Aku Telah Mengambilnya

Di sudut ruang yang tak pernah sepi pengunjung perempuan setengah baya lebih itu terus meronta. Ia tak peduli berapa banyak orang dirawat disana. tak peduli kepanikan orang-orang di ruangan gawat darurat itu. Antara satu dan lainnya hanya dipisahkan sebuah kelambu berwarna hijau muda. Perempuan yang hampir seluruh rambutnya beruban itu terus berkata “seandainya aku tidak terlambat tidak akan begini jadinya” dengan bahasa jawa khas jawa timuran. Mungkin dia merasa Indonesia ini Jawa, tak peduli dimanapun dia menggunakan bahasa ibunya. Atau mungkin ia hanya berharap bahasa ibunya takkan mati dimakan arus globalisasi. Atau hanya sekadar tak mau tunduk dengan bahasa persatuan yang sesungguhnya mengkotak-kotakkan. Tak memberikan ruang bahasa daerah berkembang.

Ini kali kedua ia memasuki ruangan tersibuk seperti itu. Sebelumnya pernah belasan tahun yang lalu. Anak perempuan pertamanya kecelakaan, sampai gegar otak. Bisa dibayangkan ia mengulang kepedihan yang sama, bahkan lebih perih. Tentu saja ini bukan kemauannya. Hari itu dia datang ke seberang pulau nya, khusus memenuhi permintaan menantu perempuannya. Ia pergi kesana ditemani Widyawati, anak perempuan yang pernah menyebabkan ia harus berurusan dengan tenaga medis kala itu. Mungkin belum banyak dokter saat itu, ia pernah bercerita bagaimana para perawat dan mantri begitu judes memperlakuan pasien waktu itu.

Ya dia hanyalah seorang perempuan yang hampir dimakan usia, meskipun tubuhnya sudah mulai kendur hampir tak pernah berurusan dengan Dokter. Hanya ada mantri di sudut tenggara provinsi itu. Sakitpun tak pernah mengkhawatirkan batuk, pilek, masuk angin, paling gawat kena diare.

Tak perlu waktu yang lama untuk menempuh kota tujuannya, Denpasar. Hanya butuh waktu enam jam sudah termasuk menyeberang selat yang memisahkan kedua pulau itu. Tapi enam jam itu tentu sungguh menyiksa batinnya, apalagi permintaan menuju kota itu sungguh tidak pernah direncanakan sebelumnya.

“mbok, jangan lupa jalokke ngombe gene mbah Ji,” pesan yang ia terima tepat sebelum berangkat itu juga terus menambah kecemasannya.

Menantunya meminta tolong untuk meminta sesuatu pada orang tua. Semacam benda-benda yang diberi doa-doa, bisa dibubuhkan pada minuman untuk meminta kesembuhan. Ini berarti keadaannya sudah sangat gawat.

Padahal di telepon diseberang sebelumnya mengatakan “Baru pagi tadi masuk rumah sakit, jangan khawatir sudah dapat kamar.”

Seharusnya itu pertanda baik, tapi berlawanan dengan permintaan terkhir itu.

Dia ruangan itu ia terus menangis, mengulang-ulang kalimat itu.

“seandainya aku tidak terlambat tidak akan begini jadinya.”

Hatiku tambah teriris mendengar tangisnya, secara tidak langsung dia mengatakan akulah penyebab keterlambatan ini.
Ia baru tiba satu jam sebelum kepedihan menyelimutinya malam itu. Aku yang menjemputnya di terminal Ubung bersama Bagus, cucu lelaki kesayangannya. Antara rumah dan terminal tak begitu jauh, aku mengajaknya kerumah terlebih dahulu untuk makan malam dan mandi. Karena sebelum berangkat ibu tengah mempersiapkan beberapa persyaratan rujukan ke rumah sakit umum. Aku perlu mengambil beberapa perlengkapan untuk menginap nanti.

Sebelumnya ia tetap memaksa langsung menuju rumah sakit, tapi aku mengatakan sebaiknya ia istirahat dulu setelah menempuh perjalanan panjang. Kusampaikan bahwa putranya baik-baik saja.

“Tadi sempat ia tak mengenaliku, meronta-ronta saat perawat mengganti infusnya, tapi ia sudah tenang ketika aku berangkat kemari. Dokter dan perawat bilang harus dirujuk ke rumah sakit Sanglah.”

Meskipun kalimat terakhirku itu sesungguhnya tak melegakan, tapi ia tak mampu menolak ajakanku. Kami sempat mampir ke rumah makan, membeli nasi dan mie goreng. Sepanjang perjalanan kami berbagi kecemasan. Kecemasan yang sama, tentang kehilangan.

Aku memaksanya makan, meskipun ia sama sekali tak bernafsu. Sampai sebuah telepon berbunyi, dari ibu, kami harus segera ke rumah sakit.

Aku tak pernah merasakan seperti ini sebelumnya. Beberapa orang yang kukenal menyambutku tak biasa. Menuntunku berjalan tergesa-gesa menuju ruangan sesak itu. Menuju ruangan para dokter muda dan perawat praktik sedang sibuk dengan pasiennya masing-masing. Aku masih tak tahu apa yang terjadi. Tak pernah terbayangkan sebuah kehilangan. Sampai kulihat kedua ibu jari kaki seorang bercelana biru tua yang kulihat meronta sore tadi diberi tali berwarna putih. Dia sudah tenang, tak meronta lagi, pikirku.

Seorang saudara memelukku baru kemudian aku tahu apa yang sedang terjadi. Perempuan itu menangis menjadi-jadi. Kami telah sama-sama kehilangan. Di tengah tangisnya beberapa kali terus dia katakan

“seandainya aku tidak terlambat tidak akan begini jadinya.”

Kesedihan kami sama, tak terukur. Aku masih belum percaya kami telah kehilangan.

Kami pulang malam itu juga, kami akan mempersiapkan peristirahatan terindah untuk laki-laki yang sama-sama memiliki posisi terbaik dalam hati kami. Sepanjang perjalanan pulang kami terus mengenang. Anak laki-laki yang seharusnya bisa Njunjung dhuwur mendhem jero ibunya itu kini telah pergi dan takkan kembali.

***

Dua tahun berlalu, hari ini tepatnya. Kesedihan yang sama masih kurasakan. Bahkan ternyata lebih pedih dari ketika kehilangan saat itu. Mungkin dia merasakan yang sama.

Aku bertemu dengannya satu bulan yang lalu, masih melihat mata yang sama sedihnya. Sama pedihnya. Ia sedang tak enak badan. Katanya Cuma flu biasa. Seorang paman mengantarnya ke dokter, aku bersyukur ia masih percaya dokter.

Berbeda denganku, sejak kejadian itu hidupku berubah. Sinis terhadap dokter, itu salah satunya. Tak mampu menghadapi kenyataan terkadang membuat kita skeptik terhadap sesuatu. Dokter yang selama ini dipuja-puja ternyata toh tak mampu meningkatkan kualitas kesehatan. Toh tidak bisa bekerja dengan sigap saat seseorang telah kritis. Satu hal yang paling mengecewakan aku tak pernah tahu laki-laki terbaik dalam hidupku itu sesungguhnya sakit apa. Dari mulai Puskesmas, rumah sakit swasta, dirujuk ke rumah sakit umum, dan medical check up yang dilakukan seminggu sebelum ia jatuh sakit semuanya memiliki diagnosa yang berbeda.

Aku tidak nyaman mendengar sirine ambulan, gemetar melihat kata Unit Gawat Darurat. Aku mulai membenci rumah sakit terutama rumah sakit pemerintah. Rumah yang tak pernah ramah.

Berbeda denganku, perempuan itu memang tak membenci apapun. Dia hanya tak mau lagi berurusan dengan semua itu. Dia hanya protes terhadap dirinya sendiri. Tubuhnya kurus, tak mau lagi daging, hanya sayuran tertentu. “Aku tak mau kena darah tinggi dan masuk rumah sakit,” katanya tanpa penekanan.

Raut wajahnya kesepian. Yaa, aku, ibu dan adik telah mengambil laki-laki itu dua puluh tahun lamanya. Seumurku. Hingga kepergian itu kami tak pernah memberi ruang untuk mereka berdua, aku telah menghabiskan seluruh waktunya. Kini setelah kepergiannya pun, aku pun tak pernah membagi secuil kenangan yang kami punya.

Meskipun telah pergi, tapi aku masih selalu menganggapnya ada. Aku menyapanya saat pulang kerumah. Aku mengucapkan selamat makan dan terima kasih untuk ia dan ibu sebelum dan seusai makan. Menempel ucapan ulang tahun di lemariku. Menyalakan lampu saat tidur, berharap ayah mematikannya ketika sudah terlelap, meskipun akhirnya ibu yang mematikan. Aku masih bisa memandang sebuah potret di dinding untuk melihat tajam sorot matanya. Aku bisa menulis dan pergi ke toko buku disaat rindu. Aku telah mengambil segalanya. Tapi perempuan itu, simbok, dia bisa melihat aku untuk melihat ayah.

Denpasar, 20 Juni 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s