Minke dan Syarat Menjadi Modern

Catatan Mengaji Tetralogi #6

“Dan modern adalah juga kesunyian manusia yatim-piatu, dikutuk untuk membebaskan diri dari segala ikatan yang tidak diperlukan: adat, darah, bahkan juga bumi, kalau perlu juga sesamanya.”

Semua bab dalam Anak Semua Bangsa telah selesai, tanpa ada yang terlewatkan. Kini kami mulai Bab baru Jejak Langkah. Dalam buku ketiga tetralogi ini, aku baru akan membagi catatan isi tetralogi bekolaborasi dengan Onyi. Haha!

Dari ketiga buku bagian tetralogi ini, menurutku Jejak Langkah yang paling keren, ehm, bukan, maksudnya, terasa sudah hampir klimaks membaca bagian ini. Walaupun konflik-konfliknya masih seputar Minke, di sini ia membuka diri dengan sesuatu di luar dirinya, di luar aktivitas sehari-hari di Surabaya. Mungkin memang benar: saat bersama Nyai Ontosoroh, ia tampak kerdil karena hanya berkaca pada Nyai. Kini Minke telah menghirup udara Betawi yang berarti dia telah memulai bab baru kehidupannya. Dan tentu saja bagian ketiga Tetralogi ini lebih semarak dengan hadirnya bunga-bunga cinta Minke dengan gadis bernama Ang San Mei, meskipun hanya sesaat.

Dalam mengaji Jejak Langkah ini, kami sedikit mengubah “aturan main”. Kami membagi 17 Bab menjadi 5 sesi, jadi setiap sesi sekitar 3-4 bab, harus sudah selesai kami baca dan membuat sedikit ulasan. Bagian tetralogi yang ketiga ini kami menghilangkan sesi baca, hanya mengulas dan mendiskusikan isinya, karena pada bagian tetralogi sebelumnya ada beberapa bab yang seharusnya lebih banyak dibahas jadi missing karena mengejar waktu untuk sesi baca. Beberapa hal yang menjadi koreksi dalam pengajian sebelumnya, misalnya, kami harus perhitungkan bab yang masih berhubungan untuk mencatat menjadi satu rangkaian catatan meskipun kami mengajinya lebih dari satu waktu.

******

Minke telah sampai di tanah Betawi. Tepat pada saat abad duapuluh baru akan dimulai. Di kota baru itu Minke mulai menyebut-nyebut dirinya sebagai manusia modern dan bebas. “Aku manusia modern. Telah kubebaskan semua dekorasi dari tubuh, dari pandangan.”

Sepanjang perjalanan, Minke tak henti-henti mencatat, mulai dari trem yang sebentar lagi akan ditarik dengan listrik hingga dirinya yang merasa menjadi manusia modern dengan berpakaian Eropa dan memilih naik trem kelas satu. Pemandangan rawa-rawa tidak terlalu menarik baginya: mengingatkannya pada ribuan nyawa yang tumpas pada awal pembangunan kota Betawi. Selepas rawa, ia memasuki Betawi Kotta dengan jalan-jalan sempit dan gedung tua peninggalan Belanda yang ternyata tak beda jauh dengan Surabaya. Penerangan masih menggunakan gas dan jalanan tertutup aspal hanya isapan jempol. Betawi Kotta, yang tercipta dari pertumpahan darah enam puluh orang Pribumi pada masa penyerangan Sultan Agung ini hanya lebih bersih dibanding Surabaya. “di sini di mana-mana ada taman kecil terawat dengan bunga-bungaan membikin kehidupan meriah dengan warna-warninya.”

Berita di koran yang dibeli Minke di pelabuhan menyambutnya dengan berita tentang penjualan wanita dari Priangan ke Singapura, Hongkong dan Bangkok. Minke tak mengacuhkan itu, berita yang mengingatkannya pada harga wanita seperti yang pernah dikatakan Maiko di Pengadilan (lihat: Mengaji Tetralogi Bumi Manusia).

Minke tak ingin membebani dirinya dengan masa lalu. Masih dalam koran itu, rupanya koran-koran di Betawi mulai menggunakan Melayu, bukan sembarang Melayu, tetapi lebih mengutamakan kepentingan pencerahan kelompok pembacanya, meskipun dengan mengatasnamakan omzet perusahaan. Koran Melayu-Tionghoa tidak menggunakan ejaan Melayu baru susunan Ch. Van Ophuyzen. “Kami tidak menggunakan Melayu sekolahan, bahasa Melayu tinggi. Kata mereka. Langganan kami bukan lulusan Gubernmen. Kami tidak mau merisikokan kebangkrutan perusahaan.” Tajuk utama koran ini ternyata tentang Jepang yang membuat kehebohan dengan menuntut Sabang dengan stasiun Batubaranya. Dari koran itu ada salah satu komentar sinis tentang negeri utara itu, “…Badut ini mulai menjadi-jadi tingkahnya.” Tetapi dengan berita ini pula dalam berita kecil disebutkan tentang rapat mendadak di kalangan angkatan laut.

Selepas pemandangan gracht seperti imitasi kota-kota di Belanda dengan sampan dan rakitnya, rumah mewah sepanjang Ci Liwung yang beralih fungsi menjadi bengkel dan tempat mesum, juga Dasima dalam novel Francis yang tak tampak pada trem kelas satu, trem meninggalkan Betawi menuju stasiun Gambir. Minke mengagumi stasiun Gambir yang besar, “seperti satu kampung di bawah satu atap.”

Dalam pikiran Minke kemudian berkecamuk konsep kota modern, “apa saja yang diangkuti keretapi di sini? Tentu sama saja dengan keretapi Surabaya sana: kemakmuran dan kebahagiaan dari desa-desa dieksport. Dan import juga: barang-barang pelupa, kemakmuran dan kebahagiaan yang sudah tergadai.” Kota modern bagi Minke adalah kota yang menunjukkan kemajuan tanpa putus-putus, yang berarti juga kota sebagai ruang antara pertukaran kemakmuran dan kebahagiaan imitasi dan sebenarnya, “Kau harus tetap ingat pada ciri-ciri kota besar jaman modern ini: dia berdiri atas ceceran lalu lintas kemakmuran dan kebahagiaan.” Meskipun begitu, ia tetap merasa dirinya manusia modern dengan segala yang dimilikinya, “biar begitu, aku tempatkan diri pada golongan orang paling maju dalam jaman ini. Tak mau ikut dengan kemajuan? Akan terinjak-injak jadi kasut.”

Pada sekolah S.T.O.V.I.A yang dituju, kini Minke dihadapkan pada tata tertib yang menurutnya menyakitkan: sebagai orang Jawa, sebagai siswa, Minke harus berpakaian Jawa: destar, baju tutup, kain batik dan cakar ayam, tidak beralas kaki. Meskipun sebagai pemuja Eropa hingga gaya berpakainnya, Minke masih memiliki yang disebut pakaian Jawa itu, kecuali destar. Meninggalkan pakaian Eropa: Sepatu, pantalon, kaos kaki, dan topi vilt, Minke diantar oleh seorang Pribumi pegawai kantor menuju asrama. Penampilannya sebagai Pribumi Jawa menarik perhatian teman-teman satu asrama yang sudah lebih dahulu masuk sekolah dokter pribumi itu. Mereka mengejek Minke sebagai anak dusun yang berkoper busuk, koper coklat tua dari kaleng cekung-cembung. Sempat terjadi perkelahian antara Minke dan teman barunya yang merupakan satu-satunya orang berpakaian Eropa, Wiliam. Dalam kekesalannya karena dipermainkan itu, tersemburkan sumpah serapah dari mulut Minke, mengutuki golongan terpelajar yang tak beradab itu, “di depan orang kampung berlagak intelektual. Orang kampung pun tak sebiadab ini.”

Pada akhirnya, itu hanyalah bagian dari perpeloncoan untuk Minke dalam lingkungan barunya. Selesai itu, tak mereka tinggalkan dendam, bahkan tersenyum ramah. Hati Minke yang dongkol masih tetap berani menantang, “jangan coba-coba menganiaya kopor busuk yang nampak hina dusun itu. Isinya lebih berharga dari semua kalian, calon-calon dokter keparat! Kalian harus kenal aku dulu, sebagaimana aku harus kenal kalian. Dalam kopor itu tersimpan pikiran-pikiranku yang terbaik: catatan, surat-surat, termasuk surat persahabatan dan percintaan, guntingan koran, naskah-naskah romanku—semua mungkin lebih dari lima kilogram.” Tetapi pada akhirnya Minke meminta maaf kepada kawan-kawan barunya. Kawan-kawan baru Minke malah mengagumi dirinya yang ternyata tidak memiliki pakaian Jawa selain melekat dalam tubuhnya. Mereka juga mengagumi lukisan “Bunga Akhir Abad”, lukisan yang menjadi perhatian tak ada habisnya.

Pada hari yang masih awal itu Minke telah mulai bersekutu dengan Partokleo. Temannya ini ternyata sering diganggu oleh teman-teman lainnya. Nama aslinya: Partotetojo. Teman-temannya memanggilnya Partokleo.

Perkenalan dengan Organisasi Liberal

Ter Haar, wartawan De Locomotief Semarang, yang pernah ditemui Minke dalam perjalanan menuju Betawi yang batal tahun sebelumnya, menjemput Minke di STOVIA. Tepat pada hari pertama Minke menginjakkan kaki di sekolah itu. Direktur sekolah, yang tadinya keberatan Minke pergi menghadiri pertemuan dengan anggota Tweede Kamer itu, akhirnya mengijinkannya. Ter Haar mengajak Minke hadir dalam pertemuan dengan “Dewa Radikal Kaum Liberal”, Van Kollewijn, di kamar bola De Harmonie.
Menurut Ter Haar, Kollewijn adalah orang yang berjasa pada Hindia karena membangun sendi kehidupan baru bagi pribumi, walaupun pabrik gula yang paling banyak menikmati jasa-jasanya. Dalam perjalanan itu Minke mendengar cerita tentang kebesaran Dewa Radikal kaum Liberal ini tiada henti. Pertemuan itu dilaksanakan di kamar bola De Harmoni. Alasannya: di tempat itu pernah dicetuskan gerakan pertama golongan liberal. Dalam gerakan itu, Domine Baron Van Hoevell begitu menghendaki sekolah-sekolah menengah diadakan di Hindia.
Dalam gedung kamar bola itu Ter Haar masih tak habis-habisnya memuja kaum liberal dengan cikal bakal yang telah dibangunnya. Pendidikan menengah menjadi syarat awal kemenangan modal dan membanjirnya keuntungan. Pengaruh golongan Liberal ini tampaknya juga tidak hanya berkuasa di Netherland dan Hindia, juga di Suriname. Cerita yang menggebu-gebu seolah kaum-kaum Liberal masa kini, yang telah berkuasa saat inilah yang akan melaksanakan politik etiek: emigrasi, edukasi dan irigasi yang pernah dicetuskan Multatuli maupun Roorda van Eysinga. Dalam percakapan ini Ter Haar mulai menyebut-nyebut tentang kerja bebas. “Hanya kerja bebas dapat tingkatkan harga dan nilai manusia pribumi. Kerja bebas akan mengembalikan pada mereka ilmu dan pengetahuan yang sudah lama terlupakan, terdesak oleh pemerintah dan diperintah dan perintah dari mereka yang belum tentu tahu. Ilmu pengetahuan yang sudah lama terlupakan, berabad terlupakan; bertanggung jawab. Kerja bebas akan membebaskan mereka dari ketakutan pada tahayul, pada setan sampai pada polisi dan serdadu kompeni. Kemudian akan muncullah manusia pribumi sesungguhnya.”

Ter Haar masih terus berbicara, tetapi makin lama Minke semakin tidak mengerti karena seperti tidak terhubung satu sama lain, terlebih tentang perdebatan di Tweede Kamer dan permasalahan Hindia. Ter Haar pada akhirnya menyimpulkan semua yang telah dikatakan sesaat sebelum Dewa Liberal datang, “… pendeknya, manusia liberal adalah putra-putra jaman kita dewasa ini, putra-putra terbaik jaman kemenangan kapital, jaman di mana segala-galanya akan dan sudah dibikin oleh kapital, di mana setiap orang bisa memiliki segala-galanya, bukan lagi hanya raja-raja, asal dia punya kapital untuk itu. Dan untuk bisa mendapatkan kapital, syaratnya hanya satu tuan: kerja bebas dan keras.”

Dalam pertemuan itu Minke satu-satunya Pribumi yang hadir. Van Heutz, Jenderal Perang Aceh juga hadir dalam pertemuan itu. Ia datang dengan berpakaian militer tanpa tanda-tanda pangkat, dekorasi dan tanpa senjata samasekali, juga tanpa pengawal. Jenderal itu datang bersama dengan Dewa golongan radikal Ir. H. van Kollewijn yang ditunggu-tunggu.

Mata Van Heutz ternyata sangat jeli melihat keberadaan pribumi dalam pertemuan itu, dan Ter Haar memperkenalkan Minke kepada kedua orang tersebut. Minke diperkenalkan Ter Haar sebagai pemuda pribumi yang menulis dalam bahasa Belanda. Kollewijn menanyakan apa saja yang telah ditulis oleh Minke, dan van Heutz mengatakan Minke menulis Cerpen. Van Kollewijn menanyakan gaya penulisan cerpennya mengikuti gaya Eropa atau Amerika, si Minke mengatakan menulis cerpen dengan gayanya sendiri. Dan pernyataan itu dibenarkan oleh Ter Haar.

Minke mendapatkan pujian dari dewa kaum Liberal itu. Dalam perkenalan itu Van Kollewijn juga menyebut tentang Kartini. Ia mengagumi Kartini sebagai gadis hebat. Dalam pertemuan itu hadir seorang wartawan wanita, salah satu dari dua orang wartawan yang hadir, Marie van Zeggelen. Ia juga menulis beberapa buku yang menunjukkan simpatinya pada perjuangan kebebasan pribumi. Seorang protokol memperkenalkan Minke sebagai pengarang muda, van Kollewijn membenarkan lebih tepatnya sebagai pengarang cerpen.

Kedatangan Dewa Kaum Liberal ini dalam rangka menyaksikan sendiri kemajuan-kemajuan yang telah dicapai oleh Hindia dalam hubungan dengan kampanye Vrijzinning Demokratische Partij. Selain itu, juga ingin bertemu dengan pelajar pribumi, ia ingin tahu pendapat pribumi atas kemajuan yang ada.

Seorang peserta bertanya mengenai hubungan terpelajar pribumi dengan kampanye Vrijzinning Demokratische partij. Van Kollewijn menjawab bahwa ikatan antara Nederland dan Hindia semakin hari semakin erat. Persyaratan modern semakin mendekatkan dua negeri yang berjauhan ini. Persyaratan kerja pun semakin baik, semakin tinggi. Juga di Hindia. Satu kondisi baru diruntut pada kita untuk juga menyiapkan kaum terpelajar Pribumi memasuki jaman baru ini. Kalau tidak, sehebat-hebatnya mesin dan pabrik baru yang didatangkan kemari, tiada akan berguna kalau Pribumi tak dapat menggunakannya.

Seorang peserta bertanya, siapa kiranya pribumi terpelajar yang akan dihubunginya. Kollewijn mengatakan, salah satu kaum terpelajar seperti Minke. Minke sebagai penulis, sekalipun cerpen, tetapi telah berani menggunakan gayanya sendiri. Menandakan telah lahirnya kepribadian pada Pribumi Hindia. Dalam diskusi itu Marie van Zeggelen bertanya tentang harapan van Kollewijn terhadap pribumi seperti Minke. Ia menambahkan, “ilmu pengetahuan tuan-tuan, betapapun tingginya, dia tidak berpribadi. Sehebat-hebatnya mesin, dibikin oleh sehebat-hebat manusia—diapun tidak berpribadi. Tetapi sesederhana-sederhana cerita yang ditulis, dia mewakili pribadi individu atau malahan bisa juga bangsanya.”

Ternyata Kollewijn belum pernah membaca tulisan Minke, meskipun yang lain seperti Jenderal van Heutz atau Ter Haar sudah pernah. Marie van Zeggelen terus mendesak Dewa Kaum Liberal itu, tentang kira-kira siapa pribumi yang akan ditemuinya. Ternyata Dewa yang menurut Minke seperti Bathara Narada ini akan mengikuti Gubernur Jenderal van Aberon mengunjungi Kartini di Jepara. Menurut van Kollewijn Kartini bukan hanya menulis dan sekadar bercerita, dia telah mempersembahkan hidupnya pada sesuatu. Dia menulis bukan untuk kemasyhuran untuk dirinya sendiri. Sebagai anak rohani Multatuli, dengan caranya sendiri, dia telah memperjuangkan kemenangan kemanusiaan, mengurangi penderitaan manusia. Menurut pendapat Kollewijn setiap ketidaktahuan akan menghambat kemakmuran di belahan dunia mana saja, oleh karena itu umat manusia memerlukan kemakmuran untuk memuliakan diri sebagai manusia dan sesuai kodratnya, di situlah pentingnya terpelajar Pribumi.

Tanya jawab dalam pertemuan itu masih tetap berlangsung, pertanyaan-pertanyaan terkait politik etis yang dikampanyekan kaum Liberal. Salah satu peserta bertanya tentang kerja rodi. Bagaimana pendapat Kollewijn tentang kerja rodi, dan ketika kerja bebas dilakukan nanti, apakah kerja rodi akan dihapus?

Menurut Kollewijn, kerja rodi merupakan sistem kerja kolektif tradisional yang oleh Hindia dimanfaatkan untuk kepentingan negeri. Rodi ini dianggap sebagai pengganti iuran negeri yang dinilai tujuh setengah sen per hari kerja. Ini dilakukan karena peredaran uang di dusun-dusun masih terbatas. Ketika berkembangnya kerja bebas nanti, perlahan-lahan orang tidak perlu membayarkan pajak dengan tenaga. Dari tanya jawab tentang rodi, pertanyaan-pertanyaan Ter Haar indikasi korupsi di Hindia Belanda yang tak berbeda jauh sejak jaman VOC, meskipun Kollewijn tidak sependapat dengan Ter Haar. Hindia Belanda telah menggelapkan pajak yang dibayarkan dengan tenaga itu, karena tidak pernah menuliskan dalam angka sebagai pajak tahunan.

Dalam tanya jawab, Marie van Zeggelen bertanya tentang perang Aceh, apakah setelah selesai perang Aceh pribumi akan merasa lega dengan adanya politik etis ini. Dalam tanya jawab ini juga terkait tentang negeri-negeri kantong. Menurut Kollewijn, negeri-negeri kantong yang memiliki kekuasaan di bawah kekuasaan Ratu Belanda itu bukan negara karena tidak memiliki sistem keuangan dan ekonomi serta hubungan luar negeri. Mereka akan mengganggu kestabilan daerah-daerah yang sudah takluk, oleh karena itu perlu ditaklukkan juga. Karena ini berkaitan dengan “Prestise, wilayah dan kekuasaan sekaligus.” Meskipun demikian para anggota Tweede Kamer hanya menganggap politik etis ini masih dalam program partai liberal saja belum tentu tentang pelaksanaannya.

Dalam pertemuan itu Minke juga diperkenankan untuk bertanya, “tentang kerja bebas itu, yang terhormat anggota tweede kamer, apa juga berarti bebas mengucil dan mengusir petani yang tak mau menyewakan tanahnya pada Pabrik gula?” Meskipun pertanyaan ini tidak mendapatkan jawaban memuaskan, malah menimbulkan keherananan pada banyak peserta. Hal-hal yang berkaitan gula tidak pernah diberitakan jika berpotensi merugikan gula. Karena politik etis yang menjadi slogan kaum Liberal ini tak lebih untuk membangun gula juga. Bahkan Minke mendapat ancaman hukum karena mengetahui persoalan tentang tanah gula yang tidak diketahui orang lain ini, dianggap sebagai cerita yang dikarang meskipun ini benar-benar terjadi di Sidoarjo.

Pada perjalanan pulang Ter Haar mengingatkan bahwa apa yang dinyatakan dalam pertemuan itu dapat membahayakan dirinya terlebih Minke tidak memiliki hal yang dapat mematahkan argumentasi tentang gula dalam kekuasaan Hindia Belanda. Ter Haar berpesan kepada Minke, “Tuan, memasuki pergaulan orang-orang besar seperti itu sama saja dengan memasuki sarang binatang buas. Mereka berkelahi satu sama lain, tak puas-puas dengan korban-korban. Terus haus. Hatinya seperti padang pasir sahara, kering-kerontang. Lautpun akan hilang terhisap bila dituangkan. Harap tuan tidak keberatan mengingat-ingat pesanku di atas delman ini. Bodoh sekali memasuki sarang binatang buas tanpa senjata.”

Minke Mengejar Ketertinggalan di kelas

Partotenojo alias Partokleo membantu ketertinggalan Minke. Ia menerangkan kembali kelas yang tidak diikuti Minke, bahkan mulai dari pembukaan pidato oleh Direktur Stovia. Pada pidato pembukaan itu, Direktur Stovia sudah mulai menanamkan motivasi para siswa sekolah dokter yang dibiayai oleh Gubermen. Kalimat motivasi yang tak lebih dari ungkapan-ungkapan superior Gubermen yang memberikan kesempatan belajar bagi para calon dokter yang kelak akan dididik sebagai penyelamat ribuan jiwa pribumi yang akan menyerahkan nyawanya mentah-mentah kepada parasit. Setiap orang di antara penduduk pribumi di Jawa cuma dapat mengharapkan hidup selama kurang lebih dua puluh lima tahun. Sebagian besar penduduk pribumi jawa mati bocah karena penyakit-penyakit parasit. Pribumi berumur pendek karena kehilangan ilmu obat-obatan dari nenek moyang. Akibat bencana, kejahatan pribumi akibat kekuasaan kurang kokoh dari Belanda menyebabkan krisis ahli obat-obatan. Setiap siswa yang gagal dari sekolah kedokteran dianggap membiarkan sebangsanya sendiri tewas tidak berperikemanusiaan dan patut dihukum karena keteledorannya.

Minke berhasil mengikuti ketertinggalannya berkat Partokleo dan juga berhasil mengatasi kebosanan di sekolah dokter berkat persahabatan dengannya, juga dengan Cupido Boog seorang jawa Tulen dan Wilam pemuda keturunan Eropa yang pernah bertengkar dengan Minke.

Memasuki bulan keenam, Minke dan teman-temannya mendapat kelonggaran untuk menikmati kehidupan luar asrama pada hari sabtu sore dan Minggu. Mereka sering mencari hiburan di luar kehidupan asrama, sekalipun Minke segera bosan dengan hal seperti itu.
Para siswa dokter itu kebanyakan adalah priyayi yang bergelar raden atau Mas, hanya satu orang saja yang tidak memiliki gelar. Anak-anak pembesar Pangreh praja ini tak suka menjadi dokter, pekerjaan yang mengabdi pada kemanusiaan. Semua menyayangkan Minke yang menyia-nyiakan kesempatan menjadi calon Bupati dan membuang waktu untuk belajar sebagai dokter dengan waktu yang cukup lama.

Dengan kondisinya sekarang, Minke mengandaikan siswa-siswa dokter dengan uang saku bulanan dan tanggungan makan oleh asrama seharusnya mencukupi kehidupan bulanan para siswa, nyatanya pada akhir bulan mereka kehabisan uang saku. Bahkan banyak yang mencari nyai-nyai gundik ketika mendengarkan musik di Lapangan Banteng. Tidak jarang juga yang berkeliaran berkeliaran di desa sekitar menggunakan pakaian Eropa hingga orang desa bersaing menjamu para siswa ini, terutama mereka yang memiliki anak gadis. Sekolah dokter telah menggeser adat pingitan di desa sektar sekolah mereka. Minke memilih rumah ibu Badrun, seorang janda yang hidup dari pensiunan suami dengan dua anak pungut. Meskipun ibu Badrun tidak memiliki anak gadis, tetapi tempat ini cocok bagi Minke untuk mengucilkan diri.

Suatu hari Bunda Minke datang ke Betawi dan menginap pula di rumah ibu Badrun. Setiap pertemuan antara Bunda dan Minke selalu ada percakapan-percakapan romantis ibu dan anak ini. Bunda Minke senang Minke kini berpakaian Jawa dan bercakar ayam, tetapi Minke mengatakan itu hanya karena aturan sekolah yang mengharuskan seperti itu. Bunda Minke kecewa terhadap Minke yang sama sekali tidak bangga dengan ke-Jawa-annya. Bunda Minke juga menceritakan tentang pembangunan perusahaan pertanian baru di Wonocolo, milik Nyai Ontosoroh. Pertemuan ibu-anak ini juga banyak sekali petuah untuk Minke, Minke yang terlalu percaya pada Eropa dan Revolusi Perancis sedangkan bunda yang memberi kebebasan Minke untuk belajar tetapi selalu mengingatkan untuk tidak lupa dengan ajaran nenek moyang yang filosofinya sama tetapi dilaksanakan oleh penganut pemikir Eropa berbeda.

Pertemuan dengan Ang San Mei

Kebosanan menjadi Eleve memuncak pada bulan ke-sembilan Minke di sekolah dokter. Pada masa itu ia sering pergi ke perpustakaan dan bertemu dengan sebuah artikel tentang pembentukan organisasi Tiong Hoa Hwee Koan. Akhirnya, ia teringat pada surat Koh Ah Soe untuk temannya Ang San Mei. Dari beberapa artikel tentang organisasi itu Minke menemukan nama Ang San Mei, ia adalah seorang guru bahasa Inggris. Minggu berikutnya ia pergi mencari Ang San Mei. Belakangan diketahuinya bahwa orang yang ia cari ternyata seorang gadis. Sejak awal pertemuan, Minke sudah terpesona dengan Mei, bahkan sebelum mengenalnya.

Minke bercakap-cakap banyak dengan Ang San Mei, tentang Koh Ah Soe, asal Mei, pemberontakan Yi Me hinga Kartini. Kartini mengirim surat kepada Ang San Mei, surat itu tentang keinginan Kartini untuk mengadakan hubungan dan bertukar pikiran tentang emansipasi wanita Tionghoa di Hindia maupun di Tiongkok sendiri. Selanjutnya Minke dan Mei terlibat banyak percakapan tentang emansipasi ini. Surat kedua Kartini berisi tentang emansipasi wanita di Eropa, ia tidak setuju dengan maksud dan tujuan yang dinilainya berlebihan. “Wanita dan pria perlu punya hak sama, tidak berlebihan, katanya. Setiap hak yang berlebihan adalah penindasan.” Kartini juga menanyakan tentang pendapat Ang San Mei terkait hubungan perkawinan Ang seharusnya.

Mei membalas surat itu. Ia mengisahkan tentang wanita Tionghoa di Tiongkok yang bekerja sama beratnya dengan pria. Perempuan Tionghoa melakukan segala-galanya kecuali baca tulis, bahkan juga ikut angkatan perang. Mereka pekerja keras, sehingga dapat hidup di manapun, oleh karena itu tidak pernah terdengar wanita Tionghoa yang bunuh diri atau mati kelaparan di negeri orang. Tetapi semua itu tergantung golongan para perempuan ini. Mei juga memberikan contoh di Jawa pun juga seperti di Tionghoa, perempuan tani memiliki hal lebih banyak karena kewajiban-kewajibannya pada pertanian, peternakan dan rumah tangga mereka. ”Makin kurang kewajiban seseorang, makin kurang pula haknya,” kata Mei menambahkan, meskipun Mei sendiri belum mengenal bangsa Jawa sepenuhnya. Pada pertemuan ini, Minke juga tidak menolak kesempatan makan siang bersama Ang San Mei, dan barulah tahu ternyata Koh Ah Soe adalah tunangan Mei.

Minggu berikutnya Minke datang membawa bahan makanan dan memasak bersama Mei hingga minggu selanjutnya Minke terus datang mengunjungi Mei. Minggu ketiga Minke datang lagi dan Mei tidak ada, ia membuat pesan yang ditempelkan bahwa ia sedang ada pekerjaan.

Akhir pekan berikutnya Minke tidak datang lalu pada Minggu kelima Mei mengirim surat. Mei sudah pindah dan menumpang seorang keluarga Tionghoa, ia sedang sakit. Ia sebenarnya menghindari bertemu dengan Minke karena sering mendapat ancaman jika ia berani menemui tamu lelaki Pribumi lagi. Rupanya ia mengalami kesulitan sebagai perempuan tanpa pelindung, tanpa keluarga, bahkan pada keluarga Tionghoa yang ditumpangi kini menganggap Mei perempuan yang berharap digundik. Akhirnya setelah sepekan sejak menengok Mei yang sakit, Minke mengajak Mei pindah ke Kwitang untuk tinggal di rumah ibu Badrun.

Minke mengerjakan menulis lagi dan sekolah menjadi nomor dua. Ia juga mengerjakan adpertensi seperti waktu di Surabaya. Sedangkan Mei tidak memiliki keterampilan bekerja Praktis, tetapi rajin belajar bahasa Melayu. Perhatian orang terhadap Minke mulai bangkit di Betawi. Hubungan antara Minke dengan seorang Tionghoa menjadi obrolan hangat di Stovia, bahkan ada yang mengirim surat kaleng yang mengancam akan melaporkan tentang pelanggaran aturan tinggal buat penduduk Cina. Bahkan tuan Direktur memerlukan untuk memanggil Minke, meskipun akhirnya Minke dapat meyakinkan Direktur Stovia karena nilai-nilainya.

Akhirnya liburan kenaikan tingkat Minke mengajak Mei ke kota B. Minke meninggalkan Mei di losmen, dan pulang ke rumahnya sendiri. Minke hanya bertemu Bunda dan adik-adiknya. Ia mulai bercerita tentang Mei. Meskipun awalnya Bunda kecewa dengan Minke karena tidak mau menikah dengan gadis Jawa, akhirnya Bunda merestui hubungan Minke dengan Mei. Bahkan Bunda Minke sendiri yang berkenan menjemput Mei dari losmen ke rumah. Setelah mendapat restu itu mereka berangkat ke Jepara.

Di Jepara Minke dan Mei bertemu dengan Kartini. Dalam pertemuan itu banyak diskusi antara mereka. Minke sebagai penerjemah dalam diskusi dengan keduanya. Mula-mula gadis Jepara itu menanyakan tentang kebebasan yang diterima seorang seperti Mei. Dalam awal percakapan mereka, ada pergulatan dalam batinnya, tentang kebebasan yang tidak diterima karena cintanya dengan ayahnya. Minke menyebut Kartini sebagai tumbal jaman baru, seorang dari belasan orang yang mewakili tragedi peralihan jaman. Seseorang yang berpikir sendiri tanpa bisa dipahami orang-orang di sekitarnya. Orang-orang yang berpikir bebas sekalipun tersandera dalam lingkungannya.

Mei bertanya kepada Kartini, apa yang akan ia lakukan apabila mendapatkan kebebasan? Ia mengatakan tentang penderitaan orang-orang di sekitarnya, “penderitaan di sini adalah suatu ragangan, tulang belulang kehidupan.” Menurutnya, orang-orang yang mengetahui penderitaan di sekitarnya tanpa bisa melakukan apapun akan lebih menderita. Kartini akan mengajar anak-anak karena masa itu adalah masa terbaik untuk anak-anak, mereka belum tahu tentang penderitaan itu. Tetapi Mei menyangkal, bagi Mei masa terbaik adalah masa seseorang dapat menggunakan kebebasan yang telah direbutnya sendiri. Meskipun demikian, Kartini membenarkan yang dikatakan Mei. Ia menyatakan perbedaan titik tolak antara dirinya dengan Mei. Kartini memulai masa kanak-kanak yang bahagia, Mei tidak. Ia merancang suatu pikiran dasar untuk membuat masa kanak-kanak jadi masa berbahagia untuk setiap bangsanya. Melandasi hidup anak-anak, agar pria harus menghormati mereka dengan syarat yang obyektif.

Kemudian Kartini bertanya, apakah di Tiongkok sudah memulai hal seperti itu. Mei menjawab belum, “terpelajar sebangsa kami menganggap ada pekerjaan lebih penting harus dilakukan: pembebasan Tiongkok dari keseluruhan.”

Bagi Mei, kebahagiaan yang hanya dimiliki anak-anak hanyalah semu atau kepura-puraan apabila kebahagiaan itu tidak dimiliki orang-orang dewasa di sekitarnya juga. Oleh karena itu, kebahagiaan harus untuk semua orang. Kartini tidak tersinggung dengan pernyataan Mei, dan ia membalas pernyataan Mei dengan pendapatnya. Menurut Kartini pengajaran dan pendidikan yang tepat untuk anak-anak adalah permulaan apa yang dikatakan Mei. Menurut Mei itu bukan cara satu-satunya karena orang dewasa dan orang tua juga harus mendapatkan pengajaran itu, selain itu juga perlu menghimpun modal untuk melakukan pengajaran itu, jika kedua ini tidak dilakukan pengajaran hanya akan diterima sedikit orang dan pencerahan akan diterima dalam waktu yang sangat lama.

Menurut Mei lagi berorganisasi menjadi kuncinya, “berorganisasi, sahabat, berserikat, banyak orang, puluhan, ratusan, malah puluhan ribu, menjadi satu raksasa gaib, dengan kekuatan lebih besar dan banyak daripada jumlah semua anggota di dalamnya..” Mei menambahkan lagi, “ …dengan tangan-tangan raksasa, kaki-kaki raksasa, penglihatan dan kemampuan dan daya tahan raksasa…”

Kartini mengatakan Mei sebagai orang yang memiliki pikiran keras, berbeda dengan teman-teman Eropa-nya yang tidak pernah mengatakan demikian. Tetapi menurut Mei ia bukan berpikiran keras, hanya setia pada kemestian semua benda harus takluk pada keinginan, baik yang abstrak maupun konkrit. Seperti penaklukkan hukum-hukum alam. Dalam suatu waktu, Kartini bertanya apa saja yang sudah dilakukan Mei selama ini. Mei membalikkan pertanyaan itu pada Kartini, dan perempuan Jepara itu mengatakan selama ini ia melakukan apa saja yang mungkin dilakukan dalam keadaan seperti itu, menulis untuk umum dan perorangan. Lalu percakapan diakhiri dengan basa-basi tentang apresiasi Minke terhadap tulisan Kartini. Mei mengaku juga menulis, meskipun setelah itu ia tidak melanjutkan dan mengajak Minke berpamitan.

Dalam perpisahan itu Kartini berkata, “Berbahagialah kau, sahabat, dapat menjadi apa yang kau kehendaki sendiri, boleh dilakukan dan bisa perbuat apa yang kau anggap baik, untuk diri sendiri dan sebangsamu.” Seorang berpikiran bebas yang terasing dalam lingkungannya, seorang tumbal jaman modern menyuarakan hatinya.

Minke dan Mei melanjutkan perjalanan ke Bandung. Dalam perjalanan itu Minke melamar Mei dan mereka menikah di Bandung.

Denpasar, Senin, 1 April 2013.
Mengawali hari yang panjang

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s