Memunguti kata-kata Sakti Pram

Pada mulanya nama Pram hanyalah serupa dongengan yang menjelma menjadi kekuatan melalui kata-kata yang sering dikutip oleh kawan-kawan saya. Kata-kata itu mengandung kekuatan yang ampuh menjadi penyemangat kami untuk (terpaksa) belajar menulis, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Pram tidak asing lagi ketika saya menjadi mahasiswa, terlebih ketika bergabung menjadi anggota Pers Mahasiswa Akademika. Kemudian mulai bertemu banyak orang, baru saya tahu hanya orang-orang tertentu di kampus saya yang membaca buku-buku Pram. Dan kesannya saat itu, “waah, kamu udah baca buku Pram?”

Sebagai remaja teenlit, saya menganggap sastra sebagai suatu hal yang eksklusif saat itu. Saya merasa segala yang berbau sastra hanya bisa dinikmati kelompok orang tertentu. Paling tidak mereka kelompok orang-orang yang bisa berpuisi atau membuat cerpen. Meskipun pada saat saya kecil pernah menemukan Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma nya Idrus dan Salah Asuhan “Abdul Muis” di rumah (bapak saya guru, jadi tidak sulit mendapatkan buku-buku balai pustaka), tapi kehidupan saya saat SMP hingga SMA jauh dari hal-hal yang berbau sastra. Bacaan SMP paling banter Lupus dan SMA sudah beralih ke bacaan-bacaan Pop yang berkembang saat itu. Di sekolah juga tidak terasa gaung sastra, jangankan sastra, membaca buku-buku menjadi suatu yang asing. Perpustakaan sepi jika tidak ada penugasan yang hanya bisa didapatkan melalui buku-buku terbatas di perpustakaan. Masa itu mulai ada kesan, yang paling penting itu bisa menguasai ilmu alam dan bisa menulis karya tulis ilmiah. Bahkan kelas jurusan bahasa juga mulai dihapuskan di beberapa sekolah.

Memasuki perguruan tinggi juga tidak jauh berbeda sebenarnya. teman-teman di kelas paling banter bacaannya diktat dan slide kuliah (ngeri gak sih), jika tidak suka baca diktat ya baca komik. Tetapi saya beruntung bertemu kawan-kawan yang membaca bermacam-macam genre, tidak hanya dua macam bacaan di atas. Saya resmi menjadi mahasiswa baru tahun 2008, tetapi baru tahun 2009 saya baru memperhatikan detail-detail yang terjadi di sekitar saya. Saat itu saya sering memperhatikan kak Dian Purnama dan kawan seangkatan saya Ria Medisina selalu membawa bacaan ketika datang ke Sekre “Akademika.” Ketika itu saya sudah mulai rajin datang ke toko buku sendiri, tetapi tipe bacaan saya belum berubah. Dan saya mulai mengalami kebosanan dengan genre bacaan itu.

Tahun-tahun kedua kuliah itu saya mulai serius belajar menulis. Tetapi tentu saja tulisan-tulisan yang dihasilkan datar. Kak Dian yang ketika itu menjadi Pimpinan redaksi selalu berpesan “menulis harus diimbangi dengan membaca.” Saya sering ke toko buku dan tidak mengerti cara memilih buku bacaan yang cocok untuk saya. Saya sering berselancar di dunia maya, tetapi tidak tahu untuk apa dan harus membaca apa, sehari-hari hanya menghabiskan waktu di depan facebook. Saya mulai merasakan semacam krisis di dalam diri saya. Hingga suatu ketika saya mengutarakan hal itu kepada kak Dian, ia menanyakan buku jenis apa yang saya suka dan latarnya. Saya menjawab novel, berlatar sejarah. Kak Dian menyarankan saya untuk membaca buku-buku NH Dini dan Pram. Sebelumnya saya pernah membeli novel berlatar sejarah karya NH Dini berjudul Langit dan Bumi Sahabat kami sebagai bahan membuat resensi. Saya menikmati buku tipis yang telah menjadi cetakan ke sekian pada masa itu. Saya juga pernah membaca buku-buku sejarah yang hanya bersifat heroik-heroik, saya juga menikmatinya. Tentang buku Pram saya hanya sering melihat judul-judulnya yang terbatas beredar di Bali. Midah si Gigi Emas, Gadis pantai, Bumi Manusia, Rumah Kaca, perawan remaja dalam cengkeraman Militer dan beberapa lainnya di etalase toko buku. Setiap berkunjung saya hanya menimang judul-judul itu kemudian meletakkan kembali. Pram masih suatu yang eksklusif bagi saya.

Saya mulai rajin membaca sastra setelah kak Dian meminjamkan buku-buku Oka Rusmini, kumpulan cerpen Sagra kemudian juga Tarian Bumi. Novel berlatar budaya Bali itu juga cukup memikat. Saya mulai ingin tahu isi buku-buku Pram, tetapi di toko buku tempat saya sering singgah hanya tinggal ada Perawan remaja dalam cengkeraman militer. Membaca buku itu, membuat pikiran saya teraduk-aduk antara susah mengerti isinya dan jenis penyajiannya belum menarik bagi saya. Sebelumnya saya pikir itu sebuah novel ternyata berisi wawancara terkait sejarah kelam para perawan remaja yang dijadikan budak seks militer jepang. Saya tidak menyelesaian buku itu hingga bab terakhir.
Tahun 2010 kak Dian mendapatkan gelar sarjana nya, saya jarang bertemu dengannya lagi. di sekre saya tinggal menjumpai kak Astarini Ditha sebagai mahasiswa angkatan lama. Kak Ditha tinggal menyelesaikan skripsi saat itu, ia sering mampir ke sekre membawa Bumi Manusia. Kak Ditha menyarankan saya untuk wajib membaca Bumi Manusia, saya lupa alasannya. Setelah lulus kak Dian ternyata mewariskan buku-bukunya, beberapa yang menarik perempuan kembang jepun dan Bukan pasar malam Pramoedya Ananta Toer. Bukan pasar Malam lama saya simpan dan tidak saya baca. Saat itu saya masih menikmati buku-buku yang bernilai spirit dan motivasi semacam novel Sutasoma nya Cok Sawitri.

Setelah membaca Perawan Remaja Dalam Cengkeraman Militer membuat saya ragu untuk membaca karya-karya Pram lagi. saya berpikir karya-karya nya agak kaku seperti itu. Saya juga pernah menjadi pemungut kata-kata sakti Pram. Suatu ketika saya menuliskan kalimat ini dalam status facebook saya, “Jangan sebut aku perempuan sejati jika hidup hanya berkalang lelaki. Tapi bukan berarti aku tidak butuh lelaki untuk aku cintai.” Seseorang mengomentari hal itu, dan mau tidak mau saya menjawab sesungguhnya belum pernah membaca kalimat itu dalam buku Pram. Iya, malu. Dan seseorang itu kini menjadi partner diskusi saya tentang semesta beserta isinya ini. Ia juga menjadi partner saya dalam mengerjakan mengaji tetralogi ini.

Menjelang akhir kuliah saya baru membaca Bukan Pasar Malam. Roman 100an halaman itu saya habiskan dalam sekali baca hari itu. Berbeda jauh dengan buku Pram yang pertama kali saya baca. Gaya penyajian roman-roman Pram sederhana, mengutamakan esensi cerita daripada menggunakan kalimat-kalimat puitis seperti novel-novel kontemporer yang banyak terbit. Dan tahun 2013 saya baru membaca karya-karya Pram lainnya. Tahun ini saya juga mulai mencari tahu pendapat orang-orang tentang karyanya. Saya belum pernah terlibat dalam diskusi tentang Pram sebelumnya. Seingat saya di kampus memang jarang ada diskusi sastra. Bukan hanya diskusi sastra banyak diskusi lainnya juga jarang. Orang-orang lebih sibuk membicarakan perubahan iklim dan pemimpin ketimbang berbincang tentang hal-hal sederhana.

Semoga tetralogi menjadi awal untuk mengenal Pram, semoga tidak lagi memunguti kata-kata Sakti Pram tanpa bisa mempertanggungjawabkannya. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s