Romantisme Pulau Serangan

Sabtu Minggu lalu saya jalan-jalan ke Pulau Serangan bersama Milliyya seorang teman yang baru pindah dari Bandung. Sudah lama saya tidak mengunjungi pulau yang dulu terpisah dengan daratan pulau Bali itu. Dan sore itu saya meng-iyakan ajakan Milli karena kebetulan saya sedang tidak ada rencana kemana-mana.

Pukul 15.00 Wita kami berangkat dari Sanur. Tadinya kami akan membawa motor sendiri-sendiri, tetapi karena ngeri lihat Milli bawa motor sendiri akhirnya motor Milli ditinggalkan di sebuah rumah makan fastfood. Milli baru belajar motor, kalau tidak salah seminggu terakhir. Dan dalam blognya dia mengatakan jatuh bangun berkali-kali. Bukan hanya itu, beberapa barang-barang berharganya juga menjadi korban kenekatannya itu.

***
Sore itu matahari di Serangan masih tampak tinggi dan air laut tampak surut. kami yang rencananya hanya ambil foto-foto di sekitar bakau memutuskan mengunjungi daerah kampung nelayan. Melewati pintu masuk pulau Serangan kami dikenakan semacam pungutan, seribu rupiah untuk desa adat. Setelah itu kami menemukan jalan bercabang, jika ke kiri akan menuju kampung nelayan, jika ke kanan akan masuk area BTID (Bali Turtle Island Development). Sebuah perusahaan yang konon dimiliki keluarga Cendana. Dulu ketika tahun 2009 daerah itu masih terlarang untuk dikunjungi. Pulau Serangan kini luasnya sekitar 491 Ha, setelah di reklamasi seluas 379 Ha sekitar tahun 1997-1998. Rencananya daerah yang diurug itu akan dibangun proyek pengembangan dan fasilitas pariwisata.

Kami tiba di kampung nelayan, suasananya masih sepi. Perahu-perahu nelayan dan beberapa kapal yang cukup besar dari perahu nelayan bersandar. Milli yang mengagumi pemandangan itu katanya kapal-kapal di sana seperti di film the Pirates of Caribean.

Kami tidak berhenti lama di kampung nelayan yang ada di pinggir pantai, perjalanan kami lanjutkan ke penangkaran penyu. Terakhir kali saya mengunjungi pulau Serangan juga di kawasan ini, sekitar hampir dua tahun yang lalu. Waktu itu ulang tahun Akademika, kami mengadakan acara refleksi dan makan-makan di sana. Masih seperti yang dulu, kawasan ini sepi. Di sisi kanan pintu masuk ada area perkemahan yang kini menjadi sempit, karena pelataran parkir yang di paping diperluas.

Di sebelah utara ada tiga bangunan berjajar, Pendopo, rumah kecil, dan tempat untuk menjual souvenir. Di Pendopo kecil itu dulu acara kami berlangsung.

Seorang lelaki memakai kaos hijau muda menjadi pemandu kami di Penangkaran Penyu ini. Ia hanya mau dipanggil dengan nama Bli Made. Di Penangkaran itu hanya ada tiga jenis penyu, yaitu penyu Lekang, penyu hijau dan penyu Sisik. Dari ketiga jenis itu, penyu hijau yang sudah hampir punah. “Penyu hijau baru bertelur saat berumur 25 tahun,” kata Bli Made. Penyu di sana berasal dari berbagai macam daerah misalnya Kuta, Padangbai, atau dari Negara. “Di Padangbai dan Negara juga ada kawasan penangkaran Penyu,” kata Bli Made lagi. Tetapi telur-telur penyu biasanya ada yang ditipkan untuk ditetaskan di Serangan. Kini Bali sudah memiliki aturan untuk melindungi penyu ini, oleh karena itu nelayan yang mendapat penyu harus diserahkan ke penangkaran. Telur penyu yang akan menetas setelah ditimbun dalam pasir selama kurang lebih lima puluh hari.

ini senja di Pulau Serangan gambar diambil dari FB nya Milli

The Old Man and The Sea

Setelah mengunjungi penangkaran Penyu kami bermaksud mengunjungi kampung Bugis, sebuah kampung Nelayan yang mayoritas dihuni oleh suku Bugis dari Sulawesi. Tetapi kami memutuskan untuk mampir ke pantai dulu. Pantai itu tenang, di sana juga ada beberapa jukung nelayan. Ada pengunjung yang membawa tikar untuk bermalas-malasan di pinggir pantai, beberapa pasangan yang tampaknya sedang pacaran, ada beberapa orang yang sedang memancing, kendaraan roda dua yang lalu lalang dan seorang pedagang bakso. Kami memutuskan untuk berhenti di dekat pedagang bakso.

Pedagang bakso itu tidak sendiri, ia bersama seorang pembeli, seorang bapak-bapak yang umurnya sekitar setengah abad. Bapak itu bernama pak Ketut, ia mengaku seorang pengusaha batako yang memiliki bisnis penyewaan kos dan hotel.
Milli lebih banyak bicara ketimbang saya, ia mengobrol lebih banyak dengan bapak berkaos hijau lengan panjang itu. Pak Ketut juga tipe orang yang supel, sebagai orang yang bisa dikatakan tidak muda lagi tetapi percakapan kami nyambung. Kadang-kadang pak Ketut menyelingi percakapan dengan sedikit melucu. Ia berbicara banyak terutama terkait pekerjaan. Ketut mengaku dulu karyawan di sebuah hotel sebagai front office atau receptionist gitu (hehe, ingatan lemah). Kini ia sudah memiliki beberapa usaha, dan ia mengaku lebih enak memiliki usaha sendiri. Satu hal yang paling kuingat dari bapak yang memiliki hobi mencari ikan ini adalah kurang lebih seperti ini-(entah dia tidak mengaku nelayan)- “kalau kita pernah tahu rasanya bekerja pada orang lain kemudian bisa memiliki usaha sendiri, kita bisa memberikan yang terbaik untuk orang yang bekerja dengan kita, agar ia merasa lebih dihargai dan bekerja lebih baik.” Hee, seolah seperti mulia sekali kan, tapi kenyataan pasti tidak bisa seperti itu, pemilik modal tetaplah pemilik modal yang bisa berbuat apa saja bukan demi keuntungan sebanyak-banyaknya?

Dalam perjalanan yang tidak kita duga-duga seringkali seseorang akan menemukan orang tua yang memiliki banyak petuah seperti pak Ketut ini. Meniru sebutan yang diberikan oleh seorang penulis perjalanan, aku juga menyebut cerita sore itu bertajuk the old man and the sea.

Jejak Peradaban Bugis di Bali

Fotonya Milli juga

Senja hampir berlalu, kami memasuki gang kecil menuju kampung Bugis. Suasana sepi, tiga orang ibu-ibu sedang bercengkerama di depan rumahnya. Kami mencari suara-suara adzan untuk memastikan bahwa benar itu kampung Bugis. Akhirnya kami tiba di sebuah bangunan tempat ibadah, Masjid, tepat saat adzan Maghrib baru di kumandangkan. Masjid itu tak tampak seperti bangunan tua, dinding dan lantainya berlapis keramik. Di seberang Masjid itu ada sebuah bangunan, seperti sebuah rumah adat dan dibawahnya ada makam yang diberi nisan hijau. Kami mengambil foto-foto ketika beberapa ibu dan anak-anak kecil berlalu lalang di jalan kecil itu.

Seorang lelaki berkopiah dan memakai baju koko warna hijau sedang menikmati kue di depan warung yang ada di samping masjid. Kami menuju tempat duduk laki-laki itu. Ia mengaku bernama Burhanuddin, ia seorang Bugis. Umurnya kira-kira paruh baya. Ketika Milly menanyakan tentang apakah umat islam di Serangan adalah cikal bakal islam pertama di Bali? Bapak ini agak jutek. Tetapi lama kelamaan percakapannya dengan Milly menjadi mengalir.

Aku hanya mendengarkan kedua orang ini berbincang sambil memperhatikan orang berlalu-lalang menuju masjid dan sesekali memandangi rumah adat yang tampak bagian atasnya. Burhan menjelaskan kepada Milly tentang islam yang pertama itu dari jawa. “Tetapi jika dikatakan orang Bugis di Serangan, orang bugis yang pertama di Bali itu benar,” Burhan menjelaskan. Burhan mengaku orang Bugis datang ke Bali pada abad ke 17, aku lupa tentang untuk apa mereka datang ke Bali. Yang jelas akhirnya mereka mendapat suaka dari kerajaan Mengwi Badung dan diberi tempat di Serangan.

Percakapan sore itu sebenarnya menarik, tetapi sayang saya tidak memiliki alat perekam, ponsel saya mati sejak tiba di pulau Serangan. Waktu kami ke sana juga kurang tepat, terlalu sore, orang-orang sudah sibuk dengan aktivitas sendiri-sendiri. Tidak banyak yang bisa kami ajak berbincang. Dalam percakapan itu Burhan seperti hendak ingin menyampaikan keberagaman, tentang kedekatan islam-hindu dan Bali-Bugis. Ia juga menyampaikan tentang pengaruh rezim Soeharto untuk pulau Serangan, tentang tanah-tanah yang harus dijual. Tentang matapencaharian penduduk Serangan atau komunitas Bugis yang tak lagi sekadar menjadi Nelayan saja, tetapi juga banyak yang sudah beralih ke sektor pariwisata. Tentang orang-orang Bugis yang merantau ke daerah Buleleng atau Tuban, karena dulu perekonomian di Serangan tidak menjanjikan, “Kampung Bugis kini tidak banyak dihuni orang asli bugis atau keturunan lagi, ada orang dari jawa, Bandung…,” Burhan menjelaskan pada Milly. Kampung Bugis kini dihuni sekitar 85 KK.

Adzan Maghrib selesai, seorang ibu yang sedang sibuk di warungnya seperti mengingatkan pak Burhan untuk segera menunaikan ibadah maghrib. Burhan menyudahi percakapan, dan Milly terpaksa puas dengan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab. Kami pulang, perahu nelayan telah banyak yang bersandar. “entah ya, perahu-perahu itu tampak romantis,” kata Milly.

Denpasar, 18 Mei 2013
Tulisan yang akhirnya selesai setelah berlama-lama tersimpan di draft

PS: romantisme tidak melulu soal-soal romantis cinta-cinta, tapi lebih berbicara tentang keindahan, sesuatu yang menyenangkan, petualangan, ahh itulahh.

Advertisements

2 thoughts on “Romantisme Pulau Serangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s