Ibu Kehidupan

Air sebagai kebutuhan vital layak disebut sebagai ibu kehidupan

Akhir bulan Juli 2010 seharusnya menjadi sangat menggembirakan karena majelis umum Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) telah mendeklarasikan akses terhadap air bersih dan sanitasi sebagai hak asasi manusia. Seharusnya memang tak perlu menunggu selama berabad-abad untuk pengakuan ini, toh selama ini semua menyadari bahwa air telah menjadi bagian kehidupan sehari-hari. Air sebagai kebutuhan vital setiap manusia ini dekat sekali dengan perempuan. Misalnya seperti perempuan di Afrika, mereka menghabiskan waktu berjam-jam untuk mencari air dan fasilitas sanitasi, dibanding harus sekolah atau bekerja. Di Indonesia hal ini juga terjadi, seperti di Nusa Tenggara Timur, anak-anak dan perempuan yang memenuhi kebutuhan air rumah tangga. Hal ini karena di beberapa negara seperti Indonesia atau Afrika perempuan identik dekat dengan tugas-tugas domestik. Pemenuhan air dianggap sangat dekat dengan kebutuhan domestik yang artinya harus dipenuhi oleh perempuan.

Di Indonesia hak tentang air ini diatur dalam UU No 7 tahun 2004 pasal 10, negara menjamin hak setiap orang untuk mendapatkan air bagi kebutuhan pokok minimal sehari hari guna memenuhi kehidupan yang sehat, bersih dan produktif. Tetapi kenyataannya hak yang seharusnya dapat dipenuhi oleh semua warga ini malah menjadi objek untuk dikomersialisasi. Sebagai contoh karena Kebobrokan pemerintah era orde baru dalam mengelola perusahaan air minum berdampak pada swastanisasi pada beberapa perusahaan air minum di Jakarta. Bahkan perusahaan air minum di daerah Biak, Merauke dan Sorong (Papua), Ambon (Maluku), Manado dan Tomohon (Sulawesi Utara) manajemen operasional perusahaan air minum dikendalikan oleh perusahaan swasta yang bermitra dengan perusahaan air minum daerah selama jangka waktu tertentu.

Di Bali sendiri permasalahan terkait air bersih dan air minum bermacam-macam. Mulai dari masalah internal perusahaan air minum, seperti kisruh di internal PDAM Gianyar pada Januari 2009. Eksploitasi air tanah untuk perusahaan air minum yang ditolak masyarakat di desa Budakeling Karangasem pada awal November 2012 serta kisruh perusahaan air minum merk terkenal di Singaraja. Secara umum permasalahan air di Bali ini ada dua macam, pertama karena Bali sebagai daerah tujuan wisata menyebabkan banyaknya pembangunan hotel-hotel dan tempat-tempat permainan air untuk memperpanjang waktu tinggal wisatawan di Bali. Pembangunan hotel yang terus tidak terkendali ini dapat menyebabkan berkurangnya resapan air di Bali, ini yang menjadi titik pangkal penguasaan atas air di Bali. Menurut Gendo Suardana, mantan pengurus eksekutif WALHI Nasional, defisit air tidak akan luput mengancam Bali, malah telah terlihat sejak tahun 1995, berdasarkan Kementerian Negara Lingkungan Hidup RI mengingatkan bahwa defisit air di Bali telah terlihat sejak 1995 sebanyak 1,5 miliar meter kubik/ tahun. Defisit tersebut terus meningkat sampai 7,5 miliar meter kubik/ tahun pada 2000. Kemudian, diperkirakan pada 2015 Bali akan kekurangan air sebanyak 27,6 miliar meter kubik/ tahun.

Permasalahan air yang kedua karena wilayah Geografis, seperti Kabupaten Karangasem dan sebagian kecil daerah di kabupaten Buleleng. Salah satu daerah yang sering mengalami kekeringan di Karangasem yaitu Muntigunung. Daerah ini merupakan daerah kering, sehingga selama musim kering antara Mei dan Desember penduduk sangat bergantung pada air hujan yang dikumpulkan selama musim hujan di cubang keluarga. Air cubang ini tidak mencukupi jumlah keperluan air selama musim kemarau itu oleh karena itu sangat berpengaruh terhadap perekonomian masyarakat, pengembangan tanaman pangan dan pertanian menjadi terhambat. Kondisi perekonomian ini menjadi permasalahan baru terhadap daya beli masyarakat Muntigunung.

Sementara ini air hujan di daerah ini hanya ditampung dalam suatu cubang saja tanpa adanya purifikasi. Air hujan yang disimpan dalam cubang digunakan langsung untuk mandi dan memasak. Kandungan zat pencemar pada air hujan tinggi dan kandungan mineralnya rendah, sehingga diperlukan sistem pengolahan yang mampu meningkatkan kualitas air hujan.Sebenarnya ada cara prufikasi menggunakan sinar UV. Dari sistem pengolahan air ini menghasilkan air murni hingga air ultramurni yang dapat dimanfaatkan dalam industri atau rumah tangga. Tetapi tentu saja untuk skala rumah tangga membutuhkan peralatan yang tidak sederhana dan biaya yang tidak murah.

Pure it memiliki berbagai keunggulan sebagai water purifier. Untuk skala rumah tangga sistem ini juga tergolong murah. Sistem pengolahan air ini akan melalui empat tahapan. Pertama, air akan melalui saringan serat mikro yang berfungsi menghilangkan kotoran. Kedua, akan melalui filter karbon aktif yang dapat menghilangkan parasit dan pestisida berbahaya. Ketiga, purifier ini dilengkapi dengan prosesor pembunuh kuman, dengan menggunakan sistem “programmed disinfected technology dapat menghilangkan bakteri dan virus berbahaya yang tidak terlihat. Dan terakhir terdapat sistem penjernih yang membuat air menjadi jernih, tidak berbau dan rasa yang alami.

Mungkin, ibu kehidupan memang harus dipenuhi dengan cara semudah ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s