Jejak Minke dalam Sayap Muda Syarikat

Rumah Kaca

Catatan mengaji #11 adalah bagian dari catatatan mengaji Rumah Kaca dari bab 8-11. Bagian saya ini merupakan bab-bab terakhir dari buku keempat tetralogi Pram. Dalam mengaji rumah kaca ini kami (sekali lagi) mengubah beberapa aturan-aturan yang telah kami buat dalam mengaji sebelumnya. Ini karena tenggat waktu yang kami rencanakan tidak berjalan sesuai rencana. Catatan ini dibuat sebelum perjalanan ke Lombok, diselesaikan beberapa hari setelahnya dan disempurnakan pagi ini.

Bagian catatan ini sangat menarik, muncul tokoh-tokoh yang tidak diceritakan utuh pada bagian tetralogi sebelumnya, Marco. Juga muncul tokoh perempuan nasionalis Siti Soendari yang hanya diceritakan hingga ia pergi meninggalkan Hindia. Tetapi yang disebut-sebut lebih banyak tentu saja tentang pergolakan batin Pengemanann. Pengemanann yang merasa dirinya pribumi tetapi tenggelam dalam lumpur kolonial, menganggap dirinya setara dengan non-pribumi hanya karena ia seorang Nasrani. Dan yang paling menarik disebutkan mengenai jaman kejayaan kegiatan-kegiatan Jurnalistik.

****

Tugas Baru Pengemanann, Membinasakan Pengaruh Minke

Pengemanann tidak berhasil mendapatkan cuti Eropa yang telah diajukan sejak jauh hari sebelum Wardi dan Dowager di buang ke Netherland. Bahkan cuti yang seharusnya bisa dilalui sambil mengantarkan pentolan Indische Partij ke pembuangan itupun tidak pernah ia nikmati. Ia merasakan menindas adalah memang watak kolonial, ada kenikmatan tersendiri dibalik setiap penindasan. Penindas merasa dirinya paling penting dan berkuasa. Menurut Pengemanann, orang-orang Eropa yang mengaku berasal dari masyarakat demokratis ini ketika sampai di bumi kolonial tetap saja kecanduan untuk menindas, menikmati hak-hak raja pribumi yang mereka ejek dan hinakan. Dalam kegagalan mendapatkan cuti Eropa itu, Pengemanann menggambarkan susunan kekuasaan kolonial yang ada di hadapannya. “Kekuasaan ini didukung oleh sekelompok kecil manusia kolonial putih yang pada gilirannya didukung oleh manusia kolonial cokelat dalam kelompok yang berganda lebih besar. Dari atas ke bawah yang ada adalah larangan, penindasan, perintah, semprotan, hinaan. Dan dari bawah ke atas yang ada adalah penjilatan, kepatuhan dan perhambaan.”

Sep- atasan- Pengemanann selalu mengatakan “Pekerjaan semakin menumpuk begini, tuan. Dan tuan tidak diperkenankan punya pembantu atau pengganti. Tuan sendiri mengerti, pekerjaan tuan adalah pekerjaan baru di Hindia ini.” Kalimat itu seringkali menambah beban bagi Pengemanann. Ia harus tetap tersenyum mendapatkan kalimat itu dari sepnya sebagai adat bawahan kepada atasan. Sementara hatinya sendiri selalu berperang saat menerima senyum balasan atasannya yang menurut Pengemanann mengandung ejekan. Hingga setengah tahun setelah kepergian anak dan istrinya dan gugatan batinnya atas penumpasan Indische Partij sudah padam, Pengemanann merasakan rindu dengan pekerjaannya dahulu ketika berada di tengah-tengah manusia. Tidak hanya bekerja pada kertas tak berdarah-daging yang hanya berisi pikiran.

Pram

Suatu ketika sep pengemanann mengutarakan tentang perkembangan organisasi yang dipelopori oleh politik golongan liberal. Organisasi mulai timbul seperti cendawan dan ia menanyakan kepada Pengemanann apakah kiranya bangsa Menado akan membuat organisasi juga. Pengemanann berharap tidak akan ada. Sep itu bersikeras akan ada, dan Pengemanann tentunya akan mendapatan tambahan pekerjaan ketika hal itu terjadi. Pengemanann sendiri bersikukuh akan tetap setia pada gubermen meskipun hal itu terjadi. Lagipula menurut Pengemanann bangsa Menado lebih dekat pada bangsa Belanda daripada bangsa Hindia lainnya. Dan mereka Nasrani, ia meyakinkan sepnya tidak akan terjadi pertentangan antara bangsa Menado dengan Gubermen. Percakapan mereka berlanjut dengan pendapat sep Pengemanann bahwa tidak pernah ada jaminan, agama bukan jaminan suatu bangsa dalam jaman modern ini. Dan Pengemanann menyadari pendapatnya itu kurang kuat. “benar sekali, bahwa pada jamannya agama juga politik,” kata Pengemanann tanpa diucapkan pada sepnya. Tulisan Raden Mas Minke tentang Koh ah Soe dan Ang San Mei, seorang potestan dan katolik bersatu berusaha menggulingkan dinasti Ching telah membuktikannya.

Pengemanann tersudut dengan jawabannya sendiri, tetapi ia merasa tidak perlu lebih memojokkan dirinya sendiri. Ia merasa telah melakukan pekerjaan sebaik-baiknya meskipun kadang batinnya sering menggugat. Selama ini ia dapat mengatasi konflik batinnya itu. Dan kini ia sudah menikmati kenikmatan-kenikmatan kolonial yang ia punya sebagai seorang dewa kecil yang menentukan nasib orang lain berkat tanda titik dan huruf-huruf yang ia bubuhkan diatas kertas. Para nasionalis pribumi akan dapat merasakan langsung hal itu meskipun mereka tak pernah melihat wujud Pengemanann. Pengemanan ingin mengatakan ia tidak ingin terus-terusan tenggelam dalam lumpur kolonial yang makin lama makin dalam. Tetapi ia hanya dapat menelan ludah dan menepis perasaannya, “dan kau, kepalaku, kau akan tetap terbebas dari lumpur ini. Tanganmu tetap bersih dan hatimu takkan berjingkrak karena gugatan nurani.”
Sep Pengemanann masih mengemukakan tentang akan munculnya organisasi bangsa Bugis, Toraja, Banjar, Dayak, Minang dan Aceh setelah ini. Tetapi pembukaan panjang lebar itu sesungguhnya ia hanya hendak mengutarakan tugas baru untuk Pengemanann. “Sementara ini memang tak perlu tuan pusingkan. Pelajari mereka yang terkena pengaruh Raden Mas Minke, mereka yang dibesarkannya dan ditampilkannya di panggung umum. Tentu itu pekerjaan yang menarik bagi tuan…,” kata Sep itu. Pengemanann dapat dengan mudah memahami hal itu, orang-orang yang dimaksud adalah Marko Kartodikromo dan Sandiman.

Pengemanann mempelajari dua murid itu mulai dari naskah-naskah Minke. Dari naskah itu Sandiman adalah sosok misterius. Ia telah hilang dari peredaran. Pendeknya Pengemanann kehilangan jejak Sandiman. Sementara Marko kini tidak dalam bayangan kekuasaannya. “makin lama ia makin berani tampil di depan umum. Ia bicara dan menulis, menulis dan bicara, dimana-mana, di desa dan di kota, di rumah dan di lapangan.”

Setelah kepergian Minke, Marko mengubah namanya menjadi Marco. Kepergian Minke menyebabkan Marco merasa kehilangan kekuatan. Mengganti ‘K’ dengan ‘C’ merupakan upaya mendapatkan kekuatan baru, mendekati nama besar seperti Marcopolo atau Marconi, terbaca agak eropa dan terasa agak terpelajar. Gejala Marco ini seperti arus pribumi yang menyerah tanpa syarat pada peradaban Eropa. Lain halnya dengan Wardi yang berasal dari ningrat tinggi jawa membuang segala gelarnya serta menolak dan memusuhi segala sesuatu yang berbau Eropa. Untuk menunjukkan dirinya ia mengenakan celana dan baju hitam tanpa alas kaki dan berkalung sarung. Ia bersimpati pada petani sebagai cara mencari kekuatan baru dalam dirinya. Sedangkan dalam hal berpenampilan, Marco cenderung mengikuti arus jaman yang tak mampu ditentangnya. Ia selalu bercelana pantalon putih dan berbaju putih. Rambut rapi dan matanya dibuka lebar-lebar seakan-akan tidak ingin kehilangan sesuatu atas segala yang terjadi di sekelilingnya. Tetapi dalam beberapa hal keduanya sama : jiwa yang penuh rangsangan dan ledakan, spontan dan pembenci kekuasaan kolonial. Dan perbedaan lainnya Wardi membuang segala gelarnya, sedangkan Marco mengikuti jejak gurunya, mengukuhinya. Ia memunculkan nama lengkapnya Mas Marco Kartodikromo.

Mas Marco Kartodikromo dalam sayap muda Syarikat

Pengemanann kini menguasai kertas-kertas yang disita dari redaksi Medan. Tulisan-tulisan Marko yang tidak pernah diumumkan dibacanya. Pengemanann membaca tulisan terbaik Marco dari beberapa tulisan yang disimpan Minke. Dari tulisan itu Pengemanann mengenal Mas Marco. Tulisan itu tentang kehidupan di kota kecil, Cepu. Berisi tentang perkembangan distrik Cepu dari desa, persawahan yang hijau menjadi daerah pertambangan hingga menjadi kota industri. kota yang dibangun dari keringat pribumi yang diperas sedemikian rupa.

Marco menceritakan tentang kegiatan tanam paksa yang pernah dilalui ayahnya. Saat itu ayah Marco berusia sembilan tahun harus menggantikan kakeknya untuk mengikuti kegiatan tanam paksa di kebun nila Gubermen. Kakek dan nenek Marco telah jatuh sakit, menyusul tetangga-tetangga lainnya. Semua orang mengikuti tanam paksa tanpa upah itu, mereka tidak sempat menggarap sawah dan ladang sendiri. Oleh karena itu mereka kelaparan dan jatuh sakit. Sepuluh hari kemudian ketika anak lelaki berusia sembilan tahun itu pulang ke rumah, ibunya baru saja dikuburkan. Dan sebulan kemudian bapaknya menyusul ibu dan para tetangganya yang lain.

Anak itu terus melakukan kerja paksa. Makanan sehari-harinya rumput muda, karena hanya itu yang mudah ia dapatkan. Suatu ketika ada kabar gubermen akan menghapuskan kerja paksa, tetapi kerja paksa di kota itu masih berlangsung hingga dua tahun berikutnya. Ternyata tanam paksa setelah gubermen menghapuskannya itu untuk kepentingan pembesar setempat, Eropa dan pribumi. Setelah tanam paksa benar-benar dihapuskan orang-orang kembali mengerjakan sawah dan ladang yang telah menjadi hutan. Tetapi setelah penghapusan tanam paksa itu pemerintah desa tidak menjadi lebih baik. Setelah itu muncul berita, kebun-kebun gubermen akan dijadikan kebun swasta. Dan kebun-kebun itu akan menjadi milik orang-orang Eropa. Orang desa boleh bekerja di sana dengan mendapatkan upah yang cukup- cukup untuk makan sekeluarga. Berita ternyata hanya sekadar berita belaka, malah tanah perorangan dan desa dirampas oleh gubermen. Kemudian terjadi pemberontakan Samin yang dipelopori pak Samin, dari desa lain. Anak lelaki yang saat itu telah berumur tiga belas tahun ikut menggabungkan diri dengan para pemberontak. Tetapi petani-petani itu dengan mudah dikalahkan, karena tidak pernah berhadapan dengan kompeni. Lelaki di desa itu banyak yang ditarik ke Aceh.
Tanah-tanah yang dirampas ditanami jati oleh Gubermen. Kemudian penduduk desa juga diusir, karena akan dibangun kilang-kilang minyak di sana. Ayah Marco juga ikut pindah dan menikah dengan perempuan desa yang masih tersisa. Kilang minyak di Cepu menjadi perusahaan raksasa dengan kekayaan setengah juta gulden hanya dengan lima tahun beroperasi. Dan hutan jati di sana menghasilkan jati nomor satu, hanya untuk di ekspor. Kilang-kilang minyak itu dibangun dari hasil eksplorasi para insinyur gubermen di Bandung. Ketika mereka datang ke cepu mendapatkan sambutan dan diperlakukan dengan baik oleh penduduk tetapi kini mereka menyedot hasil bumi mereka dan mengusirnya. Marco lahir ketika kilang minyak sedang giat melakukan pengeboran-pengeboran. Ayah Marco ketika itu tidak lagi menjadi buruh di kilang minyak, ia menjadi lurah. Penduduk sekitar kilang minyak harus mematuhi dua pemerintahan, pemerintahan gubermen dan pemerintahan minyak yang sama-sama memberatkan.

Cepu semakin berkembang menjadi daerah tujuan mencari penghidupan. Desa-desa juga telah mengalami pemekaran. Kejahatan dan kemesuman menjadi bagian yang pasti. Pernah akan terjadi pemberontakan petani lagi, tapi orang-orang ditangkapi oleh polisi minyak dan tidak pernah kembali. Penduduk desa tetap tidak mendapat bagian apa-apa. Marco sebagai bagian dari penduduk desa itu, yang hanya lulusan sekolah desa tiga tahun menyesalkan tidak dapat melakukan apa-apa. Ia seperti yang lain dididik untuk tetap tidak memiliki pengetahuan dan mematuhi segala perintah gubermen. Tetapi ketika ayah Marco hendak meninggal ia berpesan, “mereka telah rampas semua dari kita. Jangan nak, jangan kau lebih lama jadi kulinya. Pergi kau ke Bandung. Mengabdilah pada seorang yang mulia hati. Orang itu bernama Raden Mas Minke. Carilah orang itu. Lakukan segala yang diperintahkan kepadamu, dan contohlah perbuatannya yang baik.”
Marco pergi dari desa berbekal ilmu bela diri dari pamannya ke ibukota distrik. Uang bekal yang dimilikinya belum cukup untuk pergi ke Bandung. Oleh karena itu ia bekerja serabutan dan kadang menjadi tukang pukul. Ia mengenal gombloh yang mengajarinya membaca bahasa melayu. Suatu ketika setelah lama tidak bertemu, Gombloh mencari-cari Marco hendak mengajaknya ke Bandung, menjadi pelindung Minke. Minke tidak hanya menerima Marco dengan baik, ia juga mendidik dan membimbing Marco. Memimpin untuk berbuat kebajikan, “jangan jadi kuli mereka, katanya seperti mengulangi kata-kata bapakku mendiang. Jangan bikin mereka jadi lebih kaya dan lebih berkuasa karena keringatmu. Rebut ilmu pengetahuan dari mereka sampai kau sama pandai dengan mereka. Pergunakan ilmumu itu kemudian untuk menuntun bangsamu ke luar dari kegelapan yang tiada habis-habisnya ini.” Itulah cerita salah satu anak rohani Minke.
Marco yang hanya beberapa tahun bergaul dengan pribumi terpelajar telah mampu menyerap keterampilan eropa dalam menulis, dan menentang Eropa. Marco telah menyusul Nyai Ontosoroh yang hanya beberapa belas tahun menjadi nyai telah berhasil mengendalikan perusahaan besar secara Eropa. Dan kini Nyai Ontosoroh memilih kewarganegaraan Perancis yang lebih menentu kepastian hukumnya. Pengaruh eropa tidak diterima Marco langsung dari sekolah atau keluarganya, hanya mendadak pada masa dewasa. Oleh karena itu keeropaan Marco tampak tidak sempurna. Meskipun begitu, ia memiliki keekstriman pribumi dan rasional Eropa yang membahayakan gubermen.

Marco cepat sekali berkembang dan sudah menemukan serta meniupkan pameo sama rata sama rasa. Pengaruhnya telah sampai ke hutan-hutan Borneo. Sebagai angkatan muda syarikat ia telah berani membuat sandi khusus untuk menyingkirkan teman-teman satu barisannya yang buta. Sandi MTWT pertama dan MTWT kedua telah ia babarkan pada teman-temannya. MiTro WuTo dan Muto WaTiri artinya kawan yang buta (terhadap teman sendiri) dan mengkhawatirkan (keselamatan teman sendiri). Dengan sandinya itu Marco menyingkirkan teman-temannya yang bermain mata dengan gubermen. Pusat syarikat di Surabaya maupun cabang di Sala tidak ambil pusing terhadap sikap Marco. Bahkan pengaruh Marco menjalar ke daerah utara Sala dan Yogya: Salatiga, Magelang, Ungaran dan Semarang. Meskipun begitu pimpinan syarikat tetap bergeming, dan tetap percaya diri dengan kewibawaannya. Marco tetap tenang-tenang dan membangunkan kekuatan sendiri syarikat di Semarang, Sala, dan Yogya.

 

Jejak Minke dari Catatan Trilogi Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa dan Jejak Langkah

 

Pengemanan menelusuri masa muda Minke dari catatan yang sampai ke tangannya. Penelusuran itu dimulai dari keberadaan Jean Marais di Surabaya melalui catatan sipil. Rupanya nama yang dipakai Minke itu bukan nama sebenarnya. Ia menemukan hanya nama seorang veteran perang aceh bernama Antoine Barbuse Jambitte. Di gereja Kepanjen ia juga mendapatkan berita tentang pernikahannya dengan seorang wanita pribumi bernama Sanikem. Kemudian mereka meninggalkan Surabaya menuju Perancis bersama dua orang anak. Lebih lanjut Pengemanann menanyakan tentang keluarga Mellema, dan ternyata memang ada. Tentang pernikahan Minke dengan Annelies tidak pernah ada dalam catatan sipil karena mereka menikah secara islam. Pengemanann mengirim surat ke HBS Surabaya tetapi tidak mendapatkan informasi tentang Minke, sudah tidak ada guru dari akhir abad sebelumnya yang tersisa. Ia meneruskan mencari informasi pada departemen O & E, tetapi mereka mengatakan menyerahkan arsip-arsip pada s’landscharchief. Beberapa yang ada dalam catatan itu ternyata hanya fiktif, misalnya seperti masa kecil Minke di E.L.S Tuban, ternyata pada saat itu E.L.S hanya ada di Jepara, Rembang dan Bojonegoro. Dari s’landscharchief Pengemanann hanya menemukan informasi bahwa Minke anak bupati Bojonegoro dan setelah meninggalkan STOVIA hingga masa pembuangan tidak ada arsip yang tersimpan. Ayah Minke kini menjadi bupati di Blora dan mendirikan sekolah Darmo Rini. Dan informasi yang dibenarkan lainnya adalah nama Minke diperoleh sejak di H.B.S dan terus disandangnya sebagai wartawan, pengarang maupun segala kegiatannya dalam masyarakat. Inisial nama sesungguhnya Raden Mas T.A.S.

Setelah mendapatkan beberapa informasi itu Pengemanann merasa perlu untuk pergi ke Surabaya, sampai di Bojonegoro ia akan singgah selama dua atau tiga hari. Tetapi rencana itu tampaknya gagal, karena sesampai di Bojonegoro ia mendapapatkan telegram dari atasannnya. Sebuah tugas baru datang. Pengemanann diminta membuat interpiu dengan Mas Tjokro untuk mengukur sampai dimana pengetahuannya tentang gerak-gerik Marco dalam garis lintang Semarang-Sala-Yogya, dan sekaligus mempelajari permunculan tokoh baru: Siti Soendari, seorang perawan. Pengemanann diminta menyelidiki nama itu benar-benar perempuan atau nama samaran.

Di Surabaya Pengemanann menginap di rumah Gubernuran. Gubernur belum berada di rumah ketika Pengeanann tiba. Setelah bertemu mereka berbincang-bincang tanpa sekat antara non pribumi-pribumi. Pengemanann juga menanyakan pendapat Tuan Gubernur tentang Mas Tjokro. “ Ia seorang yang bisa diajak bicara, kaang-kadang agak kembung, setidak-tidaknya ia tahu berhati-hati. Terhadap kami, pejabat-pejabat Eropa, ia tidak pernah memperlihatkan kekerasan atau sinisme. Sebaliknya, juga terhadap kami ia suka berspekulasi dengan ayat-ayat Qur’an, mungkin ia menganggap tak ada orang Eropa yang tahu tentang Islam,” kata tuan Gubernur. pernyataan itu sama sekali tidak bertentangan dengan pendapat Pengemanan pribadi.

Tuan Gubernur Surabaya ramah terhadap Pengemanann, ia juga memperkenalkan dengan pejabat-pejabat penting di bawahnya. Pada kesempatan itu Pengemanann juga minta disediakan majalah dan koran Hindia baik berbahasa Melayu atau Belanda yang memuat tulisan-tulisan Siti Soendari. Ia membaca koran dan majalah sebulan terakhir. Dari koran dan majalah itu ia hanya menemukan empat tulisan Soendari dalam Belanda dan Melayu. Pengemanann berusaha mengenal Siti Soendari dari karakter tulisannya. “gaya bahasa dan ungkapan-ungkapan, perbandingan-perbandingan yang dipergunakan halus. Melayunya adalah melayu sekolahan. Di setiap baris baru membawa pembacanya pada ide-ide dan bangunan-bangunan pikiran yang seakan dapat diraba.” Tulisan Soendari berbeda dengan Marco, banyak mengandung kebijaksanaan. Soendari tidak mempunyai kecenderungan untuk menyerang. Semangatnya tinggi dan terkendali, tidak membludak seperti Marco atau Wardi. Gaya berpikirnya seperti gaya berpikir aristokrat berkebudayaan. Pengemanann sendiri belum yakin Soendari perempuan, yang jelas jika benar perempuan, tulisannya berbeda dengan tulisan gadis jepara. Ia menghendaki orang memperhatikan kenyataan-kenyataan sosial dari kehiduannya sendiri. Pun berbeda dengan Nyai Ontosoroh yang berhati keras dan tak kenal damai. Ia memiliki kelembutan hati, dan kelembutan itu pusat kekuatannya. Ia juga seorang yang bersih dan tahu apa yang dikehendakinya. Dan dalam kebersihannya ada sesuatu yang membara: kebenciannya pada kolonialisme. Hanya yang belum jelas pada diri Soendari adalah apakah ia memiliki keuletan jiwa, kekuatan terhadap cobaan seperti yang dimiliki Sanikem?

Pengemanann gagal membuat interpiu dengan Mas Tjokro. Hanya tanya-jawab dengan seorang anggota syarikat. Dari tanya jawab itu diketahui Mas Tjokro sering turne dengan mobil barunya. Daerah yang sering dikunjungi di pesisir Jawa Timur, terutama di pesantrennya. Tjokro sering berdebat tentang ilmu dan pengetahuan agama. Dan saat itu Mas Tjokro sedang turne ke Pacitan.

Pengemanann mendapat surat kilat dari Semarang, berisi tentang keterangan-keterangan Soendari. Siti Soendari diduga seorang lulusan H.B.S Semarang. Ia memperlihatkan bakat kesukaan menulis sejak masih sekolah. Gaya menulisnya tidak berubah, hanya lebih mantap dan lebih padat karena pengalamannya beberapa tahun di masyarakat. Keterangan selanjutnya akan dikirim seminggu berikutnya ke Algemenee Secretarie.

Pengemanann pergi ke Malang dan Madiun untuk melihat persiapan untuk peninjauan tuan besar gubernur Jenderal. Dari keterangan residen dan Bupati Madiun Pengemanann baru mengetahui orang-orang di Madiun mulai keranjingan berorganisasi. Disamping syarikat banyak muncul organisasi-organisasi lokal setempat seperti sarekat kusir, sarekat sopir, sarekat babu dan jongos, sarekat kuli stasiun dan beberapa macam lagi. ia heran kenapa ada di madiun terjadi demam organisasi. Saat itu juga ia minta keterangan tentang jumlah penduduk kota, luas kota dan jumlah organisasi umum pribumi dan jumlah anggotanya melalui telegram ke Malang, Surabaya dan Semarang.

Residen dan Bupati madiun juga belum tahu pasti penyebab banyak munculnya organisasi di kota itu. Ia juga masih menduga-duga yang menjadi penggerak adalah seorang perempuan, Siti Soendari. Seorang perempuan muda belum bersuami. Bupati Madiun mengatakan, “demikian yang pernah disampaikan. Bila dia sedang bicara petugas-petugas tak tahu lagi apa yang dikatakannya, lebih banyak terpesona kepada kecantikannya dan keluwesannya, pada senyumnya, pada giginya yang nampak gemerlapan, pada tingkah lakunya yang gemulai, pada bibirnya yang merah dan selalu basah.” Pengemanann juga mendapatkan informasi dari komandan Polisi Madiun. Soendari adalah seorang Raden Ayu. Polisi itu juga memberikan keterangan tentang gaya berpakaian Soendari, ia suka berkain batik tanpa wiru. Ia sering datang ke Madiun pada waktu liburan. Laporan yang belum jelas kebenarannya mengatakan ia penduduk Pacitan. Pengemanann menyimpulkan Soendari bukan anggota Syarikat, karena ia tidak kelihatan sedang sibuk mempersiakan sambutan pada pembesarnya yang sedang berunjung ke Pacitan. Polisi itu baru melihat Soendari seminggu yang lalu.

Pengemanann menerima amplop berisi jumlah penduduk, luas daerah dan banyaknya organisasi serta jumlah anggota dari Malang, Surabaya dan Semarang. Dari perbandingan tiga kota itu organisasi pribumi di Madiun lebih tinggi. Pengemanann mengancam residen dan bupati Madiun bahwa Gubernur Jenderal tidak akan sudi ke Madiun sebelum mereka dapat mengendalikan organisasi pribumi itu.

 

Siti Soendari menyempurnakan cita-cita Kartini

 

Pengemanann kembali masuk kantornya. Di Eropa keadaan menjadi mengkhawatirkan. Von Hindenburg melakukan persiapan balatentara Jerman. Idenburg membatalkan rencana perjalanannya. Konsinya besar diadakan di seluruh Hindia. Dalam keadaan yang seperti itu tiba-tiba orang-orang dikagetkan dengan surat pembaca dari sebuah harian di Semarang yang mengumumkan tulisan berinisial S.S. “Belum lagi orang lupa pada pesta besar-besaran seratus tahun Nederland bebas dari Prancis, sekarang Nederland telah terancam lagi dalam Bharatayuda Modern. Berpihak pada siapakah Nederland? Mampukah dia keluar sebagai pemenang? Setelah seratus tahun lamanya tak pernah punya ketahanan militer, kecuali terhadap bangsa-bangsa jajahannya? Akan jatuhkah Hindia ke tangan Jerman? Dan seratus tahun kemudian merayakan lagi secara besar-besaran Nederland bebas dari Jerman? Kalau dalam pesta besar yang lalu dibuang Douwager, Wardi dan Tjipto, siapa-siapa akan dibuang seratus tahun mendatang?”

Surat terbuka itu diduga dibuat oleh Siti Soendari, tetapi tidak ditemukan dengan utuh kopi aslinya. Kopi surat asli nya digunakan untuk menyeka tinta kotor pada tangan pencetak, kemudian dibuang ke keranjang sampah. Biarpun dapat ditemukan kertas itu tidak dapat terbaca lagi. keranjang sendiri sudah dibersihkan begitu setsel naik cetak. Tulisan itu mengundang kontroversi dari Pribumi maupun orang-orang peranakan Eropa. Ada yang menduga penulisnya seorang peranakan yang tidak mendapat jabatan negeri atau orang-orang Insulinde. Sedangkan Pengemanann hatinya sedang berperang hebat, ia menduga pasti itu tulisan yang dibuat Soendari hanya belum tahu apa yang harus dilakukan. “ Pendeknya aku tak melakukan apapun, gaya Siti Soendari dalam keadaan jiwa yang sadar, untuk membesarkan hati pribumi menghadapi kekuasaan kolonial. Tuhan aku tak mau memburu seorang wanita yang pertama-tama muncul di meja kerjaku, memasuki rumah kacaku. Biarpun hanya sedikit aku masih punya kehormatan! Tidak, ya Tuhan. Yang seorang ini tidak! Wanita pertama yang tampil di depan umum dan memimpin! Dia seribu langkah lebih maju dari si gadis Jepara. Seribu langkah di depan Nyai Ontosoroh. Dia tidak boleh cepat Binasa dalam rumah kacaku.”
Di kantor Pengemanann masih ramai dengan kejadian itu. Ada yang mengatakan surat itu bukan sekadar pertanyaan, ada suatu kejahatan terkandung di dalamnya tanpa disadari. Di jalan-jalan desas-desus yang sepertinya nyata berkibar, penulis surat terbuka itu seorang pribumi bernama Siti Soendari. Ia seorang perempuan yang cantik, lulusan H.B.S. Desas-desus lain mengatakan Gubernur Jenderal tak mungkin dapat menindak karena surat aslinya sudah hancur. Sementara di kalangan ibu rumah tangga peranakan Eropa berkibar tentang “kalau perempuan pribumi sudah mulai begitu kurang ajar, kata satu pihak, apa pula jantannya! Diantara orang Indo pun baru satu dua yang menulis. Dia pribumi Totok!”

Gubermen menjadi Waspada dengan melakukan pengawasan terhadap Jerman dan pemuda Turki pendatang. Takut organisasi-organisasi pribumi bersinggungan dengan Jerman dan Turki. Di Meja Pengemanann telah lengkap bahan-bahan terkait demam organisasi dan keterangan tentang Siti Soendari yang lengkap dengan potret dirinya. Seperti inilah yang digambarkan Pengemanann, “Siti Soendari cantik dan sederhana. Wajahnya berbentuk daun sirih dengan dagu meruncing seperti yang pernah diceritakan kepala polisi Madiun. Matanya besar memancar. Ia tampak lemah lembut. Dalam otaknya berkobar kata Nasionalisme yang panas membakar dan dapat menggerakkan ratusan hingga ribuan manusia. Ia lulusan H.B.S Semarang. Sejak di bangku sekolah ia seorang aktivis Jong Java, juga aktivis Pemalang Bond, aktivis sebuah organisasi pelajar pribumi dan selau duduk dalam pimpinan. Ia pengurus majalah dinding sekolah dan setiap minggu ada aja yang ditulisnya, tidak tanpa pujian dari guru-gurunya. Ia menguasai bahasa Belanda, Inggris, Jerman dan Perancis untuk menyerap ilmu pengetahuan Eropa.”

Setelah lulus Soendari mengajar di sekolah dasar swasta, kemudian ia pindah ke Pacitan mengajar pada sebuah sekolah Boedi Moelyo. Bapaknya tetap tinggal di Pemalang, ia pindah karena kecantikannya telah menarik banyak pemuda-pemuda Indo yang mengganggunya. Ia merasa risi dan memilih tempat lebih kecil. Soendari masih tetap anggota Jong Java meskipun bukan anggota Boedi Moelyo. Menurut informasi yang didapatkan Pengemanann, Boedi Moelyo dianggap lamban, tak ada niat bertindak cepat dan tepat. Mula-mula ia menjadi propagandis Insulinde, tetapi karena tak ada tokoh kuat yang dapat disamakan dengan D-W-T dalam partai ini ia ikut lemas. Ia tak mendapatkan kepuasan dalam lingkungan Insulinde yang lesu tanpa seorang pemikir dan inisiator. Soendari membutuhkan seorang guru, seorang konseptor. Dalam ketidakpuasan itu ia melompat dan jatuh di bawah sayap muda syarikat. Dua orang di bawah sayap syarikat, Marco dan Soendari kini masuk dalam rumah kaca Pengemanann. Ayah Soendari seorang jebolan STOVIA dan menjabat kepala pegadaian negeri Pemalang, juga sebagai tuan tanah yang berhasil. Soendari tumbuh dalam asuhan ayahnya, ibunya meninggal saat ia berumur tujuh bulan. Abang Soendari seorang laki-laki, setelah lulus H.B.S dikirim ke Nederland untuk melanjutkan di sekolah tinggi niaga.”

Pekerjaan Pengemanann bertambah, pelarian-pelarian politik dari Nederland berhasil mempengaruhi pribumi membentuk organisasi-organisasi. Organisasi secara Eropa baik bentuk maupun isi. Mereka membuat sarekat pegadaian Negeri, sarekat buruh pabrik gula, sarekat guru negeri, Vereeniging van spoor-en tranmpersoneel (sarekat pegawai kereta api dan trem) dan masih banyak lagi.

 

Organisasi Indo, Pelarian politik dari Nederland, Sneevliet dan Baars

 

Orang-orang pelarian politik dari Nederland, Sneevliet an Baars giat melakukan pidato-pidato di Jawa Timur. Mereka membuat organisasi bergaya Eropa yang berpusat di Surabaya. Dengan ini Pengemanann mendapatkan tugas baru yaitu mengawasi agar Organisasi orang-orang Indo ini tidak bersinggungan dengan Syarikat Islam yang juga berpusat di Surabaya. Tetapi sep Pengemanann rupanya kurang puas dengan tindakan itu, karena yang ia inginkan kedua jenis organisasi itu bukan hanya tidak bersinggungan tetapi benar-benar dipertentangkan. Pengemanann sendiri khawatir jika kedua organisasi itu dipertentangkan Syarikat akan membuat pandangan terhadap semua orang Belanda sama. Dan kesempatan ini akan membuat Marco mendapatkan tempat untuk berpawai, dan ada kemungkinan sayap syarikat dibawah Marco terpisah dari kepemimpinan Tjokro. Dan ini akan lebih membahayakan kedepan. Pengemanann menolak perintah itu.
Sementara itu pengaruh orang-orang pelarian politik itu telah sampai di kota-kota pelabuhan jawa tengah dan jawa timur. Dewan Hindia meminta Gubernur Jenderal mengerahkan tenaga-tenaga kepolisian untuk mengurusi dan mengawasi kegiatan politik pribumi. Kepolisian yang memiliki inisiatif meminta pengukuhan dan badan koordinasi untuk membentuk seksi khusus. Alasannya kegiatan politik pribumi semakin menanjak, dan tidak mungkin meminta bantuan militer dari kerajaan dalam suasana perang dunia. Oleh karena itu angkatan perang Hindia harus diperbesar untuk menghadapi segala kemungkinan. Pengemanann mendapatkan tugas lagi terkait saran Dewan Hindia ini. Bagi Pengemanann adanya seksi khusus akan mengancam kedudukannya. Ia diminta atasannya untuk mempelajari koran-koran yang mendukung pendapat Dewan Hindia dan memberikan saran. Pengemanann menyatakan seksi khusus itu belum perlu, alasannya karena pekerjaan pengawasan politik atas pribumi masih terlalu sedikit dan belum bernilai untuk dikhususkan. Lagipula pengkhususan berarti menambah beban pembiayaan, sementara keuangan negeri menunjukkan kemerosotan. Sementara di Eropa sedang terjadi perang Dunia, dan Hindia dalam perdagangan sangat tergantung dengan Eropa. Lagipula kegiatan polit ini juga pengaruh dari politik etik Gubermen. Ia menyarankan untuk membimbing organisasi-organisasi yang ada bukan membinasakannya, seperti yang dilakukan pada organisasi Boedi Moelyo atau Tirta jasa.

 

Saran-saran itu membuat Pengemanann dipanggil oleh Gubernur jenderal. Ia merasa diperlukan dipanggil dua kali untuk menguji bobot saran yang diberikan. Dan Pengemanann tetap bersikukuh pada pendiriannya dengan memberikan fakta-fakta terkait hal-hal yang ditanyakan gubernur Jenderal. Dan akhirnya pembentukan seksi khusus itu benar-benar dicabut. Dengan demikian ia bebas mengamati gerak-gerik manusia dalam rumah kaca nya, Marco dan Soendari.

Marco semakin beringas dan sering keluar masuk penjara. Pengaruhnya sangat kuat, karena ia seorang anak lulusan sekolah desa, banyak anak-anak lulusan sekolah desa yang mengikuti jejaknya. Mereka berani berbicara di depan umum dan siap juga untuk masuk penjara untuk menjadi pahlawan. Marco dan kawan-kawannya ini juga demam menggunakan istilah-istilah Eropa meskipun tidak tahu benar maknanya. Mereka sering dicibir orang-orang Indo dan Eropa karena hal itu. Orang-orang semacam Marco menjadi banyak yang masuk penjara. Mereka memberikan pengaruh politik dengan gaya baru, memasuki penjara-penjara kriminal. Bagi Pengemanann ini merupakan bahaya baru, meskipun kekuasaan setempat telah memisahkan tahanan politik dengan tahanan kriminal. “Dan seorang pemain politik dengan sadar mengambil alih kenekatan kriminal, setiap waktu bisa menimbulkan keonaran. Dan seorang kriminal yang dengan sadar mengambil-alih ilmu atau pengalaman politik, semakin berbahaya lagi.” kaum nasionalis muda mulai menganggap penjara sebuah stasiun setiap waktu didatangi dan ditinggalkan. Mereka tidak lagi mengganggap penjara sebagai sebuah tempat yang hina, inilah yang membedakan mereka dengan pegawai gubermen yang korup.

Berbeda dengan Marco yang terang-terangan menampilkan dirinya dalam majalah-majalah, Siti Soendari sebaliknya. Ia seakan-akan takut dikenal masyarakat. Belum pernah ada gambarnya dalam majalah. Laporan-laporan tentang Soendari terkumpul diatas meja Pengemanann. Ada yang memberikan laporan tentang gaya berpakaian Soendari, ada yang mengumpulkan pendapat orang-orang. Misalnya ada yang menganggap ia sebagai wanita jawa yang patut dicontoh, karena pandai bersolek, sopan dan luwes dalam pergaulan. Para priyayi menyebut Soendari adalah gadis yang salah tingkah yang tidak tahu kewajarannya. Seorang Belanda dalam pakaian Jawa, perawan tua yang bingung cari jodoh. Santri-santri Pacitan menganggapnya satu kelas dengan wanita gelandangan dan pelacur, yang jual tampang pada setiap kesempatan untuk mendapatkan mangsa. Dan beberapa ornag terpelajar menganggapnya sebagai perempuan yang ditakuti lelaki. Kegiatan-kegiatannya yang hebat dianggap untuk mengejar suami berpangkat, sementara yang lain mengatakan tidak mungkin orang berpangkat didapatkan diantara orang-orang pergerakan. Sementara sep Pengemanann malah bertanya basa-basi apa sebabnya diperlukan begitu banyak informasi tentang seorang gadis saja?

Menurut Pengemanann itu pertanyaan bodoh, hanya karena ada seorang gadis pertama kali muncul di depan umum dianggap gejala sosial. dan ia menjelaskan dengan membawa-bawa kondisi di Hindia lagi, “ Bahwa dalam masa Hindia sesulit ini tindakan terhadap terpelajar pribumi harus lebih berhati-hati. Sebagai kekuasaan yang berwatak Eropa, Gubermen dalam setiap tindakannya harus beralasan wajar, maka materi untuk suatu tindakan pun harus bisa dipertanggungjawabkan secara Eropa. Kalau tidak apa bedanya tindakannya dengan raja-raja pribumi.”
Ia melanjutkan pengamatan dalam rumah kacanya. Dari informasi lebih lengkap yang ia terima, Soendari adalah seorang guru sekolah dasar berbahasa Belanda, Boedi Moeljo. Setiap seminggu sekali ia membawa muridnya ke sawah atau ladang untuk menghabiskan pelajaran bahasa Belanda. Ia tidak menggunakan buku wajib tetapi alam sekitar sebgaai buku pelajaran. Buku pelajaran ia anjurkan kepada muridnya untuk dipelajari di rumah. Beberapa kali ia ditegur. Di Pacitan di sebarkan isu Soendari sedang diawasi pihak berwajib karena kegiatan-kegiatannya yang mencurigakan dan muridnya tidak akan menjadi pegawai Gubermen. Orang tua murid banyak yang komplain dan Soendari dipecat. Saat dipecat ia masih sempat berpamitan dan memberi pesan pada para siswanya, “anak-anak, aku sering membawa kalian ke alam terbuka dengan hanya satu tujuan agar kalian mengenal tanah air kalian sendiri, karena memang disitulah kelak kalian akan hidup dan berkembang. Cintailah alam sekeilingmu, karena semua itu adalah milikmu sendiri. Aku akan sangat bersenanghati bila ada salah seorang diantara kalian sungguh-sungguh mencintainya, dan mengerti bahwa semua itu milik kalian sendiri.”

Dengan demikian Soendari tidak lagi menjadi guru di Boedi Moelyo. Sedangkan hubungan Soendari dengan RM Minke yaitu, pada Maret 1912 Minke mengunjungi teman sekolahnya, ayah Siti Soendari, di Pemalang. Saat itu Minke akan mengakhiri turne nya ke seluruh jawa. Saat menjelang kepergiannya mempropagandakan persatuan untuk seluruh bangsa Melayu di Singapura, Borneo, Siam, Filipina, Sailan dan Afrika Selatan. Kunjungan terakhir adalah Pemalang dan beberapa kali ia menginap di rumah ayah Siti Soendari. Pada kunjungan terakhir Soendari sedang ada di rumah. Pada kesempatan ini Soendari banyak berbicara banyak hal dengan sahabat ayahnya itu. Meskipun Pengemanann sendiri belum jelas apa saja yang sudah dibicarakannya, tetapi ia tahu pernah ada kontak antara Soendari dengan Minke.

Perang Dunia secara tidak langsung mempengaruhi Hindia, staff employee dan administratur perkebunan tidak lagi didengarkan pekerja. hukum kolonial tidak menjamin mereka lagi. kondiisi perekonomian juga merosot, dari mulai pengahsilan negeri, penyusutan tenaga kerja, meningkatnya harga bahan makanan, gagal panen dan import beras dari siam. Keadaan ini menggelombangkan perasaan tidak puas di kota-kota. Di Kediri beberapa pabrik gula hampir dihancurkan oleh para pekerjanya. Nama Siti Soendari ikut naik bersama naiknya ketidakpuasan. Tetapi keadaan ini hanya terjadi di jawa dan Palembang. Dalam keadaan seperti itu juga, mulai meningkat organisasi-organisasi berwatak etnis seperti Putra Bagelan, Rencong Aceh, Rukun Minahasa, Mufakat Minang dan Pertalian banjar.

Membasmi organisasi-organisasi itu menjadi tugas Pengemanann, tetapi ia tidak mau melakukannya. Oleh karena itu ia merasa perlu melakukan studi tentang organisasi. Ia mengklasifikasikan menjadi organisasi yang berdasar kehindiaan dan organisasi etnis. Dalam tulisannya ia menyarankan untuk menyokong organisasi etnis untuk mempersulit berkembangnya organisasi berdasarkan Kehindiaan. Dengan demikian tidak akan terjadi nasionalisme Hindia. Organisasi etnis akan memberikan kesempatan untuk berorganisasi dan semakin baik untuk Hindia, kehidupan demokrasi Eropa akan memasuki dunia pribumi dan akan mengubah tata-feodal pribumi. Menurut Pengemanann mereka akan belajar meemutuskan bersama-sama apa yang akan mereka perbuat. Oleh karena itu Pengemanann juga memperluas naskah kerjanya. Tulisan itu berisi tentang tata sosial jawa, kaum ningrat yang mendapatkan jabatan mentah-mentah kini mulai ditinggalkan angkatan muda golongan angsawan rendahan. Mereka memasuki sekolah-sekolah teknik untuk mendapatkan jabatan itu. Dengan itu mereka berkenalan dengan unsur-unsur baru jaman modern: listrik, tenaga uap, bensin dan menjadi montir yang cakap, lebih pandai dan cakap daripada anak-anak ningrat tinggi yang disembahnya. Dengan keahliannya mereka mendirikan pabrik besar dan kecil, dan juga bengkel untuk melengkapi. Akhirnya mereka bisa jauh lebih kaya dan lebih terkenal daripada bangsawan-bangswan tinggi. Dan kelak akan memimpin masyarakatnya. Sekolah-sekolah pertanian, dokter, pertukangan, guru, kehewanan yang diborng oleh anak-anak bangsawan rendahan setelah selesai akan menjadi tukang dan pedagang. Mereka akan memiliki kesempatan memimpin setelahnya di kemudian hari. Gelar bangsawan tinggi dan rendahan akan mereka tinggalkan, gubermen yang menggantungkan keuasaannya pada golongan ini ini juga harus menyesuaikan diri dengan pergesaran sosial.

Marco dan Soendari mewakili pergeseran sosial ini, sayangnya Marco sebagai anak seorang bangsawan rendahan berkembang lebih cepat dari jaman yang seharusnya. Ia muncul lebih awal daripada Soendari. Seperti menyalahi susunan kasta dalam Hindu. Seharusnya sebagai anak saudagar pribumi Soendari muncul memimpin lebih dahulu. Tetapi dalam memperlakukan gelar Marco dan Soendari memang berbeda, Soendari sama seperti Wardi mencampakkan gelarnya. Sedangkan Marco yang tidak memiliki gelar, memungut gelar mas sebagai gelar terendah dalam keningratan pribumi. Pengemanann menduga mungkin karena itulah Marco seperti telah melompat dari yang seharusnya, ia memasukkan diri dalam golongan bangsawan rendahan.

Marco tumbuh dan meneruskan kariernya sebagai pengarang, tokoh masyarakat, pemidato, jurnalis, pencetak, dan sebagai burung penjara. Ia juga rajin menulis surat untuk siti Soendari. Sementara inisial S.S dalam surat terbuka telah diketahui oleh Gubernur Jenderal, Pengemanann tidak dapat berdalih dari tugas yang berat untuk menyingkirkan Soendari. Pengemanann sendiri memastikan surat-surat itu dan membenarkan. Tetapi ia belum menemukan hubungan Soendari dengan syarikat, hanya Marco tergila-gila dengannya.

Gubernur Jawa Tengah juga telah memberi isyarat pada asisten residen Pekalongan agar ayah Soendari mengendalikan putrinya. Residen telah memerintahkan Bupati pemalang agar memaksa secara halus kepada orangtua Soendari untuk menikahkan anak gadisnya.seperti yang telah berhasil dilakukan pada gadis jepara. Ayah Soendari diharuskan memilih diantara jabatan dan putrinya. Dengan memilih Jabatannya, ayah Soendari meminta waktu dua bulan. Setelah itu juga ia pergi ke Pacitan mencari putrinya. Ia tak menemukan putrinya di Pacitan dan sudah tidak mengajar di Boedi Moelyo. Ayah Soendari melanjutkan perjalanan ke Pemalang, menginap dulu di Semarang. Dalam perjalanan ke penginapan ia bertemu soendari, tetapi tidak dihiraukan panggilannya terhadap anak gadisnya itu. Soendari terus berjalan menuju gedung wayang. Di dalam gedung itu ayahnya yang datang diapapah dua anak kecil melihat Soendari sebagai pembiacara di mimbar. Ia bicara berapi-api dan mendapat sambutan sorak sorai dari para hadirin. Di dalam gedung itu sedang diadakan rapat umum oleh Vereeniging van spoor en trampersoneel (VSTP) yang bermarkas besar di Semarang. Ayah Soendari kagum teradap Soendari yang berbicara di depan umum tetapi sekaligus ia menjadi tersiksa karena perintah Gubermen yang datang padanya.

Malam itu juga Soendari diajak pulang ke Pemalang. Semarang membentuk kebijakan tersendiri karena hal ini, kota itu membentuk kekuatan reserse politik tanpa melepaskan setiap gerak, suara dan pandangan terhadap segala hal terjadi. Kemudian juga ada larangan setempat, anak-anak dibawah umur tidak diperkenankan mengunjungi rapat-rapat umum dan kantor organisasi. Larangan itu karena ada dua bocah yang memapah ayah Soendari ketika memasuki gedung wayang orang juga karena ada pemuda bernama Semaon dalam kantor VSTP.

Sesampai di pemalang, keesokan harinya ayah soendari menghadap Bupati terkait apa yang akan dilakukan seharusnya. Bupati ingin mengetahui soendari dan pekerjaannya dengan menyadap percakapannya. Soendari diajak menemui seseorang, kemudian ada yang mendengarkan tanpa sepengetahuan Soendari. Ia diajak menemui seorang ibu-ibu, percakapan itu memang banyak bertanya pekerjaan Soendari, juga desakkan untuk segera menikah, soendari menjawab “ampunilah sahaya, ibu, sepuluh tahun bersekolah dan dua tahun bekerja bukanlah untuk menunggu datangnya suami.” Ia terpojok dan terus mendapatkan desakkan kalau ayahnya sudah merindukan cucu. Meskipun begitu Soendari tetap bersikukuh ayahnya tidak pernah meminta demikian. Soendari merasakan ada ketidakberesan dalam percakapan itu, akhirnya ia mengakhiri dengan jawaban yang ditunggu-tunggu. Kepada ibu itu ia mengatakan pernah diberikan pesan oleh seorng bernama Raden mas Minke. Di depan ayahnya ia berpesan agar soendari di sekolahkan setinggi-tingginya, ”kemudian Bendoro Raden Mas Minke berpesan lagi: jangan dia kau paksa kawin. Jangan kau paksa dia mengalami apa yang dialami si Gadis Jepara! Juga yahanada menyanggupi, malah mengatakan. Tak akan ada yang memaksa melawan cita-citanya sendiri. Tragedi gadis jepara tak akan terulang lagi. sejak bayi dia tak mengenal ibu, maka dia harus mendapatkan segala-galanya. Percayalah dik, dia kuberi kebebasan untuk jadi apa saja, syukur kalau jadi manusia berguna.”

Asisten residen pekalongan puas terhadap hasil percakapan yang disadap itu. Ia yakin itu sebagai awal yang baik. Sementara itu tulisan Soendari semakin banyak meskipun ia tidak tampil di hadapan umum. Tulisan-tulisannya berhasil disadap di kantor pos. Dalam pemingitan itu tulisannya semakin berbobot dalam melayu sekolahan. Ia tidak pernah mencantumkan nama tetapi gaya bahasanya tidak ada duanya.

Ayah Soendari telah dihadapkan pada daftar calon menantu, sementara dalam laporan Bupati pemalang Soendari masih tetap melawan. Soendari tetap merasa sia-sia jika sekolah selama sepuluh tahun ini hanya untuk menunggu calon suami. Ia bersikeras tidak ingin bernasib sama dengan gadis jepara. Ayah Soendari merasa terpojok dalam keadaan ini, ia berada diantara dua kekuatan: kekuasaan gubermen yang tidak terbatas dan kasih sayang pada putrinya.
Suatu pagi ayah Soendari melihat putrinya menerima telegram, tetapi ia tidak mau mencampuri urusan anaknya. Kemudian ia pergi melihat-lihat sawah. Sesampai di rumah ia tak menemukan Soendari. Malam harinya Soendari juga tidak pulang, kemudian ia menyewa taksi ke Semarang. Semarang sepi karena sedang panas-panasnya pemogokan di Semarang. Seorang komisaris polisi mengenali ayah Soendari dan memperingatkan untuk menghalangi putrinya berbicara di depan umum malam itu. Ia menghasut dengan mengatakan Soendari memiliki permainan kotor. Karena pada saat itu juga terjadi pembakaran tebu di pemalang sebanyak lima belas hektar. Polisi itu memberitahukan Soendari sedang ada di gedung wayang orang. Sopir taksi menolak mengantarkan ayah soendari karena takut dianggap tidak memiliki solidaritas dengan sopir angkutan di Semarang. Maka orang tua itu meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki. Sesampai di gedung itu Soendari sudah selesai berbicara dan turun panggung. Ia menunggu sampai pertemuan itu bubar. Begitu Soendari keluar gedung sang ayah menyambutnya. Kedua orang itu hilang dalam kegelapan tidak ada yang tahu pergi kemana. Polisi juga kehilangan jejak mereka. Dua hari kemudian baru diketahui sang ayah sudah mengambil semua simpanannya di Bank. Dan Soendari tidak pernah keliahatan di depan umum lagi baik tulisan maupun sosoknya. Setelah digeledah rumahnya di pemalang, banyak ditemukan surat-surat Marco yang isinya lebih dari urusan organisasi dan diskusi.

 

Serangan kepada Boedi Moelyo

 

Setelah kepergian Soendari, Marco keluar dari Penjara. Laporan-laporan yang sampai pada tangan Pengemanann mengatakan selepas dari penjara Marco pergi ke Pacitan kemudian muncul juga di Pemalang. Diduga ia sedang mencari keberadaan Soendari. Kemudian ada kabar yang mengatakan ia akan pergi ke ibu kota Hindia. Pengemanan menduga jika Marco pergi ke ibu kota, Soendari juga ada di sana. Pengemanann ingin bertemu langsung dengan Marco tetapi gagal. Empat bulan kemudian baru ada kabar bahwa Soendari ada di Rotterdam, Belanda. Dan beberapa bulan berikutnya Marco juga di kabarkan ada di Rotterdam. Tiga orang anak rohani Minke telah berkumpul di kota yang sama, Soendari, Marco dan Wardi.

Sementara itu di Hindia muncul permasalahan baru lagi. Sep Pengemanann minta diceritakan tentang asal mula Boedi Moelyo. Rupanya hal itu ada kaitannya dengan Gubermen dan Boedi Moelyo yang kebakaran jenggot. Boedi Moelyo mendapat serangan dari Sneevliet melalui ceramah periodiknya di kamar bola Marine, di Surabaya. Boedi Moelyo disebut-sebut sebagai organisasi pribumi yang tidak tahu tugasnya. Organisasi yang dibentuk orang-orang jawa itu sama sekali tidak mengajarkan jawa, sejak awal malah menggunakan bahasa Belanda. Boedi Moelyo juga dikatakan hanya mengambil alih tugas-tugas Gubermen. Mereka hanya mencetak anak-anak untuk menjadi pegawai Gubermen bukan mengajarkan cintanya kepada bangsa. Uang yang dibayarkan para orang tua dengan cukup mahal hanya akan menjadikan para siswanya sebagai upeti tenaga-tenaga berbahasa Belanda kepada Gubermen. Anak-anak yang bekerja pada Gubermen itu tidak akan bekerja pada Bangsanya, sebaliknya mereka akan mengukuhkan imperialisme Belanda. Boedi Moelyo didakwa membanting-tulang untuk kebalikan cita-citanya sendiri.

Pengemanann mendapatkan tugas baru mempelajari tentang keadaan ini dan memberikan rekomendasi apa yang sebaiknya dilakukan oleh Gubernur Jenderal. Dalam tulisannya dikatakan Sneevliet sebagai penerus tradisi secara sejarah hendak mengatakan tugas etik Gubermen. Apa yang dikatakan Sneevliet secara tidak langsung menyampaikan tentang kekurangan Gubermen terhadap tugas Etik yang dirasakan kaum liberal dalam Tweede Kamer. Melayani Sneevliet akan menampar muka sendiri. Mereka telah menggunakan logika berpikir baru yang didatangkan dari Eropa, oleh karena itu perlu dipelajari dulu. Dan sementara Gubermen tidak perlu mengambil tindakan terlebih dahulu. Yang perlu dilakukan Gubermen adalah memanggil pimpinan Boedi Moelyo melalui departemen O & E. kemudian jika hasil pertemuan memuaskan dilanjutkan dengan audiensi kepada Gubernur Jenderal.

Gubermen melaksanakan rekomendasi Pengemanann dua hari kemudian. Tetapi rupanya pertemuan yang diwakili oleh direktur O & E itu tidak sesuai yang diharapkan. Para perwakilan Boedi Moelyo tiba-tiba seperti lupa akan masalah yang dihadapinya. Mereka bukannya menyampaikan tentang permasalahan serangan Seneevliet malahan dianggap sebagai kesempatan untuk mengajukan permintaan-permintaan. Sementara Direktur Departemen sendiri juga kaku dalam pertemuan itu, tampak belum terbiasa menerima tamu pribumi. Audiensi digelar sekali lagi, Pengemanann diminta mempersiapkannya karena audiensi berikutnya bersama direktur O & E bersama Gubernur Jenderal. Pertemuan sebelumnya yang hadir bukan pimpinan tinggi Boedi Moelyo, para pimpinan sedang di Yogya membicarakan tentang serangan Sneevliet.

Pada pertemuan kedua ini Boedi Moelyo di wakili oleh sekretaris umum, Mas Sewoyo. Mas Sewoyo dan teman-temannya yang hadir berusaha berbicara atas nama organisasi. Mereka seperti hendak meyakinkan bahwa yang dilakukan Boedi Moelyo hanya sedikit sumbangan pada generasi muda bangsanya untuk maju, dan mereka melakukan kegiatan-kegiatan itu tanpa pamrih. Sedangkan Gubernur Jenderal Idenburg menutup audiensi dengan harapan tercipta saling pengertian antara Gubermen dengan Boedi Moelyo. Pertemuan itu diharapkan sebagai awal yang menguntungkan bagi bangsa yang mereka wakili untuk kemudian diteruskan dan dikembangkan bagi generasi Boedi Moelyo selanjutnya.

 

Gubernur Jenderal Baru Van Limburg Stirum

 

Masa kepemimpinan Jenderal Idenburg telah berakhir kemudian datang penggantinya Van Limburg Stirum. Pada saat peralihan Gubernur baru itu Jawa sedang bergejolak, belot kerja terjadi dimana-mana, dan penghasilan negeri menurun. Idenburg pada masa kepengurusannya meninggalkan kesan baik dan kesan buruk. Sudah berhasil menyingkirkan para motor Nasionalisme , Minke dan para pemimpin Indische Partij sebagai hukuman. Tetapi ia juga telah mengawali kedekatan Gubermen dengan Boedi Moelyo. Meskipun begitu Idenburg meninggalkan pekerjaan, sebuah logika Eropa baru yang dibawa Sneevliet.

Logika baru itu menghadirkan nama-nama orang pribumi baru dalam gejolak Hindia. Nama-nama itu timbul dan tenggelam dalam tulisan-tulisan. Pada saat itu pribumi mulai membicarakan tentang makna tanah air dan penghidupan. Juga telah muncul kata Nasionalisme dan Internasionalisme. Media masa berkembang, dan kegiatan jurnalistik menjadi mahkota baru. Kegiatan yang diwariskan oleh Raden Mas Minke ini muncul sebagai gejala sosial baru. Kata-kata yang pernah dikatakan Minke pada salah seorang temannya ini, “orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di masyarakat dan dari sejarah,” kini menjadi senjata. Juga kata-kata yan diucapkan oleh gadis jepara, “menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Menulis menjadi tolok ukur bobot seseorang. Nama-nama yang hanya sering muncul di depan umum tidak berarti jika ia tidak menulis. Dalam jurnalistik Belanda nama Sosrokartono membumbung tinggi, sedangkan nama Wardi tidak ada. Kemudian muncul nama Djojopranoto mengikuti. Di jawa Sosrokardono mengikuti gaya tulisan Sosrokartono, menggunakan kalimat berbobot dan memberi keteduhan. Para pelarian seperti Soendari dan Marco juga tidak menulis. Di Jawa nama Goenawan dan Sosrokardono menjadi pusat baru dalam dunia menulis dan Soerjopranoto menjadi motor aksi untuk merugikan penghasilan negeri dan membangkrutkan perusahaan Eropa.

Gubernur Jenderal yang baru belum memberi perhatian terhadap permasalahan-permasalahan itu. Keadaan itu membuat para pejabat di Algemeene Secretarie resah dan khawatir. Pengemanann juga beberapa kali didatangi para pengusaha yang ingin mengambil kesempatan bermain mata karena adanya gubernur baru. Dalam keadaan seperti itu tugas-tugas untuk Pengemanann juga belum ada. Ia memanfaatkan waktu mempelajari naskah-naskah Minke sembari berfoya dan berplesir pada waktu luang.

Pengemanann larut dalam waktu luangnya, ia mendapat permasalahan pribadi terkait Rientje de Roo. Perempuan itu meninggal sebelum bertemu dengannya sesuai janji. Seorang agen polisi menemukan catatan Rientje sebelum ia meninggal dan mencoba memeras Pengemanann karena tercantum namanya disana. Pengemanann juga sempat jatuh sakit setelah permasalahan itu. Ia hanya dirawat seorang pembantunya bernama Tuminah. Hanya Tuminah yang peduli padanya. Tuminah yang berkuasa atas dirinya, melarang Pengemanann minum-minuman keras dan menyingkirkan kertas-kertas agar ia beristirahat total. Dalam perawatan itu Pengemanann sering merenungi perempuan-perempuan pribumi yang ada dalam naskah-nasah Minke, Sanikem dan Princess van kasiruta. Juga para wanita pribumi yang pernah ia dengar, Siti Soendari dan Rohana Kudus. Ia juga teringat perkataan tuan L tentang perempuan pribumi. “selama tidak bersangkut-pautan dengan persoalan perkelaminan, dimanapun Tuan akan temukan wanita Hindia yang luarbiasa menjulang diatas rata-rata kaum prianya.”

Pengemanann masuk kerja lagi, di kantornya telah menunggu perwakilan sindikat yang mencoba membuat persekongkolan dengannya. Gubernur Jenderal van Limburg Stirum belum melakukan apapun atas gerakan pribumi. Pengemanann dan sepnya menyusun rencana menyadarkan Gubernur jenderal atas keadaan itu. Persekonkolan itu menggerakkan pihak kepolisian terus bertindak terhadap kaum nasionalis. Sementara itu Gubernur Jenderal memberikan pesan lisan pada Direktur Departemen Kehakiman agar semua perkara yang menyangkut gerakan pribumi tidak diperlakukan dengan kasar, tidak dijatuhkan hukuman yang berlebih-lebihan, setiap perusakan harus dianggap sebagai kejahatan biasa, dan setiap delik dihukum sesuai dengan ketentuan yang ada. Perkembangan itu melanggengkan munculnya sebuah permulaan babak baru dalam kehidupan di Yogya, seorang pribumi bernama Soerjopranoto membangun sebuah sekolah dasar dan lanjutan dengan kurikulum yang bertolak belakang dengan kurikulum Gubermen. Sekolah itu benama Adi Darma. “Sekolah ini hendak mendidik murid-muridnya untuk tidak menjadi hamba siapapun, untuk menjadi manusia bebas, dan menjadi majikan dari dirinya sendiri.”

 

 

Denpasar, 6 Juli 2013
Pagi yang diliputi perasaan sentimentil

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s