Selepas Berdamai dengan Kopi

Pohon-pohon sudah lewat, pasir-pasir berbutir kecil nan licin sudah lewat, saatnya melintasi padang gersang nan dingin, jalanan berganti batu-batu besar nan tinggi hampir terjangkau kakiku. Kak Dedy (Tri Ari Rahmad) dan Bang Ruben masih terus menyanyikan lagu-lagu lawas, sesekali berada paling depan menunggu lalu mengecek barisan belakang lalu balik kedepan lagi. Di barisan paling belakang Bela bersama pasangan yang tak akur menemani kami semua dengan semua lagu Ost GIE. Dahsyat. Lagu Donna-donna hanya kudengar dua kali, ketika kami hampir sampai di pos kedua. Rasanya seperti mendapat energi baru, yeaah aku berhasil mencapai titik aman ini.

Sebelum mencapai pos dua ini kira-kira kemiringan jalan hampir 45 derajad, kami berada tepat di lereng gunung Batur. Sesekali kami berhenti, beristirahat dan menikmati lereng. Dunia disekitar kami benar-benar nyata. Bintang-bintang tampak seperti bisa diraih dengan tangan. Langit disini cerah sekali. Di seberang cahaya ilusi lampu kota mengelilingi kaki bukit. Aku merasa dunia ilusi jauh sekali menjelang pagi itu. Danau Batur nyata sekali memperlihatkan keelokannya pada pekat gelap. Beberapa kali bintang jatuh lewat katanya, tapi selalu terlewatkan olehku.

Aku masih merasa segar setelah beristirahat di pos dua ini, kuambil tas dari kak Dedy (sekali lagi bukan Dedy Hermansyah). Mengambil beberapa bekal yang cukup membuat segar kembali. Sebelumnya ranselku dibawakan kak Dedy sebelum hampir tumbang tadi. Oyaah, selama perjalanan dari pos satu tadi aku ditemani tongkat bendera yang membuat menyadari bahwa ternyata saya tak sanggup tanpa bersama penopang hidup :p

Batur Pagi Hari

Jalanan kini didominasi dengan pasir-pasir sisa lahar, membuat kami susah berjalan. Setelah pos dua itu banyak yang berpencar. Tapi masih aman dibelakang masing terdengar Cahaya Bulan berulang kali. Aku yang Cuma bersama Eka Ari hampir tak sanggup tapi untung si Eka berhasil diseret adik Tingkat jurusannya dan masih ada Komeng Junior Aka yang menyeretku hingga sampai Puncak. Di puncak kelihatannya sudah ramai, sorot-sorot lampu senter Belor menjanjikan kemenangan pada kami.

Hampir mencapai puncak itu kabut sudah mulai turun, sudah mulai dingin. Jalanan tetap menggila. Tetapi akhirnya kami sampai di puncak juga. Ahh, ternyata puncak Batur Cuma segitu. Hampir aku patah dan putus asa untuk berhenti pada pos kedua saja. Sekitar pukul 06.00 kami sampai di Puncak. Kabut sudah mulai tebal, semburat merah mewarnai ufuk timur. Puncak sudah dipadati pendaki, ternyata banyak juga yang kurang kerjaan seperti kami. Pukul 06.35 semua kamera telah siap, matahari benar-benar telah muncul, warna jingga itu benar-benar menakjubkan.

Menjelang matahari Terbit

Ini bukan sekadar kenikmatan sebuah ciptaan tetapi lebih ke penghargaan atas kebebasan dari segala ruang. Aku bisa menyaksikan matahari terbit pagi ini, aku telah mendapati matahari yang telah lama mati terhalang bangunan-bangunan. Warnanya masih keemasan, ini bukan matahari palsu seperti yang sering ia kirimi pesan. Bukan matahari palsu yang hanya indah dimatamu. Ini benar-benar indah di mata siapapun. Indah tetapi tidak menyilaukan.

Keindahan pagi itu sungguh tak terukur, ini kali pertama aku mendaki Gunung. Sebelumnya hanya pernah mendaki Gunung TumpangPitu, jaman SD. Tidak terlalu tinggi, masih bisa dilalui motor dengan jalan-jalannya yang sudah dimodifikasi. Dari puncak Batur aku bisa memandang segalanya, kaldera di belakangku, orang-orang mendaki di gugusan gunung yang lain, Gunung Abang di seberang, Pepohonan yang menyelimuti Kintamani, Danau Batur dan gugusan pegunungannya mungkin Muntigunung juga kelihatan Cuma gak awas bagian mananya, Gunung Agung yang menjulang dan menggoda, dan Rinjani yang jauh diseberang. Pagi itu aku juga beruntung menemukan busur warna-warni pelangi diantara kabut dan tetesan embun. Pokoknya kurang kamu aja. 😀

Selepas mengabadikan semuanya aku mengambil beberapa bekal gabinku untuk mengisi perut. Setelah itu bergabung dengan kawan-kawan lainnya menyanyikan lagu-lagu nasional hingga lagu lawas dan lagu semangat perjuangan *halah. Tak lupa menyanyikan lagu Indonesia Raya sambil mengibarkan bendera dan menjadi tontonan wisatawan. Setelah itu  masih dengat lagu-lagu semangat seiring matahari yang terburu-buru naik. Muka kami sudah mulai memerah, kami segera bersiap-siap turun.

Perjalanan turun ini lebih menantang. Selepas minum kopi tadi banyak sekali yang kupikirkan, termasuk ketakutan tak bisa menaklukkan Batur, atau bahkan diriku sendiri. Dalam kepulangan ini aku lebih banyak merenung, jalanan begitu terjal. Ternyata jalan yang kami lalui subuh tadi tidak seperti yang kubayangkan, perjalanan pulang itu aku memandang potret lereng gunung yang gersang dan berdebu, jadi apa yang kami cari dari perjalanan ini? Apakah hanya sepintas lalu tadi. Aku membayangkan jika tahu keadaan jalan seperti ini mungkin gak pernah ingin bersusah payah mendaki.

Tapi sesudah mendaki rasanya ingin mengulang moment seperti itu lagi. Mungkin sebuah perjalanan memang akan menyisakan sisa-sisa kenangan. Dan kelak kerinduan akan datang menyergap ketika waktu membunuhmu sadis di ruang yang lain. Dari perjalanan ini aku mengeja sebuah kebebasan, sebuah kenyataan. Sebuah kedamaian yang tak terukur yang tak bisa dinikmati semua orang. Jadi aku berpikir kemerdekaan itu sederhananya seperti itu. Ada orang-orang yang berjuang untuk mencapainya, ada orang-orang yang menikmatinya, dan lebih banyak orang-orang yang tak bisa menikmatinya. Selamat merayakan kemerdekaan yang tinggal cerita ini Kawan. Dan aku masih ingin mendaki lagi 🙂

 

PS : Terima kasih kepada para penua yang menjaga kami semua, dua orang mahasiswa purba Ruben, dan Dedy serta Bela dari generasi yang lain. terima kasih untuk lagu-lagu ost Gie yang menyertai. Kepada Vera, Eka Ari, Indra, Komeng, dan Dolly terima kasih telah mewujudkan perjalanan ini. Terima kasih dingin Kintamani yang membuatku berdamai dengan kopi. Tulisan aslinya panjang dan kelihatan kronologis, jadi dipotong seperlunya

Advertisements

2 thoughts on “Selepas Berdamai dengan Kopi

    • Gak bawa kamera kak, hape juga pas lowbat 😦
      tunggu foto yang nebeng temen di uplod dulu yaa.. ayo mendaki bareng honeymoon tahun depan kak 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s