Memberi hadiah untuk diri sendiri

Seminggu yang lalu saya berulang tahun yang ke-23. Biasanya setiap ulang tahun selalu mengatakan dalam hati “sudah umur segini belum tahu apa maumu,” kali ini sedikit berganti, “belum tahu jalan menuju ‘kemauan’ itu.” Apa yang ada di depan mata hanya mimpi absurd yang kemudian menjadi perasaan utopis. Berbenturan dengan berbagai kenyataan di depan mata membuat seringkali berpikir sekian kali menuju itu. Bekal pengalaman yang tidak banyak seringkali menjadi kecemasan tersendiri, memilih hati-hati dalam menentukan jalan. kadang pesimis, kadang curiga, kadang terlalu yakin. iyah, masa depan adalah kekhawatiran tersendiri pada fase hidup tertentu.

Baiklah, mungkin tidak banyak kabar menggembirakan dalam ulang tahun kali ini. Hari Minggu yang berbahagia saya awali dengan memandangi pantai, terlalu ramai. Saya merayakan Ulang Tahun kali ini bersamaan dengan Ria, kawanku. Hari ulang tahunnya lima hari lebih awal dariku, tahun yang berbeda. Terima kasih Ria dan Astiti yang menjadi kawan terbaik, dan bersedia mendengar semua keluhku. Terima kasih telah menemani makan Lumpia dan sup kepala ikan pagi-pagi. Semoga kesehatan menyertai kita semua. Kabar menggembirakan lainnya, Bulan ini Onyi mengunjungiku. Kami berbicara banyak tentang mimpi, kami tertawa, kami bersenang-senang dan berbahagia. Walaupaun kami batal ke Jogja bersama.

Terlalu banyak alasan untuk bersedih, tetapi selalu ada jalan untuk berbahagia dan membahagiakan diri sendiri. Sejak hari Minggu kemarin saya menonton beberapa film lama yang saya ambil acak dari hardisk Onyi.

33 Postcard

Menceritakan tentang Mei mei, seorang gadis kecil yang tinggal di panti asuhan Dong Ying di China. Suatu hari Mei mei mendapatkan sponsor dari seseorang di Australia. Seseorang itu adalah Dean Randall. Mei mei sangat berterima kasih kepada Dean Randall berkat bantuannya itu ia dapat melanjutkan sekolah. Mereka saling berkirim kartu pos, Mei-mei menceritakan tentang dirinya dan sekolah sedangkan Tn. Randall menceritakan tentang keluarganya. Ia mengaku seorang penjaga hutan dan memiliki dua orang anak. Mereka tinggal di dekat pantai. Pada saat Mei berumur 16 tahun ia berkesempatan datang ke Sidney bersama adik-adik asuhnya. Mereka akan show paduan suara di beberapa kota di Australia. Pada kesempatan itu Mei ingin bertemu Tn. Randall. Mei mencari alamat yang tertera di kartu pos, tetapi ia hanya menemukan Gary Randall saudara Dean. Pada kesempatan itu ia juga bertemu seorang pemuda bernama Carl, yang kemudian membawa ia terseret dalam skandal kasus pencurian mobil.

Mei diantarkan Carl ke tempat Dean berada, di penjara. Tempat itu tidak sesuai dengan bayangan Mei dalam kartu pos. dalam kesempatan itu tampaknya Dean Randal juga sangat menyesal bertemu dengan Mei di penjara. Konflik berlangsung biasa saja, dapat dengan jelas ditebak endingnya. Mengetahui Mei mei bekerja pada ayah Carl, seorang makelar mobil curian, Dean tidak rela. Ia ingin mencarikan orang tua asuh untuk Mei. Pengacaranya bersedia membantu, tetapi Dean harus membayar sejumlah uang. uang simpanan Dean yang ada pada Gary habis sementara ia juga akan keluar bersyarat dua Minggu lagi. Alur dalam film ini juga biasa. Semua berakhir secara datar hingga Mei memutuskan untuk kembali ke China bersama ibu kepala panti asuhan. Mei diperankan oleh Zhu Lin dan Dean diperankan oleh Guy Pearce mereka berakting menawan. Yah saya tidak mengenal baik nama-nama itu, yang jelas film Pauline Chan ini mengharukan untuk ditonton.

Love in the time of Cholera

Love in the time of cholesterol, uppss. Film yang diadaptasi dari novel legendaris Love in the time of Cholera karya Gabriel Garcia Marquez ini wajib ditonton. Bercerita tentang seorang laki-laki yang menunggu cintanya.
Fermina Daza tengah berduka, suaminya baru saja meninggal. Pada saat yang bersamaan laki-laki dari masa mudanya datang mengungkapkan isi hatinya. “Fermina, aku telah menunggu kesempatan ini selama 50 tahun 9 bulan 4 hari.” Lelaki itu adalah Florentino Ariza, ia menemukan Fermina sebagai cinta sejatinya sejak pandangan pertama. Florentino seorang laki-laki miskin, ia tidak direstui akan menikahi Fermina. Sampai akhirnya Fermina pindah, kemudian kembali dan menikah dengan seorang dokter. Sementara itu Florentino yang patah hati memilih berpindah dari satu perempuan ke perempuan lainnya. Latar Amerika latin yang sangat khas menambah keren film ini. Backsound nya saya juga suka apalagi yang bagian penutup. Akhir cerita, Florentino menemukan tujuan pengembaraannya, pada Fermina.

Saya belum pernah membaca buku yang difilmkan ini. Dari catatan Eka Kurniawan katanya banyak hal yang menjadi tak menarik ketika terlalu ditonjolkan di film. Misalnya Florentino mencatat 622 perempuan yang ditidurinya, katanya kalau difilmkan tidak perlu dituliskan hanya perlu divisualisasikan. Dan kisah cinta Florentino Ariza yang lebih menyedihkan dari wabah kolera hanya tempelan dalam film. Begitulah, kadang memang banyak yang mengecewakan menonton film dari buku yang pernah kita baca. Banyak hal-hal yang menurut kita penting tetapi terlewatkan.

Freedom writer

Erin Gruwel seorang guru fresh graduate. Ia mengajar di sebuah sekolah yang memiliki program integrasi sukarela antara orang kulit hitam dan putih. Ia mendapatkan kelas dasar dimana murid-muridnya banyak yang tidak bisa membaca. Murid-murid Erin banyak yang pernah terlibat kriminal dan merupakan bagian dari geng-geng kecil ataupun besar. Mereka tidak mengenal satu sama lain di kelas. Mereka berkelahi kapan saja dan dimana saja. Diskriminasi yang tinggi terhadap membuat mereka selalu penuh curiga. Pahit dan getir pengalaman mereka sebagai kulit hitam membuat mereka berpikir harus kuat dari siapapun untuk bertahan hidup. Mereka tidak percaya siapapun, termasuk guru mereka, Erin. Yang mereka tahu, guru-guru di sekolah mengajar mereka hanya agar mereka segera menjadi dewasa dan menghilang dari sekolah. Erin yang hampir putus asa akhirnya menemukan cara menyatukan mereka.

Erin bercerita tentang ras yahudi yang mendapat diskrimasi lebih buruk dari mereka. Ia juga menceritakan tentang pembunuhan besar-besaran pada ras ini. Erin ingin murid-muridnya membaca. Keinginan Erin ini tidak didukung oleh kepala Departemen sekolahnya. Ia memiliki ide agar murid-muridnya juga menulis tentang diri mereka. Ia tidak akan membaca tulisan-tulisan itu jika tidak diijinkan. Tetapi di luar ekspektasinya, semua murid mengijinkan ia membaca catatan harian mereka. Dari sana Erin mengetahui latar belakang dan kondisi murid-muridnya menjadi seperti itu. Mereka tidak pernah tahu tentang dunia di luar mereka, yang mereka tahu dunia kejam untuk mereka. Erin ingin membuka mata murid-murid mereka tentang kehidupan di luar kehidupan mereka. Ia memberi bacaan pada murid-murid dan mencari dukungan agar bisa melakukan perjalanan dari kepala distrik di Long Beach.

Erin bekerja keras untuk perjalanan yang ia rencanakan bersama murid-muridnya. Ia bekerja sampingan di toko bra untuk membeli buku-buku, ia menjadi kepala pelayanan di hotel untuk mendapatkan fasilitas istimewa di hotel untuk para muridnya. Erin berhasil mengajar murid-muridnya anak-anak SMA yang kemampuan membacanya sekelas dengan anak kelas lima SD sudah berubah. Ia juga bahkan mengubah pandangan pribadi masing-masing anak terhadap kehidupan secara tidak langsung. Kesuksesan Erin tidak berbarengan dengan kebahagiaan hidup rumah tangganya, suami Erin yang tidak tahan dengan dirinya yang lebih mementingkan anak-anak didiknya. Ia pergi meninggalkan Erin. Tetapi usaha Erin untuk memajukan pendidikan ini mendapat dukungan penuh dari ayahnya.

Ada percakapan menarik berkaitan tentang pendidikan di sini, “untuk apa mereka membuang waktu hadir di sekolah, jika kita membuang waktu untuk mengajari mereka? kita katakan pada mereka ayo sekolah, ayo cari pendidikan, lalu berkata mereka tak bisa belajar, jadi jangan buang-buang sumber daya.” Selama ini guru-guru tidak dibiarkan mengajar dengan cara mereka. Cara mengajar diseragamkan, tentang kurikulum dibuat bukan untuk meningkatkan kualitas para siswa. Cara-cara yang tidak biasa dalam sekolah umum dianggap tak perlu. Menghabiskan anggaran pendidikan, padahal kenyataannya anggaran pendidikan habis untuk gonta-ganti kurikulum yang sebenarnya tak urgent untuk diganti.
Dan Film ini berakhir dengan kesuksesan Erin mengajar mereka. Erin mendampingi mereka hinga naik ke kelas Junior dan Senior. Catatan mereka juga dibukukan dan diberi judul Freedom Writers. Film ini diambil berdasarkan kisah nyata. Para penulis freedom writers ini kebanyakan bahkan menjadi orang pertama di keluarganya yang bisa lulus SMA dan perguruan tinggi.

71 Into The Fire

Biasanya nonton drama korea yang menye-menye, tetapi kali ini berbeda, tentang perang antara Korea Utara dan Korea Selatan setelah lepas dari Jepang. Ini juga berdasarkan kisah nyata tentang 71 tentara pelajar yang berperang di garis depan untuk menunda Korut menyerang tentara Korsel. Tentara korea Selatan telah dipukul mundur selama bulan Agustus 1950 itu, mereka sedang menunggu bala bantuan dari sekutu mereka Amerika Serikat di sungai Nakdong. Pertempuran dengan tentara pelajar ini terjadi di sebuah sekolah wanita. Korea Utara yang dipimpin panglima komunis akhirnya kalah. Entahlah ini termasuk film propaganda atau apa, yang jelas kesan komunis adalah pembunuh juga dihadirkan dalam film ini.

Saya tidak akan berkomentar banyak tentang film ini, yang jelas banyak hal-hal yang bisa ditertawakan. Terkait dengan Korea Utara dan Korea Selatan ini saya tidak banyak tahu, mungkin permasalahan mereka tidak hanya tentang perbedaan ideologi saja. Mungkin memang banyak hal yang akan menguntungkan negara adidaya jika mereka dapat mempersatukan kedua negara ini dan kemudian mencengkeram keduanya. Seperti kita tahu tentang Korea Selatan yang masyarakatnya berhasil dibuat menjad konsumtif hanya untuk urusan penampilan akan menjadi pasar yang menguntungkan banyak pihak. Tren budaya mereka bahkan bisa mempengaruhi dunia.

Saya lebih suka menonton drama korea King 2 Heart terkait hubungan kedua negara ini. Meskipun dalam King 2 Heart Korea Utara yang Komunis diidentikkan sebagai primitif yang tidak peka jaman. Mereka menggunakan dialek yang tidak menarik bagi orang Korea Selatan, mungkin kalau di Indonesia seperti menggunakan bahasa jawa khas Banyumas, Sunda atau bahasa Beta-beta NTT. Sedangkan orang korea Selatan itu mampu mengoperasikan peralatan-peralatan canggih dan modern. Tapi setidaknya dalam King 2 Heart, orang-orang Korea Utara digambarkan sebagai orang-orang yang memiliki sikap. Mereka bertindak bukan karena dipengaruhi oleh pihak-pihak tertentu yang mengambil untung dalam peperangan kedua negara ini.

Di umur yang bertambah ini keinginanku hanya sederhana. aku hanya ingin bangun lebih pagi, bisa menulis, membaca di pagi hari dan mendengar serak suaramu sebelum berangkat kerja. Menuntaskan film-film pada malam hari. Bangun tengah malam karena pesan singkatmu atau obrolan panjang tentang apa saja.

Dan, “Berbahagialah, sesungguhnya engkau mampu berulang tahun setiap hari.” Sekian.

*Terima kasih untuk perjalanan bulan ini :*

Advertisements

2 thoughts on “Memberi hadiah untuk diri sendiri

    • Aaaakk, Milliyya, aku kehilangan teman seperjalanan di sini. aku belum ada rencana ke Jakarta, tapi pasti akan kutagih, terima kasih 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s