Organisasi Modern, sebuah Permulaan

“ berorganisasi sebagai permulaan, belajar berorganisasi secara modern, melalui praktek langsung.”

Tulisan mengaji tetralogi #7 ini dimulai dari bab lima hingga bab delapan. Ini adalah tulisan yang melalui perjuangan panjang. Setelah menghindari draft selama bermingu-minggu dengan perasaan yang diliputi kekesalan. Ditengah aktivitas harian yang membunuh kreativitas, disertai bumbu-bumbu puncak kebosanan. Ditambah dengan kesibukan Onyi yang membuat irihati, menjadi alasan yang dibenarkan untuk menunda tulisan ini hingga hampir sebulan. Akhirnya selesai juga.

Van Heutz naik Tahta Gubernur Jenderal Hindia

Mei dan Minke kembali ke Betawi dengan Mei yang sudah tidak tampak pucat lagi. Setelah menjadi istri Minke, Mei tidak mendapat kesulitan lagi soal aturan tinggal. Mei tetap tinggal di rumah ibu Badrun, sementara Minke di asrama. Setiap sore sepulang dari kantor koran lelang Minke menemui Mei. Aktivitas Mei tidak hanya belajar bahasa Melayu, pada pagi hari ia memberikan les privat bahasa Inggris dan Mandarin. Setiap Minke mampir di sore hari, Mei sedang membaca buku dengan tulisan kanji.

Setiap bertemu mereka saling bertukar cerita tentang hari-hari yang mereka lewati atau sesuatu yang habis dipelajari Mei. Minke menggali lebih banyak cerita tentang Tiongkok dari Mei, meskipun ia tidak pernah menemukan benang merah hubungan antara Mei dengan apa yang diceritakan padanya. Minke hanya menghubung-hubungkan dan menyimpulkan sendiri cerita yang ia dengar dari istrinya. Semua yang Mei ceritakan selalu hal-hal yang besar dan penting di mata Minke, berhubungan dengan negeri asal Mei yang sedang bergejolak. Minke sering segan untuk menceritakan apa yang dibaca dan dipelajarinya untuk mengimbangi cerita-cerita Mei. Suatu kali Minke bercerita tentang Diwan, seorang tahanan yang menderit Siphilis, Gonorhae, dan satyriasis. Sebagai seorang calon dokter seperti menurut Minke penting membahas hal ini, karena Minke harus belajar tentang penyakit ini untuk ujian symptomatologi pada kenaikan tingkat. Tetapi Mei berpendapat lebih penting mendengarkan cerita tentang manusia yang waras. Ragangan kehidupan seperti yang dikatakan gadis Jepara menurut Mei lebih penting daripada seorang yang sakit secara fisik. “Suamiku akan lebih daripada hanya menyembuhkan badan yang sakit, karena dia juga menyembuhkan ragangan kehidupan yang bobrok,” kata Mei suatu kali.

Masa-masa pengantin baru Mei dan Minke ini juga ditandai dengan diangkatnya gubernur jenderal Hindia yang baru, van Heutz, mantan Jenderal perang Aceh yang menduduki kekuasaan kedua di Hindia itu. Algemenee Secretarie memberikan undangan kepada Minke untuk hadir dalam pesta perkenalan dengan gubernur baru itu. Surat undangan itu membuat orang-orang di sekitar Minke heran dan menjadi lebih hormat. Dalam pertemuan itu Minke bertemu dengan ayahandanya. Ayahandanya juga memandang Minke lain karena undangan itu, ia lebih ramah dan tidak bertindak seperti penguasa sebagaimana biasanya. Selama perjalanan pulang ayahanda Minke juga menanyakan banyak hal kepada mei, dengan Minke sebagai penterjemahnya. Keesokan harinya, ayah Minke berkunjung ke rumah ibu Badrun dengan berpakaian preman. Pada saat itu Minke juga tidak harus menyembah-nyembah seperti biasanya, ayah Minke duduk sama tinggi bersama Putra dan menantunya.

Pada kepemimpinan Gubernur Jenderal baru itu gejolak mulai muncul, terutama di negeri Kantong yang tidak dibawah kekuasaan Hindia langsung. Banyak perubahan yang terjadi dalam kekuasaan baru ini. Ada desas-desus mengenai negeri Kantong yang akan di luluh lantahkan dengan senjata, karena van Heutz bekas serdadu sehingga diramalkan yang ada hanya perang. Ternyata tidak terjadi perang satupun. Sejak awal yang ada malah kampanye-kampanye politik ethiek, seperti yang terjadi di Bali, perempuan di Bali tidak ada lagi yang boleh membakar diri mengikuti mendiang suami atau hal-hal yang berkaitan dengan pemberantasan perbudakan.

Atau kabar angin lain yang menyebutkan tentang peperangan dengan negara lain, karena ancaman Jepang dan Rusia terhadap Belanda yang memperebutkan stasiun batubara di Sabang. Menurut analisis itu yang membuat van heutz tidak langsung menembak negeri-negeri kantong sebelum perang meletus. Tetapi yang muncul malah politik etis Emigrasi. Van Heutz menjanjikan kepada para Emigran: menjamin pengangkutan, peralatan kerja, peralatan dapur, dan bahan makanan selama 6 bulan. Tebusannya boleh dicicil, setia pada peradaban manusia. Meskipun begitu hanya sedikit petani jawa yang melakukan Emigrasi ini. Dalam surat Ter Haar kepada Minke, ini semua menurut Ter Haar berhubungan dengan kepentingan gula. Gula perlu tanah, oleh karena itu dengan emigrasi akan banyak pembukaan lahan. Krisis antara Jepang dan Rusia terjadi, armada Rusia luluh lantah di Selat Tsushima. Sekutu penyokong kedua belah pihak tak jadi bertarung. Dan ternyata stasiun batubara Sabang tetap aman.

Cikal Bakal Organisasi Modern

Suatu hari di sekolah Minke hadir seorang alumni sekolah dokter pribumi yang akan memberikan kuliah umum. Kuliah ini boleh diikuti oleh orang di luar sekolah dokter, oleh karena itu Minke mengajak Mei. Kuliah umum bertema “Satu Demonstrasi demokrasi” dibawakan oleh seorang dokter jawa. Mengawali kuliahnya dokter ini memberi pembuka tentang kemajuan ilmu kedokteran saat ini jauh dibanding ketika ia masih sekolah. Ia juga memuji para siswa saat ini lebih gagah, berseri, ganteng dan menarik.

Telah lebih tiga puluh tahun ia menjadi dokter, dan selama ini ia sering merenung tentang apa yang telah dilakukannya selama ini, “apa yang telah kau berikan pada kehidupan ini hei, kau manusia terpelajar? Obat untuk si Sakit saja, ataukah juga obat untuk kehidupan yang sakit?” dokter jawa ini mengangap calon dokter ini sebagai orang terpelajar, golongan yang lebih beruntung karena mendapat lebih banyak ilmu dan pengetahuan daripada sebangsanya. Dokter jawa ini lalu menjelaskan tentang timbulnya kesadaran berbangsa. Ia juga menyebut-nyebut bangsa dari utara yang kini telah mendapatkan kehormatan dan pengakuan yang sama tinggi dari bangsa-bangsa lain. Penduduk golongan Tionghoa juga sudah mulai mendirikan organisasi modern Tiong Hoa Hwee Koan. Lebih lanjut dokter jawa ini menjelaskan tentang organisasi modern yaitu organisasi yang diatur dengan aturan demokratis, mendapat pengakuan dari kekuasaan yang berlaku dan berbadan hukum. Ia melanjutkan mengenai perbandingan Jepang, Tionghoa, Arab dan Hindia terkait organisasi modern ini, bangsa Arab juga telah memilikinya, Sumatra Batavia Alkhairah. Orang tua ini masih terus melanjutkan kuliah umumnya dengan menyampaikan pengalaman-pengalamannya sebagai dokter selama tiga puluh tahun ini ternyata tidak banyak yang ia lakukan. Selama ini yang ia obati jarang yang memang memiliki kesadaran pribadi untuk berobat lebih banyak karena kecelakaan atau karena gubermen memerintahkan untuk mengangkut. “ Memang seorang dokter adalah pekerja sosial. sayang sekali kalau hanya begitu-begitu saja, pengabdiannya tidak memberikan tambahan nilai bagi bangsanya. Bangsa ini tetap tidur dalam impian kacau tapi indah,” dokter jawa itu menambahkan. Akhirnya si dokter jawa mengambil semua simpanan selama menjadi dokter di Bank untuk meakukan perjalanan ke seluruh jawa untuk bertemu dengan pembesar-pembesar pribumi terkemuka dan mengajaknya mendirikan organisasi untuk membangkitkan bangsanya.

Pada sesi tanya jawab Minke bertanya tentang bagaimana sebaiknya organisasi di Hindia. Sebenarnya pertanyaan itu dari Ang San Mei yang disampaikan oleh Minke. Dokter jawa menjelaskan tentang organisasi di Jepang yang diawali dengan masuknya Laksmana Perry secara paksa ke Bandar Yokohama dan organisasi awal mula organisasi Tionghoa, meskipun terkait organisasi Tionghoa ini ia tidak terlalu mengerti. Yang jelas mereka mengirim banyak utusan ke seluruh dunia, baik melalui jalan sah atau gelap. Dokter itu juga menjelaskan tentang pemuda Tionghoa di Surabaya sebagai salah satu utusan semacam itu. Dan Tiong Hoa Hwee Koan salah satu kemenangan daripada utusan ini. Minke bertanya lagi tentang gerakan yang dilakukan oleh pribumi seperti Dewi Sartika dan Kartini. Menurut dokter ini, perjuangan mereka hanyalah perjuangan individu-individu yang hanya disokong oleh sanak famili, sehingga tidak memberikan pengaruh yang besar. Dan terakhir pensiunan dokter jawa ini mangatakan, “ berorganisasi sebagai permulaan, belajar berorganisasi secara modern, melalui praktek langsung.”

Mei Aktif dalam Pergerakan Organisasi

Minke baru saja mendapatkan kuliah tentang perkembangan terbaru siphylis. Dari perkembangan itu berarti treponema pallidium penyebab siphilys dapat dibedakan dengan gonococcus gonorrhea. Penyakit ini pernah menjadi wabah di Eropa, yang diduga dibawa oleh awak kapal Colombus. Pada suatu sore seperti biasa Minke dan Mei sedang duduk-duduk di rumah ibu Badrun. Minke menceritakan apa yang telah didapatnya di sekolah hari itu, tentang perkembangan terbaru siphylis yang ditemukan oleh Fritz Schaudinn dan Eric Hoffman dan juga tentang Diwan. Mei tampaknya tidak terlalu tertarik dengan cerita itu, dan menunggu cerita yang lebih menarik. Mei mengatakan baru saja membaca koran Tionghoa ketika memberikan les siang harinya. Perang telah meletus di utara dan Rusia mengirimkan balatentara dalam gerbong-gerbong kereta api melalui Siberia menuju Mantsuria. Non-Eropa telah dihancurkan menjadi jajahan Eropa, sampai pulau-pulau terkecil di tengah-tengah Samudra. Dan Rusia merasa ketinggalan.

Berita tentang Rusia yang akan ikut berperan dalam perang dunia itu pasti akan turut membuat Jepang mengangkat senjata. Jepang sudah mulai membuat pelayaran menjelajahi sepruh lingkar dunia. Melalui Selat Malaka menuju Wladiwostok. Pendek kata Jepang juga akan mengambil peran turut menjajah bangsa lain. Di Hindia, nama Jepang sudah mulai dikumandangkan dan orang-orang Jepang di Betawi mengibarkan bendera Hinomaru. Sementara itu Minke mengatakan belum mendengar berita tentang itu, dan ia baru membaca seperti yang dikatakan Mei seminggu berikutnya. Sejak saat itu orang-orang mulai membicarakan Jepang yang akan melawan Rusia. Di sekolah Minke orang-orang juga mulai bertukar pikiran tentang itu. Dan suatu sore saat Minke sudah cukup mengetahui mengenai persoalan Jepang dan Rusia ini ia menyampaikan tentang jalannya pertempuran laut di perairan Tsushima. Tentang Marinir-marinir tua dan admiral-admiral tua yang telah bersumpah untuk menang atau mati untuk kaisar. Pertempuran ini telah mendapat restu dari kaisar Jepang sendiri. Mei terlihat senang mendengarkan cerita itu, tetapi tidak menanggapi. Bagi Mei tidak ada yang perlu dikagumi dari keberanian Jepang mengambil peran dalam perang dunia ini. Baginya perang ini baik menang atau kalah bukan kemenangan atau kekalahan kemanusiaan. Mei menceritakan tentang imperialisme inggris sejak ditemukannya mesin uap oleh James Watt hingga bangsa-bangsa kulit berwarna kemudian menjadi perahan modal untuk Inggris. Mei mengandaikan Jepang dan Rusia sebagai treponema pallidum dan gonococcus yang akan membuat dunia sebagai tubuh Diwan. Sementara Minke mengagumi Jepang sebagai bangsa yang berani menghadapi Eropa dan kebesarannya. Mei memiliki pendapat yang lain, bagi Mei Jepang maupun negeri-negeri Eropa sama saja bagaikan kuman mereka sama-sama hendak memakan sesuatu yang lebih besar. “Itu sama sekali tidak terlihat sebagaimana suatu kemanusiaan. Semestinya jika itu hal kemanusiaan, manusia akan memakan sesuatu yang lebih kecil dari mulutnya,” kata Mei.

Mei dan Minke memiliki titik pandang yang berbeda mengenai Jepang dan Rusia ini, dan Minke cukup mengerti dengan Mei. Karena jika Jepang menang melawan Rusia dan menelan Mantsuria, Tiongkok yang akan lebih dahulu menjadi kurbannya. Bahkan di negeri Hindia tau negara Asia yang belum dijajah Eropa akan menjadi jajahan Jepang.

Percakapan dengan Mei belum selesai, tetapi Minke mendapat panggilan dari Algemeene Secretarie untuk menemui Gubernur Jenderal Van Heutsz. Dari pertemuan itu van Heutsz bertanya tentang apa pendapat pribumi dalam menangapi kemenangan Jepang dan apa yang diharapkan pribumi dari kemajuan yang seperti ini. Van Heutz tidak meminta Minke langsung menjawab, tetapi meminta jawaban melalui artikel yang akan dipublikasikan dalam surat kabar. Dalam pertemuan itu Minke mendapat hadiah buku-buku Multatuli dari van Heutsz. Minke langsung ke Kwitang, ke rumah ibu Badrun untuk membicarakan pertemuan itu dengan Mei, nyatanya Mei tidak di rumah. Dan sejak saat itu Mei mulai keluar malam untuk menjalankan misi dengan anggota muda Tionghoa seperti koh Ah Soew dulu. Minke cemburu, Mei lebih banyak menghabiskan waktu untuk perjuangan negeri dan bangsanya melalui pergerakan organisasinya. Suatu pagi Minke mengatakan ingin membicarakan tentang kemungkinan kemenangan Jepang. Mei merasa hal itu tidak perlu malahan ia mengatakan sesuatu yang bernada perpisahan karena perbedaan pemahaman itu.

Di sekolah berita tentang panggilan Algemeene Secretarie menjadi bahan pembicaraan, direktur sekolah memanggil Minke terkait hal itu. Tuan direktur sangat bersemangat mendengar berita itu dan bersedia membantu menyediakan bahan-bahan penulisan. Tuan direktur bersedia menyediakan jawaban-jawaban yang dikehendaki van Heutsz melalui para siswa nya secara tertulis. Suatu siang selepas mengerjakan adpertensi Minke langsung ke Kwitang menemui Mei, di rumah rupanya Mei sedang sibuk membuat tulisan dan memperbanyaknya. Minke meminta Mei mengerjakan pekerjaannya segera dan Mei menjawab ketus, “ sudah aku jawab kemarin : bekerja! Sudah lama aku desak-desak kau sesuai dengan seruan dokter Jawa tua itu. Kau dan kalian belum juga mau berorganisasi.” Pergerakan Mei dan Minke memang berbeda meskipun mereka sama-sama sedang berjuang untuk bangsanya, Minke menyebar pertanyaan tentang pendapat pribumi tentang Jepang hanya pada kalangan terbatas dan mendapat jawaban tertulis. Sedangkan Mei menulis tentang hal tersebut lalu memperbanyak dan membagikan pada umum sehingga akan banyak pendapat lisan maupun tertulis yang menjadi pendapat umum. Karena Mei berpendapat surat kabar bukan milik semua orang. Dan menurut Mei itu hanya bisa dilakukan dengan Organisasi. Setelah menentang setiap jawaban Minke, Mei pergi lagi.

Minke sebenarnya juga tak dapat bergantung terlalu banyak dengan jawaban siswa dokter yang akan diterimanya keesokan harinya. Bagi Minke mereka yang di sekolah dokter itu hanya bercita-cita menjadi pejabat negeri, yang tentunya hanya akan menunggu datangnya gaji. Pemikiran mereka tak dapat diharapkan. Minke belum juga dapat mengerjakan tulisannya, konsentrasinya terbagi. Bahkan juga dibumbui dengan cemburu dengan sikap Mei. Suatu malam Mei pulang jam dua belas malam saat Minke sedang mengerjakan tulisannya. Hari itu diakhiri dengan makan pada tengah malam dan pertanyaan mengenai perasaan Mei mengenai sikapnya itu. Dan mei mengakhiri dengan kalimat pembenaran atas apa yang dilakukannya.

Keesokan harinya Minke masih menjalankan aktivitas hariannya, mengerjakan teks adpertensi sepulang sekolah dan pulang menuju Kwitang. Di jalan menuju rumah ibu Badrun, Minke bertemu Mei. Mereka masuk rumah bersama dan makan bersama dalam diam. Dalam makan malam itu mei berpesan agar Minke tak cemburu lagi dengan apa yang dilakukannya, “ aku harap kau tidak akan mencemburui aku lagi.”

Malam berikutnya Minke baru bisa berkonsentrasi mengerjakan tulisannya. Hanya beberapa tulisan yang sedikit menarik bagi Minke, pendapat Wardi dan Tjipto, meskipun Minke menganggap masih pendapat yang bersifat pribadi. Tetapi semua tidak ada yang dapat dipergunakan oleh Minke. Sepulang dari kantor koran lelang tempat bekerjanya Minke bertemu Mei dalam perjalanan pulang. Ia mengikuti Mei yang bersama dengan temannya makan di suatu ruamah makan. Setelah itu Mei pergi dengan delman menuju Kotta, Minke tidak bisa mengikutinya. Dengan hampa Minke pulang ke Kwitang untuk menyelesaikan tulisan untuk van Heutsz yang akan dikirim paginya. Keesokan paginya ia tak menemukan Mei. Mei tidak pulang malam itu. Sejak saat itu Minke tidak datang ke Kwitang lagi hingga hampir setahun. Jika ingin bertemu, Mei yang datang ke kantor koran lelang.

Mei mulai kelihatan pucat dan tubuhnya menjadi kurus, meskipun begitu ia masih tetap melakukan aktivitas pergerakannya. Minke telah memperingatkan Mei beberapa kali agar tidak banyak keluar rumah. Terakhir kali menemui Minke, mata Mei sudah mulai kelihatan menguning dan Minke menyarankan untuk pergi ke dokter. Sampai seminggu lebih Mei tidak pernah datang lagi, dan Minke merasa harus pergi ke Kwitang untuk menengok keadan Mei. Penyakit Mei sudah parah, kulitnya menguning dan gejala busung telah mulai tampak. Mei menderita Ascites hati. Ilmu kedokteran yang dipelajari Minke saat itu belum mampu menyembuhkan penyakit Mei. Minke terus membujuk Mei untuk pergi ke dokter, tetapi ia bersikeras hanya ingin disembuhkan oleh Minke, suaminya sendiri. Lalu Minke membuatkan resep untuk ditukarkan di apotek, ia meminta tolong anak ibu Badrun untuk menebusnya. Tetapi yang terjadi Minke ditahan karena belum waktunya dapat menuliskan resep. Minke mendapat pelayanan yang lebih sopan dalam tahanan tersebut sebagai siswa sekolah dokter, keesokan paginya direktur sekolah Minke menjemput dan meminta Minke menceritakan apa yang terjadi. Setelah tahu yang terjadi tuan direktur mengijinkan Minke meninggalkan peajaran sementara merawat Mei.

Selama dua bulan Mei dirawat di Rumah Sakit, penyedotan cairan arcites dari perutnya menyebabkan infeksi. Keadaannya semakin lemah dan berbicaranya mulai lambat. Penyakit Mei juga bertambah uremi dan mulai tidak boleh mendapatkan protein, hanya glukosa. Ia terus berpesan agar Minke benar-benar menjadi dokter. “Katakan padaku, suamiku, benar-benar kau akan menjadi dokter,” itu terus diucapkan Mei setiap bertemu. Bukan dokter biasa, Mei tidak hanya ingin Minke hanya menjadi dokter yang hanya menyembuhkan fisiknya yang sakit, “Ampuni aku telah menyusahkan kau seperti ini. Suamiku, berjanjilah kau akan menjadi dokter untuk sebangsamu yang melarat dalam kehinaanya. Sembuhkan badannya, sehatkan jiwanya, tegakkan ragangan kehidupannya, bangkitkan mereka.” Selama menjaga Mei di rumah sakit pelajaran Minke tercecer terutama praktikum. Dan Mei meninggal tanpa meninggalkan kata.

Minke tidak dapat mengejar ketertinggalannya lagi di sekolah dokter. Ia dipecat dari sekolah dokter dan harus mengganti biaya pelajaran dan asrama sebesar dua ribu sembilan ratus tujuh puluh gulden. Minke bersedia melunasi ganti rugi itu selama tiga bulan. Pada Minggu kedua setelah meninggalnya Mei, bunda datang ke Betawi. Bunda sangat prihatin terhadap keadaan Minke, dan mendesak agar Minke pulang. Pada saat bunda masih di Betawi ia mengirim telegram ke Wonocolo, memberitahukan bahwa ia telah dikeluarkan dari sekolah dokter dan mengalami kesulitan keuangan. Nyai Ontosoroh mengirim wesel sebanyak 3500 gulden setelah menerima telegram itu, dan Minke menggunakannya untuk membayar hutang di kantor perbendaharaan negeri. Ia segera menemui tuan direktur untuk memperlihatkan surat tanda lunas. Ketika tuan direktur menanyakan akan menjadi apa setelah kegagalan ini? Minke menjawab “Hanya jadi manusia bebas, Tuan. Pemecatan ini akan aku anggap sebagai karunia.”

Minke menyewa rumah dekat sekolah, ia meletakkan lukisan annelies di ruang tamu dan lukisan Mei di kamar. Lukisan bunga akhir abad dikagumi tiada habisnya oleh tuan Kaarsen, dari koran lelang. Tuan Kaarsen menawarkan posisi menjadi orang kedua dalam koran lelang. Tanpa memiliki saham Minke mendapatkan gaji tetap sebesar tujuh puluh lima gulden. Setelah tuan Kaarsen pergi Minke memandangi gambar Ang San Mei, dan merenungi tentang percakapan-percakapan mereka. Tentang pekerjaan baru di koran lelang, mendapatkan pengetahuan baru tentang persekongkolan kaum pemodal dengan para pejabat. Minke juga mengingat pengalaman-pengalamannya. Bertemu dengan orang-orang yang mempengaruhi pola kehidupan. Tentang Ter Haar dengan segaa kursus, keterangan, ajaran dan harapan. Kutukan perang aceh oleh Marie van Zeggelen. Tentang kerakusan gula dan kebiadaban administratur-administraturnya. Perlawanan petani jawa. Petani batak Karo yang ditumpas demi tembakau dan karet. Berita-berita di sumatra post tentang kerakusan pengusaha-pengusaha perkebunan eropa yang tak henti-hentinya mencari tanah-tanah subur di Sumatra Timur. Pejabat negeri dan penindasaanya terhadap bangsanya sendiri. Lalu Minke seakan tersentak dari lamunan, ia teringat surat terakhir Ter Haar mengenai van Heutz. “akan kupelajari kembali semua ini, Mei!” sekan Minke telah mendapatkan gairah hidupnya kkembali.

Kelahiran Syarikat Priyayi

Minke kembali mempelajari catatan hariannya, surat-surat yang dikirim oleh para sahabatnya dan catatan pada koran yang diikutinya. Surat yang menurutnya menarik dari Ter Haar. Surat itu dikirim sejak usai pertemuan dengan Dewa Kaum Liberal. Ter Haar menceritakan sejak kepulangan dari pertemuan itu ia mengikuti van Kollewijn hingga Semarang karena tidak diperkenankan mengikuti hingga ke Jepara untuk menemui gadis Jepara yang menjadi rebutan banyak kalangan. Ter Haar juga menanyakan pada Minke tentang persinggungannya dengan kelompok Liberal sejak pertemuan itu. Ia menyayangkan sampai saat ini belum ada koran liberal di bumi Hindia, bahkan de locomotif pun belum mampu melawan serikat dagang pengusaha pabrik gula ataupun perusahaan-perusahaan pertanian. Ia juga menceritakan tentang perkumpulan sosial peranakan Eropa- terbesar dan paling berhasil di Hindia. Perkumpulan peranakan Eropa yang miskin itu saling membantu diri bersama kerja produksi dan niaga, tidak mengandalkan jabatan gubermen. Surat berikutnya berisi tentang pengangkatan van Heutz yang menurut Ter Haar tampak seperti mendapat dukungan dari kelompok Liberal. Dan ini terjadi karena ada persekutuan dengan Vrijzinnig Demokratische Partij. Ia juga menuliskan tentang kekhawatiran terjadinya perang di negeri kantong setelah selesainya perang Aceh. Ter Haar mengabarkan tentang berita yang ia dengar tentang Bali, menurutnya larangan pembakaran janda hanyalah propaganda kemanusiaan untuk Eropa. Sedangkan tertawannya kapal Sri Kumala di Sanur dan permintaan ganti rugi juga merupakan akal-akalan militer Belanda untuk mulai peperangan menaklukkan Bali. Menurut Ter Haar itulah gaya Eropa, sesuatu harus memiliki alasan, “ biarpun sebenarnya tidak ada dan dibuat-buat, namun alasan sudah disediakan. Demi nurani intelek tuan, bukan moral yang dua-duanya tidak ada pada pihak pribumi.”

Surat-surat Ter Haar itu tidak pernah Minke balas sama juga dengan surat-surat yang dikirim oleh Miriam de La croix yang kini telah menikah dengan seorang duda bernama Frischboten. Surat-surat Mir berisi tentang perang Bali juga dan Mir juga mengatakan bahwa Marie van Zeggelen telah ada di Belanda dan memberikan ceramah tentang perang Aceh. Tentang keperkasaan perempuan-perempuan Aceh yang turut dalam perang itu. Menurut ayah Mir dalam surat itu bangsa Bali tidak akan mudah ditaklukkan oleh kekuasaan Hindia dan ia meminta Minke menceritakan tentang bangsa Bali yang katanya berpria jantan dan berwanita serba bisa. Tetapi Minke membalas surat Mir hanya dari keterangan yang diperoleh dari surat Ter Haar. Surat Ter Haar yang isinya tentang Raja Klungkung yang tidak mau membayar ganti rugi kapal Belanda yang dirampok menyebabkan pecahnya perang seperti yang diharapkan Belanda. Lalu Belanda menyerang di Sanur dan Kuta. Sementara Mir dan Ter Haar meminta pendapat Minke tentang perang Bali itu, ia tidak pernah mendapat informasi tentang hal itu. Surat-surat itu dikirim ketika Minke masih belajar di sekolah dokter. Saat ia sibuk belajar dan tak ada waktu membicarakannya. Surat Ter Haar berikutnya menggugat Minke yang tak acuh terhadap permasalahan Bali, yang ia sebut sebagai acuh terhadap sebangsa Hindia. Bangsa Bali, sebangsa Hindia. Kulitnya sama, air dan nasinya juga sama. Minke menyadari bahwa orang-orang di sekitarnya juga acuh, tak pernah membicarakannya. Tak ada kesempatan untuk membicarakan dengan teman sekolah, mereka punya kesibukan sendiri-sendiri. Banyak kebutuhan yang harus diutamakan daripada membeli surat kabar yang bukan kebutuhan utama. Teman-teman Minke dari sekolah dokter lebih-lebih merasa terlena karena janji jabatan yang akan mereka terima.

Surat Mir berikutnya mengatakan tentang permasalahan lain lagi. Tentang sultan Maluku dan keluarganya yang dibuang ke Jawa, daerah Sukabumi. Surat Mir mengingatkan Minke tentang gadis Jepara, yang secara tidak sadar menjadi sumber informasi anggota twede kamer ir. Van Kollewijn. Lalu jenderal Rooseboom merasa perlu menaikkan Kartini ke ranjang pengantin untuk membisukannya. Minke merasa menjadi orang yang dijadikan objek pengamatan oleh orang-orang seperti Mir. Sedangkan Minke sendiri tak mampu menjawab pertanyaan seperti itu, dan ia tak menjawab surat itu.

Surat Ter Haar berikutnya menceritakan tentang keberangkatan kompeni Semarang ke Bali sebanyak dua peleton. Belanda mulai kewalahan dengan perang ini. Pertempuran telah dua puluh hari terjadi dan Bali belum juga jatuh. Sementara itu laki-laki dan perempuan maju ke medan perang, kata Ter Haar “perempuan-perempuan dengan bayi dalam gendongan belakang membawa tombak atau keris menyerbu seperti laron menerjang api, takkan kembali ke rumah masing-masing, tinggal di tempat, bermandikan darah sendiri dan bayinya.” Meskipun Den Pasar telah jatuh, pusat pemerintahan di Klungkung masih belum menyerah. Ter Haar sangat berharap bisa mengunjungi Bali dan Minke menyertai untuk menulis tentang Bali.

Minke membaca surat Ter Haar beruang kali dan menunggu lanjutannya. Ia terpesona dengan bangsa Bali yang gagah dan belum mengenal ilmu pengetahuan Eropa berjuang dengan seluruh jiwa dan raganya untuk tidak tunduk pada Belanda. Minke kembali merenungi sekolah dokter yang telah ia lewati. Orang-orang di sekolah dokter sudah merasa kelak akan menjabat dokter gubermen- dokter dari kekuatan yang saat ini mengganasi Bali. Minke memasuki kamar, menghadap potret Ang San Mei merenungi selama ini tidak pernah membicarakan tentang Bali ini dengan Mei. Minke merasa harus berbuat sesuatu, melakukan perjuangan dengan cara modern dan ia teringat kata-kata Ter Haar, “membutuhkan cara-cara modern pula: berorganisasi.” Sedangkan dokter jawa berseru-seru “Menjadi raksasa.” Ia juga teringat kalimat Mei, “dengan bagian-bagian tubuh yang lebih kuat dari jumlah perorangan yang tergabung didalamnya. Mulailah berorganisasi! Kan hatimu bukan padang pasir?” Minke kembali ke meja kerjanya, mengeluarkan catatan dan menuliskan kata-kata, “Hari ini aku akan memulai.”

Minke mengumpulkan para siswa dokter di rumahnya, mereka adalah adik kelas Minke berasal dari enam tingkat. Minke memulai percakapan tentang tujuan mengumpulkan mereka dari perang yang terjadi di Bali, mulai dari penyerangan Den Pasar hingga perang Puputan. Mereka menganjurkan Minke untuk memulai, dengan alasan tidak dapat meninggalkan pelajaran sekolah mereka. Mereka tidak akan mampu membayar ganti rugi jika dipecat. Minke terus mendesak agar kaum terpelajar itu mencoba merenungkan tentang kaum Tionghoa yang telah mendatangkan guru dari Tiongkok dan Jepang, dan bangsa arab mendatangkan guru dari Tunisia dan Aljazair. Mereka tidak lagi mengajarkan bahasa Belanda, tetapi bahasa Inggris.

Bersamaan dengan pertemuan itu Minke bertemu dengan seorang kunci yang ia undang ke rumahnya untuk memperbaiki kunci lemari, pemuda itu terus memandangi potret Ang San Mei. Pemuda itu seperti mengenal Mei, meskipuan tidak mengaku. Keesokan harinya pemuda itu kembali membawa kunci yang dibutuhkan Minke, ia menanyakan apakah Mei meninggalkan suatu kertas, dan Minke menyerahkan kertas-kertas Mei yang berbahasa Tionghoa. Minke menanyakan apa isi kertas itu, tetapi pemuda Tionghoa itu mengatakan dalam bahasa inggris, kertas itu bukan untuknya. Dalam hati Minke mengagumi pemuda itu, seorang pemuda bebas yang menjual jasa murahan sebagai tukang kunci tetapi mengabdikan diri pada negeri dan bangsanya. Pemuda itu bisa berbahsa inggris, salah satu bahasa modern yang menunjukkan dia sebagai terpelajar.seorang yang mampu bekerja untuk bangsa dan negerinya hanya dengan penghasilan sen demi sen. Minke merenungi dirinya, dan mengatakan dia harus bisa seperti pemuda itu meskipun telah gagal mengajak para siswa dokter memulai.

Minke berjalan-jalan di sekitar kampung Kwitang, ia bertemu dengan orang-orang kampung yang tentu saja tidak akan mengerti jika diajak berbicara tentang organisasi modern. Bertemu anak-anak, buruh yang bekerja di bengkel dari pagi hingga malam, juragan dokar yang seperti pecandu, seorang preman di warung, mucikari pelacur, dan para pemuda yang melakukan aktivitas sehari-harinya. Sementara mereka sibuk dengan aktivtas sehari-hari, di utara, Jepang telah mengalahkan Rusia. Mereka tidak mengenal apa yang dikenal Minke, yang mereka tahu hanya mencari rezeki dan beranak-pinak. Dalam perjalanan itu Minke merenungi banyak hal, termasuk jika sudah memiliki organisasi akan berbuat apa.
Sampai di rumah ibu Badrun Minke malah disarankan menikah lagi daripada menggundik. Gundik, golongan dengan strata yang lebih tinggi sedikit daripada sundal itu terus terngiang-ngiang dalam benak Minke. Gundik dianggap rendah, mereka biasanya lebih maju jika digundik orang-orang Eropa. Dalam benak Minke juga muncul tentang gundik dalam arti konotatif, bangsa Hindia yang menggundik pada Belanda. Minke bertanya pada diri sendiri, apakah kiranya organisasi dapat menjawab semua ini. Ia teringat Koh Ah Soe, Ang San Mei, dan pemuda Tionghoa pembuat kunci. Minke teringat kata-kata Mei, “ Semua yang kami lawan berasal dari satu sumber : keterbelakangan kami sendiri, kebanggaan-kebangsaan yang dungu, berlebihan tanpa dasar; dan keterbelakangan itu mengambil Kaisarina kami sebagai lambang, Kaisarina dan seluruh kekuasaan serta alat-alatnya. Kerajaan harus tumbang digantikan oleh Republik?” sesampai di rumah Minke tidak ingin bertemu siapapun, ia menulis, suara-suara dokter Jawa, Mei, dan Ter Haar. Mulai dari bangkitnya Jepang sampai kemenangannya. “akhirnya bangsa maju jua dapat bajik pada dirinya sendiri, biarpun kecil saja dalam jumlah dan dalam keluasan negeri. Pemerintah Hindia Belanda berkepentingan untuk mengeteng mahal ilmu dan pengetahuan pada pribumi. Pribumi harus berusaha sendiri.”

Tulisan Minke itu tidak diterima di surat kabar manapun, seorang redaktur berkata “Bukan koran kami tempatnya. Koran yang mau memuatnya belum lagi dilahirkan.” Sementara itu Minke menyewa seorang juru tulis, meminta menyalinkan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga organisasi Tiong Hoa Hwee Koan. Setelah itu salinan dikirim ke beberapa orang. Setelah selesai menyalin dan mengirim salinan, juru tulis itu malah meminta untuk dapat mengabdikan diri pada Minke dengan gaji berapapun dan pekerjaan apapun. Juru tulis itu bernama Sandiman, ia dilahirkan di Solo. Kakaknya prajurit Legiun Mangkunegaran, ia tidak mau menjadi serdadu seperti kakaknya oleh karena itu pergi mencari pengalaman ke Betawi. Surat-surat Minke tidak semua dibalas, hanya empat orang yang mendukung, salah satunya bupati Serang yang merupakan anak percobaan Snouck Hurgronje.

Minke datang pada bupati Serang karen ia pikir balasan surat itu sebagai sambutan terhadap pembentukan organisasi. Ternyata Bupati Serang menolak membantu, Minke malah mendapatkan beberapa sikap penghinaan. Selama beberpa hari Minke merasa berkecil hati karena ditolak oleh Bupati Serang, sampai akhirnya tiba surat Ter Haar. Ter Haar menceritakan tentang Bali, tentara Belanda yang akan menyerang hingga ke Klungkung. Belanda mulai kewalahan dengan serangan Puputan rakyat Bali. Ter Haar sendiri telah ada di Bali dan diperkenankan ikut berkat letnan Collijn, ia tinggal di Den Pasar. Dengan surat itu Minke merasa memiliki kekuatan baru, ia memanggil Sandiman. Minke membicarakan tentang Bali dengan Sandiman dan mencoba menyelidik apakah kiranya Sandiman pernah masuk sebagai Legiun Mangkunegaran. Ternyata Sandiman seorang Legiun pangkat rendahan yang sudah lima tahun mengabdi. Ia melarikan diri tidak mau dikirim untuk melawan rakyat Bali. Percakapan itu membangkitkan semangat Minke, lalu ia menemui Patih Meester Cornelis yang dianggap akan memberikan jawaban berbeda dengan Bupati Serang. Tetapi ternyata Patih Meester Cornelis tidak memberi jawaban, meskipun ia juga tidak menolak ajakan Minke untuk membentuk organisasi. Ia malah menunjukkan nama seorang Wedana Mangga Besar, Thamrin Mohammad Thabrie.

Minke awalnya meragukan jabatan Thabrie sebagai seorang Wedana, bayangan Minke seorang wedana hanya tamatan sekolah dasar dan tidak mengerti Belanda dengan seluk-beluknya. Ternyata Thabrie seorang tuan tanah besar. Minke disambut hangat oleh wedana itu. Dari percakapan dengan Mohammad Thabrie, Minke menemukan kata Syarikat. Kesepakatan terbentuk akan membentuk sebuah syarikat daripada perkumpulan atau persekutuan. Sesampai rumah Minke meminta Sandiman mencetak dan mengirim surat undangan sebanyak dua ratus lembar. Sandiman sangat bersmangat dan mengungkapkan hal seperti itulah yang diharapkannya juga. Membentuk organisasi, tetapi ia sendiri tidak memiliki kepercayaan diri. Dan ia menyatakan untuk ikut menjadi bagian organisasi.

Pertemuan itu akhirnya diadakan, Minke memimpin rapat dihadpan para undangan. Undangan yang hadir adalah para priyayi dari tiga Kabupaten. Patih Meester Cornelis duduk pada tempat kehormatan dan tidak ikut berbicara. Sedangkan Thamrin Mohammad Thabrie duduk bersama para undangan. Pada pertemuan itu Minke menjadi pembicara tunggal, meskipun begitu ia tidak menyinggung soal perang Aceh dan perang Bali. Dari pertemuan itu disepakati membentuk syarikat priyayi, “dan kita akan namai perkumpulan ini syarikat priyayi, karena priyayilah golongan pribumi paling maju, yang paling berpengetahuan. Semua priyayi bisa baca tulis. Setuju, para hadirin?”

Menghidupi Syarikat Priyayi dengan Medan

Setelah syarikat terbentuk, semua anggota setuju membuat media cetak dan disetujui oleh pimpinan syarikat. Modal didapat dari uang yang dibayarkan calon langganan. Pada awal terbit Medan berbentuk koran mingguan. Para pelanggan adalah priyayi yang mengekor para Bupati, pada awal terbit itu empat bupati telah mendaftar sebagai langganan Medan. Setelah itu tiga bulan berikutnya, Medan sudah memiliki seribu lima ratus langganan tetap. Nyai Ontosoroh yang juga telah berlangganan Medan mengirim surat kepada Minke. Surat Nyai berisi apresiasi atas koran yang telah terbit, telah mampu memberikan penyuluhan pada pribumi. Tetapi dalam surat itu Nyai ontosoroh juga mengingatkan kalau yang dilakukan Minke baru permulaan, jangan sampai berpihak hanya pada priyayi, “penerbitanmu lebih banyak memberikan penyuluhan hukum dan peraturan. Banyak priyayi membutuhkan untuk dapat melanggarnya lebih mantap. Kau sendiri sudah jadi kurban hukum. Setidak-tidaknya ada hukum yang adil dan ada yang menindas. Peraturan memperkuatnya. Ingat waktu kau kena tindas dulu? Waspadalah, jangan sampai kau ikut menindas dengan penyuluhanmu.” Dan Nyai mengingatkan Minke agar tetap waspada.

Selama medan terbit hanya memberikan penyuluhan tentang hukum, itupun hanya para priyayi yang dapat mengakses. Mereka adalah orang-orang yang notabene ingin selamat dan naik pangkat karena telah menjalankan peraturan dengan baik. Nyai Ontosoroh menantang Minke agar Medan tidak hanya memberikan penyuluhan hukum, tentang hal-hal yang mungkin lebih penting dari peraturan dan hukum. Ahli hukum yang di sewa Minke sendiri kewalahan melayani permintaan para pelanggan dan meminta bayaran sepertiga keuntungan perusahaan. Mir Friscboten dalam suratnya menyatakan suaminya dapat membantu bila tinggal di Betawi. Sementara itu tiras medan terus naik menjadi dua ribu lebih. Langganan yang bertambah itu bukan dari kalangan priyayi lagi, tetapi golongan pedagang atau pengusaha pribumi dan bukan pribumi yang mengenal melayu pasaran. Thamrin dan Patih juga tetap berkokoh menggunakan melayu pasar, melihat dari kejenuhan priyayi yang berlangganan.

Nyai Ontosoroh bersama Jean Marais, Maysaroh Marais dan Rono Melema datang mengunjungi Minke di Betawi. Mereka hendak melakukan perjalanan ke Perancis dan mampir ke Huizen untuk menengok makam Annelies puteri Nyai. Dalam pertemuan yang tak terduga oleh Minke itu mereka membicarakan banyak hal. Tentang kekaguman Nyai terhadap Minke yang telah mampu menerbitkan koran mingguan, kini Nyai menantang Minke menerbitkan koran harian yang belum pernah dilahirkan oleh pribumi Hindia. Nyai mengharapkan isi koran tidak hanya tentang peraturan dan hukum, dan nyai bersedia menambahkan modal karena Minke menyatakan kesulitan dana jika harus menerbitkan koran harian. Dalam pertemuan itu Nyai juga meminta Minke menceritakan tentang Ang San Mei karena meihat potretnya di dalam kamar. Setelah mendapatkan cerita itu, Nyai meminta agar Minke menikah lagi. ia ingin menjodohkan Minke dengan Maysaroh yang kini menjadi anak tiri Nyai.

Singkat cerita Maysaroh menerima Minke dengan syarat akan menikah setelah May selesai belajar di Prancis. Minke setuju dengan permintaan May, ia mengatakan apabila May ingin membatalkan pertunangan itu ia harus memberi kabar untuk Minke. Dalam pertemuan itu mereka hanya membicarakan masa depan, tanpa menyinggung masa lalu. Pada akhir percakapan Nyai mengatakan, “ karena itu jangan kuatir, nak. Sudah ingin benar aku ingin membaca koranmu yang akan datang- sebuah koran yang membela pribumi sebangsamu. Koran mingguan itu memang tidak bisa ditutup begitu saja. Dia sudah punya merk dagang yang baik bagi mereka yang hendak tahu tentang hukum dan peraturan. Tapi itu tidak kuanggap pekerjaanmu yang sebenarnya. Harian, nak, harian. Aku carikan nanti seorang ahli hukum yang tidak bermuka dua. Keterangan-keterangan tentang tuan Frischboten agak menggembirakan. Barangkali dia mau. Aku pesan padamu, telegrami aku nanti di Perancis kalau tiga ribu tidak mencukupi.”

Setelah keluarga Marais pergi ke Perancis, Minke membicarakan keinginannya untuk membuat koran harian itu kepada Sandiman dan Wardi. Sementara itu pemuka Syarikat, Tuan Patih Cornelis dan Thamrin Mohammad Thabrie tidak bisa diajak bicara lagi setelah kasus penggelapan uang syarikat. Pada saat itu juga bertepatan dengan munculnya peristiwa-peristiwa besar seperti van Heutz yang menghendaki negeri-negeri kantong menandatangani maklumat terkait kemerdekaan negeri kantong yang akan dipimpin oleh raja atau oleh adat tetapi tetap dibawah naungan Hindia Belanda. Sementara Ter Haar dalam suratnya mengatakan di Bali raja Klungkung masih belum menyerah, bahkan Lombok menyatakan tetap setia pada rajanya. Terkait dengan berita itu van Heutz mengadakan konferensi pers. Minke satu-satunya jurnalis yang tidak bertanya, ia hanya mencatat. Pada saat itu pula van Heutz mengatakan dengan terang-terangan, ia mengucapkan terima kasih selama ini Medan telah membantu Gubermen dalam memberikan penerangan kepada masyarakat. “tuan-tuan inilah tuan Minke, pengarang cerita, jurnalis, gagal jadi dokter, sekarang membantu gubermen dengan koran mingguannya, “Medan” menerangi dan memperkuat hukum. Terima kasih, tuan Minke…”

Minke merasa tersambar petir mendengar ucapan itu langsung dari mulut van Heutz sendiri, ia teringat pada pesan Nyai Ontosoroh sebeumnya. Minke merasa bersalah selama ini telah dianggap membantu gubermen, sementara perang di Bali tetap berkecamuk karena Gubermen yang menghendaki Bali tunduk dibawah kekuasaanya. Dalam perjalanan menuju percetakan Minke terus merenungi apa yang dilakukan bersama Medan selama ini. Sesampai di percetakan Wardi dan Sandiman mengatakan tidak ada percetakan yang mau mencetak Medan.

Bersamaan dengan itu muncul Robert Suurhof sebagai ancaman baru untuk Medan. Keesokan harinya Minke masih memikirkan korannya yang terancam penerbitannya dan isi koran yang lebih condong pada gubermen. Robert Suurhof disinyalir ada sangkut paut dengan perusahan percetakan yang menghentikan order cetak dari Medan, meskipun di sisi lain Medan dianggap membantu Gubermen. Setelah itu Wardi datang, mengatakan tidak ada percetakan yang mau menerima order cetak Medan, baik percetakan Eropa atau Tionghoa. Hanya percetakan orang Arab yang mau menerima tetapi dengan harga tinggi dan hanya mau melakukan kontrak dua tahun. Minke mengatakan agar menerima ongkos cetak yang tinggi itu. Saat itu pula Minke memanggil Sandiman. Ia memerintahkan Sandiman pulang ke Solo dan menghentikan Legiun Mangkunegaran yang akan diberangkatkan ke Bali.

Setelah memberikan perintah pada kedua rekan kerjanya, Minke mendapat undangan dari van Heutz untuk datang ke istana Buitenzorg. Ia dijemput dengan automobil, salah satu produk modern yang baru dilihatnya. Pada pertemuan itu van Heutz membicarakan politik ethiek yang ingin dilakukan oleh gubermen. Tetapi diakhir percakapan van Heutz juga menanyakan kepada Minke apalagi yang akan dilakukan setelah membuat Medan. Minke mengatakan akan membuat sebuah harian. Van Heutz setuju tentang hal itu, tetapi ia menginginkan Medan menggunakan melayu populer agar lebih banyak yang bisa membaca. Van Heutz bahkan juga mengatakan gubermen akan bersedia membantu usaha pribumi dalam upaya memajukan pribumi sebangsanya. Sekaligus dalam pertemuan itu jenderal perang aceh itu menghimbau Minke bahwa upaya melawan gubermen adalah tindakan kuno dan mencelakakan. Di akhir pertemuan van Heutz tetap menginginkan Medan menggunakan bahasa Melayu populer. Dan Minke mengacuhkan permintaan van Heutz.

Pemanggilan van Heutz menimbulkan rasa iri pada pers kolonial. Mereka tidak mau menerima tulisan-tulisan Minke lagi, dan percetakan Eropa tidak mau menerima order cetak dari Medan. Dan Robert Suurhof menjadi ancaman tersendiri dalam keketatan percetakan Eropa itu. Dengan hal itu tekad Minke dalam menerbitkan Harian Semakin mantap. “ tak bisa lain. harian sendiri harus terbit. Selamat tinggal Pers Kolonial!”

Denpasar, 6 Mei 2013
Sore, menjelang malam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s