Merayakan Hari Buku

Buku-buku yang kini hadir di rapi di dalam rak-rak yang anda letakkan di suatu ruangan khusus selain berjuang melawan teknologi mungkin juga melawan baju-baju.

Sebenarnya agak gak nyambung sih, buku bersaing dengan baju. Dari fungsinya aja jelas beda. Tapi ini hanya akan saya jadikan perbandingan bagaimana minat dan menjamurnya toko baju di Denpasar dibanding dengan toko buku. Dan pada saya sendiri, terkadang juga harus melawan salah satu keinginan untuk membelanjakan uang saku yang terbatas.

ini tahun pertama saya merayakan hari buku. Tahun sebelumnya gak kenal :p. Selama ini saya membaca hanya untuk bersenang-senang *halaah, buku paling serius untuk keperluan skripsi, dan baru-baru saja mulai merasa perlu membaca buku yang agak berisi :p. Dan untuk merayakan hari buku ini saya bertemu dengan cala ibi dan The Tao of The pooh pada selasa sore 24 April. Perayaan ini sendiri terlambat satu hari dari hari buku yang dirayakan setelah hari Kartini dan hari Bumi.

Sore itu saya memang niat sekali jalan-jalan sore, setelah pergi ke rumah rajut mampir sebentar di Toko buku daerah Wangaya. Saya lupa namanya, tapi saya yakin sangat jarang orang datang ke toko itu. toko itu sendiri rekomendasi dari seorang teman, dan tidak mengecewakan sudah datang kesana.

Toko yang terletak di seberang rumah sakit Wangaya itu termasuk luas, mungkin sama luas dengan toko Buku Gramedia yang ada di jalan Sudirman. Rak putih yang kelihatan abu karena debu berjajar rapi. Hanya ada sekitar tiga pengunjung ketika saya datang kesana, mereka sepertinya hendak membeli buku agama atau buku bahasa bali.

Awal masuk toko disambut keranjang buku yang berisi novel-novel tebal dan buku motivasi yang tidak terlalu menarik bagi saya. Di bagian paling depan toko itu ada keranjang buku dengan posisi sejajar dengan Rak sekitar lima deret. Agak kecewa ketika menyusuri rak pertama dan kedua, karena isinya hanya buku agama, bahasa Bali, dan buku-buku pelajaran SD dan SMP. Di deretan berikutnya baru lumayan beragam mulai dari buku ekonomi, psikologi dan buku-buku yang berbentuk text book lainnya, tetapi di sela-sela itu ada juga novel teenlit yang kelihatannya tidak terlalu terkenal. Di rak buku paling ujung yang paling menarik, banyak buku-buku cetakan lama yang ternyata masih dijual disini. Saya sendiri bertemu Cala Ibi, The Tao Of Pooh, The Te Of Piglet dan Politik sepak Bola kalau tidak salah, tetapi akhirnya hanya membeli dua dulu :p. buku-buku di toko ini agak memprihatinkan, terlalu lama tidak dijamah orang membuat debu-debu menempel mungkin hingga hampir satu centi tebalnya. Jadi ketika ke kasir petugas kasir yang kelihatannya sebagai pemilik toko itu harus membersihkan debunya dengan kemoceng terlebih dahulu.

Bagi teman-teman yang ada di sekitaran Denpasar yang sudah bosan dengan genre buku yang mendominasi togamas dan Gramedia, toko buku ini bisa menjadi pertimbangan untuk dikunjungi. Di toko ini akan banyak ditemukan buku-buku terbitan penerbit rumahan yang tidak terlalu terkenal atau bahkan penerbit profesional yang sudah tua dan kini sudah tidak mampu cetak lagi. Jadi mungkin bisa saya simpulkan banyak buku-buku di toko itu yang tidak dijual di tempat lain.

Di daerah Denpasar sendiri toko buku yang saya tahu hanya sedikit, Toga Mas, Gramedia, Gunung Agung, Garuda Wisnu, toko buku di jalan Diponegoro dan toko buku ini. Yang paling jarang dikunjungi yaitu Gunung Agung dan Garuda Wisnu, yang paling sering memang ke toga mas karena disana tampil beda dengan diskonnya, sedangkan ke Gramedia biasanya untuk membeli buku terbitan Gramedia saja. Tapi belakangan ketika berkunjung ke Toga mas baru yang di Sudirman di lantai bawah di dominasi novel sedangkan di lantai atas dibajak buku-buku terbitan Udayana University Press dan buku textbook lainnya. Di deretan buku sastra juga lebih banyak buku tentang teori dibandingkan karya sastra atau kajian tentang karya sastra tertentu. Sedangkan di Gramedia lebih banyak buku motivasi dan novel walaupun disini lebih beragam dibanding toko buku lainnya.

Dibandingkan toko-toko baju tentu ini jauh sekali. Toko baju tumbuh hampir tiap bulan ada yang baru. Di daerah bilangan Waturenggong dan Tukad Yeh Aya misalnya, setiap tidak sampai dua meter ada toko baju, sepatu atau tas. Tiap toko menawarkan jenis baju yang berbeda dari segi kualitas bahan atau model agar mampu bersaing dengan yang lainnya. Ini sebenarnya sangat lucu jika buku saya bandingkan dengan toko baju. Tapi saya cuma mau berpendapat tentang buku-buku yang terbit di kota ini, menurut saya kurang beragam. Toko buku di dominasi oleh jenis buku tertentu yang terkadang terasa kurang menarik. Mungkin saja distribusi buku ini memang dipengaruhi oleh tingkat konsumsi buku masyarakatnya. Andai saja konsumen buku sama seperti konsumen baju yang terus haus dengan model-model baru mungkin penerbit dan toko buku juga akan bersaing dan memberikan buku-buku terbaik di gerai mereka tanpa takut tidak laku. Tapi rasanya banyak orang di kota ini tampaknya lebih perhatian penampilan mereka daripada isi kepala. Jadi wajar saja jika kebanyakan lebih memilih belanja baju ketimbang buku. Dan akhirnya selain harus melawan teknologi mungkin saja buku-buku ini juga melawan baju-baju. :p

*Gak nyambung tulisannya, tapi selamat Hari Buku (yang sudah lewat), semoga semakin rajin membaca dan lebih menghargai buku-buku 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s