Citra Sampah

Baru kali ini aku kehilangan kata-kata, bukan hanya sehari  dua hari ataupun seminggu, hampir dua bulanan. Bayangkan betapa

tersiksanya menahan kata-kata yang siap dimuntahkan. Betapa tersiksanya jika pada akhirnya kita harus kalah dengan diri sendiri.

Aktivitas yang seharusnya menciptakan banyak kata hanya tertuang pada ruang berbatas 140 karakter. Itupun hanya sebatas nyinyir

gak jelas, dan pada akhirnya keping-keping percakapan harus dikumpulkan.  Rekaman-rekaman yang masih tersisa harus segera

diselamatkan.

Hari ini wisuda ke 100, wajah-wajah sepertinya kelihatan sumringah. Kicauan-kicauan terdengar nyaring, foto-foto berganti menghiasi

timeline media sosial. sekilas terbersit rasa iri, lalu sepintas memikirkan bahwa setiap jalan yang diambil mengandung

bermacam-macam alasan. Tapi entah hari ini aku tak sempat melihat langit, kelihatannya ia tak terlalu murung. Jadi mungkin saja

mereka tidak seperti yang kubayangkan pada lukisan “Wisudawan Dengan Langit Mendung.” Pada lukisan itu, aku membayangkan

mendung hitam bergelayut di depan gedung megah . Seribu lebih orang rela berbaris rapi menunggu antrian panjang. Memasuki

gedung satu persatu. Sambutan-sambutan seperti awal menjadi mahasiswa baru dulu. Lalu pembacaan kelulusan dan pemberian

penghargaan, mereka disalami satu-persatu. Keluar dari gedung itu, senyum mereka tidak nyata. Tertutup make up yang masih tersisa.

Atau jas yang mungkin saja hanya akan dipakai sekalu dua kali. Hanya serupa senyum kemenangan sesaat. dan mendung tebal semakin

menghitam.

Jalanan tidak lagi menjanjikan, asap knalpot semakin menghitamkan udara di sekitarmu. Mendung semakin menebal, lalu kau harus

melalui sepanjang jalan yang sudah penuh dengan kendaraan pribadi. Bayangkan, seribu lebih orang tadi membawa mobil sendiri-

sendiri. Ahh sudahlah, kemudian tetes hujan akan menghadirkan senyum-senyum cerah. Hujan berarti harapan. Harapan, ahh apalah

artinya sebuah harapan kalau seringkali berujung kecewa.

***

Bulan-bulan ini aku sedang patah hati. Patah hati karena tidak bisa meyakinkan diri sendiri, apalagi mereka. Patah hati dengan kalimat-

kalimat motivasi. Seberapa penting orang butuh orang lain yang bisa memotivasi mereka. Toh pada akhirnya tidak akan pernah

berubah setelah mereka diberi motivasi. Hanya sesekali setelah itu lupa. Tapi kalimat mereka menjelma menjadi seperti dewa.

Tapi dewa macam apa yang  hanya lahir dari sebuah kata-kata. Mereka dibayar mahal untuk berbicara. Bisa jadi akan dihitungpula

berapa kata yang dikeluarkan pada pertemuan itu. Astaga, mereka memang mengispirasi. Selain kata-kata yang menyejukkan hati, juga

menginspirasi teman-teman saya untuk menjual kata-kata mereka setelah lulus nanti. Lalu aku membayangkan semua orang akan

saling memotivasi, iya…saling memotivasi. Seperti bayanganku seorang laki-laki terburu-buru pergi menemui temannya di suatu

tempat untuk makan siang. Dia berbicara apa saja, berbicara tentang dunia yang sesungguhnya sulit dijangkau kawan di depannya.

Lalu di akhir kalimat, ia bilang “aku sudah mengeluarkan 300 kata selama sepuluh menit ini.”  Kawannya yang mendengarkan akan

segera mengerti, ia mengeluarkan beberapa recehan sambil berkata “aku hanya memiliki ini untuk mendengar kata-katamu.”

Mahasiswa jamanku memang paling paling suka kalimat motivasi, meskipun masih sangat doyan dengan angka kredit partisipasi. Aku

curiga, jangan-jangan kalimat yang mereka beli itu hanya dianggap hiburan. Hiburan dari kepenatan ruang yang dijejali tugas-tugas

yang mungkin saja kemudian hari dia akan bertanya untuk apa semua ini? Hiburan dari ruang yang sesungguhnya tidak menjanjikan.

Hiburan dari ruang-ruang organisasi yang semakin tidak terisi.

Organisasi, makanan jenis apalagi itu. Apa pentingnya orang-orang hanya datang ke sebuah ruangan sempit, bahkan mungkin kumuh,

gelap, dan banyak nyamuk hanya untuk berbicara mengawang-awang. Mereka ini bukan kumpulan motivator yang menjual kata-kata

seperti yang kuceritakan tadi. Pembicaraan mereka lebih susah dimengerti. Benar-benar hanya mengawang-awang, tentu saja akan

susah direalisasi. Bagaimana mungkin orang-orang hanya diajak bermimpi, berbicara apa saja, membaca lingkungan yang sangat wajar

mereka lihat. Untuk apa orang-orang menghabiskan banyak waktu hanya untuk bermimpi. Bermimpi mendapatkan ruang yang ideal,

seperti harapan mereka. Apa mereka tidak tahu mahasiswa butuh ruang bercitra dan mengekspresikan diri. Apa mereka tidak tahu

mahasiswa itu kumpulan anak-anak muda kreatif yang bisa merubah dunia dengan tangan-tangan mereka. Ahh, lalu kamu patah

setelah tidak bisa berlaku sama. Lalu kamu patah ketika berjalan sendiri.

***

Lalu orang-orang mengundang Tasya Kamila di gedung megah itu. Mengundang Radityadika tempo lalu. Mereka berbicara passion,

bisnis kreatif, dan blablabla. Forum-forum yang berbicara permasalahan dan mimpi bersama tidak menarik lagi. Mungkin kita hanya

sudah bosan menghadapi realita. Memikirkan diri sendiri mungkin memang sifat dasar manusia. “Bagaimana mungkin kamu mau

menyelamatkan dunia, sementara kamu sendiri tidak berdaya.” Itu kalimat yang sering kudengar dari pamanku. Jadi itulah jawaban

dari pertanyaan yang seringkali kautanyakan, “kenapa mereka selalu berasal dari kelas menengah keatas?” itu bukan jawaban mutlak.

Hanya kesimpulan yang kubuat terlalu dini.

Akhir-akhir ini aku sering resah, mungkin gara-gara koran-koran yang tiap hari menghantuiku. Mungkin gara-gara berita berbayar

yang memenuhi halaman itu. Rasanya dunia ini dipenuhi oleh orang-orang narsis. Mereka Cuma butuh citra, cih, apa pentingnya citra.

Minggu pertama halaman koran dipenuhi pelantikan bupati baru. Minggu berikutnya tentang kepulangan gubernur. Masih dalam

minggu yang sama para bupati bergantian memasang berita berbayar terkait upacara adat. Lalu para penyelamat lingkungan yang

bergelar Miss Earth. Kubayangkan mereka seperti avatar yang menyelamatkan elemen api, air dan udara. Ada miss earth air, fire, dan

water. Kenapa pula penyelamat lingkungan harus cantik dan seksi dengan mengesampingkan hakikat penyelamatan lingkungan.

Ahhh, lalu aku kehilangan selera berbicara dan menulis. Kehabisan bahan untuk menulis. Dan sampai tulisan ini berakhir, ini hanya

tulisan sampah yang berhasil  kukeluarkan dari kepala. Semoga segera bersemangat lagi

Denpasar, 12 Agustus 2012

Tulisan yang dilanjutkan lagi setelah ketiduran semalam, minggu pagi yang cerah, absen ke Vihara, belum mandi dan harus membangunkan Onyi beberapa menit lagi 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s