Tentang Hari-hari

Tentang mendengarkan berita pagi ini, mendengarkan berita pagi rasanya seperti menyiapkan harimu untuk sesuatu yang lebih kacau. Pikiranmu menjadi ruwet bercampur dengan berita-berita sampah dalam seharian itu. Apakah kita sudah menjadi tak peka, tentu tidak, berita-berita itu memang sampah yang harus kau jauh-jauhkan  dari kepalamu. Saat seperti itu aku membayangkan ada yang menggantikan saluran tv untukku, memilihkan satu saluran dengan siaran yang sesungguhnya tak lebih penting dari berita-berita itu, hanya kartun. Lalu kamu akan sesekali tertawa melihat satu adegan dari layar kaca. Atau mendengar ucapan satu tokoh, spongebob atau shandy atau Masha. Kamu sangat peka dengan suara-suara. Sementara aku hanya mendengarkan dan sibuk menyiapkan diriku seharian kedepan.

Mula-mula pagi yang seperti ini akan tampak biasa. Kita tak akan banyak bicara. Kamu sudah tak banyak protes belakangan. Dan aku sibuk dengan diriku sendiri, kubilang aku hanya sedang ingin mendengarkan hatiku saja.

Kamu memilih duduk di satu sudut, membuka bacaanmu yang tersisa sambil menyesap kopi yang sudah tak berasap lagi. sampai bacaanmu berakhir aku tak juga pergi. Aku menunggu angka-angka di jam tanganku bergerak, aku tak ingin lama-lama dalam ruangan itu tanpa melakukan hal-hal yang begitu penting. Aku tak ingin bertemu orang-orang yang merasa tak perlu membutuhkan aku. Kalau boleh aku ingin menghabiskan sehari itu bersamamu meskipun kita tak saling bicara. Aku berpamit lirih lalu pergi, kamu mengantarku hingga aku tak tampak lagi. kamu tetap seperti itu setiap hari, meskipun aku tak akan menoleh lagi.

Kamu larut dalam bacaanmu sementara aku terhisap dalam ruanganku. Aku membayangkan mungkin sekali-kali kamu juga menuliskan sesuatu. Aku masih tetap mengagumi staminamu, dan kamu juga tak lelah-lelah mengingatkan aku untuk berlatih seperti itu. Aku kadang pura-pura tak mendengar, kadang berlatih diam-diam saat kamu larut dalam kesibukanmu. Aku berpikir kadang tak perlu menunjukkan kepada siapapun tentang usaha-usahaku. Juga kegagalan-kegagalan dalam hidupku. Aku juga tak perlu mengeluhkan ini padamu sekalipun.

Sorenya, kita masih tak saling bicara. Makan malam pun tanpa suara. Aku hanya menanyakan satu nama makanan yang ada di kepalamu kemudian berlalu. Biasanya sore-sore seperti itu kita sibuk membicarakan nama bumbu-bumbu. Kadang kamu merasa perlu menceritakan sejarahnya padaku, dan aku hanya perlu tahu bagaimana bumbu-bumbu itu berada di dapurku. Kamu tak marah meskipun kadang aku hanya mendengarkan sambil berlalu. Kamu tak pernah memberikan satu protes pun untukku. Kadang aku heran, mengapa kita terus memaklumi sesuatu yang kadang tidak sesuai dengan segala yang kita pikirkan.

Malam-malam aku sibuk dengan dramaku. Lain kali aku akan cerita mengapa orang menyukai drama yang kualitasnya hanya sedikit lebih baik dari sinetron. Satu bocoran untukmu, katanya orang-orang bisa bermimpi lebih indah setelah nonton drama-drama itu. Sementara itu, kamu tak beranjak sejak setelah makan tadi. Aku kadang mengintip layar di depanmu atau coretan-coretan kertas di meja saat ke kamar mandi. Kadang aku pura-pura ambil minum di dekat mejamu agar tulisan-tulisan lebih banyak kubaca. Lalu kita akan terlarut bersama bertambah tuanya malam itu.

Pagi berikutnya, aku tak akan banyak mengingat. Pagi itu mungkin kita masih akan melakukan hal yang sama, atau malah kita akan lebih banyak bicara dan diselingi tawa. Mungkin hari-hari akan tambah melelahkan. Atau bahkan kita tak akan saling bicara untuk satu hal yang kita tak mau tahu sebabnya. Saat-saat seperti itu, mungkin kita hanya bisa saling mendoakan. Dan aku akan mendoakanmu, segala yang terbaik untuk semua harapanmu. Semangat untuk kerja pribadimu. Aku tetap menemani disini. Dan mungkin kamu pernah mendengar tentang satu kalimat seperti ini, “puncak rindu tertinggi itu saat dua orang yang tak saling bicara, tetapi saling mendoakan.”

 

 

 

Denpasar, 23 April 2014

Advertisements

5 thoughts on “Tentang Hari-hari

  1. “puncak rindu tertinggi itu saat dua orang yang tak saling bicara, tetapi saling mendoakan.” intinya, ini tulisan orang yang lagi kangen, gitu? :)))

    *kabur*

  2. “puncak rindu tertinggi itu saat dua orang yang tak saling bicara, tetapi saling mendoakan.”

    Kapan yak aku bisa sampai di titik itu?
    😐

  3. can : bilang kangen yang elegan plus mekulit kulit

    iyya : tinggal nulis kode semacam ini juga iyya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s