lagi bingung mau kerja yang serius atau mengikuti program-program jangka pendek si Omeng (Dian), seorang teman yang bekerja di Puskesmas Melaya mengupload foto tentang informasi pembukaan pendaftaran Pencerah Nusantara III. Akhirnya aku minta pertimbangan ke Asti soal ini, tentu saja dia sangat mendukung dan dari jauh-jauh hari mengingatkan aku untuk serius kali ini. Biasanya sih Cuma sekadar omong doang mau ikut program-program seperti ini.

Pada saat menyiapkan pendaftaran ini aku juga mendaftar untuk program lain, hanya saja aku kurang tertarik dengan programnya yang berkaitan dengan ekonomi mikro gitu. Aku tidak melengkapi untuk seleksi adminstrasi, tetapi dipanggil untuk wawancara dan tes. Tapi di akhir wawancara sih sudah bilang dengan pewawancaranya bahwa saya juga mendaftar pada program lain. padahal waktu itu belum menyelesaikan esai PN. Nah pada saat pengumuman awal diberitahukan pendaftaran PN ditutup tanggal 15, dan aku menyelesaikan esaiku dan mengirimnya taggal 11. Tumbeeenn seperti ini, biasanya last minute sebelum batas akhir baru dikirim. Tetapi ternyata batas akhir pendaftaran diundur sampai akhir Juni. Sebelum mengirim aplikasi pendaftaran juga sudah sempat berdiskusi dengan Emily, salah satu pemegang program di kantor, dan ia bersedia menjadi salah satu referee.

Untuk pengumuman PN ini ternyata cepat sekali. Sehari setelah batas akhir pendaftaran pengumuman seleksi tahap satunya sudah ada. Dan sekitar sembilan puluh orang lolos dalam seleksi ini dari seribuan pendaftar (katanya sih). Setelah melihat daftar nama jadi heboh deh. Setelah menjadi sangat pasti lolos tahap I, karena mendapatkan email dan pesan singkat juga, Bu yanti adalah salah satu orang yang harus tahu. Karena aku juga mencantumkan kontak Bu Yanti sebagai referee, dan waktu berlalu Bu Yanti hanya membaca pesan saja tanpa membalasnya.

 

Seleksi Pencerah Nusantara Tahap II

            Seleksi ini diadakan satu minggu setelah pengumuman seleksi tahap I. rangkaian tes diadakan di Jakarta, di kantor kesekretariatan negara yang juga jadi kantor utusan khusus presiden untuk MDGS penyelenggara program ini. yah soal MDGS yang memang tujuan utamanya percepatan pembangunan kesehatan, dan entah mungkin pada akhirnya juga bertujuan untuk percepatan kapital. Aku belum banyak paham soal ini, ya aku tidak ingin menjadi buta, hanya saja di masa-masa mudaku ini *tsaah aku perlu tahu banyak program kesehatan dan apa tujuannya serta bisa menelaah pembangunan kesehatan ini sebenarnya mau dibawa kemana. Hanya saja soal sama rata sama rasa di bidang kesehatan bukan hanya PR yang besar, tapi harus mulai dari Nol ya kak. J

Tes tahap II dilaksanakan dari tanggal 10-13 Juli 2014, setiap tes diikuti dua puluhan peserta, dan aku kebetulan dapat Jadwal hari Sabtu tanggal 12. Aku tiba di Jakarta hari Jumat malam, setelah melalui perjalanan panjang menembus kemacetan jakarta yang menyambut akhir pekan, akhirnya tiba juga di terminal Gambir. Perjalanan ke Jakarta ini secara perdana aku sendiri dan gak minta dijemput, di jalan rasanya cukup lega juga karena Bu Yanti hari itu balas email dan memberikan kontaknya di Australia.

Dari terminal Gambir langsung ke penginapan naik ojek. Tidak banyak menawar lagi karena sudah sangat penat pas nunggu bus dan naik bus diantara kemacetan, duh sopir Damri emang kayaknya orang paling sabar di Dunia setiap hari harus menembus kemacetan seperti itu. Bandara Soekarno Hatta-Gambir ditempuh hampir dua jam. Setiba di penginapan ternyata seorang teman satu kamar tidak ada, jadilah mondar-mandir minta kunci kamar. Dan saya ternyata satu kamar dengan seorang teman dari Medan. Namanya Siska Verawati, lulusan FKM USU. Dia angkatan lebih muda dari aku, tapi pengalamannya, wuihh. Dia pernah mengikuti beberapa program magang salah satunya terkait kesehatan di Mentawai. Kami bercerita cukup banyak malam itu juga termasuk persiapan-persiapan kami.

Keesokan harinya tes akan dimulai. Dan pagi itu aku dan Siska uda bingung aja untuk menyiapkan kondisi kami agar tetap prima, ya Sarapan. Subuhnya kami dibangunkan untuk mengambil makanan sahur, tapi setelah Siska bilang kami tidak puasa, petugas tidak menyiapkan itu untuk sarapan. Untungnya di depan hotel ada penjual bubur, duh, bukan tidak menghormati yang puasa, kalau di dalam hotel menyediakan tempat makan kami gak makan di pinggir jalan kok. :P. setelah sarapan kami berangkat ke lokasi tes jalan kaki. Seperti olahraga pagi-pagi gitu. Kami berangkat lebih awal dari teman-teman yang lain, dan teryata mengambil jalan terlalu jauh, pada akhirnya juga bareng teman yang lain. Sambil menunggu briefing awal, kami mulai berakrab-akraban. Peserta tes kali ini emang tampak beragam Universitas dan daerah. Kalau gak salah sih sebelumnya selalu di dominasi oleh peserta dari UI. Jadi rangkaian tes tahap dua ini hanya satu hari, dari pukul 07.30- 14.00 WIB. Hanya saja karena kemarin agak ngaret jadi mulai lebih siang dan pulangnya pun ngaret juga.

Berfoto dululah padahal masih ada teman yang masih wawancara. foto diambil dari mbak @nyipinyip

Rangkaian tes itu antara lain terdiri dari tes psikologi, FGD dan wawancara. Tes psikologinya sendiri terdiri dari bermacam-macam jenis, bagian pertama yaitu logika sederhana, kemudian tes Pauli yang menjumlahkan angka-angka berderet, kemudian memasangkan karakter yang paling menggambarkan diri kita dan yang paling tidak menunjukkan diri kita, dan yang terakhir menggambar. Saat menggambar ini kami juga di panggil per kelompok sekitar lima orang untuk FGD dan ada yang wawancara satupersatu. Aku dapat kelompok tiga dengan Niken dari UNS, aku dapat giliran kedua, Ine dari Psikologi Unibraw yang ternyata pernah ikut IM. Ine ini ternyata yang menggantikan kak Adji Prakoso penempatan di Sumatra Selatan, dunia memang sempit sekali. Kemudian ada Nenni fresh graduate dari FKM Unair, dan bidan Sundang Yenni yang pernah ikut PN sebelumnya tapi gak lolos.

FGD ternyata tidak menengangkan, tetapi waktunya yang terbatas sehingga kami tidak menyelesaikan diskusi kami. Ada hal yang cukup bikin kecewa, ini gara-gara aku salah ambil posisi sebagai moderator. Padahal sebelum tes aku sudah baca-baca tentang pengalaman FGD untuk tes semacam ini, moderator seharusnya paling dihindari, karena pasti tidak akan banyak kesempatan memberikan pendapat pribadi. Dan benar, FGD ini terlalu singkat, aku tidak bisa memimpin hingga selesai, karena waktu hanya sekitar 20 menit. Gisss. Pasrah sajalah. Setelah itu Niken giliran pertama wawancara, baru berikutnya aku. Wawancara panel bersama empat orang panelis. Dua orang yang menjadi panelis saat FGD juga dua orang lagi kurang tahu karena tidak menyebutkan nama. Tampaknya sih dokter. Agak tegang sih, dan jawabanku secukupnya saja. Kadang lupa pertanyaanya, gisss. Pada intinya sih panelis hanya ingin tahu pengalaman kita, bagaimana kita menyikapi masalah pribadi dan program, bagaimana pemahaman kita tentang teori kesehatan masyarakat yang dihubungkan dengan program kesehatan saat ini, apa saja pengalaman atau inisiatif yang pernah kita lakukan, bagaimana kita apabila tidak diterima di masyarakat karena program-program kita, apa-apa saja yang kami butuhkan dari PN apabila kami terpilih, bagaimana kami akan tetap survive degan kondisi yang sangat minim. Yah lainnya seputar esay sih, kalau teman yang lain katanya ada yang ditanya hingga detail rencana. Kalau aku yang terakhir hanya ditanya apa hal realistis yang bisa aku lakukan apabila terpilih, gitulah. Dan mas Asnoer salah satu penelisku kok keren yahh, kalem lagi wahaha. Waktu wawancara selama 45 menit pun tidak terasa.

Seperti itulah kira-kira gambaran seleksi Pencerah Nusantara III kemarin. Sebelumnya aku search di google soal seleksi ini, tetapi tidak ada yang menulis tentang pengalaman-pengalaman mereka. Aku hanya membaca pengalaman-pengalaman mereka yang pernah mengikuti seleksi Indonesia Mengajar. Desain kedua program ini sih sama katanya, prosesnya juga hampir sama, tapi Indonesia Mengajar mungkin lebih banyak peminatnya. Dan di akhir hari itu, saat tes psikologi sudah kami lalui, sembari menunggu kawan-kawan yang belum dapat giliran kami menertawakan diri kami dalam proses hari itu. terutama saat wawancara, ada seorang dokter muda yang telah menyiapkan jawaban dari jauh-jauh hari soal “kenapa meningalkan tempat (bekerja atau intern ya?) yang sekarang dan memilih PN,” dan ternyata hal itu benar ditanyakan. Kami juga membicarakan hal-hal yang akan kami lakukan apabila tidak lolos pada program ini.

Dan hari itu memang bukan sebuah kompetisi, bukan juga sebuah seleksi mencari kerja. Ya meskipun kami (sebagian dari lulusan SKM) yang desperate karena kerja profesional yang terbatas, kami hanya menjawab panggilan untuk bergabung menjadi bagian dari pembangunan kesehatan. Seperti pesan manajer program Pencerah Nusantara mbak @Adetje seleksi ini sekaligus jawaban untuk kami, apa sebenarnya tujuan kami apakah benar pengabdian atau lainnya. Hari itu berakhir, setelah bercanda dengan kawan-kawan itu, aku tidak akan kecewa jika hasilnya terburuk sekalipun. Dipertemukan dengan mereka adalah sebuah hal yang tidak akan terganti, Ziizii bidan gaul, Syakti dan Lanang dokter muda yang humoris, bidan sundang Yenni yang tidak putus asa, para pemerhati kesehatan masyarakat dengan pengalaman keren mereka yang datang dari berbagai daerah. Kami sudah mengikuti proses dan mengerjakan hal-hal yang kami lalui sebaik mungkin. Hasil belakangan lah, meskipun tetap berharap yang terbaik.

 

PS : Kalian semua keren.

Dan menulis tentang diri sendiri ternyata tetaplah hal yang paling mudah daripada menulis objek lain

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s