Dik Aya : Kabar dari Kotamu

Untuk dik Aya,

Dik, saat aku menulis surat ini, purnama sasih kanem kurang seminggu lagi. kamu bisa bayangkan dik, malam ini bulan telah lebih dari separuh, tapi langit mendung. Apa kabar kiranya dik Aya pada bulan yang basah begini? Masih mendampingi teman-teman tak biasa itu?

Aku memutuskan membeli buku catatan tebal. Lalu menulis surat ini setelah lama tak menemukan jejak-jejak tulisanmu. Dan akan terus menulis surat seperti ini hingga aku berani menemuimu. Tulisan terakhirmu enam bulan yang lalu, kemana saja dirimu dik? Apa kiranya pekerjaan yang kau lakukan dengan tulus itu juga bisa menumpulkan hatimu hingga tak mampu mengungkapkannya dalam kata-kata?

Awal Bulan lalu aku tinggal beberapa hari di kotamu. Aku tak yakin kamu benar-benar tinggal di sana. Tak ada jejakmu di sana dik. Aku tiba sehari sebelum pertemuan rakyat seluruh dunia itu dimulai. Sama dengan beberapa orang lainnya dik, aku merasa perlu jalan-jalan. aku mengukur jalanan kota, tidak berbeda dengan kota lainnya. Macet saat orang-orang pulang dan berangkat kerja. Aku berhenti pada ruang-ruang publik, tak ada jejakmu di sana dik. Aku ragu memasuki gedung-gedung tinggi saling berseberangan, mal-mal itu dik. Apa mungkin aku bisa menemukanmu di sana? Dari daftar tagihan kartu kredit atau struk belanja makanan siap saji yang tak sengaja kau tinggalkan di meja atau bekas tanganmu pada buku-buku. Atau malah bekas kakimu pada sepatu-sepatu dan kaca ruang ganti baju yang masih menampakkan dirimu. Aku tak berani ke sana dik, aku takut menemukanmu pada banyak benda itu. Aku takut bayanganku tentang kamu bertambah menjadi samar.

Dik, aku ingin bercerita dalam surat rahasiaku ini. Kamu tahu apa yang kutemukan di kotamu kemarin? Aku bertemu banyak orang yang bermacam-macam, aku bisa merasakan kebahagiaan seperti dirimu saat bertemu banyak orang itu dik. Aku bertemu petani, buruh, buruh migran, para perempuan yang berjuang untuk kaumnya, aktivis Lingkungan, Hukum dan HAM juga para pemuda mahasiswa. Mereka juga datang dari berbagai negara dik, kamu tahu Korea Selatan? Mungkin kamu hanya mengenal girlband dan boyband serta drama mereka yang unyu-unyu itu. Tapi kamu harus tahu dik, ada seorang petani yang pernah menikam dirinya karena tak mau kaumnya dibuat menderita oleh segelintir orang itu, ia melawan dik. Para petani Korea Selatan yang datang dalam kesempatan kemarin mendoakan pak tani itu di pantai berpasir hitam. Aku juga bertemu petani yang lain dik, seorang petani tak jauh dari ibu kota Sulawesi Selatan. Temannya baru saja ditembak oleh aparat saat memperjuangkan tanahnya sendiri, ia baru datang sore itu dik. Ia bercerita kini berjuang murni bersama kaum-kaumnya, tak ada orang-orang yang mengatasnamakan kepentingan pribadi di dalamnya. Mereka petani yang hanya bisa hidup dan menghidupi dari bertani. Mereka lebih kuat dengan kondisi yang seperti itu dik, hati mereka semurni padi-padi itu.

Aku juga melakukan hal yang kausukai disana dik, aku mengumpulkan koran-koran lokal dan nasional. Aku membelinya di kios dekat tempatku menginap. Aku mengumpulkan berita tentang pertemuan internasional yang (mungkin) terakhir digelar di dekat kotamu tahun ini. Ternyata media-media di Bali tak jauh beda ya. Aku ingat ceritamu waktu itu, berita-berita yang mereka tampilkan serupa. Tak ada media yang lebih baik, yang paling baik dari yang paling buruk hanya satu media yang selalu memiliki tema khusus setiap terbitannya. Berita-berita yang sama sekali tidak mencerahkan, bahkan mereka tak mau mengakui orang-orang di kotamu benar-benar acuh dengan pertemuan itu. Pertemuan yang akan menentukan nasib petani seluruh dunia itu dik. Koran-koran nasional juga tampaknya tak bisa menembus jalan untuk mendapatkan informasi-informasi terkait pertemuan itu dik, aku hanya menemukan kolom opini tentang pertemuan itu. Para pengamat UI yang tak jelas sikapnya itu sama sekali tak mencerahkan, mantan dirjen kerjasama perdagangan yaa lumayan lah, mbak Mai yang membahas isu tambang dan isu pertanian yang dibahas pada harian keesokan harinya. Aku hanya menemukan dua koran nasional dan tiga koran yang kunilai sedikit bermutu. Pantas saja jika orang-orang di kotamu lebih memilih media alternatif semacam Balebengong. Yaa, media seperti itu bisa dinikmati sambil santai di Saung. Bayangkan jika banyak orang yang mau menulis, bisa mendapatkan informasi lebih panjang dan detail disana. Aku berencana menuliskan sesuatu dik, tetapi aku kehilangan semangat setelah kau tak menulis lagi.

Sehari sebelum meninggalkan kotamu dik, aku mendengar kabar gembira. Menteri perdagangan India tetap bersikukuh dengan sikapnya, ia menginginkan subsidi 15% untuk para petaninya. Bukanah itu kabar gembira dik? Budeku di kampung tetap bisa menanam padi. Meskipun padi-padi itu tak akan dapat mencukupi kebutuhan nasional, aku berani bertaruh hingga cucu-cucunya tumbuh tanah-tanah mereka tidak akan dijual. Apalagi kalau iklim negara ini segera berubah. Aku pernah mendengar iklim politik itu ada masa-masa segera berubah. Hee, kecuali Gita Wiryawan benar-benar naik tahun 2014 nanti. Tapi malam ketika aku akan meninggalkan kotamu sepertinya India melunak dik. Negara adidaya menginginkan India memberikan subsidi itu hingga maksimal empat tahun, tetapi aku pikir India tidak akan semudah itu menerima. Empat tahun lagi mungkin ia akan lebih kuat, ditambah dengan gugatan Embargo beberapa negara seperti Kuba, Venezuela dan dua negara lainnya bisa jadi organisasi itu segera dibubarkan. Itu hanya ramalanku sebagai peramal amatiran dik.

Dik Aya, kamu suka nonton? Aku banyak menemukan tentang film pada tulisan-tulisanmu. Besok aku akan bercerita tentang film yang baru saja aku tonton. Semoga kebosananmu pada hidup segera lenyap dik. Aku merindukan tulisanmu.

Denpasar, 11 Desember 2013
Sebuah eksperimen

Advertisements

3 thoughts on “Dik Aya : Kabar dari Kotamu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s