Lingkaran yang tak Selesai dalam Kisah Tiga Titik

Cerita yang berpusat pada perempuan selalu dianggap seksi, tapi meminjam kata-kata Cok Sawitri Karya itu tidak berjenis kelamin. Kita saja yang terkadang menafsirkannya berlebihan. Eh itu soal mau nyinyir tentang pengantar diskusi film semalam, film Kisah 3 Titik yang di Produseri oleh Lola Amaria.

Baiklah, pusat cerita film ini memang perempuan. Tiga perempuan yang bernama sama yaitu Titik. Tetapi bagiku terlalu sempit jika hanya memandang kisah ini hanya dari segi perjuangan para perempuan. Yeahh film ini menceritakan tentang kehidupan buruh-pengusaha-manajer (karyawan tingkat atas dalam perburuhan). Jika masih ada yang mencaci maki para buruh yang demo tiap hari buruh mungkin perlu menonton film ini. Film ini menceritakan tentang kehidupan para buruh yang dituntut memiliki produktivitas yang tinggi, tidak boleh berhenti bekerja sebelum jam istirahat tiba, tidak mendapatkan cuti melahirkan pada buruh perempuan, saling menjilat kepada atasan agar bisa bertahan menjadi karyawan di sana, PHK besar-besaran untuk mendapatkan kembali buruh dengan harga yang lebih rendah. Semua bermuara pada produksi yang tinggi dan keuntungan sebesar-besarnya. Siapa diantara mereka yang menjadi korban? perempuan dan anak-anak.

Titik pertama adalah Titik Sulastri, seorang janda yang suaminya baru saja meninggal. Ia sedang hamil dan sudah memiliki seorang anak perempuan. Titik yang tinggal di lingkungan dekat pabrik itu akhirnya memutuskan bekerja di pabrik dalam keadaan hamil.

Titik kedua adalah Titik Tomboy, ini sebutan dari saya saja namanya Titik Kartika. Ia dibesarkan di lingkungan preman oleh ayahnya, setelah ibunya meninggal ia harus melindungi dirinya sendiri dan berubah menjadi tomboy. Titik buruh juga, ia bekerja di semacam industri rumahan. Ia bekerja di sana dan mendapatkan realita PHK besar-besaran terhadap para buruh. Untuk memaksimalkan produksi pabrik tempatnya bekerja memperkerjakan anak-anak. Anak-anak ini di bawa ke pabrik oleh preman-preman yang menjadi kaki tangan pabrik.

Titik ketiga adalah Titik manajer, yang diperankan oleh Lola Amaria. Titik ini adalah seorang yang ambisius dan idealis. Ketika ia diangkat menjadi manajer SDM ia berupaya untuk memperjuangkan hak-hak para buruh pabrik untuk mendapatkan tunjangan, jaminan kesehatan dan upah layak. Titik bahkan sampai harus mendatangi lingkungan yang ada di dekat pabrik untuk dapat mengamati secara langsung seperti apa yang sesungguhnya kehidupan para buruh. Semua perjuangan yang ia lakukan itu berakhir dengan posisinya yang tergeser oleh rekan kerjanya. Titik manajer sebagai wanita kelas menengah yang merasa kecewa terhadap realita itu melarikan diri pada gaya hidup ala kelas menengah, minum-minuman keras dan menjadi selingkuhan.

Film ini tidak diselesaikan dengan ending sedih atau bahagia tetapi sutradara membiarkan imajinasi kita menyelesaikannya sendiri. Titik Sulastri di vonis menderita kanker payudara. Bagian ini agak terlalu sederhana sih untuk menggambarkan seseorang terkena kanker payudara hanya karena tidak bisa memerah air susunya. Tapi baiklah, mungkin sutradara hanya ingin menggambarkan seorang buruh yang jauh dari kata sejahtera tidak jarang juga menderita penyakit-penyakit kronis. Dari kekurangan di sana-sini tentang kehidupan waria di sekitar lingkungan buruh pabrik ternyata hanya menjadi pemanis film. Dan tentang outsourcing yang juga belum menjadi bagian cerita. Satu lagi, film ini tidak menyinggung dimana posisi pemerintah dalam lingaran permasalahan ini. Mungkin karena film ini di sponsori oleh kementrian tenaga kerja dan transmigrasi kali ya. Tapi Lola Amaria sih mengatakan tidak ada campur tangan kementrian terkait untuk mempengaruhi ide cerita.

Titik Tomboy yang merasakan adanya ketidakadilan pada kehidupan buruh di sekitarnya di akhir cerita berteriak-teriak mengajak kawan-kawannya untuk menuntut. Dan Titik manajer yang kehilangan jabatan dan pacar secara bersamaan melarikan diri menuju jalan pintas untuk menyelesaikan masalah dalam dirinya. Pada akhirnya film yang tidak selesai ini seperti menggambarkan kehidupan buruh- pengusaha-manajer (karyawan tingkat atas dalam perburuhan) sebagai lingkaran yang tak selesai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s