Akhir Perjalanan sang Pemula

Mengaji tetralogi #12 adalah catatan mengaji Rumah Kaca bab 12-14. Catatan ini tertunda karena perjalanan ke Lombok dan kunjungan keluarga serta alasan-alasan lainnya. Bab-bab terakhir ini mengisahkan tentang perjalanan terakhir Minke. Minke tak mau tunduk pada Gubermen untuk tidak mencampuri politik dan organisasi melalui syarikat. Dan akhirnya ia hanya menyerahkan akhir hidupnya pada penyakit yang diketahui umum sebagai Disentri. Tentang Pengemanann yang tetap bergolak batinnya karena menghadapi akhir dari tugasnya. Dan akhirnya ia menyerahkan dirinya pada hakim kehidupan Nyai Ontosoroh.

****

Kegiatan Jurnalistik, sebuah Peradaban Baru
Gubermen kini menghadapi produk Eropa, bangkitnya Nasionalisme. Pribumi muncul di kota-kota sebagai murid-murid yang memiliki kemauan-kemauan untuk menjadi bangsa baru. Para pribumi ini mempersenjatai diri dengan mulut dan pena. Keadaan ini sangat berbeda dengan pembentukan Nasion di Eropa yang biasa dilalui dengan pedang dan darah . kerusuhan terjadi dimana-mana, di mana ada modal besar Eropa. Pembuat kerusuhan memanfaatkan kelemahan Gubermen karena perang Dunia. Sementara itu Pengemanann tidak mengambil peran apapun dalam mengendalikan kerusuhan ini. Kerusuhan yang tak lain sebagai warisan sah dari Raden Mas Minke.
Minke yang pribumi itu memang telah mengubah keadaan, tetapi pendapat kolonial Pengemanann menyatakan orang-orang yang pernah mendapat pengaruh Minke tetap menjadi pribadi yang tetap mewarisi watak pribumi. Terkungkung dalam adat kebiasaan yang turun-temurun. Oleh karena itu gerakan yang lahir karena Minke dan kerusuhan-kerusuhan yang ada adalah akibat gerakan kelompok yang merindukan pimpinan, karena mereka tak mampu memimpin dirinya sendiri. Ini juga ada hubungannya dengan yang pernah dikatakan tuan L tentang runtuhnya peradaban pribumi, melahirkan pribumi-pribumi yang miskin secara peradaban termasuk bahasa. Untuk dekat dengan Eropa mereka memunguti istilah-istilah asing yang sesungguhnya tidak mereka pahami dengan benar artinya. Para pemimpin pribumi yang timbul-tenggelam menggunakan istilah-istilah eropa itu seperti mantra-mantra untuk membangkitkan kekuatan. Tetapi pemimpin yang tidak mendapatkan pengajaran sekolah yang cukup itu mungkin juga belum menguasai kata-kata yang digunakannya. Pendeknya pendidikan Eropa yang sekadarnya membangkitkan kekacauan pengertian. Menimbulkan kekacauan pengertian dari pemimpin hingga pengikutnya dalam keadaan yang lebih kacau lagi.
Keadaan di Hindia sedang tidak menentu di bawah pimpinan Van Limburg Stirum, tetapi Pengemanann tak juga mendapatkan tugas baru. Sementara itu Sep Pengemanann tampak seperti merindukan Amerika sebagai kerinduan akan kebebasan. “kebebasan untuk membangun diri sendiri sampai menjadi hartawan tanpa batas, membangun pengaruh tanpa batas, sampai terasa di selingkupan bumi manusia. Itu hanya terjadi di Amerika-negeri kebebasan dan kebebasan tanpa tandingan,” katanya. Dalam setiap percakapannya ia mengunggulkan Amerika. Ia menggandrungi Amerika, setiap perkataannya tentang negara itu tak dapat di sela.
Pengemanann belum juga mendapatkan tugas baru, tetapi secara tersirat sep nya meminta mempelajari organisasi yang paling menonjol. Ia membaca kertas-kertas lagi. dari kertas-kertas itu ia mengerti Syarikat tidak akan mencapai sesuatu karena tidak mengetahui apa yang dikehendakinya. Insulinde lumpuh sebelum berjalan. Organisasi etnik berlomba menjadi lebih unggul dari organisasi sesamanya. Yang ada hanya dua tentang slogan “berpemerintahan sendiri” yang di populerkan oleh Indische Partij, tetapi tak ada yang mengucapkannya lagi dan kandungan Boedi Moelyo tentang perluasan keanggotaan dewan-dewan pemerintahan setempat dan pendirian sekolah-sekolah lanjutan untuk pribumi. Pekerjaan itu dilakukan dengan sekadarnya kemudian diserahkan pada pimpinannya.
Keadaan di Hindia semakin memburuk, pemerintahan kerajaan merasa khawatir terhadap perkembangan itu. Pengangguran merajalela dan diikuti dengan kasus kejahatan yang meningkat serta kerusuhan-kerusuhan. Di sela-sela keadaan itu Pengemanann mendapatkan tugas baru. Tugas baru itu menjemput Raden Mas Minke saat mendarat di Tanjung Perak, Surabaya. Pengemanann harus mendapatkan tanda tangan Minke agar tak mencampuri lagi urusan syarikat.

Minke Bebas Bersyarat
Sep Pengemanann memberikan tugas baru itu dan pada saat itu juga ia mengatakan bahwa pekerjaan terakhir yang dilakukannya sudah dikirim ke Nederland. Pekerjaan itu dikirim berdasarkan hasil kerja Pengemanann sebagai ahli tersumpah. Dokumen itu dikirim dengan dilengkapi keterangan yang dibubuhkan pada akhir dokumen. Sep Pengemanan membacakan keterangan itu, “Semua tindakan yang dilakukan Gubermen terhadap gerakan-gerakan pribumi berpegangan secara garis besar ada naskah-naskah ahli kolonial pada Algemenee Secretarie Tuan J Pengemanann.”
Pengemanann menjemput Minke saat kapal K.P.M telah merapat di Tanjung Perak. Kabin Pitung Modern “Minke” di kelas II nomor 22. Kedua orang guru-murid yang berjarak itu bertemu kembali. Minke tak acuh terhadap Pengemanann yang mengajak Minke turun sebelum melanjutkan perjalanan ke Betawi. Pengemanann akan menemani Minke selama jalan-jalan di Surabaya. Pada saat itu juga Minke menyadari bahwa ia belum sepenuhnya bebas.
Ditemani Pengamanann, Minke berplesir menggunakan taksi keliling Surabaya. Ternyata sopir taksi mengenali Raden Mas Minke. Tempat pertama yang ia kunjungi yaitu H.B.S Surabaya. Saat itu sekolah sepi karena masih jam pelajaran. Sementara itu Minke tenggelam merenung pada jendela taksi. Pengemanann menawarkan melanjutkan perjalanan ke Betawi menggunakan kereta, siapa tahu Minke ingin mengunjungi orang tuanya di Blora. Minke diberitahu ayahnya telah mendirikan sebuah sekolah gadis di Blora. Minke meminta sopir menuju Kranggan. Ia hanya menunduk sampai Pengemanann meminta taksi dikemudikan pelan-pelan di dekat sebuah rumah tua. Minke mengawasi rumah tua itu. Rumah itu tak lain dari rumah Jean Marais yang bernama asli Jean Le Boucq. Pengemanan menjajagi hati Minke dengan menceritakan tentang veteran perang Aceh itu, dan mengatakan banyak orang kagum pada orang berkaki sebelah itu karena bisa mengawini Nyai. Pengamanann juga mengatakan di sebelah rumah tua itu dulu ada pemondokan. Pemndokan itu sebenarnya tak lain dari pemondokan Minke yang kini sudah menjadi gudang. Minke menitikkan air mata karena larut dalam kenangan-kenangan itu.


Minke mengatakan ingin datang ke tempat Mas Tjokro. Ia tidak lagi larut dalam kenangan-kenangannya, ia merindukan anak sulungnya: syarikat. Tetapi Pengamanann tidak mengijinkan. Akhirnya ia mengatakan mau dibawa kemana saja, karena sesungguhnya dia tidak bebas. Pengemanann meminta taksi berbalik menuju Kranggan. Dalam perjalanan menuju Kranggan itu Pengemanann berceramah tentang ajaran Eropa yang tidak cocok dengan kehidupan di Hindia. Begitu juga tentang ajaran Amerika atau Jepang sekalipun, semua itu tidak cocok diberlakukan di kehidupan Hindia. Ia juga mengatakan Minke yang seolah seperti mempercayai ajaran-ajaran itu toh ia harus ditangkap, dan kini Pengemanann masih menjadi tuan rumahnya. Minke meludah mendengar ceramah itu. Pengemanann merasa kecil dan terhina dihadapan Minke. Ia melanjutkan ceramahnya tentang pengetahuan Eropa dari seorang Le Boucq. Ketika itu taksi melalui bekas pemondokan Minke. Kemudian membelok ke kanan menuju Wonokromo. Di deretan toko-toko Minke mengawasi seorang wanita bopeng yang menuntun bocah dan diiringkan seorang bocah lelaki. Minke mengatakan ingin turun dan membeli minyak kayu putih. Minke membeli minyak kayu putih diiringi Pengamanann pada sebuah warung. Setelah itu ia menemui wanita Bopeng yang diawasinya tadi, ternyata wanita itu Painah. Mereka bercakap-cakap sebentar.
Minke tampak berseri-seri menuju taksi. Ia mendesis, “perempuan hebat! Betapa banyaknya perempuan hebat aku temui dalam hidupku.” Pengemanan menanggapi desisan itu dan terjadi percakapan tentang Kommmers yang sudah meninggal dan bukunya “Nyai Painah.” Dengan sedikit ramah Minke menanyakan tujuan perjalanan selanjutnya. Pengamanann menjawab menuju Wonokromo.
Pengemanann seolah ingin meyakinkan dirinya bahwa Bumi Manusia bukan fantasi Minke. Ia sekaligus menjajagi lebih dalam batin Minke melalui tempat-tempat yang pernah menjadi bagian hidup Minke. Dalam perjalanann itu Pengemanann berceramah tentang perbedaan Surabaya dulu dan sekarang. Juga ketika ia sampai di bekas rumah Nyai Ontosoroh dan bekas plesiran di sebelahnya. Ia juga masih membangunan kenangan Minke atas Robert mellema pada saat melalui rerimbunan pepohonan.
Sampai pada sebuah daerah pertanian Minke meminta taksi berhenti. Ia memandangi kawasan itu dan mendapati tulisan Borderij Wonotjolo. Minke turun dan memeriksa tiang-tiang besi di sana. Ia bertanya pada sopir tentang borderij itu, tentang perkampungan di dalamnya, berapa lama berdiri, dan siapa yang punya. Ternyata yang punya seorang Madura. Minke meminta kembali ke Surabaya. Dalam perjalanann menuju Suabaya Minke menanyakan pada sopir siapa kira-kira orang Madura itu. Orang Madura itu adalah centeng seorang Nyai dulunya.
Sesampai di Surabaya Minke mengatakan kepada sopir agar menuju Kembang Jepun. Kembang Jepun yang dulu terkenal dengan daerah plesiran berkembang menjadi kawasan perdagangan. Minke meminta menghentikan kendaraan dan masuk pada sebuah perusahaan bernama MOLLUKEN, sebuah perusahaan perdagangan rempah-rempah Hindia. Di sana ia bertemu dengan Panji Darman. Keduanya bercakap-cakap dengan pengawasan Pengemanann dari jarak tujuh meter. Panji Darman menyesalkan tidak dapat menemukan istri Minke, “Princes van Kasiruta.” Sedangkan Minke menanyakan kabar istri dan anak-anak Panji Darman. Panji Darman mengalami kekandasan kehidupan keluarga.
Dalam perjalanan menuju Betawi Minke dipindahkan dalam kabin kelas satu oleh Panji Darman. Ia menempati satu kabin untuk dirinya sendiri. Tidak ada percakapan dalam perjalanan menuju Betawi itu, ia menolak menemui Pengemanann. Tiba di Betawi Minke hanya membawa kopor kaleng kecil, ketika ditanya Pengemanann apakah ada bawaan lain ia menjawab ada. Tetapi ketika mau diuruskan ia mengatakan, “ tak perlu semua sudah kubawa dalam kepalaku.”
Minke tidak tahu harta bendanya di Betawi telah dibekukan oleh Gubermen, tidak hanya itu saja. Selama pembuangan ia juga diftnah, pada syarikat dikabarkan bahwa penyerangan terhadap Tionghoa yang pernah terjadi dialah yang bertanggung jawab. Juga dikabarkan bahwa Minke terlibat kecurangan dengan bank oleh karena itu harta-bendanya disita. Semua itu jelas akan membuatnya kecewa, dan kekecewaannya pada Darman akan menjadi awal dari kekecewaan-kekecewaan berikutnya.
Dalam perjalanan menuju Betawi kota Pengemanann membangunkan ingatan Minke tentang kenangannya saat pertama kali Minke menuju Betawi. Pengemanann membutuhkan keramahan Minke untuk melaksanakan tugasnya berikutnya. Minke hanya mendengus, sampai kemudian mobil memasuki kantor besar polisi. Di kantor polisi Minke disediakan kopi susu dan cerutu, polisi yang menyambutnya berusaha ramah terhadap Minke. Sampai seperempat jam berikutnya Minke bertanya apalagi yang dikehendaki dari dirinya. Minke diminta menandatangani konsep yang telah disediakan, ia tidak mau, bahkan melihatnya pun tak mau. Pengemanann meminta Minke mempeelajari terlebih dahulu, dan Minke tetap bersikukuh tidak mau. Akhirnya Pengemanann membacakan konsep yang telah dibuatnya itu. Sebuah konsep yang perlu ditandangani Minke agar berjanji tidak lagi mencampuri politik dan organisasi.
Minke angkat bicara setelah mendengar konsep yang dibacakan itu seolah mengawali kuliah pada Pengemanann dan dua polisi yang menjadi saksi. “Maksudnya hanya gubermen saja yang boleh berpolitik dan berorganisasi?” kata Minke. Ketiga orang itu tidak menjawab dan terpukau. “tak boleh mencampuri politik dan organisasi, apa yang tuan-tuan maksudkan dengan politik? dan apa organisasi oranisasi? Dan apa tidak boleh mencampuri?,” katanya lagi. dan ketiga orang itu masih terpukau. Minke melanjutkan kuliah pada ketiga orang itu tentang politik dan organisasi. Hingga akhirnya ia menyimpulkan, “Semua orang berpautan dengan politik dan berjalan dengan organisasi. Selama ada yang diperintah dan memerintah, dikuasai dan menguasai, orang berpolitik. Selama orang ditengah-tengah masyarakatnya, betapapun kecilnya masyarakat itu, dia berorganisasi.” Minke merasa permintaan gubernur Jenderal tidak masuk akal, dan menghendaki bukti jika itu memang aturan dan hukum baru. Ketiga orang itu tidak berani menjawab dan mengatakan, “bukan kewajiban kami untuk menjawab.” Sementara itu Minke tersenyum penuh kemenangan. Setelah itu Minke berpamitan. Penegemanann tetap menghendaki Minke menandatangani pernyataan itu dan mengingatkan jika ia berubah pikiran pernyataan itu masih di simpan di kantor polisi. Minke tidak menjawab, hanya mengucapkan salam dan pergi. Seorang polisi segera mengerahkan anak buahnya setelah Minke pergi.

Hari-hari Terakhir Minke
Dari Sepnya Pengemanann mengetahui bahwa Gubernur Jenderal van Limburg Stirum berkenan dengan sikap Minke. Ia mengatakan setiap orang Eropa yang memiliki harga diri akan berlaku sama. Minke telah terdidik menjadi keras karena sikap Gubemen terhadapnya. Pengemanann hanya menggunakan beberapa jari-jarinya untuk meletakkan konsep itu diatas meja, sementara Minke telah mempersiapkan kekuatan untuk menolaknya. Gubernur Jenderal juga mengutuk penggunaan hak exorbitant sebagai tindakan imoril dan kini Gubermen akan tetap berpegangan pada keputusan Pengadilan.
Pengemanann merasa terancam atas sikap Gubermen yang semakin melunak kepada pribumi. Ia merasa akan kehilangan pekerjaannya sebagai tenaga ahli atas tindakan itu. Persekongkolannya dengan sindikat juga gagal. Sepnya tak acuh terhadap gagasan-gagasannya terkait sindikat. Ia bersiap meninggalkan Hindia untuk bermigrasi ke Amerika. Pengemanann tetap bekerja keras meskipun tak lagi ada tugas-tugas baru seperti dulu. Ia tetap mengikuti perjalanann Minke setelah meninggalkan kantor besar polisi.
Minke menuju Pasar Senen naik dokar. Ia turun, membelok ke sebuah gang dan berjalan cepat-cepat. Ia berjalan cepat keluar masuk gang agar terhindar dari pengamatan. Kemudian ia memasuki warung makan dan makan bersama kuli pasar. Minke kemudian menuju hotel Medan dan mencari Mas Kardi yang tidak ditemukannya. Hotel itu kini juga telah menjadi milik seorang keturunan Arab. Hotel Medan telah di ambil alih melalui pelelangan dan kini berganti nama menjadi Hotel Capitol.
Minke selanjutnya menuju Kwitang dan memandangi rumah yang pernah disewanya. Kemudian ia menyewa dokar menuju ke rumah kawannya, dokter Sindu Ragil. Ia hanya bertemu istri dokter dan perempuan itu mengatakan keluarga mereka sedang diperingatkan untuk tidak menerima tamu. Ia pergi ke toko keperluan sekolah dan kantor Medan, tetapi tidak menemukan nama itu. Ia hanya menemukan toko itu berubah menjadi toko bangunan. Ia melanjutkan perjalanan menuju stasiun gambir dan melanjutkan ke Buitenzorg.
Minke tiba di Buitenzorg pukul empat sore dan yang ditemui di bekas rumahnya adalah Pengemanann. Minke menolak masuk rumah itu dan meminta diri pergi. Minke tidak membawa banyak kekayaan di Betawi itu. Setelah mendapat surat pembebasan semua miliknya beserta simpanannya diberikan kepada pembantu rumah tangganya Marientje. Setelah dari Bogor, Minke menyewa taksi bersama empat orang lainnya menuju Bandung. Ia berhenti di jalan Braga bekas kantor redaksi Medan. Hanya ada buruh percetakan keluar-masuk, tidak ada yang dikenalnya. Jam sepuluh malam ia mendatangi bekas rumah Frischboten. Ia hanya mendapat sambutan salakan anjing herder. Pada papapn nama tertera rumah itu sudah bukan rumah Frischboten lagi.
Tiga hari kemudian dilaporkan ia naik kereta apai kelas tiga menuju Betawi. Di Bandung dan Sukabumi tidak menemukan apa yang dicarinya. Princess van Kasiruta telah kembali ke Maluku, tetapi tidak jelas tepatnya ada di pulau mana. Minke turun di Gambir. Ia sudah tak bisa menyewa delman lagi. selama beberapa minggu ia mengembara dari pasar ke pasar. Minke bertekad menghindari teman dan sahabat-sahabat lamanya. Kemudian ia ditampung di rumah seorang sahabat lamanya Goenawan. Goenawan telah dikucilkan syarikat islam setelah kekuasaan Mas Tjokro.
Kedua orang itu bertemu di Betawi Kotta. Ketika itu Minke sedang berjalan dan diikuti oleh Goenawan. Ketika ditanya tempat tinggal, Minke tidak menjawab dan ia juga tampak sakit. Goenawan mengajak ke rumahnya, setelah itu Pengemanann kehilangan jejak selama dua hari. Tidak sulit bagi Pengemanann menemukan kedua orang itu, bahkan ia juga berhasil menyadap percakapan Goenawan dengan teman-temannya terkait Minke. Mereka berdua pernah bercakap-cakap tentang Syarikat. Pendeknya Goenawan kecewa Minke meninggalkan syarikat. Meskipun begitu Minke tetap tidak menceritakan rahasianya meninggalkan syarikat, terkait penembakan yang dilakukan Princess. Goenawan juga memberitahukan tentang perkembangan syarikat. Dari percakapan-percakapan juga tersadap bahwa Minke tetap bersikeras akan menggugat Gubermen dan bank. Ia tetap pada keyakinannya bahwa hukum akan berpihak padanya.
Percakapan yang berhasil tersadap itu menimbulkan kegemparan dan Pengemanann diminta mempelajari semua berkas tentang Minke. Kejaksaan negeri Bandung memeriksa kembali berkas-berkas penyitaan atas perusahaan syarikat yang berada di bawah kekuasaan Minke. Pihak kepolisian sibuk mendata orang-orang yang pernah dekat dengan Minke dan kemungkinan orang-orang yang akan membantunya. Pengemanann juga menyempatkan pergi ke Bank untuk memeriksa kemungkinan-kemungkinan Minke sudah pergi ke sana lebih dulu. Tetapi Bank tidak mau menunjukkan apa-apa.
Kepolisian bertugas mencari bekas Administratur Medan, Koordnat Evertsen. Ia pulang ke Suriname dan diduga melakukan kecurangan pembukuan karena intimidasi de Zweep. Minke juga dihalangi kemungkinannnya dapat mengirim surat kepada Sahabat-sahabatnya di Eropa. Semua orang dari rumah Goenawan dikuntit, siapa tahu ada yang memasukkan surat ke dalam bis kantor pos. laporan berikutnya yang diterima Pengamannn, Minke menyatakan keinginannya mengirim surat dan telegram. Tetapi Goenawan kurang memahami hal itu, sementara Minke tidak memiliki uang sama sekali.
Kepulangan Minke ke Jawa tidak diketahui oleh pers. Ini juga berkat Pengemanann yang mengekang cukup ketat. Baha koran syarikat pun tidak mengetahui kedatangannya. Goenawan yang telah kecewa pada syarikat juga tidak memberitahukan kedatangan Minke itu pada penerbitan syarikat. Syarikat cabang Betawi tadinya sudah membentuk rapat khusus untuk membuat Minke agar dikenal masyarakat umum lagi. tetapi meraka difitnah oleh seorang Polisi dengan permintaan Pengamanann. Fitnah itu mengatakan ketika Minke tiba di Betawi ia langsung di bawa ke kantor polisi. Dan ia telah menandatangani surat perjanjian. Isi surat perjanjian ia tidak tahu, tetapi ia mengatakan mendengar percakapan bahwa Minke bersedia menjalankan perintah Gubermen dan memata-matai syarikat dari dalam.

Sakit Minke sudah parah, sahabatnya merasa perlu membawa ke dokter. Ada dokter di dekat rumah Goenawan, seorang dokter keturunan Jerman bernama Bernhard Meyersohn. Tetapi dokter itu diancam oleh seorang pemuda peranakan Eropa yang membawa cambuk. Pemuda itu memerintahkan dokter agar tidak memeriksa orang yang akan datang ke tempat praktiknya dan diminta mengatakan sakit diare saja. Tak berapa lama setelah itu berhenti sebuah dokar di halamannya. Tiga orang itu menggotong turun seorang sakit. Mereka langsung dipersilakan masuk oleh pemuda peranakan Eropa yang masih di sana. Dokter itu memeriksa dan pemuda itu membantunya. Pemuda itu mengatakan pasien itu sakit Disentri yang suda tidak tertolong lagi. dokter Myersohn tidak menjawab. Pemuda itu mengulangi kata-katanya dan meminta pada pengantar pasien untuk membawanya pulang saja. Tuan Raden Mas Minke yang sakit parah dibawa kembali pulang ke rumahnya oleh Goenawan dan meninggal dalam perawatannya. Hanya Goenawan seorang kenalannya yang mengiringkan pada peristirahatan terakhirnya. Lainnya adalah penggotong-penggotong upahan. Dari kejauhan Pengemanann, seorang pengagumnya menyaksikan itu. Ia lega tidak akan lagi berurusan dengan De Zweep atau lainnya. Minke telah pergi dengan kesepiannya.

Nyai ingin Bertemu Minke

            Kematian Minke tidak diketahui oleh surat kabar. Sejak dibuang ke Pulau Buru hingga meninggal ia seperti dilupakan. Tetapi kenyataan-kenyataan lain muncul, banyak orang telah melampaui jejak Minke. Seperti misalnya Marco Kartodikromo yang telah menerbitkan bukunya yang berjudul Student Hidjo. Marco telah kembali dari Eropa ke Hindia. Meskipun begitu Gubernur Jenderal berpesan agar tidak ada yang mengganggunya bila tidak terbukti pelanggarannya atas hukum. Gubernur kini tidak lagi mengambil tindakan-tindakan keras kepada Pribumi sebagai upaya menhindari kekacauan di Hindia. Marco kini tidak berbicara di depan umum dan bermain ketoprak. Ia kini giat menulis dan namanya tidak diumumkan. Marco merasa tidak memerlukan menghadap pimpinan syarikat, Mas Tjokro ketika mendarat di Surabaya. Ia langsung menuju Sala. Pemuda yang tidak mengetahui tentang Gurunya yang sudah meninggal itu telah masuk dalam rumah kaca Pengemanann lagi. Pengemanann yang paling tahu tentang Minke merasa dirinya lebih daripada Marco. Ia pernah menziarahi kuburan gurunya sebagai wujud penghormatan atas diri Minke yang berhasil memulai suatu perubahan di Hindia.

Keadaan di Hindia panas, banyak terjadi kekacauan dimana-mana. Kerusuhan ini dilakukan oleh orang-orang yang pernah mengenal hukum-hukum politik pada masa Idenburg. Gubernur jenderal menyelesaikan kondisi ini dengan jalan politik. Kerajaan Nederland berjanji memberikan pemerintahan sendiri pada hindia bila hindia dapat mempertahankan keamanan dan ketertiban umum selama pernag dunia selesai, dan akan menematkan perwakilan-perwakilan Organisasi dalam dewan-dewan yang ikut memerintah. Van Limburg Stirum juga memanggil organisasi-organisasi penting di Hindia baik pribumi maupun Eropa. Sementara itu Pengemanann tidak pernah lagi mendapatkan tugas dari sepnya dan merasa terancam jabatannya. Konsep pemerintahan sendiri belum jelas. Bukanlah hadiah dari Belanda, ini karena berasal dari gerakan mereka pada tahun-tahun yang lalu dan memuncak pada tahun-tahun terakhir dengan menghangatnya garis Semarang-Sala-Yogya.

Garis Semarang-Sala-Yogya tidak mereda dengan adanya janji pemerintahan sendiri. Seorang pemuda bernama Semaoen tampil didepan umum dan mengumumkan : “Janji kerajaan itu tak lain daripada kenyataan, bahwa posisi Hindia Belanda dalam keadaan lemah, maka organisasi-organisasi pribumi jangan sampai terperosok menyambut tangan kerajaan yang diulurkan.”Pengemanann merasa perlu menyokong pemuda ini melalu tangan-tangan tak tampaknya. Semaoen melampaui pendahulunya Mas Marco melalui garis S-S-Y.

Janji pemerintahan sendiri telah menjadi pembicaraan umum, sementara perang dunia tak juga padam. Sep pengemanann telah pergi ke Amerika untuk menjadi warga negara di sana. Dan suatu hari para pembesar kolonial mengantarkan delegasi Hindia yang akan berangkat ke Nederland. Hanya dua organisasi pribumi yang turut serta dalam delegasi itu Boedi Moelyo yang diwakili sekretaris umumnya Mas Sewoyo dan Syarikat Islam yang diwakili Abdoel Moeis. Delegasi yang dikirim memang bukan tokoh-tokoh yang timbul tenggelam selama ini, oleh karena itu bisa jadi timbul kekecewaan diantara para tokoh seperti Mas Tjokro, Tomo atau Marco. Juga Pengemanann sendiri tak habis-habis rasa kecewanya.

Ia merasa perlu mengunjungi makam Minke setelah mengantar kepergian para delegasi itu. Cor Oosterhof semakin memperkuat angkatan muda syarikat dalam garis S-Y. Pengemanann tidak lagi bergairah mendengar laporan-laporan dari Cor Oosterhof. Ia sudah tidak bergairah bekerja terlebih setelah kedatangan para delegasi Hindia dari Netherland. Pengemanann jatuh sakit lagi. dalam sakitnya tidak ada juga yang memperhatikannya, juga sep barunya. Keluarganya juga tak lagi mengirimi surat, kecuali Dede putrinya yang hanya memberitahukan tentang saudaranya yang putus kuliah. Hingga seminggu kemudian Pengemann sembuh dan kembali ke kantornya. Ia sudah siap menghadapi kenyataan bahwa dia tidak dibutuhkan lagi.

Penutup dari langkah politik van Limburg Stirum adala pembukaan volksraad pada 20 Mei 1918. Hanya delapan orang pribumi yang mendudukinya. Mas Sewoyo, Mas Tjokro dan Tjipto diangkat oleh Gubernur Jenderal, Abdoel Moeis, Radjiman dan Abdoel Rivai sebagai anggota terpiih dan dua lainnya adalah Bupati yang ditunjuk Gubermen. Organisasi yang tidak mendapatkan kursi semakin terangsang untuk merebut. Dengan ini gerakan dan kegiatan politik mendapatkan legalisasi.

Suatu hari sep Pengemanann yang baru datang ke Ruangannya. Sep itu mengutus Pengemanann pergi ke kantor konsul Perancis. Konsul Perancis itu menyebut-nyebut pengemanann yang ahli terkait pemimpn-pemimpin pribumi. Ia juga menyatakan berarti Pengemanann juga menguasai pemimpin pribumi yang bernama Raden Mas Minke. Pengemanann megap-megap mendengar itu. Tuan konsulat perancis menekan tombol, dan seorang membawakan minuman. Pengemanann juga diajak mendengarkan lagu-lagu Perancis melalui gromofon, lagu itu dinyanyikan oleh May Le Boucq. Pengemanann terbangun dari ingatannya tentang Jean Marais. Kemudian ingatannya melayang-layang pada keluarga itu, Maysaroh Marais, Rono Mellema, dan Madame Sanikem Marais alias Nyai Ontosoroh. Ingatan itu mau-tak mau membuat darah Pengemanann naik.

Kemudian tiba saat yang ditunggu-tunggu Pengemanann yang dianggapnya sebagai hukuman itu. Tuan konsul Perancis mengatakan May Le boucq yang dianggap berjasa pada Perancis dalam perang Dunia itu, meminta tuan konsul Perancis di Hindia untuk membantu ibunya mendapatkan keterangan terkait Raden Mas Minke. Madame Le Boucq alias Nyai Ontosoroh telah ada di Betawi, sudah pergi ke Buitenzorg dan Sukabumi, tetapi tidak mendapatkan keterangan apapun. Dan ia baru mendengar Minke telah pulang dari pembuangannya di Ambon.

Madame Le Boucq datang bersama putrinya Jeanine Le Boucq. Pengemanann kini berhadapan dengan ibu rohani Minke. Seorang yang selalu digambarkan Minke sebagai wanita yang berkepribadian kuat itu ada di hadapannya. Setelah memperkenalkan tuan konsul perancis segera memulai pokok persoalan. Madame Le Boucq menceritakan usahanya mencari Minke. Ia mendapat kabar Minke telah bebas dari surat kawat dari Surabaya yang dikirim Panji Darman. Ia kemudian menanyakan keberadaan Minke kiranya ahli Algemenee Secretarie itu juga tahu keberadanya. Dan wanita yang tampak lebih muda dari usianya itu menghadapi kenyataan anak rohaninya telah tiada.

Madame Le Boucq meminta diantarkan ke makam Minke. Tiga hari sebelumnya Pengemanann juga datang ke sana dan kini ia datang lagi. Nisan yang beberapa hari sebelumnya tercatat nama R.M Minke di ter hitam. Sebelumnya orang-orang Jamiatul Khair juga membuatkan nama pada nisan, nisan juga di ter hitam. Sanikem bergumam, “juga pada tempat terakhirmu kau tak dibiarkan damai.” Pengemanann merasa bersalah dengan kata-kata itu. Madame Le Boucq menyelidik kepada Pengemanann, dan Pengemanann malah menyatakan tiga hari sebelumnya ia mengunjungi makam Minke. Pengemanann harusnya sudah roboh di depan Nyai Ontosoroh, tetapi ia harus mengantarkannya pulang dulu. Sebelum Pengemanann berpamitan Nyai sempat berkata, “ Aku percaya Tuan tidak ikut campur dalam pengeteran itu, dan pastilah Tuan melakukan selebihnya.” Kata-kata itu semakin membuat Pengemanann merasa dihakimi.

Pengemanann pulan ke Buitenzorg menggunakan taksi. Ia hanya disambut pembantunya. Pengemanan meminta babu itu memanggilakan dokter. Ia meminta babunya mengambil bungkusan hijau, isinya adalah berkas-berkas Minke. Ia juga meminta diambilkan tinta. Pengemanann menyusun surat pendek untu babunya itu. Ia akan pergi ke Belanda dan menyerahkan semua hartanya pada pembantunya itu. Pengemanann menyerahkan surat itu kepada pembantunya, dan pembantunya menerima dengan terheran-heran. Pengemanann menulis tentang hari itu sebagai penutup rumah kaca nya. Ia menulis berjam-jam hingga subuh. Pembantunya setia menunggunya. Ia juga menulis surat yang akan diberikan pada Nyai Ontosoroh. Ia menyerahkan catatan Rumah Kaca dan menyatakan Nyai Ontosoroh lah hakim bagi Penegmanan. ia juga menyerahkan naskah RM. Minke. Sebagai penutup ia menulis, “Deposuit Potentes de sede et Exaltavat Humiles. (Dia Rendahan Mereka yang Berkuasa dan Naikkan mereka yang Terhina).”

Denpasar, 6 Juli 2013

Tepat Ulang tahun ibu, dan kami berjarak

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s