dari Kebutuhan Hingga Status Ekonomi

“Dan di daerah kami yang kering, sumur adalah pusat perhatian manusia dalam hidupnya disamping beras dan garam. Karena itu sekalipun pembuatan sumur itu atas ongkos sendiri akhirnya ia menjadi hak umum…” –Pram, Bukan Pasar Malam-

Entah, mungkin bisa jadi kalimat diatas tidak nyambung atau sedikit memaksa, tapi tulisan ini masih berkaitan dengan perihal yang sama, air.

Mungkin Muntigunung tidak akan menjadi terkenal dengan masayarakatnya peminta-minta jika mereka memiliki air yang melimpah. Mereka tidak perlu jauh-jauh menggantungkan nasib di kota yang tak ramah dengan orang-orang yang tak mampu bersaing secara skill. Pun di musim kemarau mereka tak perlu takut kelaparan atau sekadar tak mampu melaksanakan upacara karena tanaman pertanian tak mampu tumbuh dengan baik tanpa air yang mencukupi. Tentang membangun sumur, sepertinya mereka akan berpikir berkali-kali dengan kondisi geografis seperti itu, dan dapat dipastikan pula cadangan air tanah juga tak akan cukup untuk melewati musim kemarau. Hanya ada beberapa pilihan diantara mereka menampung air hujan atau membeli air dari wilayah terdekat.

Saya ingat, waktu kelas satu SMP pak Salwan, guru saya menjelaskan tentang barang bebas pada buku Ekonomi bersampul kuning bergambar orang dengan aktivitas di kantoran dan pasar. Disana air masih menjadi salah satu barang bebas disamping udara dan matahari, untuk menikmatinya orang tidak perlu megeluarkan biaya katanya. Tidak ada yang protes waktu itu, mungkin kami memang kurang kritis dan tidak peka terhadap gejala. Waktu itu air kemasan sudah ada, bulik kantin menjual air kemasan meskipun bukan merk terkenal. Tetapi seingat saya tidak perlu membayar air putih yang disediakan bulik jika makan di kantin sekolah.

Untuk keperluan air sehari-hari dirumah saya juga tidak perlu membeli air, untuk mandi dan mencuci bisa pergi ke sungai atau mandi air sadah menumpang tetangga sebelah. Untuk keperluan minum dan memasak harus mengambil air lumayan jauh, satu daerah saya yang cukup luas hanya ada sekitar tiga atau empat sumur warga yang airnya bisa diminum. Lainnya sadah, itulah sebabnya meskipun orang-orang mampu membuat sumur tetapi sumur dengan air yang layak diminum menjadi hak umum. Daerah kami memang berkapur, kebanyakan sumur airnya sadah, meskipun air sadah ini tidak berbahaya diminum tetapi kandungan mineral yang tinggi membuat air terasa asin. Memakai air sadah juga menimbulkan kerak pada peralatan dapur dan sabun tidak mudah berbusa, jadi rata-rata masyarakat disana enggan menggunakan untuk memasak.

Saya dan keluarga terbiasa minum air yang telah direbus, pun ketika pindah ke Denpasar. Tempat tinggal kami dulu masih bertemu dengan sumur pompa, tetapi lama-kelamaan entah termakan iklan dengan alasan air di kota tercemar, kami beralih ke air minum kemasan. Pindah ke tempat berikutnya, kami menggunakan air PDAM. Sejatinya ini air sungai Ayung yang sudah di kaporitisasi, awal pindah masih meminum air PDAM yang direbus tapi lama kelamaan ibu beralih lagi ke air kemasan.

Gejala beralihnya air minum rebusan ke air minum kemasan ini ternyata tidak hanya terjadi di kota saja. Sejak setahun yang lalu di Desaku ternyata sudah terjadi pula gejala ini. Dulu hanya terjadi pada hari raya. Setiap hari raya orang-orang yang biasanya disuguhi sirup rasa buah atau minuman bersoda semacam orson (tidak tahu apa bahasa indonesianya) bergeser menjadi disuguhi minuman gelas kemasan. Biasanya ini hanya ada di rumah orang-orang yang cukup berada. Mungkin gejala ini hampir sama dengan orang Muntigunung yang menyuguhi saya susu krim putih ketika bertamu. :P. Baru mulai setahun yang lalu untuk minum sehari-haripun sebagian orang di daerahku juga ikut-ikutan membeli air kemasan ini.

Perihal ketersediaan air bersih ini memang dari tahun ketahun akan terus menipis akibat perubahan cuaca, polusi dan eksploitasi air tanah. Tapi anehnya di desa yang terbilang tak mengalami krisis air bersih dan air minumpun latah dengan gaya konsumtif semacam ini. Iklan memang telah menciptakan image baru di masyarakat, perihal kemampuan membeli air kemasan inipun telah menjadi semacam acuan strata tingkat ekonomi masyarakat.

Air kemasan memang cukup mahal sekitar tahun 2005 harga di daerah Denpasar masih sekitar Rp. 9.000 untuk merk Aqua, hingga kini harganya sudah menjadi Rp. 11.500, di desa saya bisa mencapai Rp. 14.000 dan di Muntigunung harganya sudah mencapai Rp 17.500. untuk membeli air kemasan inipun masyarakat juga pilih-pilih merk tertentu, jadi kalau boleh saya menyimpulkan air kemasan ini memang bukan hanya soal kebutuhan tetapi juga gaya hidup yang dipengaruhi persaingan perusahaan air minum.

Keadaan semacam ini juga seperti ada suatu pembennaran dari pemerintah. Kementrian kesehatan yang biasanya koar-koar tentang tentang kampanye air minum tidak bisa berbuat apa. Mitos “air minum harus dimasak” seolah-olah dipatahkkan. Air kemasan memang dilakukan purifikasi sebelumnya tetapi dalam prosesnya tidak menutup kemungkinan kandungan pemurnian air akan tidak sama dalam setiap kemasannya. Karena beberapa kali penelitian di kampus masih ditemukan Coliform pada air minum kemasan. Meskipun dalam batas tertentu jumlah coliform tidak berbahaya tetapi perlu diwaspadai dalam jangka waktu kedepan

Masih permasalahan air minum, Kebobrokan pemerintah era orde baru dalam mengelola perusahaan air minum berdampak pada swastanisasi pada beberapa perusahaan air minum sekarang. Saat ini pemerintah bekerjasama dengan perusahaan air minum Belanda untuk mengelola air minum di beberapa daerah. Perusahaan air minum tersebut secara manajemen dinamakan perusahaan air minum gaya baru. Perusahaan air minum jenis ini ada di daerah Biak, Merauke dan Sorong (Papua), Ambon (Maluku), Manado dan Tomohon (Sulawesi Utara). Perusahaan air minum Belanda ini menjalin kemitraan dengan perusahaan air minum setempat dan mengambil alih kegiatan manajemen operasional untuk jangka waktu lima belas tahun. Status hukum badan usaha penyelenggara kemitraan ini adalah perseroan terbatas (PT). Pemerintah daerah berkontribusi menyediakan tenaga kerja dan perijinan-perijinan yang dibutuhkan. WMD (nama perusahaan tersebut) menyediakan manajemen, teknologi, dan pendanaan bagi kegiatan investasi tersebut. soal tarif bisa dipastikan tidak lebih murah dari perusahaan air yang dikelola pemerintah.

Dan pada akhirnya, sumur tidak akan pernah menjadi hak umum lagi, pun airnya tidak akan pernah menjadi barang bebas seperti kata buku saat itu. Masyarakat harus membayar mahal untuk mendapatkannya. Hidup memang dinamis, pun pelajaran ekonomi jaman itu juga hanya akan menjadi cerita, perihal gambar pasar di buku ekonomipun hanya kenangan karena kini ekonomi bukan lagi soal cerita pasar secara fisik lagi. *ehh gak nyambung kalimat terakhir

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s