Betutu di Kamoro

Rasanya seperti pergi ke Pesta Kesenian Bali (PKB) untuk mencari Be Guling (Babi Guling) atau ayam betutu. Tidak akan ada spirit yang terasa dari sebuah agenda pameran kebanggaan ini.

Memasuki ruang pameran kita akan disuguhi sebuah seni dari suatu peradaban di daerah timur Indonesia, Papua. Banyak macamnya, kebanyakan berisi seni Kriya. Ya, sore itu saya sedang menghadiri sebuah pameran kebudayaan bertajuk Pekan Ragam Budaya Papua: Orang Kamoro.

foto: surya
Kedatangan sore itu memang sudah direncanakan sebelumnya, saya dan beberapa kawan yang sangat antusias janjian akan datang bersama pada pembukaan pekan pamerannya. Sebelum kemudian ada undangan menghadiri pers conferrence untuk organisasi saya yang ditujukan langsung kepada saya, menyusul tepat sehari sebelum acara. Tapi saya mangkir dari undangan kedua itu. Ceritanya sok idealis dan rada sinis, hidup ini memang bukan tentang bagaimana menyenangkan orang lain. Bukan pula tentang bagaimana kita memandang sesuatu dari satu sudut. Yang manis dari sebuah pagelaran ini bagiku fiktif. Pun yang dikatakan pihak penyelenggara hanya satu dari sekian polesan untuk acara ini. Bukan tidak menghargai undangan itu, tapi saya ingin selalu berusaha memandang setiap acara yang saya hadiri dari sisi lain. dan hadir dalam pers conferrence itu berarti kami hanya menjadi perpanjangan tangan untuk meneruskan informasi kepada orang lain melalui media kami.
Sore itu saya datang terlambat. Acara telah mulai sekitar pukul 18.30 Wita, saya baru tiba disana jam tujuh lebih. Indonesia banget. Seperti biasa acara pembukaan ini full sambutan mulai dari kedua penyelenggara, sponsor utama dan para Bupati. Acara ini sendiri akan berlangsung selama sepekan dari 22 Juni -1 Juli. Pameran akan berisi pertunjukan dan sarasehan budaya.
Tiba waktunya pameran telah dibuka, diiringi dengan tarian Monako semua yang hadir dalam pembukaan tersebut memasuki ruang pagelaran. Di dekat pintu masuk beberapa orang bergerombol dan berdiskusi dengan pembawa acara yang kelihatannya tahu banyak tentang budaya yang dipamerkan. Di sisi yang lain beberapa orang yang kelihatanya wartawan sedang mewawancarai perwakilan Bupati Mimika. Beberapa orang yang memberi sambutan sebelumnya juga tengah berdiskusi dengan beberapa pengunjung.
Pembukaan pameran hari itu ramai. Ruang pameran yang cukup luas itu penuh sesak. Para pemandu sibuk menghadapi pertanyaan para pengunjung. Beberapa yang lain foto-foto di setiap karya. Sebagaian mengabadikan dirinya sendiri dengan property pameran atau mengambil gambar bersama orang Kamoro.
Pengunjung sendiri tidak hanya orang lokal, banyak orang asing yang datang karena setelah saya baca buku tentang pameran Kamoro ini dipilihnya Bali sebagai tempat diselenggarakannya pameran memiliki alasan tersendiri karena Bali adalah etalase Indonesia yang dikenal masyarakat mancanegara. Lewat Bali, berharap budaya Papua dapat drepresentasikan dalam etalase Indonesia.
Tapi selama kurang lebih 15 menit hadir dalam acara itu saya tidak menemukan spirit di dalam pameran. “ahh, belum kak, kan belum lihat pamerannya,” kata Surya seorang angkatan muda ketika saya bertanya, jadi menurut kamu apa yang menjadi spirit dari pameran ini mengingat gejolak yang terjadi di Papua belakangan? Ketika itu memang kami masih mendengarkan sambutan-sambutan. Ika “Tajem” juga tak memberikan jawaban memuaskan “yang saya lihat seni Kamoro ini ukiran-ukirannya memang beda kak dari kesenian Bali,” katanya.
Ada yang menarik dari acara ini, karena tampaknya sponsor utama adalah PT. Freeport. Tanya kenapa? “Mungkin karena Freeport aja yang uangnya banyak gek,” kata mbok Anik. Sebagian besar dari property pameran memang milik freeport. Antropolog yang meneliti tentang Kamoro ini juga dari konsultan Freeport, Kal Muller. Bagiku ini sebuah pencitraan, seolah Freeport telah berbuat banyak untuk Papua, untuk penyelamatan budaya. Semoga ini bukan pembenaran atas apa yang mereka lakukan pada alam Papua.
Penyelenggara utama acara ini adalah Papua Center FISIP UI, ketika memberikan sambutan perwakilan dari Papua Center mengatakan bahwa salah satu tujuan Papua Center ingin mengangkat isu Papua di ruang akademik. Tetapi yang saya lihat di dalam ruang pameran tidak lebih dari sebuah tontonan asing bagi beberapa pengunjung.
Mereka berdecak kagum dengan karya-karya yang dipamerkan. Tidak jarang menjadi latar untuk diabadikan. Penyelenggara pameran ini memang hendak mengenalkan tentang keberagaman budaya di Papua. Kamoro salah satunya, menurut penyelenggara budaya Kamoro telah banyak ditinggalkan. Tapi saya yakin setiap kebudayaan memang memiliki ciri khas masing-masing, keberagaman itu ada. Dan saya juga percaya apa yang pernah dikatakan Romo Heri bahwa setiap budaya yang dihidupi pasti akan berubah. Siapa yang mampu menahan arus itu? Papua pun Kamoro bukan lagi sebuah suku pedalaman yang tak tersentuh dunia luar. Seharusnya kami hadir saat itu bukan untuk sekadar berkagum-kagum dengan berbagai karya mereka.
Tetapi bertanya kenapa Freeport yang menjadi sponsor utama? Dan apakah Kamoro telah diperlakukan sama sebagai bagian dari Indonesia?
Sampai ketika pulang saya masih tetap bertanya apakah saya kesana hanya seperti mencari Betutu di pesta kesenian Bali? Mungkin saya perlu kesana sekali lagi.

Advertisements

2 thoughts on “Betutu di Kamoro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s