Lingkaran (1)

Lingkaran itu seperti,
Seperti, bukan suatu kebetulan bertemu dengan orang-orang yang kemudian hari selalu berhubungan, entah terkait pekerjaan, sekadar sering bertemu atau berpapasan di tempat yang sama, duduk bersama membicarakan topik yang sama, atau hanya sekadar ber hahahihi.

Bukan kebetulan mungkin jika seorang Lintang Utara bertemu dengan Segara Alam kemudian merasa cocok, walaupun pada awalnya karena perihal sebuah tugas akhir. atau Bimo Nugroho dengan Andini bersama Alam dan Gilang menjadi satu lingkaran. Mereka adalah anak-anak yang telah tumbuh dewasa dengan segala pembentuk isi kepala hampir sama. Lintang, Bimo, Alam dan Andini, melahap buku-buku yang hampir sama, atau paling tidak mereka dibiasakan membaca genre yang sama, warna musik yang sama. kecuali Gilang karena latar belakang keluarga berada. Latar belakang sejarah keluarga hanya sedikit pemanis yang seolah menjadi alasan mereka dalam satu barisan.

Adalah Rama yang memilih pada jalur berbeda, menganggap dia menjadi korban dari sebuah tragedi paling menyakitkan dalam hidupnya. Membuat dia harus menjaga jarak dari segala sesuatu yang disebut-sebut kehidupan normal. Merasa hidup hanyalah hal-hal yang umum dijalani orang-orang. Diakui dalam kelompok mayoritas dan pelabelan untuk kelompok yang kalah adalah sesuatu bencana terburuk dalam setiap hidup. Sampai pada suatu ketika, sebuah tragedi kilas balik yang mematahkan segala yang normal itu tidak selamanya baik. Mereka yang menjalani kehidupan yang seolah-olah normal itu hanya semu. Mengatasnamakan keamanan dan tentu saja kelangsungan hidup, entah dengan berdalih keluarga atau apapun.

Pada akhirnya semua bermuara pada satu kata “memilih”. Iya, memilih satu lingkaran, tidak perlu mencari apa yang disebut pas, tiada cacat. Karena sesungguhnya tiada lingkaran yang sempurna (katanya). Hanya perlu berdiri pada satu lingkaran yang berisi orang-orang dengan isi kepala hampir serupa, meskipun tidak mungkin seragam. Ini bukan kepala yang dibentuk, karena setiap orang harus memiliki apa yang disebut kebenaran, kebenaran yang diyakini. Iya, begitu. Sesuatu yang diyakini dan dihidupi akan memberikan kekuatan padamu. Entah akan berguna sebagai apa kekuatan itu nanti. Mungkin kamu ingin menyelamatkan dunia? Atau sekadar ingin kelak anak-anak muda seumuranmu tidak lagi menggadang-gadang yang namanya ijazah. Mereka akan memiliki lingkaran yang lain, tentu saja. Lingkaran yang hidup, dan lebih segar. Dengan gairah baru, mengahadapi hal-hal baru, meskipun landasan tak jauh berbeda.

Mengapa hanya memilih satu lingkaran? Tidak dua, atau lebih. Iya. Namanya juga keyakinan. Tidak mungkin dua atau lebih itu sama, bahkan mirip pun tidak. Apalagi isi lingkaran itu, tentu lebih bermacam-macam. Berdiri pada dua berlainan hanya akan mengakhiri hidup seperti Dimas Suryo. Meskipun ia tidak pernah menyesali tindakannya yang tidak memilih itu. Hanya akan berakhir menjadi Ekalaya yang merasa dikhianati gurunya. Hitam atau putih, jika abu-abu itu kelam makan dirimu tidak teridentifikasi dan memudahkan tafsir sesuai kehendak jaman. Jaman terus berubah, siapa yang tahu sejarah akan berpihak pada siapa?

Kamu juga harus mulai berhenti mengutuki atau terus membicarakan mereka. Semua orang tidak harus berada dalam lingkaran yang sama. Ada banyak hal yang tidak kau ketahui, belum pernah kamu alami. Betapa terasa berharganya seorang menjadi putri, seorang menjadi pemimpin, yang kadang diberi embel-embel “pemimpin muda”. Mereka diakui. Iya, bukan perasaan iri, hanya sinis. Dan demi apapun, tidak semua dapat menikmati keberuntungan-keberuntungan seperti itu. Mereka, ah jangan, kami memang dibentuk oleh jaman yang dimana setiap orang tak perlu lagi mengenal hakikat kehidupan. Semua hanya harus ditelan saja. Segala sesuatu yang semu tanpa landasan itu akan dibedakan menjadi baik dan buruk, dan tentu saja menjadi “wah” adalah bagian dari yang baik itu. Bahkan yang tidak bisa mengikuti hal normal itu dianggap melawan, amoral, buruk. Tentu saja menjadi wah akan memudahkan jalan menuju segala yang menjadi impian, jejaring dan tentu saja merasa berharga. Bukankah aktualisasi diri bagian dari kebutuhan tertinggi?
begitulah,

Yayaya, kir-kira lingkaran ya seperti itu.

PS : nama-nama diatas adalah tokoh-tokoh yang ada dalam kisah Novel Pulang, karya Leila S. Chudori

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s