Kepada Seorang Ibu dan Bayi dalam Genggaman

Aku masih saja turut Limbung mendengar dua kata yang sesungguhnya tidak pernah asing di telinga. Jika dua kata ini adalah kutub magnet, ia akan saling tarik menarik. Sayangnya dua kata ini berarti pilihan. Aku membayangkan dunia berakhir hanya dengan dua pilihan ini. Satu kata menandakan dunia di depan mata segera berakhir, satu kata lagi menandakan lampu orange, sebuah peringatan untuk berhati-hati dan berharap-harap cemas menunggu periode jendela berikutnya.

“Dunia kita segera berakhir nak, tinggal menghitung waktu,” bisiknya pada bayi dalam genggamannya. Ia tidak siap menerima segala hal tanpa pertanda sebelumnya. Mempersiapkan waktu berkualitas kedepan memang tidak mudah. Butuh waktu untuk menerima kata penghakiman ini. Kata penghakiman yang membuat banyak orang berefleksi sekaligus frustasi. Dunia memang pasti berakhir, tapi penghakiman ini seolah-olah akan menghinakan kita dan orang-orang disekitar kita.

Sesungguhnya apalah arti penghinaan dua kata ini, toh secara moral kita memang sudah hina-sehina-hinanya. Tidak pernah kita sadari sehari-hari kita menjual diri kita untuk kepentingan asing. Menjadi kaum paling berperan penting dalam keburukan tata kota. Menjadi orang-orang yang paling bertanggungjawab dalam pemiskinan negara. Dua kata ini efek pelarian dari mereka yang frustasi. Seringkali persoalan ekonomi menjadi kambing hitam kata-kata ini, tapi itu tidak sepenuhnya benar nak. Pendidikan tidak menjamin apapun untuk aku atau kamu. Ia menjadi sumber adanya nabi baru dan pembagian kelas-kelas. Kita adalah yang tersisih, tidak bisa disebut kaum buruh, pun tidak layak disebut kelas menengah.

***

Seorang perempuan, bisa kutaksir umurnya belum genap 25. Aku tidak tahu kapan tepatnya dia datang yang jelas lepas tengah hari itu aku bertemu dengannnya penuh dengan kecemasan. Kulit putihnya terlihat cerah dipadu padan dengan kaos warna orange dan celana ungu ketat. Rambutnya ikal berwarna semburat merah. Mata cekungnya seperti menandakan tidak cukup tidur, atau pertanda kehilangan banyak berat badannya. Aku membayangkan dua hingga tiga tahun yang lalu dia perempuan energik dan wajah yang segar.

Biacaranya sedikit ngawur, entah bawaan keseharian atau efek depresi dari segala permasalahan yang membebani nya. Dia tiba-tiba berada di dekat kami saat kami sedang makan siang bersama. Pandangannya kosong, sikapnya acuh, di sela-sela kunyahan mie dalam mulutnya ia bertanya “apa artinya anti?” aku yang baru selesai mencuci tangan sedikit bertanya-tanya, mungkin ini orang yang menjadi topik hangat sejak aku tiba pikirku. “anti itu bisa berarti menolak atau berlawanan,” kata seorang teman, Asti. Kami saling berpandangan sepintas, sambil bertanya-tanya, sesungguhnya dia ingin menananyakan apa lengkapnya.

Sepintas aku berpikir dia ingin menanyakan anti-HIV, antibody atau bahkan antikorupsi. Tiba-tiba aku kurang berselera makan, bukan apa-apa, aku tidak pernah siap hadir di depan orang-orang yang tengah kecewa dan putus asa. Aku tidak pernah dapat membantu banyak untuk mereka. Asti penasaran, dia ingin bertanya banyak dengan perempuan ini tapi urung setelah isyarat yang kuberikan. Tapi perempuan ini segera bertanya lagi setelah melihat dua perempuan muda yang mungkin terasa asing baginya baru saja datang. “mereka tidak suka ngambil anak kan mbak,” tanya nya masih dengan air muka acuh. Bayi dalam genggamannya menangis, meskipun botol susu sudah diberikan dia tetap menangis.Dan tak berapa lama perempuan ini berpindah ke halaman depan.

Seorang bayi mungil ada dalam genggamannya, bayi merah laki-laki. Selimut merah muda melingkupi semua tubuh keriput sang bayi. Selimutnya masih bersih, tidak kelihatan dekil, perkiraanku bayi itu belum lama berada di jalanan bersama ibunya. Baru berumur lima bulan ketika kutanya. Tubuhnya kurus, di area wajahnya dilingkupi jamur. Dia bayi tidak berdosa, tidak tahu-menahu dunia, tetapi dihinakan orang-orang sekitarnya.

Saudara sang ibu meminta mereka pergi, mencari sang ayah yang katanya berada di Sulawesi. Sulawesi mungkin bagiku dekat, ada dalam genggaman ponsel dan jaringan internet. Hanya dengan kata connect kami sudah terhubung. Tapi bagi ibu ini, Sulawesi jelas negeri beribu-ribu kilometer yang tak cukup dengan jalur darat menempuhnya. Pun ketika sudah ketemu belum tentu akan mudah dikenali. Dunia mungkin akan terasa tidak adil, ibu ini menjadi seseorang yang harus menanggung semua derita, padahal sudah jelas ini bukan hanya soal perilaku.

Di depan, semua orang mengkhawatirkan bayi merah muda, kondisinya memang sudah cukup mengkhawatirkan.” Laki-laki kecil ini harus segera mendapat pertolongan,” kata salah satu diantara mereka. Semua membujuk ibu muda ini agar mau menyerahkan anaknya untuk segera diberi pertolongan. Perempuan ini tidak rela, “apapun yang terjadi, aku harus terus bersama anakku,” katanya.

***

Kepada seorang ibu dan bayi dalam genggaman. Dalam hatinya penuh cabik-cabik luka. Ia berjalan sendiri, seperti seorang perempuan dalam sunyi. Berjalan bukan lagi sesuatu yang mudah, ia limbung langkahnya gontai.

Parasnya ayu penuh kecemasan, menyamarkan pesona sebelum tahun-tahun berlalu. Wajah segarnya sudah dilucuti sejak belia. Tanda pengenal tak punya, entah mungkin bagian pembunuhan melalui pencatatan.

Ia masih bisa mengingat dengan jelas, syukurlah. Kata syukur memang selalu menjadi penenang siapapun yang sedang mengalami kebuntuan. Bahkan dia juga mengenali salah satu orang disana. “ibu ini pernah bekerja di tempat saya,” kata seorang perempuan tinggi besar. Mereka bercakap-cakap meskipun tak berhasil membujuknya.

Ibu muda masih penuh kekacauan, bicaranya ngelantur kemana-mana. Ia hanya kebingungan tak tahu jalan. Hatinya tetap kekeuh tidak ingin dipisahkan dengan bayi merah muda. Sementara segala tempat bersyarat, bersedia menerima ibu atau bayi merah muda saja. Dunia ini selalu pamrih ibu muda, menolong bukan berarti tanpa syarat. Paling tidak pencatatan sipil pernah merekam waktu. Bahkan, yang berstatus relawan sekalipun, bukan sesungguhnya relawan seperti di medan perang. Ia hanya seseorang yang memiliki secuwil jiwa sosial.

Seorang ibu muda, telah dibunuh sebelum segala virus menggerogoti tubuhnya, ia dibunuh dalam pencatatan.

Kepada seorang ibu dan bayi dalam genggaman, semoga semesta menyertai setiap langkah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s