How Wild You Are?

“Punya banyak wawasan itu penting, para petualang yang bisa banyak hal, punya wawasan yang luas mungkin sulit untuk hidup kaya raya tapi dia tak akan pernah hidup kesusahan,” itu kalimat the Old Man and The Sea yang ditemukan Nuran dan Ayos dalam perjalanan dari Jawa hingga Flores.

Rada serem, jadi ingat buku dari Jawa menuju Atjeh nya mbak Linda Cristanty. Tentu saja ebook ini jauh dari hal-hal yang bertutur tentang politik, Islam, dan Gay. Lebih jauh lagi bedanya dengan novel tersohor the Old Man and The Sea. Ini kumpulan tulisan Nuran Wibisono dan Ayos Purwoaji tentang sisi lain perjalanan mereka sepanjang Jawa (timur) hingga Flores yang mereka beri judul Alone Longway From Home, Tour De Laweyan sebuah perjalanan di kampung Batik Laweyan, serta When Will You Come Home the stories inside Madura.

Membaca ebook ini rasanya ingin mengikrarkan diri sekali lagi menyusuri Jogjakarta, Kali Code yang tak pernah bisa kubayangkan seperti apa. Toko buku yang hanya cerita. Kaki Merapi yang sepertinya memikat. Semoga mendaki Gunung kemarin menjadi awal sebuah perjalanan.

Ini dia

Dan kemarin bertemu dengan tiga ebook ini. Aku sudah lama sering bolak-balik ke halaman Cuma ya iseng aja. Ayos lelaki berkacamata tebal itu sebagai pentolannya. Dan menamai ruang tersebut Hifatlobrain Travel Institute. Ini merupakan website berisi catatan perjalanan kaum muda yang menentang generasi tua, begitu kubaca dalam sebuah situs internet. Komunitas penggila perjalanan ini memaknai petualangan mereka secara berbeda, mereka memilih tempat-tempat yang tidak digilai orang, Nuran menyebutnya tidak touristy. Ebook ini hanya bentuk “melawan lupa” atas hal-hal yang mereka temui sepanjang perjalanan.

Perjalanan menuju Flores diawali dengan Bali, sebuah kunjungan ke Bali bagian utara, desa Pegayaman Buleleng dan pasar Kodok Tabanan. Aku sendiri susah membayangkan ada daerah bernama Pegayaman, selama di Bali belum pernah mendengar daerah ini. Sebuah wilayah yang diberikan khusus kepada prajurit Mataram yang pernah berperang ketika itu. Dan pasar Kodok, tempat menjual baju Cakar (Cap Karung) aku pernah kesana sekali. Perjalanan ke Lombok mereka habiskan di Pantai, meskipun sepi terlihat tak terjamah sama seperti di Bali, daratan pinggir pantainya telah dijual. Perjalanan selanjutnya menuju Sumbawa, pulau Moyo, Bima, Flores, pulau Komodo dan Labuan Bajo. Mereka menuturkan hal-hal menarik tentang kehidupan yang mereka temui, tidak sebatas menuturkan keindahan yang ada di hadapan mereka. Tetapi dalam ebook pertama ini aku tidak melihat mereka merencanakan perjalanan dengan matang. Maksudku mungkin sebelumnya mereka tak mengadakan riset kecil-kecilan sebagai bahan tulisan terlebih dahulu, karena beberapa kali dugaan mereka meleset. Atau mungkin mereka hanya ingin sebuah perjalanan yang alami tanpa bayangan-bayangan yang akan merusak perjalanan mereka. Dan yang kutahu mereka hanya harus patuh mengetatkan budget dan berpacu dengan waktu.

Ebook yang kedua tentang kampung Batik Laweyan, ini yang paling keren sepanjang yang mereka tuliskan. Menurutku ini perjalanan yang paling mereka rencanakan bersama riset kecil sebelumnya. Seperti membaca sejarah Kiai Haji Samanhudi pada perjalanan ini. Menuturkan bagaimana komoditi Batik pernah berjaya pada jamannya. Sarekat Dagang Islam pernah merajai perdagangan dunia dan mampu membangkitkan kekuatan ekonomi pada masanya. Rumah-rumah gedong kuno khas Juragan Batik yang memiliki pintu penghubung antara rumah satu dengan lainnya. Bungker tua sebagai wilayah pusat pergerakan pada jaman itu serta bangunan peninggalan lainnya. Dalam perjalanan ini saya juga mencium kritikan tentang kepalsuan. Saat dunia mengakui batik sebagai world herritage, generasi muda Laweyan enggan meneruskan para penua mereka. Juga tentang kepalsuan hari batik nasional yang hanya simbolis. Meskipun hanya memiliki dua batik, aku setuju dengan Tagline salah satu toko batik “Ora Batikan, Ora Well.”

Perjalanan tentang Madura dalam When Will You Come Home menurutku juga kurang menarik. Aku membayangkan mereka akan menuliskan tentang petani garam, tentang sapi Madura yang katanya tak pernah habis itu. Atau tentang peranakan Cina disana. atau tentang arsitektur di Madura. Ehh, ternyata isinya lebih banyk kunjungan ke Makam dan makan-makan, hahaha. Tulisan di ebook ketiga ini menurutku juga pendek-pendek, singkat kata aku kurang bisa menikmati perjalanan dalam tulisan ini.

Dalam ketiga ebook perjalanan juga disertakan suka duka dalam petualangan mereka yang disebuat dengan shit happens kemudian juga ada the best of meal in the town, serta backpacker Tunes sepanjang perjalanan. Ayos dan Nuran tidak hanya berdua. Di Laweyan mereka bersama Navan Satriaji dan Bersama Dini Sasmita tanpa Nuran. Dan di Madura Ayos dan Nuran ditemani Dwi Putri dan Nurullah.

Seperti yang mereka tulis dalam web Hifatlobrain, mereka hanya menawarkan sebuah Travel Experience, sebuah cara pandang baru bagi para pecinta jejalan. Secara keseluruhan kumpulan tulisan perjalanan ini mengajak kita memaknai setiap perjalanan. Terlepas dari apa sebenarnya tujuan perjalanan yang kita lakukan. Dan setiap orang punya derajad keliaran masing-masing, setiap orang bebas memandang setiap hal yang mereka temui. So, How Wild You Are?

Advertisements

2 thoughts on “How Wild You Are?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s