Lalu, Kita Berlari-lari

Lima hari terasa begitu singkat. Tiba-tiba saja kita sudah dihadapkan dengan langit sore yang mendung, tidak rela dengan perpisahan yang sementara ini. Waktu tergopoh-gopoh, memaksa kita mempercepat diri. Kamu membantuku mengemasi kenangan-kenangan yang belum kurapikan sejak beberapa hari ini. Kenangan kita sepanjang Sudiang- Daeng Sirua. Lima hari itu kita mengukur jalanan ini. Mengomentari sejauh yang kita lihat. Deretan bangunan yang tak kuanggap seperti bangunan di kota, “ciri khas bangunan kota itu sampai di mulut trotoar, tidak ada halaman seluas itu,” kataku. Kamu diam, dan terus terang itu menggemaskan. Mungkin kamu berpikir aku menyebalkan, sok tahu, banyak komentar, baru datang saja sudah protes tata bangunan.

Genangan air yang kau terabas dengan motor, kamu lupa aku berada di belakangmu. Aku protes saat orang lain melalui genangan yang sama, lalu kamu bilang “ bukan salahku…,”

Ahh, tentu saja aku tak tahan untuk tidak membandingkan betapa jalanan tak bersahabat, banyak orang yang seenaknya sendiri naik kendaraan.

Kata-kata yang paling menenangkan sepanjang jalan itu, “ paling tidak, diam mu bukan diam yang menyebalkan.” Meskipun itu bukan kalimat manis, tapi cukup membuat tenang saat aku tak bisa menjadi sempurna (yang mungkin) seperti kaubayangkan sebelumnya.

Atau saat makan malam pertama kita, kamu tampak malu-malu di salah satu warung Coto dekat kampus.

****

Malam seperti ini, yang paling kuingat sepanjang jalan Perintis Kemerdekaan tak seperti siang hari. Sudah cukup sepi. Kamu memboncengku di motor yang kau kendarai. Kamu lebih banyak diam, dan aku jadi sering mengantuk. Aku protes lagi, “ mengapa diam saja, ajak saya bicara dong…” haha, aku memang menyebalkan, tapi akan membuatmu kangen tentunya.
Di kesempatan yang lain kita menumpang pete-pete, kamu duduk di sampingku. Mengajak bicara apa saja. Tentang siang sebelumnya, tentang coto ku yang tidak pernah pas rasanya. Tentang Isobel yang setiap malam menahan kita. Ahh, tapi kantuk tetap datang juga, aku terus menguap. Tidak jarang aku merasa Sudiang- Daeng Sirua dan sebaliknya memang jauh, kesempatan yang lain rasanya dekat sekali, terutama kalau siang hari. Padahal siang hari macet seperti kemacetan di jalan Sudirman Denpasar saat anak-anak SMP dan SMA pulang sekolah. Mungkinkah jarak itu bergantung suasana hati?
Kita juga pernah sepayung berdua di beberapa titik jalanan itu. Payung polkadot hijau bertangkai aluminium. Kamu sering tidak bisa membuat payungnya terbuka, “pakai cinta dong,” protesku. Dan ternyata cinta kami saling mengisi, jika kamu tak bisa membukakan maka aku akan membukakan payung untukmu, begitupula sebaliknya *halah.

Hujan rintik-rintik di hari terakhirku kita menyusuri pintu dua Unhas menuju sebuah ruang ICU, hee, kamu pasti tahu aku tak suka rumah sakit. Mendengarnya saja bisa membuatku beku. Kita hanya mampir sebentar di sana. Aku yakin kamu melihat ekspresiku di dalam ruangan itu. Di sebelah tirai, kosong, seorang pasien baru saja meninggal, di seberangnya pasien laki-laki sedang berteriak tidak tenang. Kematian adalah sesuatu yang pasti, tapi aku takut kehilangan lagi.

****

Pagi itu sejak kita membuka mata kamu menjadi cerewet, memintaku mengemas barang-barang dan mengingatkan jangan sampai ada yang terlupa. Menanyakan keberangkatan yang tertera pasti dalam tiket, padahal hari sebelumnya aku sudah memperlihatkan padamu. Siang harinya kamu tak lupa mengemas mimpi-mimpi kita dalam kardus coklat, sebelum kaututup bagian atas kau letakkan syal khas Nusa Tenggara. Kain coklat oleh-oleh dari temanmu sebenarnya, aahh kamu.
Kamu juga tak lupa mengingatkanku untuk menulis pada minggu-minggu terberat kita. Nyatanya hingga saat ini, belum lahir satu tulisanpun. Sementara aku sibuk bersiap-siap, kamu menyibukkan menata hati. Efek rumah kaca mengiringi pagi itu, kamu tahu ini Januari tapi kamu tetap suka dengan Desembermu.

Satu minggu berlalu, sadar atau tidak seminggu ini kita sibuk melarikan diri. Pergi kemana saja, bertemu banyak orang dan mengobrol apa saja. Bukan berarti melupakan mimpi-mimpi, kita hendak bernegosiasi, mencoba untuk bisa menerima bahwa sementara kita terpisah lagi. Menghindari percakapan panjang selepas tengah malam. Kita sok sibuk, lalu sok capek. Belum tahu efeknya jika rindu kita memuncak nanti.

Aku merasa minggu ini pendek sekali, sementara pekerjaanku belum selesai minggu yang baru hampir datang lagi. film yang kau copykan belum satupun kutonton, buku-buku apalagi. Lalu aku punya janji denganmu untuk menulis, dan aku ingkar. Agenda keluarga yang tiba-tiba. Ahhh, tidak, yang kemarin itu nyata bukan? Kirimkan aku sejumlah ingatan bahwa minggu ini kita tak perlu berlari-lari.

(Titik dua, tanda bintang)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s