Isja untuk Pavel

Aku melintasi sekali lagi jalanan menuju perkampungan itu
Kali ini sengaja kupakai sarung tangan rajutan ibunda
Warnanya pucat, dibeberapa bagian sudah tampak mengendur
Tapi hatiku yang telah jatuh pada perempuan tua itu tak akan menjadi pucat dan kendur

Musim dingin kali ini tak mampu lagi membekukanku
Aku telah membekukan hatiku jauh hari sejak kita mengrikrarkan janji yang sama
Perempuan tuamu tak perlu khawatir lagi padaku
Ia melalui musim dingin yang lebih berat dari musim dingin diantara cahaya dan gedung-gedung ini

Rawa-rawa yang dulu menguning itu kini sudah mengering
Seiring keringnya air mata seorang perempuan tua
Di rawa-rawa itu kini beton-beton tumbuh subur, lebih banyak lagi pemuda dan orang-orang tua yang mengabdikan diri disana
Deretan rumah tak banyak berubah, hanya tembok-tembok menjadi tampak pucat dalam penglihatanku
Aku merindukan kehangatan rumah diujung jalan dengan Samovarnya

Aku merindukan perempuan tua dengan segala kesederhanaan dan ketegarannya
Sebelum kepergianmu menuju kenyataan itu, ia sering bercerita padaku
Tentang kebiasaanmu, tentang betapa bahagianya ia bisa melangkah bersamamu
Ia sanggup melupakan kepahitan yang pernah dilaluinya
Ia berbahagia dengan kehidupan barunya

Aku tak menemukanmu disana, aku tak menemukan perempuan tuamu
Tapi aku akan menemukanmu, pada kenyataan

Denpasar, 3 Februari 2014
Postingan pertama tahun ini :*
Happy Ari Satyani

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s