Suatu Hari, Percakapan di Tune

Suatu sore di Bulan Maret 2012 saya bertemu dengan seorang pecinta perjalanan. Kami berjanji bertemu di hotel tempatnya menginap, di bilangan Poppies Kuta. Ia menginap di Tune hotel milik Maskapai penerbangan Airasia. Aku sudah pernah menuliskannya di blog tentang pertemuan ini, tapi disini aku ingin menuliskan bagaimana pertemuan itu merubah pandanganku tentang perjalanan.

***

Linlin nama panggilannya, ia berkenalan denganku dengan nama itu. Kami dikenalkan oleh seorang teman yang lain, teh Mulyani Hasan. Ia berasal dari Bandung. Waktu itu dia merencanakan perjalanannya ke Bali selama dua minggu, jauh dari rencana sebelumnya yang hanya dua hari. Ia batal ke Darwin karena suatu hal, mungkin terkait visanya. “Karena batal ke Darwin, ya akan cukup lama jalan-jalan di Bali,” katanya waktu itu.

Meskipun hari itu pertemuan pertama kami, percakapan antara kami pun tetap mengalir. Linlin bercerita hanya akan beberapa hari menginap di hotel itu, sisanya akan menginap di beberapa host yang ia temukan dari sebuah jejaring khusus pecinta perjalanan. Saat pertemuan itupun aku juga menanyakan sejak kapan ia mulai mencintai perjalanan, “Ini semua gara-gara Airasia,” kata Linlin. Kegilaanya terhadap perjalanan dimulai saat dia sedang mencari tiket untuk keluarganya yang akan pergi ke Surabaya. Saat itu dia melihat tarif salah satu maskapai penerbangan yang terjangkau. Ia menemukan harga yang menurutnya gila untuk sebuah perjalanan ke Kuala Lumpur, Filipina, Phuket, Bangkok, Vietnam dan Singapura. Akhirnya dengan persetujuan mamanya ia diperkenankan meminjam uang ibunda tercintanya itu. ia melakukan perjalanan ke luar negeri pertamanya itu sendiri dengan tiket ke beberapa negara itu. Sebelumnya ia akan pergi dengan seorang temannya yang mengenalkan kami itu, tetapi waktu itu teh Yani ternyata sedang hamil.

Ia mengenang, katanya banyak hal menarik dalam perjalanan itu. ia bertemu dengan sepasang traveller dari Jepang yang mengamen di Malaysia dan Singapura untuk perjalanan ke Indonesia. Lalu saat di Indonesia pasangan itu singgah ke rumah Linlin di Bandung. Perjalanan ke dua dan ke tiga nya yaitu Maccau dan Vietnam. Perjalanan itu masih karena sebuah tarif tiket gila. Saat ke Maccau ia pergi berdua dengan temannya. Ia masih menikmati perjalanan itu, “masih asik dan seru,” katanya. Tapi saat perjalanan ke Vietnam ia bertiga, dan kedua temannya lebih asik dengan smartphonenya daripada menikmati tempat-tempat yang mereka kunjungi. Pada perjalanan ke Vietnam itu mereka juga menginap di sebuah kamar privat yang tidak memungkinkan Linlin berinteraksi dan berbagi perjalanan dengan traveller lain, sementara teman-temannya sibuk dengan smartphonenya masing-masing.

Sejak perjalanan yang ke tiga itu Linlin merasa perjalanan yang dilakukan sendiri memang lebih menarik katanya, bertemu orang-orang baru, belajar, berbagi hal-hal baru, dan membuka wawasan. Dan yang paling penting baginya perjalanan bukan sekadar menikmati nuansa alam atau keindahan, “Bagiku perjalanan ini untuk recharge,” Kata Linlin. Ia juga mengatakan perjalanan yang dilakukan sendiri itu seperti merasa menemukan jiwa yang merdeka, “ Kalo di rumah kan kita bukan menjadi milik kita sendiri ya, kita milik keluarga, begitu juga ketika bekerja. Tetapi ketika kita bepergian terutama jika sendiri kita benar-benar seseorang yang bebas, benar-benar menjadi diri kita,” kata perempuan kelahiran Bandung itu.

Pada pertemuan itu Linlin berpesan padaku, “Berpetualanglah selagi single.” Dan aku pernah berjanji akan menaklukkan daerah di sulawesi dan daerah Indonesia timur.

***

Pertemuan dengan Linlin itu sedikitnya mengubah pandanganku tentang perjalanan, meskipun aku belum pernah segila Linlin dalam berburu tiket gila seperti itu. Awalnya aku menilai perjalanan adalah bagaimana kita bepergian bersama orang-orang terdekat kita sebanyak mungkin. Apalah artinya menikmati sesuatu tanpa orang-orang terdekat atau teman-teman kita. Perjalanan semacam ini tentu merepotkan dan harus memastikan teman-teman atau keluarga memiliki sejumlah biaya yang cukup untuk perjalanan, disamping perlu menjamin kenyamanan bagi mereka. Tapi sejak pertemuan itu, aku ingin menantang diriku sendiri dengan perjalanan dan pengalaman yang kutemukan dari perjalanan itu.

Sejak percakapan itu aku juga sering mengunjungi website Airasia. Melihat-lihat tarif yang begitu gila membuatku ngiler pengen bepergian kemana-mana. Aku juga pernah merencanakan bepergian ke beberapa tempat setelah itu. Menjelang akhir tahun 2012 lalu aku merencanakan pergi ke Surabaya, ke tempat kakak sepupuku. Mengunjungi keluarga sekaligus ingin mengunjungi situs peninggalan Majapahit di Mojokerto serta ingin bernostalgia masa kecil ke kebun binatang Surabaya sepertinya asik. Tapi rencana itu batal karena keperluan kantor untuk pergi ke Jakarta yang datang tiba-tiba. Aku harus pergi, terlebih itu bulan-bulan awalku bekerja. Dan kini kakakku itu sudah pindah ke Sulawesi setelah menikah awal tahun lalu.

Pertengahan tahun lalu juga merencanakan untuk pergi ke Jogja bersama seorang sahabat, Ria. Aku lupa karena apa tidak bisa ikut, sepertinya juga soal kerjaan juga. Ria ternyata juga tidak jadi pergi karena ia mengurus soal keprofesiannya. Keinginan yang hingga saat ini tak surut tetaplah, menaklukkan kota berhati Nyaman, Jogja. Dan, perjalananku satu-satunya setelah pertemuan itupun hanya Lombok. Bulan Juni tahun lalu aku pergi ke Lombok dengan seorang kawan dari Bandung yang tinggal di Bali. Milliya menawarkan untuk pergi ke Lombok, dan aku mengiyakan. Kami pergi ke Lombok mengendarai sepeda motor, karena kami mempertimbangkan soal biaya yang akan kami keluarkan dan waktu yang kami miliki yang terbatas.

Keinginan untuk sebuah perjalanan memang tak surut-surut, tapi apa daya cuti kantor sangat terbatas. Untuk perjalanan yang sekejap itu, sesungguhnya tak cukup bisa kunikmati. Tapi cukup untuk recharge energi seperti yang dikatakan Linlin. Jika kata seorang sastrawan begini, “… sampai detik ini aku masih punya keyakinan, perjalanan selalu menjadi resep mujarab penawar rasa hampa.” Mungkin aku harus segera memulai perjalanan yang sesungguhnya setelah ini.

 

 

 

PS : Diikutkan dalam kompetisi Blog Air Asia dengan Tema “Bagaimana AirAsia Mengubah Hidupmu?”

Advertisements

2 thoughts on “Suatu Hari, Percakapan di Tune

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s