Citra Perempuan, IMS dan HIV

“guys can go around a screw a lot of girls, and they look macho, but when a girl does it, she looks like a slut” –Crawford & Unger-

kurang lebih, laki-laki dimana-mana bisa menggoda perempuan dan mereka terlihat macho. Tetapi ketika perempuan yang melakukannya, ia tampak seperti pelacur. Hal diatas muncul karena dunia hanya mengkategorikan perempuan menjadi dua yaitu perempuan baik-baik dan pelacur, tetapi tidak ada pengkategorian untuk laki-laki. Beberapa hal yang akan saya sampaikan ini akan lebih banyak mengambil pendapat-pendapat dari buku menjalajah tubuh perempuan dan mitos kecantikan karya Annastasia Melliana, buku yang tak pernah selesai dibaca sejak awal-awal semester kuliah. Jika Annastasia menyoroti perempuan pada umumnya, disini saya akan mendekatkan pendapat-pendapatnya kepada kehidupan WPSTL (wanita penjaja seksual tidak langsung).

Setidaknya hampir dua minggu ini dan dalam waktu yang lama kedepan saya akan sering bertemu mereka dan mencoba memahami berbagai permasalahannya. Tentu saja saya tidak boleh hanya memahami mereka dari sisi kesehatan dan moral saja, banyak perihal lain yang membuat mereka memutuskan menjadi WPSTL. Motif ekonomi salah satunya, tetapi kalau semata-mata perihal ekonomi mungkin mereka akan terang-terangan mendeklarasikan diri sebagai WPS. Status mereka menjadi beban moral tersendiri ketika di masyarakat, di sisi lain mereka ingin menunjukkan citra “perempuan baik baik” versi masyarakat, di satu sisi mereka melakukan pekerjaan yang berisiko terhadap kesehatan yaitu IMS (infeksi menular seksual) dan HIV AIDS.

Data terkait HIV AIDS dunia menunjukkan sejak awal epidemi, lebih dari 9 juta perempuan telah meninggal akibat penyakit yang berkaitan dengan HIV AIDS. Dari 36 juta Odha (Orang dengan HIV AIDS) di dunia, 47 persenya adalah perempuan, dan proporsi ini terus meningkat. Dari 16.000 infeksi baru yang terjadi setiap hari, 60% terjadi pada perempuan. Dan dari 17,5 juta Odha yang meninggal, 52% nya adalah perempuan (www.eldis.org).

Dari data diatas dapat dikatakan perihal IMS dan HIV AIDS bukan hanya soal perilaku dan kesehatan, ini merupakan penyakit akibat konstruksi sosial. Setidaknya beberapa hal yang saya perhatikan beberapa minggu ini, beberapa akibat konstruksi sosial terhadap perempuan ini menyebabkan cara berdandan yang mirip, berpengaruh terhadap perilaku memakai pengaman saat bersama pasangan, dan pemahaman WPSTL baru terkait perilaku seksual mereka.

Cara berdandan menunjukkan bahwa penilaian terhadap kecantikan itu seragam. Penampilan mereka dituntut untuk menunjukkan diri mereka menarik dan dapat menggoda lawan jenis. Annastasia mengatakan konstruksi sosial laki-laki lebih mudah terangsang libidonya oleh stimuli visual lewat pancaindra yang melahirkan pencitraan kecantikan dan seksualitas di media massa melalui majalah dan film yang mengeksploitasi keindahan tubuh perempuan. Oleh karena itu mereka berpenampilan menarik ala media massa. Label “Cantik” menjerat mereka hingga jauh dari kecantikan totalitas figur perempuan.

Penggunaan pengaman, seperti kondom misalnya mereka tidak bisa memaksa setiap pelanggan menggunakan. Ini artinya mereka memang dipaksa tidak memiliki kebebasan dalam memilih pasangan. Dan konstruksi feminin yang berlaku hari ini memaksa menjadi seorang perempuan yang harus menerima, melayanai, dan pasrah.

Terkait pemahaman perilaku seksual, mereka cenderung malu-malu jika membuka percakapan terkait hal berisiko dari perilaku mereka. Pada umumnya WPSTL baru adalah para janda atau yang sudah pernah aktif melakukan hubungan seksual diluar pernikahan. Dari konstruksi sosial yang berlaku hari ini status mereka menjadi beban psikologis tersendiri. Sejak perempuan tumbuh dari anak-anak menjadi remaja umumnya lebih diawasi dan diperingatkan untuk menjaga dirinya dari aktivitas seksual, diajar untuk menghambat respon mereka dan untuk mengasosiasikan menjadi perempuan baik-baik dan menghindari seks. Sementara laki-laki diijinkan untuk lebih terbuka pada hal-hal erotis sebagai penyerang dan pengejar dalam aktivitas seksual, bahkan diajarkan bahwa seks bukan dengan keintiman melainkan prestasi dan penaklukan; suatu aktivitas yang berorientasi tujuan pada tujuan serta untuk memandang seks sebagai cara untuk membuktikan maskulinitas mereka (annastasia, 2006). Ketika mereka menjalani profesi seperti ini cenderung menutup diri dan lebih susah menerima informasi terkait perilaku berisiko mereka.

Jadi, kesehatan atau perilaku sekalipun memang tidak bisa berdiri sendiri, ia tak lepas dari sebuah konstruksi sosial yang berlaku di masyarakat. Pada perempuan umumnya juga berlaku sama, hanya saja pada WPSTL konstruksi sosial terkait mitos tentang perempuan semakin memenjarakan mereka.

Dan, tulisan ini jadi tidak mengalir, kaku dan tidak selesai 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s