Perihal Merokok

Sebuah percakapan sederhana menjelang berakhirnya Januari tahun lalu ditutup dengan kalimat kaku “Saya belum punya alasan untuk berhenti merokok.” Sudah bisa ditebak itu percakapan tentang apa. Dua orang yang belum lama akrab tiba-tiba sok membicarakan tentang aktivitas pribadi masing-masing tanpa menyamakan persepsi terlebih dahulu. Lalu diakhiri dengan satu kalimat kaku, dan percakapan tidak berlanjut. Tapi satu hal yang mengagetkan, beberapa hari berikutnya pada awal Februari kamu mengatakan akan mulai berhenti merokok (lagi). “saya sudah pernah berhenti merokok dulu, tapi merokok lagi karena teman-teman juga merokok,” seingatku kamu bilang seperti itu.

Haaahh, demi apa, demi apa, demi apa? Tentu saja saya bertanya-tanya.

Satu tahun kini telah berlalu, aku tidak menyebut merokok itu hal terlarang hanya saja saya memang sering terganggu dengan asap rokok. Upayamu berhenti merokok sungguh kupikir suatu hal yang luar biasa. Bapak dan kakek ku tidak pernah bisa berhenti merokok sejak umur belasan tahun hingga nafas terakhir mereka. Bahkan mereka memang mengikrarkan diri tidak akan berhenti merokok hingga mati.

Kemampuanku dalam meyakinkan orang sangat payah. Jadi alasanmu untuk berhenti merokok sama sekali tidak ada hubungannya dengan pertanyaan saya ketika itu. Pun tidak ada unsur politis atau pengaruh kampanye anti-rokok, murni kesadaran pribadi tentang perbedaan antara “Kebutuhan dan keinginan.”

Rokok sebagai barang konsumsi kamu letakkan setara dengan kebutuhan semacam smartphone, tidak perlu memiliki jika memang belum membutuhkan. Sebenarnya jika saya mengatakan demikian tidak akan sebanding, rokok adalah aktivitas konsumsi, tembakau sebagai bahan dasar rokok adalah komoditas yang pasarnya diperebutkan, sedangkan smartphone urusan gaya-gayaan. Pendek kata, merokok bukan kebutuhan setiap orang.

Perihal berhenti merokok ini juga membuat saya lebih membuka pikiran terhadap rokok. Bulan Mei tahun sebelumnya (2011) saya dan teman-teman pernah mengikuti aksi damai dalam rangka Hari anti tembakau sedunia. Kami Long March dari kampus ke kantor DPRD menuntut segera dibentuk perda tentang kawasan tanpa rokok (KTR). Sebagai mahasiswa jurusan kesehatan masyarakat rasanya harus dong (sok) ikut-ikutan biar dikira peduli. Aiihh. Tapi saya tidak merasakan “Nafas” aksi waktu itu. Kami tidak pernah memiliki kajian sendiri tentang rokok, dan aksi itu hanya bentuk solidaritas terhadap agenda yang sama dari kampus atau institusi lain.

Menjelang di sahkannya perda KTR di Bali, bulan Mei 2012 juga dilaksanakan diskusi terkait pelaksanaan Perda di lingkungan kampus. Diskusi saat itu dilaksanakan oleh BEM-PM Unud bekerjasama dengan komunitas peduli tembakau di kampus. Sedangkan pembicaranya dosen ilmu kesehatan masyarakat yang konsen meneliti tentang dampak rokok terhadap masyarakat Bali dan seorang ibu anggota team pembentukan perda KTR. Kawan-kawan BEM terutama dari Fakultas banyak yang merasa Perda itu hanya sia-sia. Melarang aktivitas merokok tanpa menyediakan ruangan khusus untuk merokok di kantor-kantor pemerintah dan tempat aktivitas pendidikan. Alasannya agar pada jam-jam efektif bekerja dan belajar tidak ada aktivitas merokok, tujuan akhirnya untuk mengurangi konsumsi rokok. Diskusi ini dilaksanakan beberapa hari sesudah pembubaran bedah buku “Membunuh Indonesia” di Bogor.

Diskusi berakhir tanpa hasil, kami malah terlalu banyak membahas pasal-pasal yang tidak masuk akal. Bukan tentang siapa-siapa saja orang-orang yang dirugikan atau diuntungkan atas Perda ini. Salah satu pasal yang tidak masuk akal adalah terkait denda untuk orang yang ketahuan merokok di tempat-tempat umum, tetapi tidak dibahas siapa yang akan mengawasi dan untuk apa denda tersebut. Adik-adik tingkat saya yang menjadi anggota komunitas peduli bahaya tembakau merasa kecewa atas diskusi ini, pasalnya banyak perwakilan Fakultas tidak menyambut baik pelaksanaan perda ini di kampus. Bahkan ada adik tingkat yang menganggap BEM-PM gagal mengakomodir terkait permasalahan rokok ini.

Lalu saya berkenalan dengan beberapa buku tentang tembakau. Buku membunuh indonesia yang pernah dilakukan pelarangan dalam bedah buku di Bogor, buku ini sama sekali tidak menganjurkan orang untuk merokok, dalam buku ini dijelaskan tentang kehancuran komoditas seperti kelapa, gula, garam, dan sebentar lagi kretek juga akan menyusul. Tapi jika menonton DVD yang disertakan saat membeli buku memang sepintas ada pernyataan yang pemilihan kata nya menurut saya kurang pas dan bisa jadi menyesatkan. Seperti pernyataan “Kretek bukan rokok,” mungkin karena pemahaman saya tentang “rokok” tidak hanya berlaku pada rokok putih. Pada “Tembakau, negara dan keserakahan modal asing” berisi tentang negara-negara yang memberlakukan kebijakan tentang rokok tetapi tetap melindungi petani tembakau seperti di Jepang dan China, bahkan Amerika dan Singapore sebagai pelopor gerakan anti tembakau sangat protektif terhadap pasar tembakau mereka. Dan yang baru-baru ini buku “Tipuan Bloomberg,” terhadap dukungannya terhadap kampanye anti rokok.

Permasalahan rokok memang tidak sesederhana permasalahan kesehatan, karena ada banyak kepentinga dibalik kampanye anti rokok ini. Dengan diberlakukannya beberapa peraturan peraturan daerah terkait KTR yang disusul peraturan pemerintah dan Permenkes tentang tembakau sangat terlihat betapa kita terlalu lemah untuk mengakui bahwa dalam membuat kebijakan sekalipun kita masih terlalu bergantung pada orang asing.

Pada akhirnya selamat, satu tahun sudah telah peduli kesehatanmu tanpa acuh terhadap hal-hal yang dekat denganmu (dan kita)

Advertisements

2 thoughts on “Perihal Merokok

  1. jangankan aku juga sangat bingung ketika banyak pihak berbicara tentang rokok. entah menolak dan pro akan perda trsebut. ada 2 kekuatan yang jelas mengarahkan kita pada 1 opini. menyingkirkan rokok dan “melindungi” industri rokok2 besar..

    benar kata mbok luh de… bisnis ini padat, banyak uang, yang mustinya masyarakat tahu merokok itu masalah etika, edukasi, dan kesadaran yang mustinya kita tularkan pada orang lain, anak- anak, dan juga para penggiat..

  2. dari beberapa buku yang udah aku baca, bisa sedikit disimpulkan sebenarnya keduanya emang sama-sama mengandung kepentingan politis sih baik yang pro maupun yang anti. yang gerakan anti rokok secara gak sadar juga disusupi kepentingan pemodal dari industri farmasi yang pengen mendapatkan keuntungan lebih banyak dengan membuat produk2 berbahan dasar nikotin, mengingat nikotin gak bisa dipatenkan. yang pro tentunya juga akan berpihak pada pemodal dari industri rokok (dalam negeri), dan sebenarnya tuntutan mereka kan cuma melindungi petani tembakau dan pembatasan import rokok.

    tapi kalo soal rokok secara keseluruhan, iya sepakat sama mbok luh de, merokok meskipun hak ya mesti tahu tempat, tahu etika. dan karena aktifitas merokok ini aktivitas konsumsi seharusnya sih kita punya kesadaran, rokok bukan kebutuhan. heuu

    kalo masalah mau berada di jalur yang mana, asalkan punya prinsip dan tahu kenapa harus berada dalam posisi itu, bagiku sah-sah saja menjadi bagian gerakan anti ataupun pro. masalahnya selama ini kan kebanyakan cuma ikut-ikutan, bagian ini sih aku cuma bisa memberikan contoh dari gerakan anti rokok, gak peduli apa latar belakang gerakan ini karena caranya yang elegan mengambil latar belakang masalah kesehatan semua jadi ikutan aja, gitudehhh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s