Bercitra Melalui Jazz

Ujung selatan jawa timur itu sepi, jauh dari hingar-bingar kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, atau terutama yang paling dekat Denpasar dan Surabaya. Kota kecil yang ada disana, Banyuwangi memiliki posisi strategis sebagai penghubung jawa dengan daerah timur pulau. Meskipun sering menarsiskan diri dengan Gandrung dan bahasa Using, sesungguhnya kebudayaan ini hasil dari berbagai persilangan budaya. Dangdut koplo yang selama ini berkumandang pun hasil campuran dangdut melayu dan musik etnik daerah.

Di Banyuwangi seingatku jarang sekali ada pagelaran musik. Dari mulai SMP hingga kini aku hanya pernah mendengar ada konser slank, ungu, dan ada beberapa kali band-band baru. itupun kadang disertai ricuh khas konser-konser di kota kecil. Tapi semua masyarakat banyuwangi bukan berarti “mati,” kami biasa menikmati musik daerah. Setahuku musik daerah cukup berkembang, mulai dari kendang kempul hingga berkembang menjadi dangdut koplo. Dangdut adalah musik yang paling ramah di Banyuwangi, coba saja menyeberang dari Gilimanuk-Ketapang, dangdut dengan mudah di dengar di sepanjang perjalanan ini. Atau naik bus sepanjang jalur utara atau selatan menuju surabaya, para pengamen akan mengenalkan kepada anda. Atau ringtone ponsel teman perjalanan dalam satu bus, pasti ada salah satu yang memakai ringtone dangdut koplo. kaset CD dangdut juga akan mudah sekali didapatkan di pedagang Pasar atau pinggir jalan. Tapi karena dangdut koplo biasa dinikmati oleh orang-orang menengah ke bawah dan dibawakan oleh penyanyi dengan dandanan norak, jenis musik ini sering dianggap murahan.

Bercitra dengan Jazz

Dangdut berhasil di citrakan sebagai musik murahan, lain hal dengan jazz yang telah naik kelas dari daerah urban Amerika Selatan pada abad 19 menjadi musik elit menengah keatas. Di Indonesia jazz dibawa oleh musisi Filipina. Pada era orde baru jazz tidak begitu berkembang, mungkin kalah dengan dangdut sebagai musik rakyat.
Rupanya jazz kini sampai juga di Banyuwangi. Pada headline Kompas hari minggu ada judul berita Cintaku Tertambat di Banyuwangi. Ini merupakan feature tentang pagelaran musik yang baru-baru ini di selenggarakan di Banyuwangi. Musik jazz! Banyuwangi yang selama ini terkenal dengan dangdut koplo, tiba-tiba menggelar pagelaran Musik Jazz. Sebelum perhelatan akbar ini di gelar, saya sempat nyinyir di sosial media gegara melihat link web untuk promosinya. Apa yang salah dengan Banyuwangi? Tidak ada saudara-saudara, hanya soal rasa.

Pagelaran ini diadakan dalam rangka ulang tahun Banyuwangi. Dan ada yang sedikit menggelitik telinga tentang pernyataan Bupati. Dalam suatu situs berita abdullah Azwar Anas mengaku ingin membawa musik etnik Banyuwangi ke dimensi yang lebih eksklusif dan berkelas sebagai upaya mempromosikan musik Banyuwangi. Seolah-olah melalui jazz akan mampu mengemas musik daerah yang dipadukan menjadi lebih istimewa. Bila memang begitu tujuannya apakah tidak mengurangi nilai rasa dari mendengarkan musik tertentu.

Di Denpasar lain lagi cerita, mungkin perbandingannya agak jauh, di Kampus saya. Tahun ini Jazz Festival digelar lagi di kampus Palma. Setahu saya, Udayana Jazz Festival yang telah tiga tahun berjalan ini digelar untuk menyatukan mahasiswa Udayana sekaligus membangun brand musik baru. Karena selama ini yang berkembang di Bali lebih banyak Pop dan rock. Oleh karena itu harapannya jazz festival menjadi event yang paling ditunggu-tunggu.

Jazz yang pertama kali di gelar di Banyuwangi ini memang di gratiskan untuk penonton, menurutku hanya uji coba. Apakah cocok di telinga orang Banyuwangi. Tapi karena jenis jazz bermacam-macam, bahkan ada yang dipadukan dengan musik etnik menurutku bakal ditunggu-tunggu lagi di Banyuwngi. Sedangkan di Udayana sejak awal jazz cukup berhasil memikat para penggemarnya di Bali, yang kebanyakan memang sudah menjadi konsumsi mahasiswa. Sejak awal festival musik tersebut diadakan cukup terjangkau kantong mahasiswa. Tapi tetap saja mendatangkan para musisi Jazz itu mahal man!
Jazz selama ini memang hanya berkembang di kota-kota besar yang mengalir dalam java jazz festival atau festival jazz lainnya. Sebagai jenis musik yang telah naik kelas, jazz lupa asalnya. Bahkan dari dua peristiwa diatas jazz telah menjadi alat bercitra. Musik jazz pada umumnya dinikmati dengan membayar dan ruang tertutup, serta penonton yang rapi dan berbau wangi. Tapi di Jogjakarta Djaduk ferianto bersama orkes sinten remen ingin merubah persepsi ini. Masih pada edisi Kompas minggu, Djaduk bersama musisi ternama menggelar Ngayogjazz sebagai spirit perlawanan terhadap citra jazz, Jazz bukan komersial melainkan gerakan budaya.

Tahun depan Udayana Jazz Festival diperkirakan tidak ada lagi jika hari ini salah satu kandidat penggagas Udayana Musik Festival terpilih. Para penggagas jazz festival merasa brand yang telah dibangun dengan usaha keras selama ini sia-sia. Tapi sekali lagi kepemimpinan bukan soal bercitra, setiap jaman punya masanya masing-masing. Kebutuhan mahasiswa (termasuk akan musik) hanya kepemimpinan hari ini yang bisa membaca. Bukankah musik soal selera, jika memang mengenalkan jenis musik baru ke telinga mahasiswa buang-buang biaya toh Udayana sudah memiliki banyak event musik seperti Eksada atau pagelaran musik mahasiswa Teknik.

Denpasar, 27 November 2012
Di sela-sela siap-siap berangkat kerja

Advertisements

One thought on “Bercitra Melalui Jazz

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s